Janda Hanyalah Statusku

Janda Hanyalah Statusku
JHS - Selamatkan Dia


Atur Emosi...


Redam Emosi...


Maafin Author......


huhuuuu


Tiara segera di larikan kerumah sakit..


beruntung saat itu mobil pribadi Ibu Erna beserta supirnya memang berada di sana..


Ibu Erna merasa bersalah, hatinya semakin sakit melihat Tiara yang sudah tersungkur lemas bersimbah darah..


Dengan Tangan gemetar nya Ibu Erna berusaha menghubungi Barry namun hasil nya Nihil...


Dia sedang kecewa dengan ku, apalagi dia tahu jika wanita yang ia cintai terluka karena aku.... maafin mama Nak...


Batin Ibu Erna...


Ibu Erna Segera menghubungi Fardhan mengingat Fardhan pasti tau identitas Tiara dan segera menghubungi orang tuanya, itulah yang ada di pikiran Ibu Erna sebagai seorang Ibu...


Ibu Erna terus membelai wajah cantik Tiara yang terdapat luka besot di bagian Kiri wajahnya, kepalanya yang terbentur Aspal pun terlihat terus mengeluarkan darah segar...


Tiara memang menyukai menggunakan Rok, sehingga luka itu banyak di dapatkan di area kakinya..


Disebuah Restoran mewah....


Dalam Sambungan Telfon..


"Yaa mah Ada Apa? aku baru selesai meeting" Kata Fardhan yang sudah dua kali tidak menjawab panggilan masuk


"..............."


mendengar Ucapan Ibu Erna, Fardhan merasa ikut berdebar jantungnya lebih cepat, Arah matanya mengarah ke Barry yang fokus dengan ponselnya


"Mama dimana sekarang? Fardhan kesana" ucap Fardhan dengan sangat panik, sehingga Barry menatapnya heran


"........."


"Baik mah, mama Harus bantu dia, lalukan yang terbaik mah... 20 menit Insya Allah kita sampe" Ucap Fardhan langsung mematikan Telfonya lalu duduk di samping Barry dengan Wajah sangat gugup, takut dan bingung..


"Kenapa lo?" Ucap Barry heran


"Ke rumah sakit yu Bar.." ucap Fardhan sedikit cangung


"ngapain? mama sakit? ah males entar gue di suruh putus paling...lagu Lama" Ucap Barry dengan rasa malas meladeni


"Tiara bar" ucap Fardhan tertahan


Barry menatap Fardhan dengan sinis


"Barr, Tiara kecelakaan bar" ucap Fardhan dengan berani


"Apa?? gak mungkin! ini akal-akalan mama, gue tadi drop dia depan cafe kok, dia banyak kerjaan" Ucap Barry mencoba tak percaya meski hatinya sedikit sakit, jantungnya juga ikut berdebar kencang..


"Dia kecelakaan di depan Cafe, dia ke tabrak mobil... sekarang dia ga sadar dan mama udah mau sampai Di Rs" Ucap Fardhan dengan tegas, lantang dan cepat


Barry langsung lemas seolah tak bernyawa, namun pikirannya kembali menyadari musibah yang menimpah Tiara...


Langkah cepat Barry meninggalkan, Berkas dan laptop.. ia berlari secepat kilat menuju parkiran, Fardhan pun mengekor...


"Rapihkan dan simpan, sehelai kertas gak boleh hilang, atau restoran ini akan bangkrut" kata Fardhan kepada seorang pelayan perempuan Berhijab...


Fardhan sudah mendapati Barry hendak menaiki mobilnya dengan cepat menarik tangan Barry..


"Gue yang nyetir, lo hubungin orang tua Tiara" ucap Fardhan...


dengan cepat tanggan itu Barry hempas kasar, Fardhan yang menegerti pun segera berlari masuk ke dalam mobil bagian samping kursi kemudi...


********


Di Rumah Sakit


"Pasien keritis... Kita sedang melakukan Transfusi darah, lalu menunggu dokter spesialis datang dari poli... saya sudah mengajukan untuk ct-Scan saya takut ada pendarahan di dalam kepala..." Ucap Seorang dokter muda dengan wajah tampan


Ibu Erna tersungkur lemas di lantai, Pikirannya sungguh sangat kacau mendengar Tiara keriris apalagi di khawatirkan terdapat pendarahan di kepala Tiara...


Pakaian penuh darah, wajah pucat dan mata bengkak.. itu yang terlihat dari sosok Ibu Erna..


"Dimana Tiara?" Tanya Barry yang baru datang dengan tergesah-gesah di selimuti Wajah sangat emosional


"Sayang.... sabar sayang Tiara di dalam" Ucap Ibu Erna menujuk ruang Emergency


Tanpa Pikir panjang Barry membuka pintu itu dengan kasar hingga membuat suster kaget dan menatap Barry dengan sinis...


Darah Barry seolah berhenti mengalir, Ia melihat Tiara terbujur di atas tempat Tidur dengan Baju penuh darah segar, beberapa Luka di wajah kaki dan tangan membuat Barry semakin lemas, Alat yang melekat di tubuh Tiara semakin membuat Barry merasakan sesak di dada...


Air matanya mengalir seolah tak mampu lagi ia bendung...


"Sayang.... bangunn, sayang aku disini bangunnnnn" Ucap Barry mengengam tangan Tiara sambil menciuminya


"Mas.. maaf kita harus menggunting pakaiannya guna memeriksa seluruh luka.. Apa mas ini Suaminya?" Tanya seorang suster senior dengan sangat tenang


"Saya calon suaminya, Bagaimana sust ke adaanya?" Tanya Barry tanpa menatap suster tersebut


"Mas, keadaan pasien sangat keritis... Banyak darah yang keluar, kita sudah lakukan transfusi, dokter spesialis sebntar lagi datang, selanjutnya mungkin kita akan Ct-Scan pak karena kepalanya ada luka sobek maka itu dugaan dokter hal itu terjadi akibat benturan, makanya dokter mau Ct-Scan untuk memastikan ada pendarahan di dalam kepala atau tidak" Jelas seorang suster yang memang mendapat penjelasan dari dokter umum tadi...


"kami akan melakukan yang terbaik Mas, sekarang Masnya bisa keluar, kita harus melepas baju embak nya, dan kita lakukan pengecekan menyeluruh...."


"Baik sust.." Kata Barry lalu melangkah mundur agar tetap melihat Tiara...


Barry tiba di luar ruangan..


Ibu Erna hanya diam namun air matanya tak henti mengalir..


"Jelaskan! Apa yang terjadi!" Ucap Barry dingin


Ibu Erna menatap Wajah Barry..


"Maafkan mama, Tiara begini karena menolong mama..." ucap Ibu Erna


"Apah??? Bagaimana bisa ha? apa mama sengaja menemui Tiara?!!" kata Barry dengan nada tinggi nya, seolah Barry lupa akan status nya sebagai anak..


"Maaf sayang.. maaf kan mama.. mama gak nyangka bisa begini" Ucap Ibu Erna


"Mama Jahat!! Mama selalu buat Barry merasakan sakit hati karena mama selalu menyetir barry soal pasangan hidup... Mama gak pantas di katakan seorang ibu mah!!" Ucap Barry yang sudah sangat tersulut emosi..


Fardhan datang, ia baru saja mengurus administrasi keerawatan Tiara..


"Barr cukup!!! ini rumah sakit, jaga sikap" ucap Fardhan


"Diam lo! Lebih baik lo Bawa mama pergi dari sini" Ucap Barry


Fardhan hanya menggelengkan kepala, memeluk Ibu Erna dengan sangat erat..


Berulang kali Ibu Erna di bujuk untuk pulang namun ia tak mau, ia ingin menggu kabar Tiara...


Satu Jam Kemudian...


"Keluarga Pasien Tiara" ucap seorang suster muda dari balik pintu kaca


"Saya" ucap Barry cepat dan langsung bangkit dari duduknya


"Silakan masuk mas, dokter ingin bicara" ucap Suster


Barry masuk kedalam ruangan itu, Ibu Erna dan Fardhan mengekor di belakang Barry..


"ini dengan siapa nya ya?" Ucap dokter paruh baya


"Saya Calon suaminya dok"


"Saya calon mertuanya" celetuk Ibu Erna dari belakang tubuh Barry


sementara Fardhan hanya diam..


kaya perkenalan siswa baru aja, hemm diam aja dah gua..- Batin Fardhan


"loh orang tua nya Tiara mana?" Ucap Dokter itu..


"Ayahnya seorang Pilot, sedang dinas... Ibunya sedang dalam perjalanan dok dari bogor dan akan segera datang" kata Barry berusaha tenang


"hemm begitu yaa, jadi begini....sesuai dugaan, ada pendarahan di kepala Tiara" Ucap dokter kemudian memperlihatkan sebuah hasil cT-Scan


"lihat Ini yaa ini seeperti Bando putih, ini pendarahan, kita harus melakukan tindakan operasi" ucap dokter tersebut


Barry, Ibu Erna dan Fardhan, merasa lemas pada tubuhnya mendengar penjelasan dokter...


"Lakukan yang terbaik dok, saya mohon" Ucap Barry dengan lirih


"Baik.. tapi siapa penangung jawabnya, operasi harus segera di lakukan, agar tidak ada penyumbatan atau malah bisa terjadi pendarahan hebat nantinya" Ucap dokter itu


"Saya yang bertangung jawab, saya yang akan menjadi jaminan untuk pihak keluarga dok" Ucap Barry..


"Baik, silakan nanti ikut suster untuk melengkapi prosedur... saya akan bersiap,,, mohon bantu doa yaa, operasi bisa 4-5 jam" ucap Dokter dengan cukup tenang


"Baik dok, terimaksih dok" ucap Barry


"terimakasih dok" ucap Ibu Erna..


Di Luar Ruangan...


"Syifa udah di rumah Tiara Bar sama supir kita, tinggal nunggu Ibunya Tiara datang aja baru Syifa menjelaskan semua" Kata Fardhan


"ya. makasih" ucap Barry dingin


Selamatkan dia Tuhan, jagalah dia untukku...


Aku mencintainya, selamatkan Dia Tuhan...


*


*


*


*


**********


Jangan ngomel-ngomelin Author yaaa...


bersakit dahulu bersenang kemudian hehe