
Seorang pria memeriksa Cicero yang baru menginjakkan kaki di pantai, Cicero hanya mengangkat kedua belah tangannya pasrah mendapatkan perlakuan yang biasa dilakukan bagi mereka yang masih curiga kepada si penjual maupun si pembeli barang haram tersebut.
"Dia bersih Bos!" ujar kaki tangan yang memeriksa Cicero.
"Baiklah! Mana barangnya?" tanya pria yang berdiri dengan setelan baju olahraga.
Cicero langsung menjentikkan jari dan seseorang langsung maju dengan sebuah koper di tangan, "Silakan periksa Tuan!" ujar Cicero.
Seseorang maju dan memeriksanya, "Ini murni Bos!" ujar si pemeriksa.
"Mana duitnya?" tanya Cicero.
"Berikan!" ujar si pria yang memakai baju olahraga biru sebagai ketua.
"Senang berbisnis denganmu Tuan-" ucap pria yang memakai baju olahraga.
"Cicero!" sela Cicero.
"Wah, hebat sekali! Aku senang berbisnis denganmu, Tuan Cicero. Aku tidak menyangka jika engkau sendirilah yang datang mengantarkan permen manis ini," ucap si pria.
"Tentu saja! Apakah dua minggu lagi kita akan melakukan transaksi di sini?" tanya Cicero.
"Ya, seperti biasa. Nanti aku akan memberikan tanggal dan waktunya, kamu tahu Tuan, polisi lagi gencar-gencarnya mengadakan pembersihan.
"Jadi kita tak bisa seleluasa dulu lagi," balas si pria yang memakai baju olahraga.
"Baiklah, jika begitu!" balas Cicero.
Kedua pria itu saling berpelukan sekilas dan Cicero kembali ke sampan layaknya seorang nelayan, mengayuh dayung membelah pinggir laut beserta anak buahnya.
Sementara Liu Min dan Dara masih mengawasi mereka, "Sialan, itu adalah Cicero aku tidak menyangka dia pun bisa tiba hingga kemari," umpat Liu Min pelan.
"Kamu mengenalnya?" tanya Dara.
"Ya, salah satu sindikat mafia internasional. Salah satu teman dari Tiger bersaudara yang pernah aku bantai. Sayang sekali kita tidak membawa senjata," ucap Liu Min.
"Jangan khawatir, mungkin beberapa waktu lagi, mereka pasti akan bertransaksi di sini. Kita akan mengawasi dan menjebaknya," balas Dara masih mengawasi semua orang yang mulai pergi.
Dara dan Liu Min masih mengikuti pria yang memakai baju olahraga, "Aku tidak mengenal siapa sindikat ini,"ucap Dara jujur.
"Wajar, selama setahun kamu koma. Sehari saja kamu tertidur, pasti sudah terlalu banyak hal yang akan terjadi," balas Liu Min.
Ia mengambil ponsel dan mengabadikan pria tersebut beserta semua kaki tangannya yang berjalan dengan cepat layaknya mereka adalah orang-orang yang ingin lari sore hari menikmati senja.
"Apakah kita akan terus mengikutinya?" tanya Liu Min.
"Tidak perlu! Mereka sudah masuk perangkap! Apakah gambar yang kamu ambil sudah cukup jelas?" tanya Dara dengan malas.
"Sudah!" balas Liu Min.
"Ayo, kita kembali! Aku ingin menemui Joy nanti malam. Jika menunggu besok aku semakin cemas atas nasib Jenny," balas Dara berlari kecil meninggalkan TKP.
Liu Min bergegas mengikuti Dara, berlari sejajar dengan wanita cantik di sisinya, "Apakah aku boleh ikut?" tanya Liu Min.
"Tentu saja! Asal lukamu tidak mengganggumu," balas Dara dingin.
"Hahaha, terkadang sulit menebak dirimu Dara," cetus Liu Min.
"Apa maksudmu?" tanya Dara masih berlari kecil melirik sejenak ke arah Liu Min yang masih menatap lurus ke depan.
"Aku harap itu adalah pujian yang paling indah yang pernah aku dengar Tuan Liu," balas Dara tidak peduli, "benarkah apa yang dikatakan oleh Liu Min?" batin Dara bertanya.
Jauh di benak Dara ia mulia bertanya akan sikapnya selama ini, "Pantas saja aku tidak memiliki kekasih seorang pun di duniaku.
"Saat aku bersama Li Phin, mungkin karena kecantikan Li Phin juga kelembutannya," batin Dara, "sehingga banyak pria yang tertarik kepadanya. Berbeda denganku," lanjut batin Dara.
Dara menoleh ke arah Liu Min yang masih memperhatikannya, "Ada apa?" tanya Liu Min, "aku tidak suka jika kamu hanya diam saja," balas Liu Min.
"Jadi, kamu ingin agar aku berteriak-teriak seperti orang gila begitu?" tanya Dara kesal, "kamu selalu saja membuat aku kesal," ketus Dara.
"Hahaha, dan aku sangat suka membuatmu kesal Dara, kamu terlihat cantik!" balas Liu Min.
"Dasar buaya darat!" umpat Dara.
"Buaya-buaya darat begini, tapi kamu suka 'kan?" goda Liu Min sambil berlari menarik pinggang Dara hingga keduanya terjerembab jatuh ke pantai berpasir putih.
"Liu Min …," lirih Dara kala kedua mata mereka saling mengunci.
"Apakah kamu mencintaiku Dara?" tanya Liu Min.
"Sialan! Apa maksudmu?" tanya Dara berang, "baru saja kau membuat hatiku meleleh, secepat itu pula kamu menghancurkannya. Dasar Liu Min kurang ajar!" teriak Batin Dara kesal.
Keduanya memendam rasa cinta dan kekaguman akan tetapi kalah dengan rasa gengsi, "Alangkah lebih baiknya kamu jujur!" balas Liu Min.
"Apa maksudmu Liu Min?" tanya Dara tidak mengerti.
"Sudah dua kali aku memergoki kamu, selalu menyebutku dengan ucapan, 'Suamiku!'. Apakah kamu bermimpi telah menikah denganku Dara?" tanya Liu Min penuh harap.
Tatapan mata Liu Min yang serius membuat Darah sedikit linglung, "Itu bukan urusanmu!" balas Dara merasa malu, ia ingin beranjak dari kungkungan tubuh Liu Min.
Sementara deburan ombak menghempas ke pantai membasahi tubuh mereka, berulang kali ombak membelai tubuh mereka. Namun, keduanya masih tak bergeming saling tatap.
"Itu menjadi urusanku, kala kamu menyebut namaku, Dara!" ucap Liu Min.
"Mungkin, aku sedang bermimpi! Dan aku tidak ingat jika aku pernah memimpikanmu," sanggah Dara.
"Kamu tidak pernah jujur dengan semua perasaanmu, Dara!" balas Liu Min.
"Sudahlah, Liu Min. Aku tidak ingin semua hal menjadi rancu, suatu saat kamu akan tahu sendiri," ujar Dara dengan penuh teka-teki.
"Apa maksudmu?" selidik Liu Min dengan mengerutkan dahi.
"Liu Min, kita akan menemui Joy. Hari sudah senja, aku ingin kita kembali ke markas," balas Dara mencoba untuk mengalihkan semua pertanyaan Dara.
Liu Min menggeser tubuhnya ke samping menikmati hantaman ombak menyentuh wajahnya. Dara berlari kecil meninggalkannya seorang diri di tepi lantai dengan kesepian dan pertanyaan.
"Bayangan itu? Entah mengapa sejak aku menginjakkan kaki di Indonesia aku merasa bayangan itu selalu saja muncul. Tapi, siapa? Apakah ada hubungan antara aku dan Dara?
"Tapi di mana? Aku tidak pernah bertemu dengannya sebelum ini? Ya Tuhan! Andaikan aku bisa mencari jawaban dari semua ini," batin Liu Min mengangkat tangannya kala deburan ombak kembali menyentuh tubuhnya.
"Bayangan itu bak air yang menghempas ini, terlihat begitu kuat dan hanya menyisakan sedikit bekas yang segera terhapus. Aku berharap aku menemukan jawaban," batin Liu Min.
Semburat jingga mulai terlihat di ufuk barat, Liu Min beranjak dengan berlari membuka kausnya yang basah berusaha untuk secepatnya membersihkan diri dan mengikuti Dara menemui Joy.
"Jika Cicero berada di sini, lalu apa hubungan antara Guangzhou dan Pablo Sandez?" batin Liu Min.