
Tiga Hari Berlalu.. Kondisi Tiara semakin membaik, dokter juga sudah membolehkannya pulang dengan banyak wejangan serta oleh-oleh berupa obat dan vitamin..
Untuk sementara Waktu, Tiara akan menempati kamar tamu bersama Barry, mengingat Tiara tidak di perkenankan naik turun tangga selama 1 bulan lama nya demi masa pemulihan..
Setiba nya dirumah, Ibu Erna telah menyiapkan makan siang yang sangat banyak dan mengugah selera..
Tak Lupa juga Syifa yang di undang datang, mengingat hari sabtu adalah hari libur kantor..
"Mulai sekarang harus banyak makan makanan bergizi ya sayang, gak perlu takut gendut yang penting sehat" ucap Ibu Erna pada Tiara
"mah berlebihan juga ga baik" Ucap Barry protes
"mama juga tau Barr.. gausah ajari mama gitu" Ucap Ibu Erna kesal karena keritik Barry
"Ayo makan aku laper" Ajak Risa memcahkan suasana..
Saat mereka hendak memulai aktivitasnya seorang tamu pria datang..
"Assalammualaikumm" Ucap Kevin
Serentak semua menjawab salam itu..
"Eh nak kev, sini Kev ayo ayo makan sekalian, duduk samping Risa" Ajak Ibu Erna dengan hebohnya
"Ngapain lo?" tanya Barry sinis
"rondaa.... yaa main lah, sinis banget lu lagi Pms ya" kata Kevin sinis
"cih!!sungguh klasik alasan pencari cinta macem lu" kata Barry terkekeh
"Bodo" Timpalnya Pada Barry
"Malam Ris, apa kabar?" Tanya Kevin pelan namun jantungnya sunguh berpacu cpat
"kurang Baik" Jawab Risa santai sambil mengambil beberapa lauk pilihan di atas piringnya
"What? kamu sakit" Kata Kevin membuat padangan beralih ke mereka berdua yang duduk berdampingan
"sakit???? Lapeeeerrrrr!!!" kata Risa dengan nada juteknya kemudian itu membuat gelak tawa seluruh anggota keluarga, bedaNya Ibu Erna, Syifa dan Tiara tertawa pelan sambil mengumpati tawanya sementara Barry dan Fardhan twrtawa riang dan puas...
"kak kepin belicik cihhh aku jd kesel" Timpal Barry dengan suara bak anak kecil
"baiklah, ku terima pemanasan ini" ucap Kevin yanh sudah mempersiapkan mentalnya melwan dua sahabatnya yang konyol seperti dirinya..
Usai makan malam, Tiara di bantu Ibu merta dan suminya ke kamar, tak lama Barry meminta izin pada isterinya untuk membahas proyeknya bersama Fardan dan Kevin sebentar... Ibu Erna dengan siap menemani menntuny..
"Mah... Boleh aku tanya sesuatu?" Uca0 Tiara snagat hati-hati
Ibu Erna menangkap raut kecemasan pada diri menantunya..
"Apa yang menganggu pikiranmu sayang?
"Mahh.. Apa mama membantu Alice?" Ucap Tiara membuat ibu Erna tersentak..
"Maaf mah, aku gak ada niat apa pun.. aku cuma bertanya mah.." Kata Tiara yang takut menyingung perasaan Ibunya
Ibu Erna tersenyum..
"Mama membantu mereka sayang, tapi tidak bisa lebih, mama hanya membantu mereka membayar tagihan rumah sakit dan mungkin akan mempekerjaa Alice di perusahaan cabang"ucap Ibu Erna
"Syukurlah mah"
"kamu ini aneh, kemarin adalah kali pertama kamu bertemu Alice, kenapa ada rasa simpatik untuknya hemm??" Tanya Ibu Erna heran
"Aku melihat kesedihan dari matanya mah, aku melihat ketegaran saat dia menceritakan kehidupannya, terlepas dari hubungan keluarga kalian aku yakin Alice orang baik mah" Ucap Tiara sambil membayangkan wajah Alice saat berbicara tentang keluarganya kini..
Ibu Erna tersenyum..
"Dia anak dari sepupu Alm. Papanya Barry.. Mereka baik, sangat baik.. tapi yaa saat mereka mulai hidup mandiri, enak dan serba berkecukupan mereka mulai berubah sayang, itulah yang disayangkan Papanya Barry...Tapi tenang saja, semoga kejadian yang menimpahnya kini menjadi pelajaran berharga bagi kehidupannya" Ucap ibu erna pada menntu nya
Tiara tersenyum Sambil terucap kata "amiin"...
"Pikirkan kesehatanmu, Fokus pada pemulihanmu, setelah pulih, jangan lagi urus Cafe atau Salon secara berlebihan, pakailah jasa orang untuk membantumu" Ucap Ibu Erna sambil mengusap rambut Menantuny
Tiaraa memeluk ibu mertuanta, "Terimaksih mah, Terimakasih atas kasih sayang mama, terimakasih telah melahirkan putera sebaik Barry, doakan kami selalu mah" Ucap Tiara dalam pelukan itu,, rasa haru dan bahagia menyelimuti keduanya
Terimakasih yaa Allah telah memberi aku Rezeki berupa Mertua yang memiliki ketulusan dalam hidup, meski hubungan kita sempat tak baik, aku bersyukur itu hanya sekejap dan membawa kehangatan dalam peluknya kini...