
Tiara merasa jauh membaik setelah ia bangun dari tidur siangnya... meski ia merasakan perutnya semakin kencang terasa.. hampir satu setengah jam ia tidur tanpa merasakan kontraksi menyerang ...
Di dapatinya sang suami masih terlelap dalam tidur siangnya..
"Sudah bangun Bu" kata suster yang berjaga di depan pintu kamar Tiara
Tiara yang baru membuka pintu sedikit syok dengan keberadaan bidan Yuni di balik pintu kamar...
"Astagfirullah sust bikin kaget aja... hmm
sust kenapa aku ga mules lagi yaa tapi pinggang masih terasa panas dan sedikit pegel gitu" katanya jujur dengan sedikit memeberi gerakan pada tubuhnya..
"memang begitu Buuu... Sabar ya Buu, ibu mau minum? biar saya ambilkan" kata Yuni
"Saya bete sust, Mau nonton tv..." kata Tiara
"yuk ke ruang keluarga" Ajak Tiara membuat Yuni mengangguk dan mengekor.
Ada Ibu Erna tengah duduk di sofa tersebut, Syifa masih di ungsikan di kamarnya, Ibu Erna takut jika melihat proses yang Tiaraa alami akan membuat Syifa stres dan berpengaruh pada kandungannya...
"Mama...." kata Tiara
"Sayang... gimana rasanya sekarang? kata Mbak Yuni sudah masuk pembukaan dua ya? sabar yaa sayang, delapan lagi" kata Ibu Erna memberi semangat
"iya mah, doain ya mah .. maaf kalo Tiara ada salah ke mama" kata Tiara yang sudah duduk di samping mertuanya..
"Iya sayang mama tidak pernah menemukan kesalahan apalagi menyimpan amarah mama... oh iyaa, mama sudah telfon ibu kamu, sore ini dia akan terbang kesini"
"Bener mah??? " kata Tiara kegirangan
Ibu Erna mengangguk
"Mama tau, sehebat apapun mertua, se baik apapun mertua bahkan se sayang apapun kita dengan mertua, tapi kalo soal kenyamanan sembilan puluh persen lebih nyaman dengan ibu kandung, makanya mama buru-buru telfon Jeng Sulis" kata Ibu Erna sambil melepas satu persatu genggaman jemarinya seolah seseorang tengah berhitung.
mata Tiara berkaca-kaca dan memeluk ibu mertuanya...
Ibu Erna mengusap pundak belakang menantunya membelai rambut panjang Menantunya...
"Mama rasa, hanya mertua bodoh yang akan memperlakukan menantunya secara tidak baik sayang..." kata Ibu Erna
Suster Yuni merasa haru melihat adegan dua wanita di hadapannya, mungkin memang tidak semua orang seberuntung Tiara dan ibu Erna, tapi ia yakin jika orang yang baik akan selalu bertemu dengan orang-orang baik...
"kamu mandi gih, nanti kita jalan-jalan keliling komplek, itu juga mempercepat proses pembukaan" kata Ibu Erna kemudian di anggukan oleh Tiara..
****
Tiara menuju kamar tamu, setelah Bibi mengambilkan pakaian salonnya.. Tiara melakukan mandinya meski sedikit merasakan nyeri pada bagian daerah sensitifnya...
ia harus relax dan santai sesuai apa yang di katakan oleh bidan Yuni ..
Tiara keluar dari kamar mandi dengan keadaan fresh, Barry sudah duduk di tepi kasur membuat Tiara sedikit terkejut...
"Udah bangun mas?" tanya Tiara
"Udah, kamu ga sakit lagi?"Tanya Barry sambil berdiri
"masih sedikit di sini jadi nyeri"kata Tiara menujuk daerah sensitifnya membuat Barry terkekeh
"Aku mau jalan keliling komplek ya sama mama"kata Tiara mendekat ke arah meja rias yang tak ada perlengkapan make up-nya hanya ada sisir, hairdryer dan lisptik...
"Aku ikut, tunggu aku mandi dan sholat dulu" kata Barry bergegas menuju kamar mandi..
duh kayaknya mau kontraksi lagi deh -. Batin Tiara yang sedikit mendapat sinyal di perutnya... namun ia mencoba untuk relax dan tetap melanjutkan aktivitasnya , ia mengeringkan rambutnya, membuat sedikit aksen curlly di bagian ujung rambutnya...
yess... ia tetap terlihat cantik dengan drees ibu hamilnya dan tatanan rambut yang panjang dan curlly di bagian ujung rambut...
***