
Satu Hari setelah kepergian Barry guna melakukan perjalanan Bisnisnya..
Keadaan kantor nampak seperti biasa saja, tidak ada yang spesial meskipun sang CEO tidak akan berada di kantor sampai 3 hari kedepan...
Jam menunjukan waktunya istirahat dan makan siang..
Tiara tentu menunggu kekasih hatinya untuk menghubunginya karena perbedaan waktu yang tidak terlalu signifikan...
Tiarw memilih makan siang bersama Syifa dan Anwar... Fardhan tengah berada di luar kantor karena urusan meeting ..
"Makan Apa lo?" Tanya Syifa ada Anwar
"Nasi padang ah" kata Anwar melaju ke stand nasi padang di kanton kantornya
"kalo lo apa Ti?" Tanya Syifa
"Apa yaa? Bakso yu" ajak Tiara
"Ayok, eh tadi lo sarapan apa?" Tanya Syifa membuat langkah keduanya terhenti
"Roti doang"
"Nah yaudah guasah makan bakso, entar magh lo kambug" kata Syifa
"Yaudah gue makan ayam penyet aja" Kata Tiara kemudian di setunui oleh Syifa..
Tiara masih terus mengengam ponsel dan dompetnya.. sesekali ia menoleh ponselnya berharap ada oesan masuk atau telfon masuk dari kekasihnya yang jauh disana..
"Syiff... gue mau cerita" Kata Tiara sambil menunggu pesnnya, sementara Anwar bergabung dengan karyawan laki-laki lainnya..
"cerita tentang apa?" kata Syifa penasaran
"balik dari salon gue sama Barry ke mall, terus gue ketemu Nelly"ucap Tiara menjelaskan, membuat Syifa terkejut dibuatnya. pasalnya dimana pun berada, Nelly selalu membuat keributan jika bertemu dengan Tiara..
"Tapi tenang, gue sama Barry.... Barry bersikap seolah gue isterinya, dan menyangkal kalo gue janda" kata Tiara menjelaskan
"ahahhaah terus-terusss" Kata Syifa dengan semangatnya
"yaa dia malu, hemm tapi bukan itu inti dari niat gue cerita syif" kata Tiara sanbil melirik sekitarnya
"hah? terus apa?" tanya nya ada tiara penuh perasaan
"Kamu inget teror dirumahku? hmmm aku dapet teror-teror serupa lagi, sejujurnya aku takut kalo itu perbuatan Nelly" Kata Tiara dengan sangat pelan..
Syifa membulatkan natanya, ia sangat syok mendengar cerita sahabatnya itu..
"Wait.. Bisa lo jelaskan teror apa aja?" kata Syifa dengan penuh penasaran
Tiara mengehla nafasnya,
"Pertama waktu dirumah, kedua saat gue di caffe balik dari salon, ada paket gue kira dari Barry, taunya paket itu berisi cetakan buku nikah penuh lumuran darah, selanjutnya ya dari chat, atau telfon" Kata Tiara sedikit pucat mengingat semua kejadian tersebut...
"neng makanannya, silakan" kata seorang pelayan pada Syifa dan Tiara
"iya makasih" kata Tiara
Syifa kembali mencondongkan wajahnya mendekati Tiara..
"Barry tau?" Tanya nya pelan
Tiara menggeleng..
"jangan sampe dia tau, dia lagi banyak peekerjaan, dia mau membentangkan bisnis ini ke ranah yang lebih luas, bahkan keberadaan Barry sangat di sorot eh media bisnis saat ini" ucap Tiara dengan hati-hati dan pelan
"Terus kita harus gimana? gue gak mungkin biarin lo berada di posisi kaya gini... tapi apa mungkin Nelly lakuin ini?"
"gue gak mau beradnai-andai menuduh seseorang yang gak pasti.. tapi gue kok yakin seseorang ini pasti orang yang tau keadaan gue gimana" kata Tiara menjelaskan pada Syifa
Syifa terdiam, ia ikut memikirkan apa yang tengah sahabatnya alami..
"makanlah dulu, pekerjaan kita sangat menumpuk" kata Tiara pada syifa..
***
Jam menujukan pukul 16.30..
Tiara dan Team masih sibuk dalam pekerjaanya, mereka teroaksa harus lembur karena Barry berhasil meraih beberapa proyek dan akan berjalan secepatnya..
Sesibuk itukah dia, sampai tak menghubungiku.. Batin Tiara..
Pukul 17.20 mereka memutuskan untuk pulang...
Seperti biasa saja, Syifa pulang bersama Fardhan, sementara Tiara membawa kendaraan nya sendiri...
Mobil Fardhan berada di sebrang mobil Tiara parkir, dan itu membuat ketiganya melangkah bersama menuju basement...
Mata Tiara dan Syifa terbelatak melihat lumuran merah menghiasi kacs depan mobil Tiara..
melihat Tiara dan Syifa mematung membuat Fardhan melihat apa yang Dua sahabat itu lihat...
"Apa-Apaan ini" Kata Fardhan menghampiri..
Bau Anyir khas darah segar sangat melekat tercium...
Tiara seketika melemas, tubuhnya bergetar sangat hebat...
"bawa masuk ke mobil sayang" Kata Fardhan pada Syifa sambil memberikan kunci mobil miliknya
Fardhan mengambil ponselnya menelfon seorang kepala keamana kantor tersebut...
Tak lama beberapa security datang menghampiri Fsrdhan, kala itu memang keadaan kantor sudah sangat sepi..
"cek seluruh CCTV, temukan pelakunya dan cari tau motif nya! dan saya harap ini yang pertama dan terakhir atau kalian akan tau sendiri akibatnya" kata Fardhan dengan nada marahnya, sebelumnya fardhan telah memotret penampakan mobil Tiara, agar ia dapat menejlaskan kepada Barry saat Barry kembali ke tanah air..
Sementara itu...
Tiara terisak dalam pelukan Syifa, ia sangat takut mengingat banyaknya kejadian aneh yang menimpahnya..
"tenang yaa Ti... gue yakin pelakunya bakal cepet ketahuan" Kata syifa mencoba menenangkan Tiara...
Fardhan masuk mobil setelah amarahnya sedikit mereda..
"Tii, lo baik-baik aja?" tanya Fardhan yang sudah duduk di kursi kemudi
"Dhan... Tolong jangan cerita ke Barry, Ibu apalagi mama.. Please" kata Tiara Lirih
"kalo kalian bisa bantu gue mecahin misteri ini tanpa orang lain tau, itu akan membuat gue sedikit tenang buat aktivitas seerti biasa" kata Tiars mencoba memberi alasan pada keduanya
"oke untuk sementara gue keep masalah ini, taoi sampai gue tau pelakunya dan saat gue rasa Barry harus tau, maka tanpa persetujuan lo gue akan ungkap ke Barry" Kata Fardhan sedikit tegas..
"iyaa gue faham..." kata Tiara tertunduk
"Sekarang gue antar pulang, mobil lo biar orang gue yang urus" Kata Fardhan
Mobil ou. melaju dengan kecepatan sedang, jalan juga terlihat sangat ramai kala itu..
Tiba dirumah Tiara..
"Besok gue jemput setelah jemput syifa"
"Sorry gak bisa mampir" Sambung Fardhan
"Salam buat ibu ya Tii.. maaf gak bisa mampir" ucap Syifa
"iya gapapa, kalian hati-hati yaa" Kata Tiara lalu ia masuk kedalam rumahnya..
Setelah memastikan Tiara masuk kedalam rumahnya, Barulah Fardhan meninggalkan kediaman Tiara...
Tiara masuk, berusaha sedikit mengurangi permasalahan agar tak nampak kecemasan di wajahnya..
"Loh naik opo toh kamu pulang? Nenek ndak dengar mobil mu" kata Nenek yang tengah membaca Al-quran di ruangs keluarga
Tiara menyalami nenek..
"Aku habis ada pekerjaan di luar nek, tadi ga sempet balik ke kantor buat ambil mobil jadi di antar Syifa sama Fardhan" kata Tiara berbohong namun ia berusaha menutupi kegugupannya
"ohh begitu, yo wes mandi sana, makan malam berasama nanti" kata Nenek
"maaf Nek, Tiara sudah makan tadi... Sampaikan ke ibu, tiara istirahat aja ya nek" Kata Tiara..
"ohh iyooo yoo,,, naiklah" kata Nenek lalu tiara berjalan menuju kamarnya...
Tiara merebahkn Tubuhnya, di raih ponselnya tidak ada satu pesan dan Telfon dari Barry..
Ia pun memilih untuk mandi, namun saat langkahnya bergerak ponselnya berbunyi..
Barry melakukab panggilan Video Call..
dengan cepat Tiara mengangkatnya...
B : hallo sayang....aku kangennn...
kata Barry to the poin
T : aku jugaa.. kenapa baru menghubungiku..
kata Tiara sedikit kesal
B : maaf, aku mencoba mengerjakan pekerjan untuk dua hari menjadi satu hari, supaya aku cepat pulang..
T : massa sii
kata Tiara seolah tak percaya, lalu Tiara kemudian merebahkan Tubuhnya
B: percayalah, tanyalan saja pada mata-matamu.... hemmmm kamu masih pakai baju kantor? apa kamu baru pulang sayang?
T : Iya aku lembur, Supaya proyek-proyek mu cepat terlaksana..
B : Makasih sayang, apa kamu sudah makan?
T : Sudah tadi aku beli Chesee Burger, kamu?
B : Aku juga sudah makan, bareng sama setengah mateng tadi....
T : Siapa?
Tanya Tiara penasaran
B : Prssetya, aku memanggilnya setengah matang..
T : hus kamu ini jangan sembarangan memangil orang hemm.....kata Tiara dengan tegas.
jadi kapan kamu pulang?
B : Lusa aku pulang sayang, apa kamu sudah sangat rindu?
T : sepertinya begitu.. kata Tiara cengengesan
B: baik aku akan lembur malam ini..
T : eeh tidak, tidak.. jangan terlalu di forsir.. biarkan Rindu ini menumpuk, supaya aku bisa peluk kamu nanti... Kata Tiara cengengesan
B : Apa kamu menggodaku sayang?
T : ahh tidak-tidak...udah yaa aku mau mandi
kata Tiara mengalihkan pembicaraan
B : Syang tapi aku masih kangen
T : Nanti kita lanjutkan lagi ya, daya ponsel ku juga melemah..
B : Baiklah, jangan sungkan menghubungiku, itu membuatku senang..
T : iya sayang, sudah yaa aku tutup.. Bye..
tut
tut
tut
andai kamu tu apa yang tengah aku rasakan Barr... Semoga Tuhan membuatku semakin kuat atas cobaan yang bertubi datang...
*****