Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta - terjebak di peti kemas


Omelan Dara hanya disambut dengan seringai nakal Liu Min, sedangkan Jalik Nasution hanya menggeleng-gelengkan kepala saja.


"Ayo, cepatlah! Aku tidak ingin jika polisi akan curiga!" ucap Jalik tidak sabar, ia takut jika ada patroli polisi yang akan menyisir tempat itu.


"Dasar kalian! Selalu saja memanfaatkan kaum lemah," umpat Dara. 


Liu Min langsung masuk ke dalam peti kemas membaringkan tubuhnya, dan disusul oleh Dara yang berbaring tepat di atas tubuh Liu Min yang tersenyum memeluk tubuh Dara.


"Hei, sialan! Apa yang kau lakukan?" ternak Dara sewot, "jangan mencari kesempatan di dalam kesempitanku!" teriak Dara kesal, "aku akan mematahkan tangan Liu Min!" teriak Dara marah.


"Ruangan ini terlalu sempit, bagaimana aku bisa meletakkan tanganku ke samping tubuhku? Lihatlah, sendiri!" balas Liu Min tanpa merasa bersalah sedikit pun.


"Dasar, bajingan! Aku 'kan membunuh semua gembong narkoba, karena mereka aku begitu terhina!" umpat Dara kesal.


Ia tidak pernah membayangkan akan berakhir di peti kemas dengan posisi yang begitu romantis. Bayangan malam-malam yang pernah terlewatkan bersama dengan Jang Min atau Liu Min di dunia Li Phin kembali mengisikan.


"Sial sekali! Begitu tersadar aku bertemu Liu Min tapi bukan sebagai suami istri, melainkan musuh bebuyutan," umpat batin Dara Sasmita.


"Sekarang, aku akan menutupnya dan menyisakan sedikit celah agar kalian bisa bernapas. Aku harap kalian tidak bertengkar, jika polisi memeriksanya.


"Jika tidak semua ini akan sia-sia! Aku tidak terseret akan masalah ini, karena aku hanyalah orang awam yang tidak memiliki apa-apa," ujar Jalik Nasution.


"Cepatlah turun,Pak! Jika Bapak terlalu lama berceramah aku khawatir buaya darat di bawah tubuhku ini, akan semakin menikmati hal ini," tukas Dara kesal.


"Baiklah!" balas Jalik tersenyum, ia langsung menutup peti kemas dengan penutup dan hanya menyisakan sedikit celah untuk keduanya bernapas.


Jalik Nasution kembali menggeser peti kemas dan menutup semuanya serapat mungkin seakan semua peti berisi tanpa ada celah yang mencurigakan.


Ia melompat turun dan kembali mengendarai truk melintasi perbatasan ke arah Kota Kisaran. Jalik melihat jika para polisi tembaki mengadakan razia untuk mencari Liu Min dan Dara.


"Permisi, Pak! Selamat malam! Maaf sudah mengganggu waktu Bapak pagi-pagi begini. Kami ingin memeriksa muatan yang Bapak bawa dan surat-surat berharga," sapa salah satu polisi.


"Baik, Pak!" balas Jalik Nasution ke luar dari truk kemudian dan membuka terpal.


"Apakah semua ini isinya ikan?" tanya polisi muda.


"Iya, Pak akan saya bawa ke Kota Kisaran dan Tebing. Makanya saya terburu-buru Pak!" balas Jalik.


"Mengapa kesiangan, Pak! Biasanya jam 03.00 WIB," selidik polisi masih membuka salah satu peti dan memeriksa.


"Ya, Pak! Karena anak saya sakit jadi saya sedikit terlambat, Pak!" balas Jalik.


Sementara Liu Min dan Dara masih mendengarkan dengan diam dan bersiap-siap jika sesuatu hal terjadi. Ketegangan masih menyelimuti keduanya, Dara merasakan sesuatu di bawah perutnya sedikit mengganjal.


"Sial, apakah tombak pusaka milik Liu Min sedang tegangan tinggi?"  batin Dara bertanya dan sedikit getaran aneh di daerah kewanitaannya mulai berdenyut.


"Andaikan aku tidak pernah menikah dulunya, hal itu tidak pernah mengusikku. Padahal, tubuh ini tidak pernah merasakan hal itu," lanjut batin Dara bingung.


Namun, Dara tidak ingin bergerak dan mengundang suara yang akan membuat para polisi akan mengetahui persembunyian mereka. Dara dan Liu Min hanya diam menikmati perasaan masing-masing.


Keduanya masih saling pandang dan membuang wajah, "Baiklah, Pak! Berhati-hatilah bila bertemu dengan kedua orang ini, keduanya sangat berbahaya," balas polisi tersebut.


Jalik kembali menutup terpal dan mengendarai truknya dengan santai setelah di luar jangkauan para polisi ia kembali mengendarai truknya dengan kencang.


Dara dan Liu Min masih berada di dalam peti kemas, mereka masih mendengar suara sirine polisi bergema dari arah berlawanan dengan beriringan seakan sedang mengejar sesuatu.


Dara merasa lelah harus berbaring dan bertumpu pada kedua tangan di sebelah kepala Liu Min, "Apakah tanganmu terlalu pegal? Jika pegal, baringkan saja tubuhmu!" usul Liu Min.


"Enak saja! Kau benar-benar buaya darat! Kau selalu saja mencari kesempatan di dalam kesempitanku, dari zaman ke zaman!" umpat Dara mengingat kala mereka berdua terjebak di Changsha kala di perbatasan Xuchang untuk pertama kalinya dan Liu Min berhasil mencium pipinya untuk pertama kalinya.


"Apa? Zaman ke zaman? Memang kamu hidup di zaman apa saja? Zaman baru atau purba?" goda Liu Min.


"Yang jelas bukan purbakala!" balas Dara kesal.


"Kamu marga apa?" tanya Liu Min ingin mengajak Dara mengobrol.


"Yang jelas bukan margasatwa!" balas Dara kesal.


"Hahaha, jika demikian aku juga akan takut. Um, aku kira kamu memiliki marga seperti kebanyakan di daerah sini?" tanya Liu Min penasaran.


"Tidak, Ibuku yang punya br Situmorang dan almarhum ayahku suku Melayu," ujar Dara.


"Oh, kamu sangat cantik!" ujar Liu Min entah dari mana ia berani mengatakan hal itu.


"Selain kegenitan Liu Min di masa kini pintar merayu juga! Dasar apes mengapa reinkarnasi si jelek ini seperti ini sih?" batin Dara kesal.


"Hei, mengapa kamu diam? Apakah kata-kataku salah?" tanya Liu Min ia begitu senang mengajak Dari mengobrol.


"Aku malas meladeni buaya darat sepertimu. Aku masih penasaran siapa yang telah melakukan semua ini," ujar Dae terdiam ia merasa lelah dan tangannya juga sudah kesemutan. 


Akhirnya ia membaringkan tubuhnya di atas tubuh Evan seakan ia berbaring di atas kayu keras.


"Sial, mengapa tombak pusaka milikku mulai aneh sih? Dari tadi tidak mau diam!" batin Liu Min sedikit khawatir, "Dara, sebelum kamu koma. Sebenarnya apa yang telah terjadi?" tanya Liu Min berusaha untuk mengarahkan segala hal yang telah menyiksanya.


"Kami melakukan penyergapan dan Jimmy telah menembak diriku! Aku sangat yakin jika Jimmy adalah mata-mata dan pengkhianat di kesatuan kami!" balas Dara.


"Apa?! Jimmy? Maksud kamu Komandan Letda Jimmy Caine?" tanya Liu Min, memandang ke arah Dara yang mengangkat wajah di atas dadanya hingga wajah mereka hanya berjarak sejengkal.


Deg! Deg! Deg!


"Apa?! Jimmy menjadi seorang komandan dan Letda? Sejak kapan?" tanya Dara tidak percaya.


"Ya, Danu bilang, 'Jimny mendapatkan kenaikan pangkat karena berhasil membunuh gembong mafia,' walaupun kamu harus tertembak," balas Liu Min, "Jimmy mengklaim jika dialah yang melakukan semuanya dan menyelamatkan dirimu," papar Liu Min.


"Sial! Dasar, brengsek! Akulah yang telah membunuh gembong mafia itu," balas Dara kesal


Kriuk!


Cacing di perut Dara kembali berbunyi, "Kamu selalu saja lapar," ujar Liu Min.


"Mau bagaimana lagi sudah begitu adanya. Aku sudah lama tidak makan," balas Dara,