
Ia mengingat Selir Min menyelipkan pedang naga hijau ayahnya, "Aku tidak tahu, apakah ini boleh apa tidak! Tapi aku merasa ini sangat dibutuhkan di kehidupanmu, Nak! Berhati-hatilah, ingatkah semua pesan Ibundamu ini.
"Dan ini dariku untukmu," ujar Selir Min memberikan sebuah selendang sutra miliknya, "aku harap selendang ini yang aku gunakan untuk menolongmu sewaktu kamu kecil, masih berguna," ujar Selir Min berbisik dan berusaha menyelipkan segalanya tanpa terlihat siapa pun.
"Ibunda ini pedang Ayahanda!" ujar Li Phin.
"Ayahandamu sudah memberikannya untukmu, sekarang kaulah satu-satunya pewaris keluarga Li," ujar Selir Min menutupnya dengan jubah merah pengantin Li Phin ia berpesan kepada dayang Ling'er untuk menyimpannya ke kamar Li Phin di Istana kekaisaran donglang.
"Anakku, berhati-hatilah! Apa pun yang terjadi jangan pernah tinggalkan bingkisan ini, ini adalah harta keluargamu untuk suamimu agar engkau berharga di sana," Selir Min memberikan sebuah bingkisan berwarna merah.
Dara memakai selendang untuk menggendong bingkisan merah yang dikatakan sebagai harga dirinya di kekaisaran ke punggung belakangnya dan menarik pedang naga hijau melesat menembus atap tandu.
Li Phin bergerak mendarat ke kuda milik Jang Min, "Yang Mulia Putra Mahkota, pergilah dari sini. Pergilah ke istana cepat kami akan menahannya!" teriak Jenderal Tan Ji.
"Baiklah, berhati-hatilah, Jendral Tan Ji!" teriak Jang Min melesat meninggalkan area pertempuran.
Li Phin dan Dara menoleh ke belakang Jenderal Tan Ji berusaha sekuat tenaga untuk menghalau musuh, "Suamiku mengapa kita tidak membantu mereka?" tanya Dara bingung.
"Biksu sudah mengatakan kita tidak boleh melewati tengah hari harus sampai di kekaisaran jika tidak malapetaka akan pernikahan dan nasib Donglang dipertaruhkan begitu ramalannya," balas Jang Min.
"Oh, begitu!" balas Dara bingung, "orang-orang pada zaman ini masih percaya takhayul," batin Dara.
Pocia melesat secepatnya menuju ke kekaisaran, melewati anak panah yang terus menghujani mereka. Dara memutar pedang untuk menghindari mereka agar selamat.
Beberapa pendekar telah menghadang mereka, ringkikan Pocia bergema! Jang Min berusaha untuk menahannya agar tidak jatuh bersama Li Phin.
"Biarkan kami lewat!" ucap Jang Min.
"Hahaha, tidak semudah itu! Langkahi dulu mayatku!" teriak salah satunya.
"Mereka benar-benar ingin membunuh kita!" ujar Dara.
"Berhati-hatilah istriku!" pesan Jang Min. Ia menarik pedang pemberian Jenderal Tan Ji dan berusaha untuk menghalangi mereka.
Pertempuran terjadi begitu singkat orang-orang berusaha untuk membunuh Dara dan Jang Min, akan tetapi semua jurus yang mereka gunakan tak ada satu pun yang mampu melukai keduanya.
"Selamatkan Putra Mahkota dan Calon Permaisuri!" teriak Jenderal wanita Tan Jia Li dengan pedang dan baju zirahnya beserta 20 prajurit bayangan.
Menyerang ke arah pemberontakan yang berusaha membunuh Jang Min dan Li Phin, "Terima kasih Kakak Jia Li," teriak Jang Min senang melihat kakak angkatnya sudah menyerang dengan dua pedang dan berdiri di atas kudanya melesat menyerang orang yang menggunakan penutup kepala.
"Pergilah! Aku akan membereskan mereka!" teriak Jenderal Tan Jia Li.
"Terima kasih, Kakak Jia'er!" teriak Li Phin dan Dara. Jang Min langsung melesat meninggalkan semuanya ia melihat ke langit matahari sudah mulai berada tepat di atas kepala, "aku harus cepat!" batinnya, "Pocia! Cepatlah bawa kami ke kaisaran!" perintah Jang Min.
Kudanya yang bernama Pocia meringkik dan melesat secepatnya melintasi jalanan dan memasuki ke sebuah petak taman bunga kecil dan langsung memasuki istana.
Jang Min melompat turun dan mengulurkan tangan meraih pinggang ramping Li Phin dan menurunkannya, "Ayo, istriku! Sudah siapkah kamu menjalani kehidupan berumah tangga denganku? Di dalam suka dan duka, juga semua kesenangan di dunia dan surgawi?" tanya Jang Min.
Keduanya saling bergandengan tangan menaiki tangga kekaisaran dan menuju aula. Semua orang memandang dengan berdiri dan heran keduanya hanya berdua tanpa pengawalan dan tandu.
Dara membawa bingkisan di tangannya dan melakukan penghormatan kepada Ratu dan Kaisar di singgasana keduanya berdiri langsung bersujud.
Semua petinggi kekaisaran berdiri dan berlutut, "Apa yang terjadi? Mana para prajurit?" tanya kaisar Liu Fei.
"Ampun Yang Mulia Kaisar Donglang! Para prajurit pengawal telah gugur menyelamatkan kami. Jendral Tan Ji dan Tan Jia Li masih bertarung untuk menumpas mereka yang berusaha untuk membunuh kami," balas Jang Min.
"Apa!" teriak Kaisar Liu Fei.
"Jenderal Ming! Bantu kedua jenderal tersebut untuk menangkap pemberontak tanpa terkecuali! Selidiki dan hukum siapa pun yang berusaha untuk menghancurkan dan membunuh calon kaisar dan permaisuri!" teriak Kaisar Liu marah
"Perdana Menteri Qin!" ujar Kaisar Liu Fei.
"Saya Yang Mulia Kaisar!" ujar Perdana Menteri Qin maju dan memberikan penghormatan.
"Hukum mereka semua yang telah melakukan pengkhianatan jika tidak kamulah yang akan aku hukum selanjutnya," ancam Kaisar Liu Fei.
"Baik, Yang Mulia!" balas Perdana Menteri Qin mundur perlahan, "sialan! Mengapa mereka tidak berhasil membunuh pasangan ini?" batin Perdana Menteri Qin sedikit kesal dan marah, "aku harus membunuh mereka sebelum mereka membuka mulut!" batin Perdana Menteri Qin berjalan cepat meninggalkan istana.
"Mari, kita lanjutkan acara peresmian pernikahan dan penobatan kekaisaran!" ujar Kaisar Liu Fei.
Akhirnya satu demi satu rangkaian acara peresmian pernikahan dan dilanjut acara penobatan kekaisaran Donglang terlaksana dengan baik.
Jenderal Li Sun dan keempat selirnya telah tiba di kekaisaran begitu juga dengan semua orang termasuk keluarga Qin Chai Xi.
"Semoga Yang Mulia Kaisar Liu Min dan Permaisuri Li Phin selalu berumur panjang dan diberkati!" ujar semua orang melakukan penghormatan dengan membungkuk.
Jang Min fan Li Phin bergandengan tangan berdiri melihat semua pasukan dan seluruh petinggi kekaisaran dan semua raja di bawah kedaulatan Kaisar Donglang berada di luar istana bersama para penduduk.
Semua orang bersuka cita dengan bahagia, "Aku tidak menyangka jika Li Phin akan menjadi permaisuri! Dia begitu cantik!" batin Liang Xi di sebelah Raja Liang Bao. Liang Xi masih terus memperhatikan kecantikan Li Phin begitu juga semua orang.
"Aku tidak menyangka jika Putri Jenderal Li Sun begitu hebat dan cantik! Walaupun gosipnya-" ujar Selir kaisar Liu Fei kedua yang bernama Tan Aphing.
"Sstt, jangan menjelekkannya! Jika kepalamu masih mau berada di tempatnya," ujar Selir ketiga Liu Fei.
"Sialan, ini akhirnya menjadi permaisuri! Aku akan berusaha untuk mengacaunya," batin Selir pertama Kaisar Liu Fei Chien Cia(Lu Cia).
Acara demi acara telah berlangsung dengan sempurna, Jenderal Tan Ji dan Tan Jia Li telah bergabung di antara semua jenderal untuk penobatan kekaisaran dan permaisuri Donglang yang agung.
Malam harinya ….
Li Phin dan Dara duduk di tempat tidur menunggu Jang Min, "Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?" ucap Dara cemas.