
Liu Min dan Dara masih menunggu dengan sabar hingga fajar mulai menyingsing kala keramain aparat pemerintah berdatangan dengan senjata lengkap membuat semua sindikat naga merah kabur.
Liu Min dan Dara tak ingin menyia-nyiakan kesempatan dan langsung bergerak kabur dengan berenang di kubangan air parit. Keduanya tak ingin menjadi masalah baru jika aparat pemerintah di dalam gabungan akan mengetahui keberadaan mereka.
Mereka sampai ke aliran sungai di kota berair jernih sedikit bisa menghapus bau yang menyengat, keduanya berlindung di bawah jembatan.
"Sial! Bau sekali!" omel Dara.
Liu Min hanya tersenyum melihat tingkah istrinya, ia masih melihat istrinya yang cantik berusaha untuk menggeleng-menggelengkan kepala mengibas-ngibaskan rambut pendeknya yang lebat dan hitam legam untuk mengeringkannya.
"Seharusnya aku membuatnya bahagia, bukan malah menyeretnya ke masalah ini semakin dalam," batin Liu Min berpikir, "suami macam apa aku? Bagaimana jika Dara hamil?" lanjut batinnya mulai dilema.
Ia ingin membahagiakan istrinya seperti para istri lainnya yang hanya di rumah mengurus anak dan suami juga menghitung uang.
"Ada apa, Laogong?" tanya Dara, ketika mata mereka saling bertatapan.
Dara merasa suaminya terlalu serius memandangnya, seakan berpikir keras. Dara dengan mudah menebak karena sifat Liu Min dan Kaisar Liu Min tak jauh beda hanya sifat omes saja yang membedakannya.
"Jika kaisar Liu Min tidak terlalu terang-terangan mungkin karena didikan keras dan keadaan aturan zaman lampau, jika Liu Min sekarang lebih blak-blakan," batin Dara, "padahal keduanya sama-sama doyan di ranjang!" lanjut Dara geli.
Dara merasa lucu ia masih bisa mengingat semuanya dengan jelas, di benaknya.
"Tidak! Apakah kamu terluka Laopo?"
"Tidak! Kita masih mujur, aku begitu geram melihat wanita itu. Dia berhasil selamat di perairan Tanjung Balai kemarin." Dara mengepal tinjunya.
"Paulin? Laopo, kamu pernah bertarung dengannya? Di mana?" Liu Min beringsut bergerak dari duduknya di bebatuan.
"Di Tanjung Balai kemarin waktu kita menyelamatkan Jenny dan Jovich. Memang ada apa?" selidik Dara.
"Kamu hebat bisa selamat! Dia terkenal dingin, ia dan sepupunya Quino adalah putri mafia hebat dari Jepang.
"Aku tidak tahu mengapa mereka bisa berkolaborasi dengan Guangzhou dan Pablo? Mungkin karena barang haram tersebut kali!
"Aku telah membunuh kekasihnya Tiger bersaudara. Andai dia tahu kamu adalah istriku, itu akan membuatnya lebih bersemangat mengejarmu … sial," keluh Liu Min.
Liu Min semakin ngeri membayangkan kepahitan dan darah yang akan mewarnai masa depan mereka berdua.
"Ooo, begitu!" balas Dara santai.
Liu Min semakin gelisah, baru kali ini ia melihat seorang wanita begitu santai menghadapi banyak kemelut di hidupnya selain Liu Amei sang kakak.
"Laopo, ayo, kita kembali. Aku yakin kamu sudah lapar," ujar Liu Min.
"Iya, ayo …," balas Dara tersenyum.
Mereka berusaha mencari jalan pintas dan tiba di hotel, "Bersembunyi!" Liu Min menarik tubuh istrinya.
Liu Min menyandarkan tubuh Dara di sebuah dinding coffee shop di depan hotel dengan kedua tangan Liu Min bertumpu pada dinding, mengunci tubuh Dara seakan keduanya sedang bermesraan.
Dara mengerti maksud suaminya langsung melingkarkan tangan ke leher dan mencium bibir Liu Min.
Akan tetapi mata mereka melirik ke arah anak buah Tuan Tek yang menggeledah hotel yang bertepatan di depan diskotik.
Semua tamu di hotel langsung digeledah dan diperiksa di pelataran hotel, secara perlahan Dara dan Liu Min bergeser dan masih saling berciuman hingga menghilang di balik dinding coffee shop.
Keduanya berjalan cepat meninggalkan lokasi hotel. Dara dan Liu Min berusaha untuk menjauhi dan berjalan ke arah Jalan Lagong nomor 53 dan menuju loker nomor 7 dan mengambil sebuah koper dan meninggalkan tempat tersebut.
Liu Min masih berpikir harus membawa Dara ke mana, ia masih merasa kacau bayangan kengerian di depan mereka membuat Liu Min tidak bisa berpikir tenang lagi.
Dara menarik tangannya memasuki sebuah rumah di Shenzhen, "Mengapa kita kemari?" tanya Liu Min bingung.
Mereka memasuki rumah kosong yang tak terawat dengan reruntuhan, "Ini adalah Shandong aku dulu berteman akrab dengan Permaisuri Shandong, aku merasa ini adalah reruntuhan kerajaan itu.
"Sudahlah, jika benar ada sebuah ruang rahasia di sini. Berdoalah semoga itu benar adanya," ucap Dara.
"Ooo,"
Keduanya memasuki rumah dan terus berjalan di sebuah sumur tua yang dibiarkan terbengkalai, Dara melompat masuk.
"Sial! Laopo!" teriak Liu Min kaget karena tanpa aba-aba Dara meloncat masuk ke dalam sumur.
Liu Min pun langsung menyusul dengan memegang koper, "Aaa!" teriak Liu Min seakan ia masuk ke sebuah lorong gelap.
Bruk!
"Aw!" teriak Liu Min kala ia tubuhnya membentur dinding batu keras.
"Hahaha, selamat datang Laogong!" sapa Dara.
Ia melihat istrinya duduk di atas bongkahan batu dengan santai, di depan sebuah obor yang menyala.
"Di mana ini?" tanya Liu Min memegang pinggangnya berjalan tertatih dengan sebelah tangan menggenggam koper.
"Ini adalah tempat persembunyian kami dulu bersama permaisuri Shandong," ujar Dara.
Ia langsung menarik obor dan sebuah pintu batu berjalan bergetar ke samping memperlihatkan sebuah ruangan indah di sana walaupun sudah ratusan tahun tak tersentuh.
"Wow! Ini emas asli? Ckckck bisa kaya tujuh turunan dan tujuh tanjakan kalau begini!" ucap Liu Min terperangah.
"Ayo, masuk! Sayangnya, kami tidak bisa mengawetkan makanan!" ucap Dara.
"Apa? Kalian membuat ini?"
"Ya, Permaisuri Shandong sakit-sakitan hingga ia belajar ramuan dan ia menciptakan sesuatu ramuan mirip formalin jika zaman sekarang tapi, dulu disebut balsem, tapi aku tidak akan mengajarkan hal itu ada siapa pun.
"Karena Li Phin pun pintar menggunakan obat-obatan jadi ya begitulah!" ujar Dara tersenyum.
"Kalian wanita-wanita hebat!" puji Liu Min.
Liu Min masih memandang dan melihat semuanya, semua kain dan tempat tidur dan semua harta benda masih tersimpan dengan rapi.
"Jika kita selamat, apa yang ingin kamu lakukan dengan semua ini Dara? Apakah kamu membiarkannya tertimbun tanah seperti ini?" tanya Liu Min.
"Maksudmu?" selidik Dara sedikit takut jika Liu Min menjadi serakah.
"Maksudku, alangkah baiknya jika ini gunakan untuk membangun rumah sakit, sekolah, Masjid, Gereja, Vihara, rumah panti asuhan atau untuk rehabilitasi bagi pecandu narkoba, begitu?
"Jadi berguna dan aku rasa permaisuri Shandong pun akan mendapatkan kebaikan dari Tuhan atau Dewa," balas Liu Min dengan tulus.
"Wah, itu usul yang bagus juga Laogong! Jika ini selesai kita akan melakukannya," ujar Dara bersemangat.
"Um, apakah itu suara air?" tanya Liu Min mendengar percikan suara air.
"Ya, aku rasa kita akan kembali ke zaman saat kamu menjadi kaisar, kembali makan dengan membakar ikan dan menggunakan batu sebagai penghasil api!" ucap Dara tersenyum bahagia.
Liu Min masih menatap istrinya dengan begitu bingung, "Laogong! Bukalah semua pakaianmu! Bawalah kemari!" teriak Dara dari lorong di sebalik kirinya.
"Hah! Aku malah berniat menghindarinya, bagaimana jika dia hamil? Mengapa dia malah menggodaku?" batin Liu Min memegang pedang di bawah perutnya.