
Tiara tengah di tangani dokter di UGD, wajahnya sangat pucat..
"keluarga Pasien Tiara" ucap seorang dokter perempuan
Syifa dan Fardhan berdiri..
"Saya sepupunya dok..bagaimana Tiara dok?" kata Syifa sangat panik
"Dia baik, dia sempat menghirup sejenis gas beracun hingga terjadi penyempitan saluran nafas, tapi untung segera dibawa kesini... Saya sarankan untuk rawat inap minimal satu hari agar kami panti terus perkembangan salur nafasnya" ucap Dokter tersebut...
"Baik saya setuju. saya akan urus dok" Ucap Syifa cepat karena ingin yang terbaik untuk Tiara
"Aku yang urus, kamu temui Tiara ya" kata Fardhan pada Syifa
Barry tergesah-gesah menelusuri lorong rumah sakit.. di belakangnya telah mengekor Prasetya yang berlarian kecil dengan gemulai nya...
"Dimana Tiara?" Kata Barry mendapati Fardhan memegang beberapa helai kertas
Fardhan menoleh ke arah Barry, dan juga melihat Prasetya juga mengekor di belakang Barry..
"Pak Bos Beb" Sapa Perasetya
"Antar ini ke bagian rawat inap, lalu antar berkas ini ke IGD kasih perawat disana dan temani Tiara juga Syifa" perintah Fardhan pada Prasetya lalu dengan sigap Prasetya menjalankan perintah itu...
"Duduk" kata Fardhan pada Barry
"Ada apa sebenarnya?" tanya Barry dengan penampilan sedikit kacau
"Gue juga bingung harus cerita dari mana, gue sendiri syok... menurut Syifa hampir seminggu ini Tiara emang suka dapet teror ga jelas! yang ngatain dia Janda, sampe ngirim paket buku nikah isi darah.. dah kemarin, mobil Tiara di penuhi lumuran darah" Ucap Fardhan membuat Barry geram dan membulatkan matanya..
"Terus kenapa Tiara pingsan? apa yang orang itu lakuin?" tanya Barry penasaran
"Tiara ke kunci di toilet, bahkan pelaku mesabotase aliran udara pake gas beracun" kata Fardhan membuat Barry semakin memanas
"siapa pelakunya?"
"Sorry gue belum dapet, dia kayaknya mempersiapkan semua rencana dengan matang, sekali terekam pelaku pake masker dan topi juga helm, dan tadi pakai Jilbab dan masker dan kacamata hitam.. bahkan di CCTV pun gue gak bisa menebak perawakan nya.." kata Fardhan menjelaskan
"Sial!! Siapa dia..." kata Barry geram
"gue rasa dia orang dekat, yang tau latar belakang Tiara, karena syifa bilang dia neror Tiara menyebutkan status Tiara"
"Sekarang gimana kondisinya?"
"Dia Masih belum sadar... dan dia Harus opname, dia keracunan udara.. Tapi dokter bilang paling besok dia udah bisa balik" Kata Fardhan sambil menepuk bahu Barry
Barry tertunduk lalu memijit batang hidungnya..
"Apa yang dia mau dari Tiara?" Sambung Barry
"Entahlah gue juga gak tau apa motifnya.. gue pastiin ke Syifa apa Tiara punya musuh, Syifa bilang enggak, tapi orang menganggap nya musuh tentu banyak,.."
kata Fardhan yang juga sudah sangat lelah
"gue harus apa buat lindungi dia" Kata Barry kembali memijat keningnya
"Nikahin dia Barr" ucap Fardhan penuh arti
"Apa maksud lo, lo tau kan dia gamau nikaj sebelum berganti tahun?!" kata Barry mengingatkan
"coba lo bicarain lagi, dengan dia menikah dengan lo bukannya itu membuat musuh nya takut berurusan dengan keluarga Atmaja?"
"lo bener, Tapi entah gue belum bisa yakin kalo dia mau menikah secepat ini" kata Barry kembali Frustasi
****
Pukul 10 Malam..
Barry membaringkan Tubuhnya di samping Tiara... Fardhan, Syifa dan Prasetya sudah pulang sejak Satu jam yang lalu, Barry sangat merindukan Tiara, namun lagi-lagi ia mendapati Tiara harus terkapar lemas di rumah sakit..
Tiara perlahan membuka matanya, lampu remang dengan langit-langit putih yang pertama ia tanggap, lalu ia merasa ada kehangatan dekapan seseorang tentu membuatnya sedikit berdebar..
Barry..
Tiara kembali mengingat kejadian saat ia berada di toilet kantor, itu begitu menyeramkan..
Tiara sangat yakin kejadian itu sangatlah di sengaja, ia juga yakin jika pelakunya sama seperti yang menerornya akhir-akhir ini..
Tiara merasa tenggorokannya sangat kering, ia berusaha meraih minum di atas nakas namun Barry masih memeluknya sangat erat..
Maaf aku selalu merepotkan mu...
Batin Tiara..
Tiara terpaksa melepas perlahan tangan Barry, ia merasa sangat haus..
Namun Barry terbangun dari tidurnya..
"Sayang.... kamu mau apa?" Tanya Barry membangunkan tubuhnya
"Aku haus" Kata Tiara
Barry memberikan satu gelas air mineral, Tiara menerima dan menghabiskannya tanpa sisa satu tetes pun...
"kamu abis tidur apa abis maraton sayang" ledek Barry sambil mengusap pucuk kepala Tiara
"Laper ga?" Tanya Barry
Tiara mengangguk malu..
Barry terkekeh lalu mengambilkan makanan yang sudah ia beli sejak tadi..
"Tapi agak dingin sayang, ini kamarnya gada microwifenya" kata Barry
Barry terkekeh mendengar ucapan Kekasihnya, Dengan telaten Barry menyuapi Tiars, sesekali mereka saling pandang hingga mereka lempar tawanya..
Makanan habis tersisah, Barry masih belum menyakan masalah yang menimpah kekasihnya itu, entag mengapa Tiara juga enggan buka suara kala itu..
"tidur yaa, biar besok bisa pulang" kata Barry menarik selimut Tiara
Tiara menggeleng..
Lalu Tiara kembali duduk, dan menyilahkan kakinya..
Barry juga duduk di hadapan kekasihnya..
"Kalo gak mau tidur, terus mau apa sayang?" Kata Barry mencubit hidung mancung Tiara
"Mau Minta maaf.." Kata Tiara memasang wajah bersalahnya
"Sama siapa?" kata Barry bingung
"Sama kamu, Aku mau jujur kalo aku hemm"Kata tiara tertahan
"Aku sudah tau, kenapa harus di tutupi ha?" Kata Barry menarik dagu kekasihnya
"gak mau buat kamu pikiran" Kata Tiars lirih
"hemm... kalo udah begini, apa gak buat aku kepikiran???" kata Barry membuat Tiara sedikit tersentak
"Maaf" kata Tiara lirih
"Jangan ulangi lagi, sekarang kita tuntaskan masalah ini bersama ya?"
Barry memeluk Tiara erat, Tiara merebahkan kepalanya di bahu Barry
Sangat Nyaman... - Batin Tiara
Pelukan itu meregang..
"Apa kamu mengabari ibu?" Tanya Tiara
"Engga, hemm lebih tepatnya belum" kata Barry tersenyum
"Jangan bilang Ibu, dan Mama, aku gak mau buat mereka khawatir" kata Tiara tertunduk
"oke.. Taoi aku punya sedikit permintaan" ucap Barry
"apa?"
"Ini bukan permintaan yang sifatnya memaksa, kita sudah sama-sama dewasa bukan? aku sangat amat ingin melindungi mu, jauh dari ini, mungkin saat semua orang tau kamu miliku, keluarga dari Atmaja pasti kamu akan terprotek dengan sendirinya.. " ucap Barry menatap Tiara begitu dalam, ucapanya juga membuat jantung Tiars berdegup cukup kencang
"maksud kamu apa?"
"Apa ga sebaiknya kita segera menikah sayang, kali ini alasanku mempercepat adalah untuk melindungi kamu sayang, percayalah" Ucap Barry lirih sambil menggengam tanggan Tiara erat..
Tiara tertunduk..
"Apa setelah menikah masalah ini akan selesai begitu saja? apa kamu bisa menjamin?" Tanya Tiara yang berusaha menetralkan perasaan nya kali ini
"Aku akan berusaha melindungi mu sayang... " ucap Barry menatap Tiara.
"Akan aku pikirkan baiknya.. Aku masih penasaran siapa yang melakukan teror ini" Kata Tiara kembali mengingat masalahnya
"aku pasti menemukannya.. sekarang penjagaan di kantor aku perketat dua kali lipat... bahkan tidak sembarang orang bisa menjama lantai kita bekerja" ucap Barry dengan sedikit tegas
"Terbaaaikkk" Kata Tiars mencubit pipi Barry
"Tersayang" balas Barry sambil mencolek hidung Tiara
Mereka berdua terkekeh..
"eh kamu kapan Tiba? aku sampai lupa" kata Tiara terkekeh kecil
"Tadi selsai adzan magrib, mungking bersamaan saat kamu terperangkap di kamar mandi" ucap Barry kesal
"Aku jadi Trauma ke kamar mandi sendiri" kata Tiara lirih
"Besok-besok kamu ke kamar mandi ruangan aku, tanpa bantahan" ucap Barry seolah memerintah
"sekalian aja ruanganku pindah di ruangan mu" kata Tiara berdecak kesal
"wah ide bagus sayang, jadi kita bisa berduaan terus deh" kata Barry menimpali
"ah engga engga, aku salah bicara tadi" kata Tiara mengelak
Barry tertawa melihat ekspresi takut Tiara, wajahnya begitu panik namun tetap cantik...
"Tidurlah sayang, aku mencitaimu" Kata Barry mengecup kening Tiara cukup lama
"Terimaksih, aku juga mencintaimuu" kata Tiara menatap Barry sambil memegang pipi mulus Barry..
*********
Likes
Comment
and
Vote
Thank youu 😘😘😘😘