
Mo Yu melihat kembali ke arah Tan Jia Li dan Gu Shanzheng, "Hah! Tidak kakek, tidak cucu buat susah saja!" umpatnya kesal, ia kembali berjalan ke arah Gu Shanzheng ia membalurkan obat ke punggungnya. Mo yu masih mencuri pandang kepada wajah Gu Shanzheng.
Membuat sebagian jiwanya bersedih dan berusaha untuk mengikhlaskan apa yang telah terjadi, kemudian ia kembali ke tubuh Tan Jia Li memeriksa punggungnya dan kembali membalutkan obat memasukkan kapsul ke mulut mereka berdua.
"Sebaiknya aku meninggalkan mereka, nanti aku akan kembali kemari lagi," batin Mo Yu. Nenek gesit itu melesat secepatnya dengan membawa keranjang di punggung melintasi lembah dan kembali ke pondoknya menjerang air.
Derap kuda terdengar mendekat, "Hei, Nona Mo Yu! Apakah kau melihat dua manusia kemari?" tanya Jenderal Mongol menatap Mo Yu yang ke luar dari dalam pondok bambunya.
"Tidak! Memang siapa mereka?" tanya Mo Yu.
"Mereka adalah orang yang sangat meresahkan. Kami tidak tahu siapa mereka, tapi Pangeran Shan Tek Xie telah mereka bunuh!" balas Jenderal Mongol. Jadi kalau kalian melihatnya tolong laporkan kepada kami, jangan menutupi atau menyembunyikan mereka.
"Jika kalian melakukannya maka Raja Shan Ti'er akan menghukum kalian," papar Jenderal Mongol dengan garang.
"Baik, Yang Mulia Jenderal!" balas Mo Yu. Jenderal tersebut berlalu memacu kudanya bersama dengan anak buah mereka.
Mo Yu hanya memandang kepergian jendral dan prajurit tersebut, "Oh, jadi pasangan itu telah membunuh Shan Tek Xie, bagus! Manusia biadab itu memang pantas mati!" batin Mo Yu membuat bubur, ia makan dengan cepat dan memasukkan ke dalam sebuah mangkuk, melesat secepat kilat menuju gua di mana Gu shanzheng dan Tan Jia Li berada.
***
Sementra di Gunung Sun, Jang Min dan Liang Si sudah mulai bergerak pulang, "Bagaimana kesehatan dan lukamu Pangeran Limen Utara?" tanya Jang Min menatap Liang Si di sisinya sambil berkuda menuju Donglang.
"Saya sudah membaik, Yang Mulia," jawab Liang Si.
"Syukurlah!" balas Jang Min.
Keduanya berkuda dengan diam sambil bersisian, keduanya merasa tidak seperti biasanya, dulu kala mereka masih berstatus sebagai sesama prajurit di dalam pelatihan keduanya kerap bertemu dan bercanda berbicara banyak hal.
Akan tetapi, semenjak keduanya mencintai wanita yang sama segalanya menjadi berubah, Liang Si melirik ke dalam kereta kuda.
"Aku berharap Li Phin baik-baik, saja! Aku tidak pernah bertemu dan melihat wajahnya lagi semenjak terakhir kali," batinnya.
"Li Phin baik-baik, saja!" balas Jang Ming memahami apa yang membuat risau Liang Si.
"Maaf, aku hanya … syukurlah jika Permaisuri baik-baik, saja!" balas Liang Si.
"Ya, terima kasih, telah menolongnya," balas Jang Min menatap Liang Si.
Perjalanan masih terlalu panjang keduanya kembali diam, sementara Dara dan Li Phin di dalam kereta kuda hanya diam, "Apakah perjalanan kita masih jauh, Phin'er?" tanya Dara.
"Aku rasa masih," jawab Li Phin di dalam benak.
Keduanya saling diam, "Aku harap perjalanan kali ini kita berhasil melewati banyak hal dan aku harap tidak ada lagi rintangan," balas Dara.
"Ya, kamu benar! Aku berharap tidak ada lagi malapetaka apa pun kedepannya, kamu tahu semakin kacau balau!" balas Li Phin.
"Ya, seperti hatimu yang masih mengharapkan Liang Si. Tapi, aku tidak tahu harus bagaimana? Jika aku ingin pergi dari tubuhmu pun aku tidak tahu caranya," balas Dara merasa menyesal.
"Sudahlah, Dara. Mungkin sudah takdir kita begini," balas Li Phin.
Derit kereta kuda berjalan sedikit cepat, mereka menuju kembali ke desa perbatasan. Semua orang begitu antusias menyambut Kaisar Liu Min dan arak-arakan semakin ramai di jalan.
Jang Min menyapa semua penduduk dengan ramah dan mengunjungi, mengobati mereka yang terluka dan semua penduduk menyuguhkan makanan.
"Yang Mulia, maaf jika penyambutan kami kurang berkenan kepada Yang Mulia," ucap sang kepala desa.
"Ini sudah sangat luar biasa, Tuan. Jangan khawatir," balas Jang Min tersenyum.
Di bawah pohon mereka duduk dan bercengkrama di sisi Jang Min Liang Si duduk sedikit menjauh dari Li Phin dan Jang Min.
"Li Phin sangat cantik dengan kehamilannya," batin Liang Si mencoba untuk memakan suguhan yang diberikan oleh warga desa yang baik.
Mereka tertawa dan bersenda gurau bersama dengan Kasim Tang Ta, "Istriku, istirahatlah, kamu jangan terlalu lelah!" ujar Jang Min.
"Iya," balas Dara tersenyum ia ingin beranjak dari tempat duduknya dibantu dayang Ling'er.
"Ayo," Jang Min langsung membopong istrinya membawa ke tempat tidur.
"Suamiku, ini sangat memalukan sekali!" balas Li Phin. Ia merasa malu jika Jang Min harus membopong dirinya apalagi Liang Si melihatnya.
"Tidak apa-apa! Kamu istriku kewajibankulah untuk membahagiakanmu," balas Jang Min tersenyum.
Sementara Liang Si hanya menatap dengan pandangan bahagia juga duka melihat pasangan memasuki rumah, "Mereka begitu bahagia, syukurlah!" batin Liang Si menahan rasa cemburu di hatinya, "andaikan aku bisa, merebut kembali cinta Li Phin. Tapi, itu adalah hal yang sangat mustahil," batin Liang Si terdiam.
Ia hanya memandang api unggun membakar kayu, "Apakah takdirku harus menjadi kayu tersebut? Rela terbakar demi kebahagiaan seorang wanita yang aku cintai?" batinnya.
Liang Si menatap kayu yang mulai habis dan melemparkan bilah kayu lain, "Aaa!" teriak bergema kala anak panah api berhamburan di atap rumah penduduk yang hanya terbuat dari genteng dan jerami membuat api semakin membakar dengan cepat.
"Padamkan api!" teriak kepala desa menyuruh warganya.
"Prajurit bersiaga!" teriak Liang Si menarik pedangnya.
Bayangan-bayangan hitam mulai berdatangan berusaha mengacau dan membunuh penduduk dan prajurit.
Liang Si melesat berusaha untuk menangkis pedang.
"Sialan! Siapa kalian?" teriak Jang Min melesat dari dalam rumah membawa Li Phin di gendongannya.
"Kaisar berlindunglah!" teriak Kasim Tang Ta.
"Kasim! Bawa Permaisuri!" teriak Jang Min.
"Baik Yang Mulia!" terjak Kasim Tang Ta melesat ke atas punggung si Hitam.
"Suamiku berhati-hatilah!" ujar Li Phin.
"Hahaha, jangan biarkan mereka kabur! Kita harus membunuh mereka jika tidak, pasukan Qin dan Changsha sedang menuju kekaisaran untuk merebut kembali wilayah Donglang!" teriak seorang pria bertopeng.
"Apa? Siapa kau?" teriak Jang Min sudah berada di depan musuhnya.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku!" teriak pria bertopeng melancarkan serangan demi serangan kepada Sang Min.
Akan tetapi, Jang Min menangkis dan berhasil menyabetkan pedang ke tubuh musuhnya. Pasukan semakin banyak, Liang Si melesat berusaha untuk melindungi Jang Min.
"Terima kasih, Pangeran Liang Si. Aku harap kau menyelamatkan Phin'er aku mohon! Anaknya adalah pewaris Donglang. Jangan biarkan putraku atau putriku tewas," ucap Jang Min.