Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Hari Pernikahan


"Tidak perlu, ada masanya kamu akan melakukannya! Silakan Putri Jiajia," ucap Dara.


"Terima kasih, Nona Li Phin," ucap Jiajia langsung duduk.


Dayang Ling'er langsung menyuguhkan makanan dan minuman dan dayang pelayan Jiajia memberikan sebuah bingkisan kepada Dayang Ling'er.


"Untuk ucapan maaf saya, karena pernah membuat kamu malu di Limen Utara," ucap Jiajia dengan manisnya.


"Terima kasih, aku kira kamu tidak akan pernah mengucapkan kata itu," sindir Li Phin.


"Sialan, jika tidak untuk kepentingan kami yang akan datang aku pun tak sudi bermanis kata denganmu, Li Phin!" batin Jiajia kesal, namun senyuman manis masih tersungging di bibirnya.


"Apa sebenarnya tujuanmu kemari, Nona Qin?" tanya Li Phin tanpa mau berbasa-basi lagi.


"Aku hanya ingin kamu mau memberikan izin agar Putra Mahkota Jang Min untuk menikah lagi dan mengambil selir, " ucap Jiajia tanpa rasa malu.


"Nona Qin, saat aku mengejar Tuan  Muda Liang Xi. Kamu mengatakan, 'Jika aku adalah wanita murahan yang selalu mengejar tunangan orang,'.


"Sementara kamu meminta langsung suamiku, apakah itu disebut wanita bermartabat?" tanya Li Phin.


"Kau! Kau belum lagi menjadi permaisuri sudah terlalu angkuh!" ujar Jiajia, "aku berharap kamu mau berbagi karena demi keutuhan Kekaisaran Donglang, bukan untukku pribadi. Kamu harus memahami itu!" ucap Jiajia.


"Bukankah jika kamu menikahi Liang Si kamu juga akan menjadi permaisuri? Apakah jika itu terjadi saat aku memintamu untuk berbagi suami apakah engkau mau?" tanya Li Phin, "atau selama ini kamu berharap jika menikahi Liang Si maka kerajaan Limen Utara akan mau memihak apa yang akan dilakukan oleh ayahmu Nona Qin?


"Tapi sayangnya, kerajaan Limen Utara tak pernah berniat untuk memberontak, begitu bukan?" tanya Li Phin menatap ke arah Jiajia.


"Kau! Aku akan mengingat penghinaan ini, Nona Li Phin. Kamu lihat saja! Siapa yang akan menjadi permaisuri kelak?" teriak Jiajia meninggalkan paviliun.


"Nona Jiajia tolong tutupi racun pemikat jiwamu, aku bukanlah seorang pria yang akan jatuh cinta kepadamu!" ujar Li Phin.


"Sialan, kau! Kau akan merangkak di kakiku suatu saat nanti Li Phin!" teriak Jiajia marah 


"Silakan! Bukankah kau yang sudah merangkak di kakiku saat ini? Apakah kamu lupa? Apa yang kamu minta adalah sesuatu yang sangat berharga dan kamu rela untuk merangkak di kakiku!" balas Dara.


Jiajia langsung meninggalkan paviliun dengan amarah, "Dasar, Li Phin sialan! Mengapa dia tahu jika aku menggunakan racun pemikat jiwa?" batin Jiajia terkejut.


***


Hari pernikahan ….


Li Phin melihat pakaian kebesaran pengantin seorang permaisuri, gaun sutra indah, berwarna merah dengan sulaman benang emas bergambar naga dan burung Phoenix terlukis disana jubah berwarna merah itu terlalu panjang hingga beberapa meter.


"Wangi baju ini sedikit aneh," ucap Li Phin membaui aroma tersebut.


"Apakah ini yang dibeli oleh selir Qin?" tanya Dara.


"Aku rasa iya, tunggu dulu. Coba lihat gulungan yang diberikan oleh Tabib Luo!" ucap Li Phin.


Dara langsung melihat dan membaca jenis racun tersebut, "racun perubah kulit, dengan ciri-ciri gatal, timbul bercak, bisul yang bernanah yang membuat kulit terbakar melepuh, dan wajah menjadi jelek!" ujar Dara membaca apa yang tertulis,


"wah, sialan sekali! Apa yang harus kita lakukan?" tanya Dara bingung.


"Um, coba baca penawarnya," ucap Li Phin.


Dara membaca dan langsung membuat penawar dengan arahan Li Phin, "Baiklah, waktunya sudah sangat mepet dan aku sudah membuat penawarnya seperti di gulungan. Aku harap tidak terjadi apa pun!" balas Dara. Para Dayang berusaha untuk membantunya memakai baju tersebut.


Di aula ruang pertemuan telah dihiasi dengan ornamen merah dan sangat indah. Jang Min dan pengawal sudah menunggu. Li Phin digiring para dayang menuju tempat pemberkatan pernikahan.


Seorang biksu telah berada di sana, begitu juga dengan semua orang.


Keduanya duduk melakukan  sembahyang pada Dewa dan membakar hio, "Penghormatan kepada para Dewa!" ujar biksu sebagai seorang pembawa acara pemberkatan.


Jang Min dan Li Phin langsung membungkukkan tubuh melakukan penghormatan dan menancapkan dupa.


"Penghormatan kepada para leluhur!" ujar si biksu. Jang Min dan Li Phin melakukan  penghormatan.


"Penghormatan kepada orang tua!" ujar si biksu, Jang Min dan Li Phin melakukan penghormatan kepada Li Sun dan Selir Min dan ketiga selir lainnya, "Bersenang-senanglah Li Phin, sebelum ajalmu tiba," batin Selir Qin.


"Dan terakhir melakukan penghormatan sebagai suami istri!" ucap Biksu.


Jang Min dan Li Phin saling membungkuk, hingga akhirnya Li Phin mengucapkan salam perpisahan kepada ayah dan seluruh keluarganya. Ibunda Selir Min begitu cantik, dia sudah bisa melihat. 


Li Phin masuk ke dalam tandu menuju ke Kekaisaran Donglang, di sepanjang jalan Li Phin merasakan kegelisahan di tangannya ia memegang sebuah bingkisan pemberian dari ayahnya untuk keluarga Liu Jang Min.


Shut!


Anak panah berhamburan membunuh para prajurit yang mengawal, "Aaa!" teriak jeritan kesakitan para pengawal.


"Lindungi Putra Mahkota dan Permaisuri!" teriak Jenderal Tan Ji. 


Trang! Trang!


Suara pedang beradu dengan anak panah dan sebuah bayangan melesat berusaha untuk membunuh Jang Min yang dihalangi oleh prajurit.


"Jenderal Tan Ji! Berikan aku pedang!" teriakan Jang Min.


"Ini Yang Mulia!" teriak Tan Ji melemparkan sebilah pedang, "Siapa yang telah mengutus kalian?" teriak Jang Min melihat sekelompok orang telah mengepung mereka dengan bersenjata lengkap.


"Kalian harus mati!" teriak seseorang menggunakan penutup kepala, menyerang ke arah Jang Min yang melesat dari kudanya bunga pengantin dari kain di lehernya melambai-lambai.


"Lindungi calon permaisuriku!" teriak Jang Min. Semua prajurit berusaha untuk melindungi Li Phin di dalam tandu yang sudah berada di tanah.


Li Phin mengintai dari tirai tandu, "Sialan! Mereka benar-benar ingin melenyapkan aku dan Jang Min," batin Dara, "apakah tidak masalah jika aku keluar dari tandu?" ujarnya pada Li Phin.


"Aku tidak tahu, tapi Ibunda Selir Min mengatakan, 'Kita tidak boleh keluar,' nanti akan mendapatkan musibah," ujar Li Phin.


"Bukankah kita sudah sering menghadapi bahaya selama ini? Sudah serahkan saja sama Tuhan dan Dewa!" ujar Dara.


Kras!


Sebuah pedang hampir menembus dadanya, jika dia tidak mundur ke belakang belum lagi pedang dari kanan-kiri, depan, dan belakang pedang dari musuh mulai ingin mencincang tubuh Li Phin.


"Bajingan! Di hari pernikahanku pun kalian berusaha untuk membunuhku?" umpat Dara marah.  


Ia menggendong bingkisan ayahnya untuk keluarga Liu Jang Min. Dara menarik pedang dari balik kursi yang didudukinya, "Ibunda Selir Min benar-benar merencanakan semuanya dengan baik," batin Dara.