
"Aku berharap pasti ada yang mirip denganku yang akan menyayangi Putra Mahkota juga Liang Si," balas Dara, "andaikan kamu tahu, jika aku bukanlah Li Phin. Apakah kamu akan mencintaiku? Sebesar kamu mencintai tubuh Li Phin?" batin Dara bertanya di dalam jiwa raganya.
Ia merasa bersalah dengan apa yang terjadi antara dirinya dan Li Phin sehingga empat hati tersakiti dan terluka juga bahagia hanya karena kesalahan yang tanpa sengaja. Ia melakukan perjalanan waktu yang tak ada seorang pun tahu dimana ia berada.
"Entah bagaimana dengan ragaku di zaman modern? Apakah aku sudah mati dan terkubur hanya menyisakan sebuah nama. Seorang Letnan Dua Dara Sasmita yang dingin dan masih gadis terbunuh di saat menjalankan tugasnya membekuk gembong narkoba di sudut Kota Medan!" batinnya tutup
"Sayang, apakah aku sudah boleh menyentuhmu?" tanya Jang Min sudah hampir 2 bulan Jang Min tidak menyentuh Li Phin dan ia juga tidak memiliki selir hingga ia masih setia menahan hasratnya.
Jang Min benar-benar memenuhi janjinya kepada Li Phin saat di Lembah Luo Yi jika dia tidak akan mengambil seorang selir pun. Semua itu dilakukannya demi cintanya kepada Li Phin.
"Oh, hehehe. Apakah Suamiku merindukanku?" tanya Dara tersenyum malu-malu, ia sedikit bingung untuk mengungkapkan rasanya apalagi ia masih malu untuk meminta nafkah batinnya.
Dara pun sangat merindukan belaian suaminya, tetapi karena ia baru saja melahirkan dua bulan yang lalu selain itu terlalu banyak kejadian yang telah terjadi di Donglang dan perbatasan membuat Jang Min lebuh fokus ke masalah tersebut.
Dara merasa jika pada zaman di mana Dara berada pada saat sekarang akan terlihat aneh jika seorang wanita terlalu agresif di dalam hubungan suami istri. Sehingga Dara hanya mampu menunggu kapan Jang Min ingin mengunjunginya untuk berlabuh di dalam biduk asmara mereka.
"Aku juga malu jika aku terus-terusan menggunakan tubuh Li Phin sementara Li Phin hanya mencintai Liang Si," batin Dara.
Sehingga Dara lebih banyak menahan hasratnya. Namun, Li Phin selalu saja menghilang jika Dara dan Jang Min melakukan kewajiban dan kebutuhan mereka sebagai pasangan suami-istri.
Biasanya hanya wanita nakallah yang lebih agresif untuk melakukan hal itu, mereka lebih berinisiatif meminta atau menggoda para lelaki pada zaman kerajaan.
"Apakah selama ini kamu merindukanku Istriku?" tanya Jang Min penasaran, "apakah ada aku di hatimu selain Liang Si?" tanya Jang Min penasaran.
"Tentu saja aku sangat merindukanmu, Yang Mulia!" balas Dara sedikit merona merah, "tentu saja hanya ada namamu," balas Dara.
Dara mencoba untuk bersikap jujur apa adanya di hatinya hanya ada nama Jang Min. Sementara di hati Li Phin-lah yang ada nama Liang Si. Dara membelai wajah dan dada suaminya yang maskulin.
"Lalu, mengapa kamu tidak pernah mengatakannya? Jika kamu juga merindukanku," tanya Jang Min penasaran.
"Aku … apakah pada zaman ini boleh mengatakan hal itu?" tanya Dara penasaran kepada Jang Min.
"Tentu saja! Bukankah kita suami-istri? Jadi apa pun yang membuatmu bahagia dan tidak, hal itu boleh kamu katakan istriku, begitu juga aku denganmu," balas Jang Min menatap sang istri dengan tersenyum bahagia.
"Aku kira pada zaman sekarang hal itu tidak diperbolehkan," balas Dara.
"Memang kamu hidup pada zaman apa, sih?" tanya Jang Min, "antara suami-istri ya ... bolehlah saling menginginkan dan meminta, Sayang. Aku lebih senang jika kamu yang meminta padaku daripada kamu meminta pada orang lain," lanjut Jang Min.
"Um, ya … zaman aku mencintaimu," balas Dara, "baiklah suatu saat nanti aku akan meminta padamu, aku harap kamu mengabulkan permintaanku kelak," ujar Dara.
"Tentu, Sayang. Kamu selalu saja bisa membuatku sangat bahagia," jawab Jang Min.
"Aku pun sangat bahagia karena semua perhatian, cinta kasih, dan sayangmu padaku. Aku begitu beruntung memilikimu, Sayangku," balas Dara.
Jang Min mengecup bibir Dara kembali dengan penuh kelembutan dan cinta kasihnya. Dara membalas perlakuan kasih sayang Jang Min dengan sepenuh jiwa dan hati.
Tangan Jang Min bergerilya membelai seluruh tubuh Li Phin dengan penuh gairah yang membara, menyesap bukit kembar dan membelai seluruh tubuh Li Phin tanpa terkecuali.
"Li Phin, aku mencintaimu!" lirik Jang Min.
Dara hanya tersenyum lirih, "Andaikan kamu tahu nama asliku, betapa bahagianya aku. Kamu bukan hanya mencintai tubuh ini tapi diriku seutuhnya," batin Dara terenyuh.
Jang Min benar-benar membelai tubuh Li Phin dengan penuh cinta melakukan penyatuan indah dengan istri tercintanya. Menyentuh Li Phin dengan segenap kelembutan yang dimilikinya, Jang Min ingin memberikan seluruh kasih sayang dan cinta yang ia punya yang tak bisa diberikannya kepada wanita mana pun.
Dara dan tubuh Li Phin benar-benar memikat Jang Min membuatnya tak lagi bisa berpaling ke lain hati. Penyatuan keduanya begitu luar biasa indah dan penuh dengan gejolak hasrat yang sudah lama terpendam.
Keduanya tersenyum kala pencapaian puncak kenikmatan yang mereka rengkuh dengan penuh cinta kasih abadi yang hanya mereka berdua yang memilikinya.
Tak ada lagi kesedihan dan penderitaan maupun gelisah akibat banyaknya pemberontakan yang dilakukan oleh musuh ataupun wajah Liang Si yang selalu bersedih yang mengusik jiwa Dara, karena Li Phin tak bersamanya.
Dara benar-benar memberikan hati dan cintanya untuk Jang Min sang suami. Detik telah berganti menit yang berubah menjadi jam keduanya masih terus berlayar melewati pekatnya malam dengan sebuah kasih sayang yang tulus.
Jang Min merasa hanya Li Phin-lah penantian dan tempatnya untuk pulang dari kepenatan dan lelahnya dunia.
Dara merasa Jang Min-lah tumpuan harapan dan belahan jiwanya yang tak akan tergantikan oleh siapa pun lagi.
Keduanya menyelesaikan ritual suami istri mereka dengan kebahagiaan, "Sayang, apakah kamu mau lagi?" tanya Jang Min seakan-akan Dara-lah yang tak ingin berhenti.
"Um, mungkin nanti aku akan meminta lagi!" balas Dara dengan senyuman yang membuat Jang Min terpingkal-pingkal geli.
"Memang apa yang lucu?" tanya Dara bingung mengerutkan dahinya.
"Aku baru tahu jika istriku begitu bersemangat kala bercocok tanam," balas Jang Min menyentil hidung Dara.
"Um, makanya kamu tidak perlu mencari selir lagi karena aku saja sudah cukup untuk melayanimu, Suamiku!" goda Dara dengan rayuan mautnya membuat Jang Min menggelengkan kepalanya.
"Apakah kamu tidak lelah?" tanya Jang Min.
Teng! Teng! Teng!
Suara lonceng yang dilakukan oleh para prajurit untuk menunjukkan waktu mulai bergema.
"Sayang, bukankah itu artinya sudah pukul 03.00 dini hari?" tanya Dara mengerutkan keningnya.
"Iya, makanya aku bertanya kepadamu Istriku. Apakah kamu tidak lelah? Masih banyak hari esok untuk kita bersenang-senang," balas Jang Min menatap istrinya.
"Ya, benar juga! Tapi aku lagi mau," rengek Dara.