Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Perjalanan ke Mongol


"Jadi Selir Go Zhu dan Raja Changsha, Chien Kwang (ayah Chien Fu) tidak memiliki anak?" tanya Gu Shanzheng membuat semua orang saling pandang.


"Tidak, setahuku! Go Zhu meninggal bunuh diri, aku tidak tahu mengapa? Raja Changsha sangat kejam, ia hanya memiliki anak Chien Fu dan Chien Ti'er istri perdana Menteri Qin Chai Xi," ujar Permaisuri Zhu Sia.


"Segalanya semakin rumit dengan adanya konspirasi dari Changsha, Qin, Mongol, sekarang Ketua Lu Dang," ujar Gu Shanfeng.


"Jika kalian ingin tahu kebenarannya pergilah ke Desa Mayu, di daerah Mongol. Tapi, itu mengerikan sekali. Temuilah , Mo Yu'er! Ini bawalah ..., " ujar Permaisuri Zhu Sia memberikan seruling emas kepada Gu Shanzheng. 


"Katakanlah, kamu anakku. Jangan bilang kamu putra Selir Liu Jang Yin. Karena Mo Yu'er mencintai Liu Bei, tapi Liu Bei tak pernah kembali," ujar Permaisuri Zhu Sia.


"Mengapa kami mengasingkanmu? Bukan karena kami tidak menyayangimu Shanzheng, tapi … karena riwayat cinta Liu Bei dan Mo Yu'er yang tak pernah sampai hingga menjadi dendam. 


"Selir Liu Jang Yin sendiri pun tidak pernah ke luar dari Wuling," ujar permaisuri Zhu Sia.


"Terima kasih Ibunda Permaisuri!" ujar Gu Shanzheng mengetahui banyak hal rahasia, selama ini ia mengira jika keluarganya tidak menyayanginya.


"Sebaiknya, kalian pergilah ke Mongol. Ingat pakailah pakaian khas Mongol di sana sangat dingin untuk saat sekarang. Musim salju telah terjadi di Mongol," ujar Permaisuri Zhu Sia.


"Apakah kalian benar sudah menikah?" tanya Raja Gu Tian memandang pasangan di depannya.


"Eh, maaf Ayahanda, kami masih berencana akan menikah, karena kesibukan sehingga kami belum memikirkan hal itu!" ujar Gu Shanzheng bingung, "matilah, sudah! Bagaimana aku menikahi wanita sekeras batu ini?" batin Gu Shanzheng bingung.


"Maaf, Yang Mulia Raja, kami masih berteman," ujar Tan Jia Li, "aduh siapa sangka penyamaran ini berujung mengerikan," batin Tan Jia Li melirik ke arah Gu Shanzheng.


"Tidak, apa-apa! Bila semua keadaan menjadi damai, aku ingin melamarmu kepada Jenderal Yuan Ji," ujar Raja Gu Tian.


"Sebenarnya Ayahanda sedang menuju kemari ia sedang menyelidiki dan mengukur kekuatan prajurit untuk menjaga perbatasan Xihe dan Mongol. Selain itu Kaisar memberikan obat-obatan sebagai penawar racun kepada seluruh negara di bawah kedaulatan kekaisaran dan membawa asisten Tabib Luo untuk mengajari semua tabib istana kerajaan," ujar Tan Jia Li.


"Oh, syukurlah! Selain itu banyak anggota kerajaan di Wuling yang hilang, aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi? Aku harap kalian Putra Mahkota terus selidiki mengapa hal itu terjadi? Jangan hanya bermain wanita dan judi saja. 


"Dan kamu Pangeran Kedua, pergilah nanti mengikuti Jendral Yuan Ji, untuk belajar mempertahankan perbatasan Wuling dan Changsha, kita tidak tahu kapan perang akan terjadi!" ujar Gu Tian, "Pangeran Ketiga, pergilah emban amanat Kaisar Liu Min untuk menyusup ke Mongol, doa kami sebagai orang tua selalu menyertai kalian," ujar Gu Tian.


"Baik, Ayahanda!" ujar ketiganya.


"Pergilah istirahat! Besok akan banyak waktu untuk melakukan tugas kita," ucap Gu Tian.


"Baik, Ayahanda!" balas ketiga pangeran dan Tan Jia Li undur diri.


Tan Jia Li hanya mengikut dia tidak tahu harus berbuat apa ia hanya menyimak dan mengingat setiap detail di dalam benak.


"Tan Jia Li, ini kamarmu! Istirahatlah, kecuali kamu ingin tidur denganku!" ujar Gu Shanzheng.


"Dasar, gila! Kamu pikir aku wanita murahan apa?" ucap Tan Jia Li. 


Der!


Tan Jia Li langsung menutup pintu di depan hidung Gu Shanzheng.


"Hahaha, kamu perlu belajar menjinakkan wanita, Adikku!" ejek Shanfeng.


"Cih!" dengus Gu Shanzheng.


"Wanita seperti itu, kamu harus lemah lembut. Jika tidak kamu bisa kacau, ini kitab penakluk wanita," ujar Shanfeng memberikan kitab kepada Shanzheng.


"Hah! aku tidak membutuhkannya!" balas Shanzheng.


"Ambillah Shanzheng, kamu akan tahu hasilnya nanti, xixixi aku sudah menerapkannya," tukas Shanzhai.


Shanfeng menyelipkan ke tangan Shanzheng, "Jangan lupa, untuk berterima kasih kepadaku suatu saat nanti!" ujar Shanfeng.


"Buktinya, sampai detik ini kamu belum menikah juga Kakak pertama," ejek Shanzheng.


"Hah! Kau tahu, putra mahkota sepertiku, aku hanya bisa menerima takdir dengan dijodohkan dengan putri tetangga. Aku iri dengan Kaisar Liu Min dan Permaisuri Li Phin," ujar Shanfeng, "mereka menikah karena cinta," ujar Shanfeng bersandar di salah satu pilar.


Ketiga pangeran tampan itu berjalan dengan pakaian serba putih duduk di atap istana mengamati Kota Wuling, mereka saling bercerita banyak hal, "Aku benar-benar merindukan saat-saat seperti ini," ujar Shanfeng.


"Ya, aku juga!" balas Shanzhai dan Shanzheng.


"Baiklah, besok kita akan mulai menjalankan tugas kita sebagai pangeran Wuling dan kamu sebagai Jenderal hebat Donglang," ujar Shanfeng.


Ketiganya semalaman bercerita banyak hal, hingga pagi menjelang mereka bersiap-siap menjalankan amanat dari Gu Tian sebagai raja Wuling.


***


Gu Shanzheng dan Tan Jia Li memacu kuda mereka menuju Mongol dengan pakaian rakyat jelata ciri khas Mongol dengan topi bulu dan baju tebal dari bulu domba.


"Kamu cantik sekali Jia'er!" puji Shanzheng mengutip salah satu isi kitab yang diberikan oleh kakaknya.


"Kok baru tahu, aku cantik! Selama ini ke mana saja?" dengus kesal Tan Jia Li padahal jauh di hatinya ia merasa bahagia.


"Aduh, bodohnya aku! Wanita seperti batu ini tidak akan mungkin tersentuh dengan kata-kata," batin Shanzheng, menarik napas.


Malam hari mereka sampai di daratan Mongol yang tertutup salju, "Wah, Kota Mongol benar-benar indah! Mungkin jika bukan salju lembah ini cantik sekali!" ujar Tan Jia Li.


"Ya, kamu benar! Kita sama-sama tidak pernah kemari. Andaikan keadaan kerajaan aman, mungkin aku akan memilih Mongol sebagai tempat bulan madu," ujar Shanzheng


"Dasar, omes!" ketus Tan Jia Li.


"Tolong! Tolong!" teriakan orang-orang bergema. Tan Jia Li dan Shanzheng melihat orang-orang ke luar dari tenda yang terbuat dari kayu dan jerami, ke luar membawa anak-anak untuk menyelamatkan diri.


"Apakah Mereka perampok?" tanya Tan Jia Li.


"Aku tidak tahu! Mari kita tolong!" lanjut Jia Li mengeluarkan pedangnya melesat secepatnya.


'Ya, ampun! Wanita ini sungguh kacau, belum tahu pihak siapa yang salah dan benar, langsung main serang saja," umpat batin Shanzeng mengikuti apa yang dilakukan oleh Tan Jia Li yang menebas musuh di depan mereka.


Trang! Tring!


Suara pedang dan tombak bergema, "Siapa kalian?" teriak Jia Li melihat perampok dengan memakai pakaian prajurit Donglang.


"Hahaha, apakah kau tidak melihat jika kami adalah prajurit Donglang?" teriak salah satu prajurit.


"Prajurit Donglang?" ujar Tan Jia Li memperhatikan semua prajurit di tengah pertempuran semuanya menggunakan pakaian prajurit dan atribut dari Kekaisaran Donglang.


"Siapa atasan kalian?" teriak Tan Jia Li.


"Jenderal Yuan Ji!" balas prajurit tersebut.


"Jenderal Yuan Ji? Siapa yang mengomandoi penyerangan ini?" teriak Tan Jia Li.


"Jenderal Qin Chai Jian! Atas perintah dari Kaisar Liu Min," ujar Prajurit langsung menebaskan pedangnya.