Janda Hanyalah Statusku

Janda Hanyalah Statusku
JHS - Butuh Restu


Malam terasa sangat panjang bagi Barry. Setelah satu setengah jam ia mengguyur tubuh nya dengan Air mandi rasanya tak cukup melunturkan masalah yang sedang menimpahnya..


Sesekali Barry menatap jam dinding yang seolah sangat lambat berjalan.. Hatinya tak tenang, pikirannya melayang, telinganya seolah menghatarkan penangkapannya tentang ucapan sang Ibunda yang jelas-jelas menyuruh Barry dan Tiara untuk berpisah..


Barry bukan lah anak yang membangkang, sikap cuek, tegas dan terkesan kejam memang hanya ada di kantor... selebihnya Barry memang sosok penyayang pada kedua perempuannya, Ibu Erna dan Risa...


Namun kini separuh hidupnya seolah bergantung pada Tiara, mendengar pertentangan Ibu Erna saja membuat Barry serasa tak nemiliki aliran darah, bagaimana jika benar ada nya perpisahan?


Dulu Barry selalu mengumpat menjalin kasih meski Ibunya menentang keras, tentu itu karena sang wanita juga mau menjalaninya. Tapi gadis seerti Tiara tentu lebih baik mengorbankan perasaanya dari pada menjalani hubungan tanpa Restu.


"ARGHHH"


decak Barry dalam keFrustasiannya..


Hatinya seolah bimbang, pikirannya tak menentu..


Barry tiba-tiba merindukan sosok kekasihnya, namun dengan emosi yang melonjak ini tentu tidak mungkin jika ia menghubungi Tiara, karena Tiara pasti akan curiga.


Harus apa? Entahlah bahkan jiwa Barry seolah telah mati..


Barry mengambil benda Pipih miliknya.. Ia membuka story chat nya dengan Tiara, Barry menurunkan jempolnya agar Chat sampai di paling Atas dimana itu Pertama kali Barry dan Tiara memulai Chat...


Sesekali Barry tersenyum membayangkan mimik Wajah Tiara yang di kaitkan dengan Chat yang Tiara kirimkan..


Banyaknya Chat membuat mata Barry lelah dan Barry seketika terlelap sambil meringkuk memegang ponselnya yang secara otomatis akan mati terkunci..


Suara Adzan Subuh jelas terdengar....


Barry segera bangkit dari tidurnya....


Mandi, Beribadah lalu berpakaian rapih...


Barry meraih Kunci mobil, Dompet serta Ponselnya...


Barry sedikit memepercepat langkahnya menuju Luar Rumahnya menghampiri jejeran mobil-mobil mewah milik keluarga Atmaja..


Fardhan Tengah berada di taman sambil menaik turunkan Barbel dengan tangannya..


dengan Cepat Fardhan menghanpiri Barry yang terlihat akan memasuki mobil.


"Mau kemana? ini masih pukul 6!" ucap Fardhan yang tak tau persis sekarang pukul berapa


"gue ga ke kantor hari ini, Jaga mama, tolong yakinkan mama Tiara itu gadis baik..." kata Barry sambil membuka pintu mobilnya


"jangan nekat Bar.. Mama bisa sakit kalo lo berontak dengan cara begini,,, lakuin aja seperti dulu lu lakuin sama mantan-mantan lu yang lain" Ucap Fardhan sementara agar Barry tak melakukan hal konyol


"Tiara bukan wanita kaya gitu Bodoh! itu alasan gue bertahan sama dia" kata Barry lalu melepas rem tangannya dan perlahan menjalankan mobilnya melewati gerbang besar rumahnya


"Huh, batu dasar" Ucap Fardhan membiarkan kepergian Barry


*****


Barry tiba di tujuannya, jam masih menujukan pukul 6.30..


Yaa Barry menyambangi kediaman Tiara, Barry benar-benar ingin terus bersamanya meski ia tau perjuangan akan menguras perasaanya...


Barry mengetuk pintu rumah yang cukup besar, yaa bisa kalian tahu yaa Tiara anak seorang Pilot yang penghasilannya sangat cukup membuat keluarga itu hidup berkecukupan...


"loh nak Barry... hemm mari masuk" Kata Ibu Sulis setelah menjawab salam dari Barry


"Makasih tante" ucap Barry mengekor di belakang Ibu Sulis


"Tiara baru selesai mandi sepertinya, tunggu yaa dia gak akan lama... hemm sudah sarapan belum?" ucap Ibu sulis


"hehe belum Tante" kata Barry dengan gaya malu-malu nya


"sudah Tante duga, kamu sepagi ini sampai disini.." kata Ibu Sulis terkekeh


"hehe maaf tante"


"gapap, anak muda memang begitu sulit menahan rindu" ucap Ibu sulis meledek Barry


Barry merasa sangat malu, seketika hatinya menjadi sangat tenang dan nyaman berada di kediaman Tiara..


"Ayo ikut tante" Ajak Ibu sulis ke arah dapur dimana terdapat meja makan yang tak cukup besar hanya cukup enam orang saja


"Duduk, Tante ambil air minum dulu yaa" Ucap Ibu sulis meninggalkan Barry di meja makan


Batin Barry menatap meja makan terdapat Capcay kuah, udang tepung, Omlet sayur, serta kerupuk udang..


"mau makan duluan nak Barry?" Tegur ibu Sulis membawa satu teko air putih


"ah engga Tante.." ucap Barry menoleh ke arah Ibu Sulis, mata Barry juga sekilas menangkap sebuah kopir kecil di bawah mini Bar dapur itu..


"kenapa ada koper disitu tante?" Tanya Barry


"oh itu, Itu tadi habis di ambil dari gudang, tante mau ikut seminar di bogor, menginap semalam" kata Ibu Sulis membuat Barry mengangguk


"Tante titip Tiara yaa, jangan sampai dia telat makan" Sambung Ibu Sulis sambil mendudukan tubuhnya


"eh iya Tante dengans enang hatu" ucao Barry tersipu...


Lima menit kemudian Tiara datang membawa tas kejranya..


Kemeja pich berkancing setengah di dada di adukan Rok hitam dengan rample besar bermotif bunga, Rambut yang di kuncir kuda..


"Buu nanti ib-----" Ucapan Tiara terhenti ssat menyadari keberadaan Barry


"Kamu???? ngapain disini" ucap Tiara kaget sambil meletakan tas nya di kursi sebelahnya


"Numpang sarapan" Ucap Barry nyeleneh membuat Ibu Sulis tertawa


"dasar pelit, sarapan aja numpang" kata Tiara meledek


"biarin, kalo bisa tiap hari begini.. rela deh abis subuhan ga tidur lagi" ucap Barry membuat Tiara tersipu malu


"Sudah ayo makan" kata Ibu Sulis memecah suasana


Barry Terlihat sangat lahap menyantap semua menu yang tersedia, Tiara dan Ibu Sulis sampai merasa sangat Begah melihat Barry makan, seolah tak makan satu minggu...


Usai Sarapan mereka berpamitan menuju Kantor... Barry melajukan mobilnya bukan ke jalan menuju Kantor..


"kita mau kemana? kok lewat sini?" kata Tiara menyadari


"hemm... kamu temenin aku yaa, aku ada kerjaan luar" Kata Barry sambil mengetap card akses masuk tol


"kenapa mendadak? pekerjaan ku lagi banyak bar" ucap Tiara kesal


"Maaf, tapi aku benar-benar mau sama kamu sayang..." Kata Barry lirih


"aku bisa di pecat bos kalo begini... Bos aku gila soal pekerjaan, dia galak banget sama karyawan! kejam! " ucap Tiara meledek Barry


seketika Barry tertawa mendengarnya....


"akan aku turuti permintaan mu sayang, besok kamu gaperlu kerja, diam dirumah masak yang enak dan menunggu aku pulang" ucap Barry


"hah? emang aku koki"


"iya donk, koki pribadiku merangkap Isteriku" ucap Barey membuat Tiara salah tingkah, pipinya sudah memerah


"kenapa diem, mau kan jadi Isteri aku?" ucap Barry kali ini dengan Nads serius


Tiara menatap Barry...


"Mau kok" ucap Tiara membuat Barry tersenyum bahagia, rasa penat seolah hilang sekejap..


"Janji?? apapun yang terjadi?" kata Barry menjulurkan kelingkingnya


Tiara tersenyum dsn merass sedikit rasa malu..


"Tentu.. setelah kita mendapat Restu dari Ibu, Ayah juga mama" ucap Tiara sambil menyatukan kelingkingnya ke kelingking Barry


mendengar itu mimik wajah Barry berubah, Barry menatap ke arah depan jalan, ingatannya kembali terputar ke rekaman otaknya atas ucapan Ibunda nya...


Tiara tidak menyadari akan perubahan wajah Barry, Tiara kini sibuk dengan ponselnya.. memberi kabar pada Syifa bahwa hari ini ia tidak dapat masuk... Tidak mungkin Tiara jujur pada Syifa karena ia tak mau ada masalah asmaranya di kaitkan dengan urusan pekerjaan,,,, yaa meskipun saat ini ia sedang melanggarnya...


hihi


**********


wah takut Tiara di bawa kawin lari nii guys hahahah