Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta - Gairah yang ditimbulkan oleh seorang Dara Sasmita


"Suit! Suit!" suara suitan bergema di antara mereka.


Para anak buah dari sindikat tersebut sangat bergairah melihat Dara, mereka merasa bagaikan mendapatkan durian runtuh, karena wanita secantik Dara dengan sukarela mau ikut dengan mereka tanpa banyak perlawanan maupun teriakan apalagi tangisan.


"Hai, Cantik! Aku akan memuaskan kamu. Apa yang ingin kamu lakukan?" teriakan lain.


"Gaya seperti apa yang kamu mau?" ucap seorang preman dengan menggunakan baju bercorak kotak-kotak dan jeans sobek di sana-sini.


"Hahaha, kamu sangat menggiurkan sekali, Nona. Aku akan membuatmu melayang ke langit ketujuh seperti yang tak pernah kau rasakan selama ini," ujar yang lain menimpali.


"Ah, ah …," ujar yang lain dengan membuat gerakan memaju mundurkan bagian pinggulnya seakan ia sedang melakukan suatu adegan parno.


"Hahaha," tawa bergema masing-masing berminat ingin mencicipi daging segar yang akan diberikan oleh Dara.


Dara melenggang bak seorang peragawati di catwalk, "Cih, ganjen banget nih, istriku!" umpat Liu Min kesal.


Debar aneh merayap di jantung Liu Min  melihat irama pinggul Dara seakan mengajaknya agar mendekat dan meremas timbunan lemak yang berada di sana.


"Wah, sejak menikah aku jadi omes? Masa hanya melihat Dara berjalan saja, pistolku langsung naik turun tak jelas!" maki Liu Min pada dirinya sendiri.


Dara merasa ingin muntah melihat semua itu, ia mendekati si pria dingin yang masih berbaring di kap mobil dengan menimang pistolnya yang hanya melihatnya tanpa minat.


"Hancurkan kepala, maka ekornya tak akan berkutik," batin Dara mengingat falsafah tersebut.


"Aku menginginkanmu, Tampan …!" ucap Dara membelai wajah pria tersebut dengan jari telunjuknya.


Si pria langsung menarik pinggang Dara yang ramping, adegan tersebut membuat Liu Min merasakan amarah, tetapi ia berusaha untuk menguasainya.


"Kayaknya tidak perlu seintim itu deh? Hm, awas kamu Dara. Kamu harus melakukan hal itu padaku!" umpat kesal batin Liu Min cemburu.


Ia mengepalkan tinjunya, berharap Dara tidak akan lebih melakukan hal gila lainnya lagi, yang akan membuatnya kehilangan kendali. Namun, Dara semakin mencondongkan tubuh dan merangkulkan salah satu tangannya yang bebas, sebelah tangannya masih menelusuri bahu dan terus ke lengan si pria hingga ke jari yang menggenggam pistol.


"Aku menginginkan kamu … untuk …," bisik Dara terus menelusuri setiap lengan tangan pria yang terlena tersebut.


Liu Min semakin kacau, "Dara, hentikan!" gumamnya geram.


Membuat si supir truk gemetar ketakutan melihat wajah Liu Min yang mirip monster yang ingin menerkam musuhnya.


Liu Min masih melihat adegan yang dilakukan Dara tepat di depannya, "Apa yang kau inginkan, Manis?" tanya pria tersebut tanpa curiga.


Ia meremas bagian timbunan lemak seksii milik Dara bak gitar spanyol tersebut. Membuat Liu Min blingsatan bak cacing kepanasan.


Sebagian hasrat si ketua preman sudah mulai melayang akan setiap belaian dan remasan tangan Dara di tangan dan rambutnya.


"Aku ingin kau … mati!" teriak Dara langsung merebut pistol.


Dor! Dor! Dor!


Tembakan bergema membuat sebagian anak buah sindikat naga merah tercengang tak mengerti dengan apa yang telah terjadi.


Liu Min bernapas lega dan menembak semua pria yang memegang para gadis yang hampir tak berbusana lagi. Bahkan, ada yang sudah mulai ingin menuntaskan hasrat di dalam mobil lain.


Dara melesat ke sana kemari bersembunyi di balik mobil si ketua preman dan melayangkan tembakan demi tembakan dengan dua pistolnya.


"Aaa!" teriak para gadis ketakutan.


Para preman tak ada yang sempat mengangkat senjata, "Jangan kabur kau, Bajingan!" teriak Dara.


Kala seorang preman ingin kabur dengan celana yang sudah melorot di lutut, dor! Dara memberinya satu peluru tepat menembus harta paling berharganya.


Liu Min melesat keluar dari mobil dan menembak tanpa ampun hingga mayat bergelimpangan di senja yang mulai turun.


Semua kendaraan mulai memutar arah kabur tak ada yang berani untuk maju karena adanya pembantaian di tengah jalan.


Si supir truk gemetar ketakutan dengan wajah pucat pasi menyembunyikan tubuhnya bersujud di jok mobil menggigit handuk di lehernya.


"Oh, Dewa yang Agung! Tolonglah aku! Aku belum mau mati aku belum menikah …," ujarnya, ia menyesali mengapa ia menyia-nyiakan masa mudanya hingga ia menjadi perjaka tua.


Tembakan masih bergema dan berakhir dengan ledakan mobil si preman yang terbakar, membakar tubuh si ketua karena Dara menembak tangki minyak.


Keheningan terjadi dengan darah mengalir ke jalan raya, "Tu-tuan … ka-kami tidak ingin mati!" ujar para wanita ketakutan mundur melihat Liu Min sedang maju ke arah mereka dengan pistol di tangan.


"Aduh, seharusnya kalian itu berterima kasih! Di mana-mana pahlawan selalu terhina, hah! Sudahlah, pakai baju kalian dan pergilah pulang! Ayo, cepat. Rahasiakan masalah ini! Jika tidak anggota mereka yang lain akan membunuh kalian!" tukas Liu Min.


Para gadis berhamburan dengan mengenakan sebagian pakaian mereka yang sudah berserakan di jalanan.


Dara berjalan dengan anggunnya di antara kobaran api, dengan memasukkan kedua senjatanya di balik kemeja.


"Laopo, kau sangat menggemaskan! Apakah boleh aku minta jatahku nanti malam?" ucap Liu Min manja.


Ia merasa Dara benar-benar menggairahkan yang membuat sebagian darahnya langsung terjun bebas ,naik ke ubun-ubun memacu adrenalin untuk membangkitkan sesuatu rasa yang  indah yang mulai ia kenali, jika ia sedang tegangan tinggi dan di ambang normal


Liu Min mulai tahu hanya Daralah yang bisa menurunkan dan menormalkan segalanya, Dara tercengang melihat pandangan mata Liu Min seakan penuh bintang berkedip di sana.


"Hah! Ckckck dasar, buaya ya tetap buaya! Pada saat begini pun, masih memikirkan hal itu!" balas Dara menggelengkan kepala.


"Laopo …," lirih Liu Min.


Ia mirip anak kecil meminta sesuatu yang terus mengikuti Dara di sampingnya. 


Liu Min menarik ujung jaket kulit Dara yang berwarna hitam.


"Iya, iya! Nanti malam jika kita tiba di Shenzhen secepatnya!" balas Dara, "iya 'kan saja! Biar cepat selesai!" batin Dara, malas berbasa-basi 


Liu Min langsung mengepalkan tangan di dadanya dengan gerakan sebuah kemenangan dan, "Yes! Akhirnya … cuci pedang lagi nanti malam. Hore!" teriaknya membuat si supir mengangkat kepala dari jok di mana dia berada, melihat keadaan.


"Apakah sudah usai Tuan?" 


"Sudah! Ayo, kita pergi sebelum polisi dan yang lain datang!" ajak Liu Min santai dan tersenyum, "jika perlu, tancap gas hingga setengah jam sampai di Shenzhen!" perintah Liu Min.


Dara dan Liu Min sudah duduk di samping supir, "Apakah ada urusan yang mendesak, Tuan?" tanya si supir,ingin tahu.


Ia langsung lega melihat semua preman tewas dan bergidik melihat darah yang mengalir, ia pun ingin pergi jauh dari TKP dan pasangan gila di sampingnya, jauh di relung hatinya masih ketakutan.


"Ya, ada urusan yang tidak bisa ditunda!" balas Liu Min dingin.


"Wah, aku baru tahu jika Liu Min bisa seserius ini?!" batin Dara melirik suaminya.