
Jam Pulanh kantor tiba..
Tiara dan Syifa memilih berada diruangannya ketimbang menghampiri kekasihnya yang masih asyik membahas pkerjaan dengan para sahabatnya..
"Lo cemburu Ti?" tanya Syifa yang sedari tadi melihat Tiara terus memandangi pintu ruangan Barry
"No.. gue yakin sama Barry kok" Kata Tiara
"Syukurlah.. tapi kok malah gue ngerasa aneh yaa sama tatapan Fardhan ke Vita?" Tanya Syifa
"Cuma perasaan lo aja itu mah" kata Tiara santai
"Iya ya... hemm besok kita jam berapa?" Tanya Syifs mencoba menetralkan perasaanya sendiri
"Jam 10 kata Ibu, karena jam 1 salon baru di buka untuk umum" kata Tiara
"okee siap laksanakan, gue kerumah lu dulu ah" Kata Syifa terkekeh
"hadeh, pasti Bunda gak ada dirumah?" kata Tiara menebak
"Iyaa. Bunda kerumah eyang gue sore ini.." kata Syifa membenarkan
"duh kaciann, Nginep dirumah gue yuk" ajak Tiara
"wah ide bagus.. Tapi gue dinner dulu ya sama Fardhan" kata Syifa dengan nada malu-malu
"cih! sejak kapan lu jadi tergila-gila sama Fardhan si bocah konyol?" Tanya Tiara penasaran
"entah, semua berjalan gitu aja" kata Syifa
"lo serius sama Fardhan" Tanya Tiara
Syifa mengangguk
"Dia bahkan minta gue jadi isterinya bukan jadi pacarnya"
"terus kenapa lo belum nikah?" tanya Tiara penasaran
"gapapa kok. lo duluan aja" kata Syifa terkekeh
"lo aja duluan, gue mungkin tahun depan, gak mungkin kan dalam tahun yang sama gue nikah dua kali" kata Tiara membuat keduanya terkekeh...
Saat itu pula ponsel Tiara berdering..
"Barry" kata Tiara
"Angkat, loudspeaker ya" pinta Syifa
Tiara mengangguk dan menggeser tobol hijau lalu menekan tombol speaker
"hallo sayang" - kata Barry
"iya ada apa?" - sahut Tiara
"kamu belum selesai? kok gak kesini" Tanya Barry
"aku udah selesai, kamu? masih ada teman kamu ya? aku ga enak" kata Tiara menjelaskan
"masih, sebentar lagi.. kamu kesini yaa.. ajak syifa" Kata Barry dari sambungan Telfon
"aku ga nerima bantahan, cepat"
TUT TUTU TUT
sambungan terputus...
"Dasar pemaksa" kata Tiara sambil memasukan ponselnya kedalam tas
"Dasar penurut" ledek Syifa ..
Mereka keluar ruangan bersama, didapati nya Prasetya tengah mengusap air matanya dengan cepat Tiara dan Syifa menghampiri...
"kenapa Pras? kamu nangis?" Tanya Tiara penasaran
"dimarahin Fardhan ya?" ceetuk Syifa
"Bukan, bukan.. aku gapapa kok shay" kata Prasetya berusaha tenang
"Terus? kamu gak bisa bohongin kita loh" kata Tiara
"Di kening kamu tertulis lagi ada masalah berat" kata Syifa
Prasetya pun tertunduk...
"my mom sakit, hikshikshiks" ucap Prasetya dengan isak tangisnya
"ikut aku" kata Tiara menarik tanggan Prasetya ke dalam ruangan nya
Syifa pun mengekor..
setelah mereka masuk, Prasetya duduk di kursi Tiara, sementara Tiara menarim kursi milik Anwar, lalu syifa memlihi berdiri..
"Sakit apa? kenapa ga izin pulang aja dari tadi?" kata Tiara mengintimidasi
Prasetya menggeleng..
"Ibuku sakit sudahlama" kata Prasetya dengan nada kemayu nya
"terus kenapa kamu ga pulang?" tanya Syifa
"pulang? aku gak mau pulang, aku takut" kata Prasetya menangis
Syifa dan Tiara saling memandang...
"Oke aku gak tau seberat apa masalah kamu,, yang harus kamu lakukan ya bertindak karena ibu kamu sakit" kata Tiara
"Tapi ibu butuh biaya besar untuk operasi, sedangkan tabunganku habis untuk biaya berobat ibu sehari-hari" Kata Prasetya masih dengan suara kemayu nya
"operasi apa?" tanya Tiara penasaran
"Ibuku harus operasi pemotongan usus, karena infeksi pada ususnya yang sudah meradang hiks hikss..." kata Prasetya kembali terisak
"apa gak ada asuransi pemerintah?" tanya Syifa
Prasetya menggelng..
"bahkan untuk kartu keluargapun kami tak punya, KTP yang aku miliki itu hasil bantuan pak Lurah agar aku bisa bekerja di kota besar" kata Prasetya menjelaskan
Seertinya masalah hidupnya begitu besar- Batin Tiara
"kamu butuh berapa untuk operasi ibu mu?" tanya Tiara
"Cukup besar Nona..." kata Prasetya
"Tiara! Panggil aku Tiara... aku bukan brand susu yang kamu panggil Nona" kata Tiara ketus
syifa twrtawa pelan...
"Maaf Tiara"
"cepat sebutkan berapa nominal ya g kamu butuhkan? lihat ini Bos kamu terus-terusan menelfonku" kata Tiara sambil memerlihatkan layar ponselnya
Prasetya gelagapan karena takut dengan Barry juga Fardhan
"saya butuh sekitar Lima puluh lima juta Tiara" kata Fardhan...
"Baik.." kata Tiara kemudian membuka aplikasi bank online nya..
"Sebutkan nomer rekeninh mu, Cepat" ucap Tiara
"cepat!!!" bentak Tiara
Prasetya membuka ponselnya mengecek nomer rekeningnya.. lalu menyebutkannya..
"Aku sudah Transfer ya! dan kamu bisa cuti besok"
"tapi Tiara, aku takut menerimanya" Kata Prasetya tertunduk
"apa kamu pikir ini uang dari Barry?" Kata Tiara sedikit tajam.. Membuat Prasetya tertunduk
"tenang! ini uang pribadiku, dan perlu kamu tau, dia hanya pacarku dan untuk saat ini dia hanya sekedar traktir aku makan bukan menjamin seluruh hidupku selagi aku belum jadi isterinya, jadi buang jauh-jauh pikiran mu tentang hal buruk terhadapku" ucap Tiara
"Yaa Tuhan.. maafkan aku," kata Prasetya mengenggam tanggan Tiara...
" aku akan segara menggantinya dengan gajiku Nona.. eh Tiara.."
"dan aku tidak akan cuti, maaf aku gak bisa menjelaskan sekarang, aku belum siap" kata Prasetya
"tapi kau berhutang penjelasan jika kamu sudah siap untuk bercerita" Kata Tiara Berdiri dari duduknya
"oh iya satu lagi, jangan gunakan Baju pink, unggu, dan tosca! Mulai besok gunakan pakaian berwarna macho mu.. aku ga mau ada saingan orang secantik kamu disini" kata Tiara tersenyum
Fardhan pun tersipu malu namun seolah hatinya tersentil akan ucapan Tiara...
Syifa sedari tadi hanya menonton adegan Toara dan Prasetya... bertahun-tahun berteman tentu itu bukan hal aneh Bagi Syifa..
Tiara memang selalu membagikan banyak bantuan pada siaapun, meski se ekor semut sekali pun..
**********
"jangan katakan apapun pada Barry apalagi Fardhan syif" pinta Tiara
"tentu, itu bukan untuk di umbar bukan?" kata Syifa yang sudah sangat Faham jika Tiara paling malas jika kebaikannya di ubar..
"kau memang sahabat yang terbaik" Ucap Tiara...
*****
Tiara dan Syifa masuk kedalam Ruangan Barry...
"kamu lama sekali sayang" kata Barry kesal
"Sorry, aku ke toilet dulu tadi" Kata Tiara
"oh.. duduk lah aku hampir selesai" kata Barry
"Fardhan mana?" Tanya Syifa
"Di ruangannya, lagi merapihkan berkas. .. susullah" ucap Barry kemudian Syifa mengangguk..
"Oke aku permisi semuanya" ucap syifa sopan
"ganjen" celetuk Vita Pelan namun dapat di dengar
"Maaf jika aku terlalu mengumbar ke ganjenanku disini, aku lupa Fardhan di ruangannya" Kata Syifa menyahuti dengan santai sambil menaik turunkan alisnya
"mbak duduknya rapetin dikit keliatan tuh warungnya" Kata Syifa pada menujuk ke arah duduk Vita sambil membuka pintu ruangan Barry
Vita langsung kaget dengan ucapan Syifa, membuat ia merapatkan segera kakinya..
Tiara teryawa di balik lengan Barry, begitu juga Barry, Kevin dan Roy.. mereka mengumpati wajah mereka untuk tetawa...
cerdas!
Batin Tiara ....
Awas kamu syifa berani nya kamu mempermalukan aku!!!
Batin Vita yang sudah sangat emosi itu...
****
Nih aku kasih bonus malem-malem...
cus kasih aku bonus juga donkkkkk
vote
like
komen...