Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Perjalanan ke Kota Zuhe


"Ya, Dewa itu mengerikan sekali. Aku rasa benar-benar ada pengkhianat di Kekaisaran Donglang yang harus kita cari Yang Mulia!" balas Liang Si menatap Jang Min.


"Kamu benar sekali, sepulang dari sini kita akan menyelidikinya," balas Jang Min, "sebaiknya kamu istirahatlah dulu, aku tidak ingin kamu semakin sakit. Phin'er baik-baik saja, berkat dirimu Pangeran. Terima kasih!" balas Jang Min.


"Sudah kewajiban saya untuk melindungi Permaisuri Donglang, Yang Mulia," balas Liang Si, "syukurlah jika Permaisuri Phin'er selamat. Aku bahagia," batin Liang Si tersenyum dengan tulus.


Jang Min hanya tersenyum memandang ketulusan yang terpancar di mata Liang Si. Walaupun ada luka di sana, "Begitu tulus dan besar rasa cinta Liang Si kepada Li Phin. Ya Dewa, apa yang harus aku lakukan kepada Liang Si kedepannya?" batin Jang Min.


Walaupun Liang Si berusaha untuk menyembunyikan perasaannya, "Aku tahu kamu sangat mencintai Phin'er, saat kamu pingsan aku mendengar kamu merintih memanggil namanya," batin Jang Min menarik napas.


Ia berjalan pelan menuju ke luar Vihara menemui para Biksu dan melihat semua prajurit yang terluka termasuk Kasim Tang Ta.


***


Sementara Tan Jia Li dan Gu Shanzheng, masih tertidur. Tan Jia Li merasa jika ada beban di pinggangnya. Ia merasakan suatu kehangatan dan rasa nyaman yang berbeda dari semua yang pernah ia alami.


Deg! Deg! Deg!


Detak jantung Gu Shanzheng bagaikan lonceng di telinga Tan Jia Li, "Di mana ini?" batin Tan Jia Li berusaha untuk mengumpulkan semua jiwa untuk kembali ke raganya.


Pluk!


"Aduh!" lirih Tan jia Li karena sesuatu menimpa tubuhnya memeluk dengan erat. Perlahan Tan Jia Li berusaha untuk membuka matanya, "Gu Shanzheng!" pekiknya tertahan, "dasar sialan! Berani sekali dia memelukku!" batin Tan Jia Li ingin mendorong tubuh Gu Shanzheng.


Akan tetapi, tubuh Gu Shanzeng tidak bergerak sama sekali, ia semakin erat memeluk Tan Jia Li pembuat Tan Jia Li tidak bisa bergerak sama sekali, "Shanzheng," bisik Tan Jia Li tepat di telinganya.  


Ia melihat Gu Shanzeng memeluknya dengan erat seakan dirinya adalah sebuah guling, "Shanzheng, Shanzheng! Bangun," lirih Tan Jia Li menepuk erat wajah Gu Shanzheng yang mulai dipenuhi jambang tajam di sana.


"Hm, dikit lagi!" balas Gu Shanzheng.


"Shanzeng! Jika kamu tidak bangun aku akan merobohkan tenda ini," ancam Tan Jia Li membuat Gu Shanzheng terbangun.


"Oh, sial! Maaf," ujar Shanzheng melihat jika ia memeluk erat Tan Jia Li di bawah kungkungan tubuhnya, "sial, aku kira tadi mimpi, hampir saja aku memerkosa Tan Jia Li," umpat batinnya kesal.


Keduanya melompat turun dan diam membersihkan tubuh dan ke luar dari tenda mengucapkan rasa terima kasih pada si ibu pemilik rumah.


Keduanya telah menanti gerombolan pedagang dari gunung Kunlun dan menunggu dengan menuntun kuda masing-masing.


"Maaf, bolehkah, kami ikut dengan kalian ke Kota Zuhe?" tanya Gu Shanzheng pada kepala gerombolan. 


"Mari, ikutlah dengan kami!" balas kepala gerombolan.


Tan Jia Li memperhatikan secara cermat gerombolan yang terdiri dari pria dan wanita muda tersebut membawa pedati yang tertutup.


"Ayo, istriku!" ajak Gu Shanzeng pada Tan Jia Li yang menganggukkan kepala, keduanya perlahan mengikuti gerombolan tersebut. 


Seorang pria dengan tampang menyeramkan langsung mendekati Tan Jia Li dan Gu Shanzheng, "Kalian orang barukah di desa ini?" tanyanya.


"Ya,begitulah! Lalu apa urusan kalian ke Kota Zuhe?" tanyanya lagi tetapi ia lebih memperhatikan Tan jia Li.


"Aku dan istriku hanya ingin berjalan-jalan. Kami berniat ingin berdagang kain sutra di Zuhe, kami dari Luoyang. Siapa sangka jika di sini sangat mengerikan? Kami ingin kembali, tetapi kami pun sangat takut jika prajurit Donglang akan melukai kami," balas Gu Shanzheng.


"Jangan, takut! Prajurit Donglang selalu saja kalah dibuat orang-orang Mongol," balasnya, "kalian boleh mengikuti kami," balas pria sangar tersebut masih terus memperhatikan Tan Jia Li.


"Andaikan ini tidak penyamaran. Aku pasti sudah membunuh orang ini!" batin Tan Jia li kesal.


Namun, ia hanya diam saja, "Mengapa istrimu diam saja, Tuan?" tanyanya.


"Istri saya sedang hamil muda. Sehingga ia lebih banyak berdiam diri," balas Gu Shanzheng.


"Apa? Hamil muda? Dasar, bajingan! mencari alasan yang sangat tepat," batin Tan Jia Li.


"Oh, begitu! Istrimu sangat cantik sekali. Jika kau tidak keberatan kamu bisa menukarnya semalam saja dengan para gadis yang sedang kami bawa," balas pria tersebut menatap ke arah Tan Jia Li dengan perasaan yang membumbung tinggi.


"Maaf, dia istri saya bukan barang yang harus ditukar," balas Gu Shanzheng menatap tajam ke arah pria tersebut, "lagian, maksudnya ditukar bagaimana? Apakah kalian memperdagangkan para wanita?" selidik Gh Shanzheng.


"Hahaha, wanita adalah barang yang sangat mudah digunakan dan dimanfaatkan Tuan. Anda bisa memilih 2 gadis sekaligus ditukar dengan Nyonya ini," balasnya.


"Maaf, saya bukan barang dan saya tidak ingin ditukar dengan siapa pun," balas Tan Jia Li menatap ke arah orang tersebut.


"Bukankah kalian ingin selamat hingga ke Zuhe? Maka ikutilah saranku. Kamu bisa menukar semalam, istrimu dengan  dua gadis. Besok kau bisa mengambilkan lagi jika kami sudah puas dengannya," tukas si pria dengan percaya diri.


"Bajingan!" batin Tan Jia Li sudah mencengkram erat kekang tali kuda hingga buku-buku tangannya memutih.


"Jika aku tidak mau menukar istriku, apa yang akan kalian lakukan?" tanya Gu Shanzheng menatap tajam ke arah pria tersebut.


"Mungkin kami akan membunuh kalian di sini! Hahaha," teriak seseorang lagi yang berada di belakang pria tersebut.


"Kata ibu di Desa tadi, 'Kalian adalah orang-orang yang baik hati. Pedagang dari Gunung Kunlun,' tapi mengapa sikap kalian demikian?" tanya Gu Shanzheng berusaha terus untuk mengorek keterangan.


"Hahaha, orang-orang desa terlalu bodoh! Selain itu, kamilah yang selalu membuat kerusuhan dengan mengatasnamakan prajurit Donglang. Kami merampok dan menculik para gadis dan menjualnya ke Zuhe," ujar pria yang membawa kapak besar dan lebar di punggung.


"Jadi kalianlah biang kerok semua itu? Lalu siapa yang mengutus dan memerintahkan kalian? Jika kalian bukanlah prajurit Donglang, pasti kalian adalah orang lain.


"Apakah kalian orang-orang dari Mongol, Qin, atau Changsha? Jika Kaisar Liu Min dan Permaisuri Li Phin tahu bagaimana?" tanya Gu Shanzheng menatap keduanya bergantian.


"Mereka adalah orang-orang bodoh dan terlalu naif! Mereka selalu menyangka jika semua orang di sisi mereka selalu adalah orang baik.


"Mungkin saat ini Kaisar dungu dan Permaisuri goblok itu sudah mati di perbatasan Gunung Sun," balasnya.


"Mengapa begitu? Mereka memiliki jendral dan prajurit yang hebat! Kaisar dan permaisuri juga adalah orang hebat," balas Tan Jia Li.


"Hahaha, sudah kubilang mereka bodoh!" ujar pria yang menyeramkan yang telah menunggang kuda di sebelah Tan Jia Li