Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Bab 29~Malam Panjang


Setelah semua acara selesai, Kamila mengantarkan Edwin untuk tidur di kamarnya yang ada di lantai dua kediaman Ferdinan.


Rasanya sangat lelah setelah seharian bergelut dalam acara yang sakral itu tanpa melewatkan satu ritual pun.


Wajah Edwin terlihat lesu, namun binar kebahagiaan jelas tergambar di sana. Dia sangat bahagia atas pernikahannya dengan Kamila_wanita yang dicintainya sejak pertama bertemu.


Buy one get one free.


Mungkin itulah yang menimpa Edwin, ketika meminang Kamila jadi istrinya. Mendapatkan istri sekaligus anak yang lucu dan menggemaskan seperti Rayyanza, bayi kecil yang kelahirannya ditunggui oleh Edwin di rumah sakit.


Pertemuan pertama itu berujung penyatuan ikatan keluarga. Baby Ray bagaikan tali pengikat hubungan antara Edwin dan Kamila sampai ke jenjang pernikahan.


Bocah menggemaskan itu sudah menganggap Edwin sebagai ayahnya, dan sekarang menjadi kenyataan.


"Mila. Biarkan Ray tidur dengan kami!" ucap ibunya.


"Tapi, Ma. Mila takut nanti dia mencari Mila atau Mas Edwin," tukasnya.


"Tidak akan! Ray itu anak yang pengertian. Malam ini dia pasti tak akan mencari kamu, karena dia tahu Mama dan Papanya sedang ... Hehehe, sudah sana!" Ayah dan ibunya terkekeh membuat Kamila tersipu malu.


"Ih, Papa sama Mama apaan sih!"


Ibunya mendorong tubuh Kamila untuk segera masuk ke kamarnya yang sudah dihias bak kamar pengantin. "Tidak baik membiarkan suamimu menunggu lama! Kasihan Nak Edwin jika harus menganggur di malam pertamanya,"


Kamila semakin tersipu malu mendengar ledekan dari ibunya yang dibenarkan ayahnya. Dengan langkah ragu sambil mundur menatap kedua orang tuanya, ia memasuki kamar kemudian menutupnya perlahan.


"Semangat untuk buatkan Ray adik!" seru Ibu dan ayahnya menyemangati dengan tangan mengacungkan kepalan.


Kamila melotot namun terkekeh kemudian. Kakinya melangkah lebih dalam ke kamarnya, namun tak mendapati Edwin di sana. Ia mencari sosok pria yang statusnya telah sah jadi suami, tapi Edwin tak terlihat.


Langkah kaki menuju kamar mandi dan siap mengetuk pintu. "Mas!" panggilnya saat tangannya terulur ke daun pintu, namun wajahnya tak menatap ke sana. Matanya menyapu sekitaran sambil memanggil nama suaminya. "Mas Edwin!"


Tapi, tiba-tiba saja Edwin keluar dengan hanya berbalut handuk yang melingkar sebatas pinggang. Dada bidangnya terekspos jelas, namun Kamila belum menyadari kemunculan suaminya di ambang pintu.


Tangan Kamila terulur siap mengetuk pintu yang tertutup tadi. Tapi gerakannya terhenti saat jari tangannya menyentuh dada bidang di hadapannya.


Tubuhnya menegang seketika karena merasakan jarinya menyentuh permukaan kulit, bukan permukaan pintu. Wajah Kamila menoleh perlahan menghadap ke depan, diikuti lirikan mata menggiring menatap lekat obyek fokusnya.


"Astagfirullah!" Kamila tersentak mundur seketika saat melihat Edwin sudah berdiri menatapnya dengan alis yang bertaut. Pipinya merona melihat tubuh seksi sang suami dengan otot yang menonjol.


"Kenapa kamu?" tanya Edwin singkat.


Kamila mendadak gugup. "A-aku sedang ... sedang ..."


Edwin melangkah maju mendekati istrinya yang terus mundur. "Kenapa gugup?"


Tanpa menjawab, Kamila terus mundur dengan mata lurus menatap ke arah mata Edwin. Entah apa yang harus diucapkan, karena bibirnya terasa kelu ketika berhadapan dengan Edwin dalam posisi seperti ini.


Sang suami terus maju tanpa membuka suara. Edwin pun sama_menatap lekat wajah istrinya yang terlihat sangat cantik walau tanpa polesan make-up sekalipun.


Keduanya bergerak dengan Kamila yang mundur karena Edwin terus maju ke arahnya, hingga akhirnya Kamila terjungkal ke ranjang diikuti Edwin jatuh di atasnya.


Bruk


Edwin memajukan wajahnya lebih dekat, kemudian berbisik lirih. "Kamu cantik,"


Blush


Pipi Kamila memerah bak kepiting rebus. Dia tersipu malu mendengar pujian sang suami, apa lagi diucapkan dengan lirih.


Mata teduh itu menatap lekat seluruh wajah sang istri, dimulai dari mata, hidung, turun ke bibir merah. Bibir ranum itu seakan melambai memanggil sang pemilik untuk mereguk manisnya madu cinta.


Tanpa banyak kata, Edwin langsung mendaratkan bibirnya diatas bibir Kamila. Bukan hanya mengecup, namun juga menyesapnya lebih dalam. Lidah Edwin menyusup ke dalam untuk menyapu rongga mulut hingga kecupan mereka terdengar berdecak.


Kamila terbuai oleh permainan lidah Edwin. Tanpa disadari, tangannya melingkar di leher Edwin kemudian jari-jari tangannya meremas kasar rambut suaminya ketika lidah Edwin turun ke leher lalu mendarat di dada mulusnya. Banyak tercetak tanda merah di sekitar leher dan dada Kamila.


Tangan Edwin mengusap wajah istrinya dengan lembut, kemudian tangan itu menjelajah hingga mendarat di bukit kembar yang pas digenggamannya. Tangan itu kembali bekerja untuk membuka satu persatu kancing piyama yang dikenakan Kamila, lalu tanpa di perintah bibir itu kembali menyesap puncak bukit yang indah tersebut. Edwin bekerja mengikuti instingnya sebagai pemburu rimba, hingga membuat Kamila berdesis tak karuan.


Rambut Edwin menjadi sasaran cengkraman jari tangan Kamila yang tengah mendesis kenikmatan. Namun, sedetik kemudian tangan Kamila bergerak mendorong tubuh Edwin ketika suaminya itu akan melepaskan celana panjangnya.


Edwin tersentak kaget ketika istrinya itu berani mendorongnya saat akan melakukan tugasnya. Tapi, walaupun kecewa, Edwin tetap tersenyum ceria ketika melihat wajah istrinya yang menatapnya malu, dengan pandangan yang terus menunduk mengalihkan perhatiannya.


Tangan Edwin mendongakkan dagu Kamila hingga si empunya menatap ke arahnya. "Kenapa kamu terlihat malu begitu. Apa kamu belum siap aku miliki?"


Kamila sontak menggelengkan kepala sambil berkata, "Tidak! A-aku siap. Hanya saja ... aku ... malu!" lirihnya di kalimat terakhir.


Kembali bibir Edwin menyunggingkan senyum manisnya. Ia terkekeh sembari menggelengkan kepala_merasa gemas akan tingkah istrinya. Edwin beranjak dari atas tubuh Kamila, dan duduk di sampingnya. "Sana mandi dulu, biar kamu rileks!" ujarnya.


Kamila pun beranjak dari ranjang, kemudian berlari ke arah kamar mandi. Sungguh, dirinya terlihat sangat bodoh saat ini. Disaat sang suami sudah diliputi hasratnya, tanpa disengaja Kamila justru membuatnya meredam gairah Edwin.


"Bodoh ... bodoh ... bodoh!" rutuk Kamila ketika berada di kamar mandi. "Seharusnya tadi kamu tidak mendorongnya, Mila?!" sesalnya kemudian.


Kamila segera membersihkan diri dengan memakai sabun wangi, agar menarik perhatian suaminya. Dia harus menebus kesalahannya barusan yang telah mendorong tubuh Edwin hingga ke lantai.


Dengan memakai jubah handuk, Kamila keluar setelah membersihkan diri. Dilihatnya ternyata Edwin sudah terbaring di ranjang dengan bertelanjang dada.


Suami Kamila itu tengah fokus menatap layar laptop, sebab ia sedang melakukan pekerjaannya. Tanpa merasa terganggu oleh wangi yang tercium dari tubuh istrinya, Edwin segera menyelesaikan pekerjaannya.


Setelah selesai dengan pekerjaannya, wajahnya menoleh menatap lekat sang istri. Edwin tersenyum seraya menepuk ranjang di sampingnya.


Kamila membalas senyuman suaminya. Kakinya melangkah mendekati Edwin, namun tangannya sembari membuka tali jubah mandinya hingga menampakan tubuh polosnya.


Edwin tersentak namun kemudian tersenyum. Ia menarik tangan istrinya hingga jatuh ke ranjang dan ... terjadilah apa yang harus terjadi antara pasangan suami-istri tersebut.


Permainan mereka tak cukup satu jam dan satu kali saja, karena Edwin terus menggempur gawang Kamila untuk menanam benih premium di rahim istrinya tersebut.


Ia berharap benih premiumnya akan segera tumbuh dan berkembang lalu membentuk sosok bayi mungil yang akan menjadi adik Ray.


Keduanya melakukan ritual penyatuan lagi dan lagi, hingga tak terasa waktu sudah menunjukan dini hari.


Edwin mengecup kening istrinya sambil berkata, "Terima kasih, sayang!"


Kamila hanya membalas dengan anggukan, karena sesungguhnya dirinya sangat lelah semalaman bekerja lembur demi menyenangkan hati sang suami.


...Bersambung ......