
Tiga Bulan Berlalu Pasca kecelakaan Maut..
Hari ini seluruh keluarga maupun kerabat berkumpul, dokter baru saja datang dan menjelaskan hal tentang Tiara..
Tidak ada kemajuan yang signifikan pada Tiara, saat kondisi membaik kemudian bisa saja keadaan itu Kembali Drop seketika..
Dokter meminta keluarga agar Ikhlas, Karena pihak Rumah sakit memiliki Prosedur sendiri untuk merawat pasien koma, dalam resume keperawatan satu bulan belakangan Tiara tidak menujukan peningkatan malah dua kali mengalami drop..
Dokter terpaksa harus mengatakan agar segera melepas alat pada tubuh Tiara agar dirinya juga bisa mempertahankan karirnya juga menjaga citra rumah sakit..
"saya tidak bisa melanjutkan, saya menyerah, kalo sperti ini kami bisa di tuntut menyiksa Jenazah"
Begitulah ucapan Dokter Martin, Dokter ahli bedah syaraf yang paling senior di rumah sakit tersebut...
Sejak dokter mengatakan Hal itu seluruh orang berusaha memikirkan posisi Tiara yang terkesan "Tersisksa" maka mereka mencoba Ikhlas melepas Tiara..
Tapi, bagaimana dengan Barry?
Yaa Barry satu-satunya orang yang marah dan menentang ke inginan dokter..
Seluruh orang terdekatnya sudah mencoba berbicara secara perlahan pada Barry...
Namun hasilnya Nol..
"Aku percaya Tiara akan Bangun! Aku yakin"
Kata Barry dengan penuh amarah, sesekali Air mata ia teteskan di depan siapapun. Tak perduli mereka menganggap Barry lemah, kenyataanya memang Tiara lah pusat kelemahan Barry...
*********
Dalam Bisik di telinga Tiara...
"hiks hiks hiks...... Nak... Ini Ibu, Maafkan ibu yang begitu lemah menerima kenyataan ini.. Ibu selalu memohon, bersujud pada Tuhan agar kamu kembali ke pelukan ibu, hiks hiks hiks Namun Jika kamu merasa tak sanggup untuk kembali maka Ibu Ikhlas melepas kamu nakk..... Tapi Kamu pasti tau kan, rasa sayang ibu ke kamu melebihi rasa sayang Ibu pada diri Ibu sendiri... bahkan jika bisa di tukar, ibu bisa menukarnya nak.... hiks hiks hiksss"
Tubuh Ibu Sulis terasa lemas dan goyah, dengan kondisi menangis pula Syifa menopang Tibuh Ibu Sulis, mengajaknya duduk di sebuah Sofa...
Kini Ibu Erna maju.... Ia menarik nafasnya berusaha melepaskan rasa sesak di dadanya..
"Sayang, Ini Mama... Bangun sayang, Bangun demi kami... mama yakin kamu kuat nak.. Maafkan mama, mama tidak akan memaafkan diri mama sampai kamu pergi dari hidup kami... Hiks ..... Hiks.... Hikss
Tiara... mama menyesal Hiks Hiks hikss.... Atas nama Cinta mama Ikhlas, Ridho kamu mendampingi Anak mama sampai kalian tutup usia kelak..... Bangun Sayang Hiks hiks hiks..."
Air mata telah membasahi bantal yang Tiara kenakan, Ibu Erna mengengam tanggam Tiara, mencium lembut tangan Tiara...
Dan di depan seluruh orang yang menyaksikan, Tiara menggoyangkan Tubuhnya sekilas seraya merasa kaget...
"Yaa Tuhan Tiara" Ucap syifa yang spontan berucap melihat pergerakan singkat itu
"Sayang kamu merespon, Ayo bangun sayang aku yakin kamu bisa, kamu kuat, kamu mampu" Ucap Barry yang tak pernah bergeser dari sisi Tiara ...
"Tii ini gue Ifa... Tii lo tau ga si. gue udah jadian sama Pak Fardhan, gue jatuh cinta Ti sama dia... dan gue belum bisa bahagia sementara sahabat gue gak bisa bersama merasakan kebahagiaan ini... Tii lo kan janji mau Traktir gue makan di tanggal Tua, lo belom tepatin loh Tii Hiks hiks Hiks.... Tii ayo bangun... Kita bisa joging lagi nanti, kita bisa renang bareng, nge bakso bareng, gue juga kangen masakan lo Ti... Hiks Hiks His.... Tiii gue jujur deh, gue yang suka ngambil pulpen di meja lo, dan gue juga yang suka ngilanginnya,,, Please Tii gue janji gue balikin semua, sekarang lo Bangun yaa Hiks Hiks Hiks" Syifa berkata mengulang beberapa memorian yang terjadi di antara ia dan sahabatnya itu...
mereka semua larut dalam Tangis, Ibu Erna dan Ibu Sulis saling berpelukan di sebuah sofa... Syifa mendekap dalan pelukan Fardhan, isak tangisnya pecah...
Barry ikut menangis...
"Hay sayang... ini adalah hari ke 88 aku disini... Selama 88 hari aku melihat wajah cantik kamu sayang.... hiks hiks... Tiara, aku meminta kamu menjadi Isteri aku, mendampingi aku, jangan buang harapanku Ti.. jangan kau bawa... kembali sayang, kembali.... hiks hiks hiks Aku tersiksa Tiara, aku tersiksa melihat kamu begini, aku gakan siap dengan semua hal buruk... Aku mohon demi aku, Bangun lah sayang ... hiks hiks hiks Bangunn......" ucap Barry yang terus mengoyangkan Tubuh Tiara...
"BARRY!!!! barry Tiara nangis!!!" Ucap Syifa menatap dekat Tubuh Tiara...
"Sayang, hiks hiks hiks"
Pak Rachman sedari tadi hanya diam membisu, menangis pun tak mampu.. sejak haru itu di mulai, pak Rachman memilih untuk berada di luar ruangan... Pak Rachman Baru kemabali dari masa dinasnya dua hari yang lalu setelah dokter mengatakan "Menyerah"....
Yaa Allah Yaa Robb... maafkan diri ini...
Maaf aku tak mampu menjaga keluargaku..
Aku bersersah, aku pasrahkan jalan terbaik untuk anakku. untuk keluargaku,...
Jika kepergiannya membuat anakku bahagia dan tak merasakan sakit, Aku Ikhlas...
tentu jika Anakku dan tentunya kami sebagai orang tua masih layak memilikinya, Tolong Berikan mukzizat itu untuk kami, Bantu Anakku kembali yaa Allah...
Adam... Ayah tau kamu mencintai Anak ayah, Apa kamu bersamanya selama ini? mungkin lucu jika di cerna oleh akal sehat...
Tapi kenapa kamu membawa Tiara dalam mimpi ayah Nak...
Adam.. Ayah percaya kamu adalah orang baik, Ayah sudah menjadikan mu anak ayah, setiap sujud ayah, selalu ayah hantarkan doa sebagai hadiah untuk mu... Berbahagialah Adam... ajaklah Tiara kembali, jangan siksa dia...
Pak Rachman dengan kata Hatinya, sudah hampir 3 kali Pak Rachman selaku memimpikan Adam dan Tiara datang bersama, meminta Restu.. entah itu hanya bunga Tidur atau sebuah pertanda...
Namun Pak Rachman seolah meyakini itu adalah suatu tanda.....
*******
Tiga Jam Berlalu...
Hari sudah sangat larut..
Ibu Erna dan Ibu Sulis tidur berdampingan,
Syifa merebahkan kepalanya di Bahu Fardhan di sisi sofa lainnya...
sementara Barry masih tetap berada di samping Tiara...
Sementara Pak Rachman masih berdiam diri di lorong rumah sakit, tepatnua di depan kamar rawat Tiara...
Jari lentik Tiara bergerak perlahan, Tak ada satu pun yang menyadarinya...
Tiara membuka matanya, melihat sekelilingnya samar, sangat samar...
kepalanya terasa sakit, pusing, namun ia tetap menoleh ke kanan kiri...
ia juga merasakan ada yang menindih telapak tangan kanan nya...namun tak mampu ia melihatnya karena terlalu sakit kepalanya...
pandangannya beralih ke sisi kiri, Matanya tertangkap pada sosok wanita yang melahirkannya tengah tertidur...
Tiara membuka alat pernafasannya yang menutupi hidung hingga mulut nya..
"Ii..buu...iibuuuuuu, ibuuuu" Ucap Tiara penuh perjuangan
Belum ada yang menyadari ucapan yang begitu pelan dan lembut...
"Ibuu....buuu" ucapnya dengan sedikit menaikan volumenya..
Syifa yang tidak terlalu nyaman dalam tidurnya pun terbangun..
"Allahuakbar... Tiara" ucap Syifa dengan suara lantang nan garingnya
Semua orang kaget dan terperanjak...
"Tii lo bangun Tii" ucap Syifa menghampiri lalu menitihkan air mata, Tiara hanya tersenyum simpul..
"Anak ibu... hiks hiks sayang " Ibu Sulis memeluk Tiara yang masih terbaring..
"Sayang... Yaa Allah terimaksih" Sahut Barry
membuat Tiara meboleh..
"Mas????" ucap Tiara memandang Barry dengan tatapan kosong..
***********
R**EADERS HARAP TENANG...
HAHAHA
Mohon bersabar semua ada Prosesnya yaaa 😘😘**