
Dua Minggu berlalu...
Kini Barry dan Tiara tengah sibuk mempersiapkan pernikahan mereka, entah mengapa Barry ingin sekali mengikuti segala Proses persiapan mereka..
Tapi itu membuat semangat Tiara justru semaki menggebu demi pernikahan keduanya kali ini...
Banyak Hal yang menjadi perdebatan mereka berdua, namun dari hal tersebut justru membuat mereka memahami satu sama lain.. yaa memang terkadang memahami sikap, sifat serta kebiasaan orang lain bukan hanya dari apa yang mereka katakan tapi perbuatan yang mereka lakukan wajib pula kita perhitungkan...
Malam ini Hujam sangat lebat membuat signal ponsel naik turun tak menentu..
Barry membaringkan Tubuhnya di atas kasur king size nya..
Hanya Tinggal 2 minggu lagi.. Apa aku mampu menjadi suami yang baik?
Batin Barry yang tengah menatap langit kamarnya...
Terlepas dari statusnya yang kini di anggap belum pernah menikah, tetap saja dia bukan gadis yang pertama kali aku jama, tapi setidaknya aku beruntung memiliki wanita selembut, sebaik dns tetulus Tiara..
Adam... aku tau ini sudah suratan, maka aku akan berjani menjaganya sampai aku mati...
***
Di kediaman Tiara..
Tiara tengah mengemas beberapa barang
yang ia rasa tak perlu lagi ada di kamarnya..
Tiara dan Barry memang belum membahas tentang tempat tinggal mereka setelah menikah, Namun bagi Tiara dimana pun Barry membawanya kelak, ia harus ikhlas mengikutinya selagi itu baik untuknya..
Tiara sengaja mengemasbeberapa barang peninggalan Adam, ia Tak ingin jika suatu saat Barry salah faham akan benda-benda tersebut..
Tiara kini lebih berusaha menjaga sikapnya, lebih menghargai perasaan Barry, meski ia tak menampik jika Adam tentu masih berada di hatinya..
Tiara menemukan sebuah box pink di atas lemarinya yang sudah berselimut debu...
Tiara membuka perlahan kotak tersebut..
Jantungnya kembali berdebar cepat, air matanya menetes namun bibirnya tersunying senyum manisnya..
"Kak... kau tetap berada disini, dihatiku.. berbahagialah disana, aku akan bahagia disini untuk mu.. Jika aku bisa memilih, aku sudah memilih mayi bersamamu, namun takdir membawaku merasakan cinta yang lain, yang sama besarnya dengan cintaku padamu... Kak aku tidak bisa membayangkan jika hidupku tanpa Barry saat ini, kosong, hampa dan gelap!!! Kak... aku berjanji akan mencintaimu terus dalam doaku, hanya itu yang aku dapat berikan saat ini.. berjanjilah untuk tetap mencintaku meski kita berbeda saat ini.." Tiara bericap Sangat pelan, air matanya sudah berlinang di pipinya, namun wajahnya terlihat bahagia, senyum manisnya terus ia pancarkan sambil melihat sebuah foto Adam memakai pakaian Tugasnya dengan lengkap..
"Kau begitu gagah! itu yang selalu aku suka! lesung pipimu sungguh membuatku tak berdaya menahan gejolak cinta... Aku beruntung kak, sangat beruntung pernah menjadi milikmu.. Aku sudah lelah menyalahkan Takdir, tentu saat ini aku akan berdamai pada takdirku saat ini dan kedepannya.. Aku mencintaimu kak... meski mama dan papa membatalkan pernikahan kita di pengadilan, namun dalam hatiku, dalam hidupku kamu tetap suamiku yang pernah mengisi Hati ini, jiwa dan raga ini.. Saat ini kamu tetap suami dalam doaku, dan Barry kelak akan menjadi suami dalam hidupku, Aamiin ... "
Tiars memeluk foto Adam, Ia merasa cinta itu masih ada, namun memang ia harus junur jika kini rasa itu dimenangkan oleh Barry..
Tiars kembali menghapus Air matanya dengan keteguhan hatinya untuk bangkit dari keterpurukannya hampir satu tahun ini..
Ia kembali melanjutkan aktivitasnya di tengah derasnya hujan...
Ia menyimpan rapih kenangannya bersama Adam....
"Akan ku simpan Rapih Kak, tentu juga kusimpan dalam hati ini...."
*****
Ke Esokan harinya...
Seperti biasa, Tiara akan Bangun siang jika tidak memiliki aktivitas Pagi, namun berbeda dengan Minggu pagi ini..
Tiars memilih berolah raga, Joging pagi pilihannya..
Tiara mengunakan setelan olahraga dengan celana sebatas lutut, sepatu sport berwarna pink, setelan yang begitu pas di tubuhnya hingga lekuk tubuhnya begitu nampak sexy..
Namun begitulah kebanyakan pakaian olahraga..
Tiara menghirup udara pagi yang begitu sejuk setelah hujan turun semalam..
Tiara berlari kecil ke arah Taman dimana setiap hari libur pasti di penuhi banyak sekali orang yang tengah berkumpul melakukan olahraga pagi...
Setelah satu setengah jam lamanya Tiara berada di taman itu, menatap sekeliling, menemui banyak pasangan tertawa riang, banyaknya keliarga kecil yang tengah berbahagia dengan anak anak mereka yang menggemaskan,.... karena di rasanya sudah cukup, Tiara kembali pulang dengan berlari kecil, tak perlu waktu lama hanya 30 menit untuk sampai kerumahnya..
Taira masuk kerumahnya sambil menenteng sepatu olahraganya, meletakkan nya di sebuah rak sepatu tertutup..
Tampa Terasa ia pun tertidur pulas .
Ibu Sulid yang mendapati anaknya tertidur di sofa hanya menggelengkan kepalanya dan memilih melajutkan masaknya..
Pukul 11 siang..
Barry datang sesuai permintaan Calon Ibu mertuanya.. Ia pun di persilakan masuk dan menemui Tiara yang masih tertidur di atas sofa..
"Banguuuuuunnnnnnn" Ucap Barry sedikit kencang, hingga terdengar sampai ke dspur, ibu sulis hanya mebggelengkan kepalanya saja
Tiara menggeliat hingga bajunya sedikit terangkat dan memperlihatkan segais melebar perut mulusnya, membuat Barry menaik turunkan jakun tipisnya...
Tiars pun membuka perlahan matanya...
"Barry" Ucapnya sambil bangun dari posisi rebahannya
"Bagussss jam segini masih enak-enakan Tidur" Kata Barry meledek
"Hehe capek sayang, ada apa kesini? kok ga kabarin aku?" Tanya Tiara penasaran
"Lihat ponselmu berapa kali aku chat, dan telfon, Tapi No respon!" Kata Barry kesal dan tiara bergegas memcari ponselnya yang berada di selipan kursi,
"Hehe sorry" ucapnya
Ibu Sulis pun datang membawa secangkir teh juga cemilan.. ibu Sulis pun duduk menatap kedua pasangan di depannya..
"Ibu mau bicara sesuatu" Ucapnya..
membuat keduanya memasang wajah serius dan penasaran..
"Soal apa buu?" Kata Tiara sambil mengikat rambutnya hingga memerlihatkan leher jenjangnya..
Sial dia terus menggodaku! - Batin Barry berusaha sangat untuk tidak memikirkan hal mesum lainnya..
"Begini nak Barry, Sebelumnya Ibu Makasih kamu nymeptin waktu datang..." ucap Ibu Sulis membuat Barry mengangguk
"Disini Ibu mewakili ayah, kita berdua sudsh berbincang Via Telfon karena ayah tak bisa pulang saat ini. jadi lebih baik ayah pulang dua hari sebelum kalian menikah" Ucao Ibu Sulis menjelaskan
"Ibu dan Ayah ingin bertanya pada kamu Nak Barry... Setelah menikah, kemana kamu akan bawa Tiara nak?" Ucap Ibu sulis membuat Tiara menatap Barry penuh arti
Barry tentu laki-laki yang sudah sangat mapan, dan dewasa ia tentu dengan mudah menjawab pertanyaan ini..
"Begini buu.. Barry mau hidup satu atap dengan Tiara dan kelak anak-anak kami.. maka itu dengan kerendahan Hati Barry, Barry memohon izin pada ayah dan Ibu untuk membawa Tiara, hemm kami tidak akan tinggal bersama Ibu atau mama... Tapi.. jujur, Untuk saat ini Barry belum punya rumah, Barry hanya punya beberapa apartemen.. Barry memang berniat membangun rumah sesuai karakter isteri Barry kelak, jadi Barry mempersiapkan semuanya setelah kita menikah.. " Ucap Barry dengan penuh semangat dan keyakinan
"Barry harap Ibu dan ayah meridhoi" Ucap Barey
"Ibu dan Ayah sangat setuju dengan rencanamu, ibu dan Ayah juga begitu, setelah menikah tinggal berdua susah senang bersama... Lalu setelah menikah sementara kalian tinggal dimana?" Tanya Ibu Sulis
"semua terserah pada Tiara Bu, disini atau dirumah Barry sama aja" Ucapnya sambil menatap Tiara .
"Baik itu bisa kalian pikirkan nanti, dimanapun sama saja kan??" ucapnya kemudian di anggukan oleh keduanya..
"Tapi.. Ibu harus katakan ini, Ibu dan Ayah sudah memutuskan, Ibu akan pindah ke Solo Nak, ibu harus merawat Nenek, sedangkan nenek ga mungkin disini karena udara disini gak cocok untuk Nenek" Ucap Ibu sulis to the poin kepada Puterinya
" Buuuu, kenapa begitu" kata Tiara lirih
"Nak.. Bukankan ini pernah kita bahas sebelumnya saat pernikahan pertamamu, dan kamu setuju???"
Tiara tertuduk, ia memang kelak akan menjadikan Barry suaminya, dimana segala baktinya kini berada pada Barry..
Tiars menghela nafasnya
"Baik buu, Tiara setuju.. Tapi kalo ayah Libur ibu dan ayah harus kesini yaa" Ucap Tiara dengan manjanya sambil menghampiri Ibu Sulis dan memeluknya
"Manjanya... apa kamu ga malu ada Barry disana" Ucap Ibu Sulis
"Nggak buu Urat maluku udah putus kalo soal memeluk ibu dan ayah" Ucapnya pada Ibu Sulis membuat Barry terkekeh sambil menggelengkan kepalanya..
*******