
Tan Juan menghunuskan pedang dengan tangan kanannya ke arah Mitsuki yang berniat ingin membunuh si kembar dan. Ningrum.
"Pergilah dari sini Ningrum! Aku tak ingin kedua anak ini dan dirimu tewas!" ucap Tan Juan, ia menatap ke arah Ningrum yang juga menatapnya, sebuah getar manis merayap di hari keduanya.
"Terima kasih Tuan Tan. Berhati-hatilah! Aku tidak ingin Anda tewas hanya karena menyelamatkanku dan kedua cucuku ini" balas Ningrum, ia ingin kembali berlari untuk menghindari kematian mereka.
Namun, kala melihat Tan Juan ia merasa tidak tega untuk meninggalkan Tan Juan.
Tan Juan tepat berada di depan Ningrum dan si kembar yang sudah bersiap dengan pedang di tangan untuk menghalangi Mitzuki yang ingin mengambil nyawa mereka.
"Pergilah, Ningrum! Tak ada yang aku perjuangkan selain negara ini. Aku tak memiliki siapa pun selain negara, pergilah! Jika aku mati bawa saja bunga persik kepadaku atau melati dari negaramu, ke makamku. Itu sudah luar biasa!" ucap Tan Juan dengan senyuman.
"Aku berharap Anda tidak mati! Jika Anda sehat dan selamat, aku akan memasakkan rendang padang dari negaraku yang terkenal!" ujar Ningrum sebelum ia berlari.
"Terima kasih! Aku bukan hanya ingin rendang padang yang terkenal dari negaramu, tapi … aku ingin kamu memasakkannya setiap hari untukku," keluh batin Tan Juan.
"Nenek, apakah kita akan terus berlari?" tanya Liang Ayin.
"Ya, sabarlah Cucuku! Kita akan terus berlari hingga semua musuh tewas. Jangan lupa untuk terus berdoa kepada Tuhan Sang Pemilik segala-Nya," balas Ningrum, ia menarik kedua belah lengan masing-masing tangan si kembar dengan kedua belah tangannya untuk terus berlari.
"Hitam! Pergilah kepada Ibu dan keponakanku!" teriak Dara dari kejauhan, yang masih melesat mengejar Lu Dang yang masih bertempur dengan Liu Amei.
Namun, Dara selalu saja dihadang oleh Axiang dan prajurit hantu dari masa lalu musuh mereka yang kuat. Sedangkan Liu Min masih berusaha untuk menggapai dan menyelamatkan Luo Kang dan Ahim Yilmaz yang melawan para pengawal manusia dan prajurit hantu musuh juga Quino.
Derap langkah kaki kuda si hitam bergema dan langsung berdiri didepan Ningrum yang langsung melesat menaikan si kembar ke atas pelana dan dirinya yang melesat menjauhi pertempuran.
Lu Dang semakin murka ia ingin mengejar Ningrum dan si kembar. Namun, Boomerang dari Liu Amei melesat untuk menghalanginya bersama dengan Long Mei dan Qinglong yang menyerang dengan api dan air kristal bak jarum-jarum mematikan kepada Lu Dang dan semua prajurit hantu.
Sementara Mitzuki dan Tan Juan masih terus saling menghunuskan pedang dan samurai yang berkilau tertimpa cahaya dari api milik Qinglong.
"Sialan! Ternyata pasukan dari musuh lebih kuat, walaupun hanya sedikit dan sudah banyak yang tewas! Sejak lenyapnya para naga segalanya semakin berbalik arah. Apakah dengan darah si kembar kekuatan Raja Iblis Neraka akan kembali pulih?" batin Mitzuki.
Mitzuki semakin bersemangat ingin mengambil si kembar untuk dipersembahkan kepada raja iblis neraka. Mitzuki memiliki rencana kain di benaknya. Ia ingin bebas dan menyingkirkan Guangzhou dari sindikat mafia mereka.
"Minggir kau! Aku tidak mengenalmu!" teriak Mitsuki ingin mengejar Ningrum dan si kembar, "aku ingin memberikan kedua anak itu kepada Raja Iblis Neraka! Agar ia membebaskan diriku dari semua malapetaka ini!" teriak Mitzuki geram.
Mitzuki tidak membayangkan semua kesialan sedang menimpanya, "Jika aku tahu akan begini, aku tidak ingin bersekutu dengan iblis!" umpatnya murka.
"Itu adalah kemalangan bagimu! Kau tahu, jika kejahatan akan selalu identik dengan teman iblis. Walaupun kau tidak bersekutu dengan Raja Iblis Neraka, kau pun secara tidak sengaja telah bersekutu lama dengannya. Walaupun mungkin kau tidak mengikat perjanjian darah dengannya.
"Namun, segala perbuatanmu selama ini sudah mencerminkan jika kau adalah bagian dari iblis itu. Suka atau tidak suka sadar ataupun tidak sadar, kau telah bersekutu dengan iblis!" umpat Tan Juan.
"Aaah! Aku bilang, MINGGIR!" teriak Mitzuki ketus, ia semakin kesal karena mendapatkan ceramah dari Tan Juan.
"Kau bukanlah siapa-siapa! Kau tak pantas memberikan ceramah kepadaku! Kau bukanlah biksu, pendeta, maupun ustad, jadi tak perlu berceramah kepadaku!" teriak Mitzuki kesal, ia panas mendengar nasihat Tan Juan.
Mitzuki langsung menebaskan pedang kepada Tan Juan, tetapi tebasan pedang tersebut ditangkis oleh Tan Juan dengan mudah.
"Kau memang tidak mengenalku dan aku bukanlah pemuka agama dari yang kau katakan itu. Tapi, anak kecil pun tahu jika bajingan sepertimu adalah iblis yang berjalan di muka bumi ini, tanpa kau sadari kau adalah bagian dari mereka!" ketus Tan Juan, ia mengayunkan pedang untuk menusuk ke arah perut Mitzuki.
"Penjahat sepertimu harus mampus!" teriak Tan Juan kesal.
Namun, tangkisan dari pedang Mitzuki menepis semua tusukan dan tendangan yang dilakukan oleh Tan Juan.
"Sialan kau Buntung! Kau harus mampus sekarang juga!" teriak Mitzuki mengayunkan samurai ingin menebas tangan Tan Juan.
Perkelahian semakin panas kala pedang Tan Juan terpenggal oleh tebasan samurai yang tajam, hingga sebuah tendangan mendarat di dada Tan Juan, sudah berhari-hari dia disiksa oleh sekutu Guangzhou hanya karena Tan Juan berusaha untuk melawan dan dimintai semua informasi mengenai rahasia negara.
Namun, tak sekalipun keluar dari bibir Tan Juan sebuah pengkhianatan, ia rela disiksa dan mati sedemikian rupa. Namun, ia tak pernah memberikan semua informasi dengan mudah.Tan Juan terjerembab jatuh ke tanah, kala tendangan bertubi-tubi mendarat di dadanya.
"Hahaha, akhirnya kau mati juga, Buntung!" teriak Mitzuki melesat dengan secepatnya ke arah Tan Juan dengan sebilah samurai yang sudah mengayun di angkasa untuk menebas batang leher Tan Juan.
Trang! Buk!
Di sisinya Liang Bo langsung menghunuskan pedang ke arah Mitzuki, yang terdorong ke belakang akibat tendangan Li Phin, sedangkan Li Phin langsung menolong Tan Juan yang disangkanya adalah Li Sun.
"Ayah! Apakah Ayah tidak apa-qpa?" tanya Li Phin.
Tan Juan bingung ia seorang duda ditinggal mati istrinya dan tidak memiliki seorang anak pun, usianya sudah memasuki kepala 5, akan tetapi ia masih gagah dan tampan mengesampingkan tangan kirinya yang buntung.
"Ayah …?" lirih Tan Juan, secerca kebahagiaan sebagai seorang pria kalau seorang anak perempuan memanggilnya ayah.
"Maaf, Nona … namaku Tan Juan. Anda salah mengenaliku," lirih Tan Juan, ia merasa berdosa karena menganggap putri orang lain adalah putrinya.
"Ayah, apakah kau tidak mengenaliku? Aku Li Phin! Putrimu!" ucap Li Phin memberikan sebuah pil kepada Tan Juan.
"Oh, benarkah? Aneh … aku … apakah kamu dari masa lalu? Aku merasa perang kali ini sangat aneh? Ini bukan lagi perang antar manusia tapi dengan roh-roh dari masa lalu yang menuntut balas," lirih Tan Juan menatap Li Phin di dalam tubuh Aching.
"Nyonya Aching, apakah kau tidak mengingat jika aku adalah Tan Juan, Admiral dari adikmu Liu Min?" ujar Tan Juan, ia berusaha untuk menyadarkan Li Phin.
"Oh, maaf …," lirih Li Phin, "ini bukan zamanku tapi zaman Dara Sasmita," lanjutnya kecewa.
"Apakah ayahmu di masa lalu sangat mirip denganku?" tanya Tan Juan, ia tak tega melihat bayang kesedihan di wajah cantik wanita yang dikenalnya sebagai Liu Aching ibu si kembar dan kakak dari Liu Min anggotanya.
"Tentu saja sangat mirip! Ayah saya juga segagah Anda. Walaupun mungkin tangannya masih lengkap!" ucap Li Phin tersenyum, ia mulai menyadari banyak hal.
"Baiklah kalau begitu! Anggaplah aku reinkarnasi dari ayahmu, Putri!" balas Tan Juan tersenyum, ia merasa sedikit pulih karena obat yang diberikan oleh Li Phin.
"Sebaiknya kita menolong pria itu!" usul Tan Juan yang melihat Liang Bo sedang melawan Mitzuki.
"Baiklah! Apakah Ayah sudah sedikit membaik?" tanya Li Phin, ia masih saja khawatir akan semua keadaan dan luka ayahnya.
"Aku sudah sembuh. Terima kasih, Nak!" balas Tan Juan tersenyum bahagia.
"Aku tidak ingin kedua cucuku akan menjadi korban kebengisan dari raja iblis neraka," ketus Tan Juan murka.
"Ya, mari kita habisi semua musuh ini, Ayah! Seperti pada masa lalu," ujar Li Phin bahagia, ia tak membayangkan akan kembali berperang dengan semua orang dari masa lalu yang pernah dan masih akan selalu dicintainya.
Liang Bo masih menyerang Mitzuki, pertempuran sedikit seimbang, tebasan demi tebasan bergema. Liang Bo melirik ke arah sampingnya di mana Tan Juan sudah berdiri mengangkat senjata kembali bersama istri tercintanya.
Teriakan demi teriakan akibat tebasan pedang dan samurai telah bergema di angkasa, kala nyawa terlepas dari badan mereka. Pertempuran semakin sengit membuat Mitzuki dan para ninja semakin kewalahan. Hingga akhirnya Tan Juan berhasil memenggal beberapa ninja dan kembali bersatu dengan Li Phin yang sedikit kelelahan.
"Tubuh ini mirip dengan tubuhku dulu, ia menderita asma," batin Li Phin, "kasihan sekali! Beginilah yang dialami oleh Dara kala bertempur bersama denganku dulu," ucap batinnya.
Kras!
Sebuah sabetan pedang mengenai lengan tangan Liang Bo, membuat darah merembes membasahi pedangnya, Liang Bo menatap ke arah Luo Kang yang masih melawan prajurit hantu dasi musuh.
"Aku harus membunuh pria samurai ini, dia semakin gila! Pedangnya sangat tajam sekali!" lirih batin Liang Bo menatap fajar yang mulai menyingsing.
"Sebentar lagi gerhana akan datang, Raja Iblis Neraka tidak boleh mendapatkan darah putriku! Tidak ada yang boleh mengganggu ketentraman putri dan keluargaku juga semua orang!" batin Liang Bo.
Liang Bo semakin mengeratkan pedang di genggaman kedua belah tangannya, walaupun perih dan kesakitan menganga di sana.
"Suamiku!" teriak Li Phin ingin menolong Liang Bo.
Namun, lagi-lagi Quino menghadangnya membuat Li Phin semakin murka, "Bedebah! Mengapa kau lagi sih?" ketus Li Phin kesal.
"Hahaha, aku tidak akan membiarkanmu bebas membunuh Pamanku!" teriak Quino.
"Hadeh! Sejak kapan orang itu jadi Pamanmu? Kau gila! Pamanmu itu adalah Lu Dang, dasar bodoh! Makanya sekali-kali baca sejarah!" umpat Li Phin.
"Hahaha, sejarah sering diplesetkan dan dimanipulatif orang-orang. Jadi, buat apa aku membacanya!" tampik Quino.