Janda Hanyalah Statusku

Janda Hanyalah Statusku
JHS - Membuatnya Jatuh Cinta (lagi)


"Ibuuuuu" Rintih Tiara dalam perjalana menuju rumah mereka


"menepi Bar" Kata Pak Rachman


Barry menepikan mobilnya


"iya sayang, ibu Disini... ada yang sakit" Kata Ibu Sulis memegang wajah Tiara


"Buuu, kak Adam sudah meninggal... Sekarang aku Janda ya bu... hiks hiks hiks" kata Tiara Lirih...


Wajah ketiga orang yang mendampingi Tiara saling menatap, mereka bersyukur Tiara telah mengingat kepergian serta status yang ia sandang saat ini...


"Kamu inget aku ga sayang?" Kata Barry dengan mata berbinar penuh harap, kala itu Barry merubah duduknya agar dapat menoleh ke belakang..


"kamu?" kata Tiara heran lalu Tiara menggelengkan kepalanya


Barry tiba-tiba meruntuhkan badanya, tubuhnya mendadak lemas...


Tiara memeluk erat ibu Sulis....


"Sabar, semua gak akan lama" ucap Pak Rachman pada barry pelan


Mereka melanjutkan perjalanan menuju kediaman Tiara....


Sesampainya di kediaman Tiara, ia harus di paah Sang ibu, karena Kepalanya masih terasa pusing membuat keseimbangannya berkurang saat berjalan...


Mereka memasuki rumah...


Perlahan langkah itu menuju ruang keluarga yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil...


"SURPRISEEEEEEE"


Kata Risa dan Syifa dengan semangatnya


"Wellcomehome sahabatkuu" Ucap Syifa kemudian mendekat membuka tangganya seraya bersiap memeluk Tiara, Tiara tersenyum bahagia namun air matanya berlinang...


Syifa menyadari hal itu segera mengajak Tiara duduk di ikuti kedua orang tuanya juga Barry...


"Hay Tiara, aku senang kamu sehat" ucap riss dengan manisnya


"kamu?" Kata Tiara bingung


"Aku Risa, temanmu" ucap Risa dengan rona bahagia


"Maaf aku melupakanmu, terimakasih masih menajdi temnku, Ri-sa" Kata Tiara kemudian mereka berpelukan erat... lalu mereka saling melepas pelukan...


"Kenapa kalian menyambutku di saat aku baru menyandang status janda, bahkan makam ka Adam mungkin masih masah" Ucap Tiara yang memang memmory nya belum sepenuhnya kembali...


Semua orang saling menatap.satu sama lain dan bingung menjawab pertanyaan Tiara..


"Ah aku udah siaplan ini untukmu, semoga suka" Ucap Syifa memberi satu box di hiasi pita pink di atasnya


"boleh ku buka ifa?" Ucap Tiara lalu di beri anggukan oleh syifaa


"yaa Tuhan, ini lucu sekali" Ucap Tiara melihat isi kotak berisi aneka bandana


Yaa Tiara memang gadis super Feminim.. segala aksesoris selalu ia koleksi, terlebih warnanya pink hitam dan putih...


"kau suka?" tanya Syifa lalu di beri anggukan cepat oleh Tiara


"Syukurlah, aku dan Risa yang memilihbya, kau bisa kenakan setiap hari secara bergantian" ucap Syifa


Tiara mengangguk kegirangan, ia bahkan lupa dengan model rambutnya yang tak sama panjang itu...


Wajah bahagia Tiara seketika berubah menjadi murung...


"Kenapa nak" Tanya Ibu Sulis


"Buu... aku merasa ada yang aneh dengan perasaanku..." kata Tiara tertunduk lalu memejamkan matanya


Semua orang langsung menatap Tiara penuh arti..


"Kenapa aku merasa harus memperjuangkan banyak hal sementara aku gak tau itu apa, rasanya sangat sesak buu" Ucap tiara memegang dadanya meremas bajunya...


Barry melangkah perlahan berjongkok di depan Tiara...


"Tiara... aku senang kamu bisa berada disini sekarang... aku tau kamu bingung kan dengan hadirnya diri ini di setiap hari mu selama tujuh hari ini?" kata barry lalu di beri anggukan oleh Tiara


"Maaf jika kamu merasa gak nyaman, aku belum siap jauh dari kamu.. tapi jika menjauh untuk sementara membuat mu lebih baik aku siap sayang.... Ini ponsel milik mu, selama ini aku memegangnya..." Kata Barry merogoh saku celananya lalu memberika ponsel yang berasal dari Barry saat Tiara baru beberapa hari bekerja bersama Barry..


Tiara menerimanya dengan bingung..


"Jaga kesehatanmu baik-baik yaa... jangan sampai telat makan, jangan lupa konsumsi obat yang kamu berikan,, tiga hari mendatang Fardhan dan syifa akan mengantarmu kontrol ke Prof Martin.... Aku pergi dulu, Aku mencintaimu" Ucap Barry di akhiri dengan mengecup kening Tiara cukup lama...


Seolah Tak perduli dengan orang sekitarnya...


"Ayah, ibu Barry pamit... Barry masih ada pekerjaan" ucap Barry menyalami kedua orang tua Tiara yang nampak bingung dengan perkataan Barry


"Ayah Bangga pada sikap dewasamu" Ucap Pak Rachman pelan sambil memeluk Barry


"Aku akan kembali, jaga Dia bu.. dia miliku" Ucap Barry melangkah menjauh dari tempat itu..


Semua orang menatap bingung, hanya Pak Rachman yang terlihat begitu santai kala itu..


"Apa keterkaitan diriku dengan nya?" Ucap Tiara pelan namun dapat di dengan dengan orang sekitaranya, seketika bayangan Barry hilang dari pandangan, membuat Tiara memegang dan meremas baju di dadanya...


kenapa sakit sekali melihat nya pergi...


dia juga nampak kecewa dengan sikap dingin dan acuh ku dari tadi yaa....


hemm


******


Barry melajukan mobilnya dengan kecepatan kencang....


Amarahnya seakan memuncak...


"KENAPAAAAA????? KENAPA HARUS BEGINI TUHANNNNNNN,,,, KENAPA HARUS AKU?????" ucap Barry dengan penuh emosi, sesekali ia memukul stir mobil dengan kencang....


"HARUS BERAPA LAMA LAGIIIII??? AKU TERSIKSAA TUHANN, AKU TAK SANGGUP..." ucap Barry lalu menangis...


Fardhan dan Risa mengetahui kehancuran hati Barry langsung meminta izin untuk pamit, dan mengejar Barry..


Syifa tetap tinggal di kediaman Tiara, menemani Tiara terlebih dahulu...


"Bagaimana kak kita bahkan gak bisa menyusul ya" Kata Risa yang duduk di samping stir kemudi


"Tenang lah, jangan buat kaka makin panic" ucap Fardhan yang kembali menekan pedal gas nya...


mereka menelusuri jalan menuju rumah mereka yang juga satu jalur menuju perusahaan, seharusnya Barry belum terlalu jauh....


"Kak itu mobil kak Barry, menepilah..." kata Risa melihat mobil sedan hitam dengan lampu segitiga menyalah...


"Barry kalo sampe lo nekat, gue buang lu ke jurang" Kata Fardhan kesal...


Risa hanya membulatkan matanya menatap tajam Fardhan..


Saat mobil berhenti Risalah yang dengan cepat keluar mobil lalu menghampiri mobil Barry menuju pintu kemudi...


Terlihat Barry tengah mengumpatkan wajahnya di atas stir mobil sambil sesegukan...


"Sial, di kunci" kata Riss menarik handle pintu


Risa mengetuk kaca pintu tersebut, Barry menoleh sekilas lalu semakin terisak..


atas permintaan kedua adiknya yang terus menerus mengetuk pintu memohon agar Barry membukakan pintu pun akhirnya Barry membukakan pintu tersebut..


Risa masuk pintu samping kemudi, Fardhan masuk ke kursi penumpang...


"Kak.. jangan seperti ini, Risa gak mau kaka kacau begiini" ucap Risa yang juga sudah menangis...


"Kak dengarkan Risa, kaka harusnya senang saat Tiara merasa ada sesuatu yang aneh yang ia rasa... tandanya apa? tandanya rasa itu masih ada kak, cinta itu masih terus tumbuh meski ingatannya belum kembali"


Barry hanya terdiam membisu, sementara Fardhan hanya menyimak...


"Drama korea palig hitz selama satu pekan" Ucap Fardhan dalam hati


"Apa Rasa itu masih sama?" Ucap Barry dengan tatapan kosong


"Tentu kak, apa kaka gak lihat, dia ga mengenali Risa kak,, Tapi dia kasih Risa pelukan yang hangat sama seperti pelukan sebelumnya saat dia mengenali Risa...." Ucap Risa dengan penuh keyakinan..


Barry seolah menerima sebuah energi positif dalam tubuhnya...


"Mulai lah dari awal,,,, jika Tuhan berkehendak Tiara tak bisa mengenali kaka, kenapa kaka Tidak berikhtiar membuatnya jatuh cinta lagi?" ucap Risa dengan perkataan yang membuat Barry tercengang


"maksud mu?" Kata Barry mengerutkan keningnya


"pikirlah sendiri, aku lelah! intinya Kau harus memilih, menunggu Tiara ingat kembali dengan mu, atau Kaka menbuatnya jatuh cinta lagi" Ucap Risa yang sehabis menangis merasa sangat kantuk


Barry hanya Terdiam, mencerna kembali ucapan Risa


Membuatnya Jatuh Cinta Lagi


"Cepat kemudikan mobil mu kak, aku mau istirhat dirumah" Kata Risa..


"hiyaaaahh!! udah selesai ni? Aku keluar, masa mobilku di tinggal" Ucap Fardhan sambil membuka handle mobil


"hih gak ada yang menyuruhmu meninggalkan mobil butut mu itu" kata Risa kesal namun Fardhan enggan membalas ucapan macan yang tengah mengantuk itu...


*********


Maaf banget hari ini aku full sama pekerjaan duniawi, di tambah anakku msh rewel, selalu minta video call... maklum ya lg sakit doi...


hehee