
"Jadi, gurun itu adalah saksi bisu akan semua kejadian masa lalu begirtu, Tuan Luo?" tanya Liu Min tidak mempercayainya.
"Ya, begitulah. Um, kisah-kisah mistis masih banyak sering terjadi di situ, terkadang pendar cahaya hijau masih sering dijumpai di sana.
"Pedang naga hijau itu pun hanya Permaisuri Li Phin yang bisa menyentuhnya, hingga kini berada di museum Hunan pun. Mereka mengatakan begitu," balas Luo Kang.
"Maksudnya? Tak seorang pun bisa menyentuhnya? Lalu bagaimana itu bisa berada di Hunan maksudku di museum. Siapa yang membawanya?" tanya Liu Min tidak mengerti.
"Museum itu adalah bekas dari gudang senjata kekaisaran Chang An pada masa lampau. Sehingga pedang itu tidak bisa dipindahkan, hanya saja pemerintah merekonstruksi bangunan dan membuat museum di situ saja," balas Luo Kang.
"Oh, begitu. Padahal aku berada di Hongkong. Tapi, aku tidak pernah mendengar dan pergi ke tempat rekreasi istana kekaisaran Donglang," balas Liu Min.
"Ya, begitulah. Terkadang karena kita lahir di era berbeda kita tidak begitu peduli hal itu, Tuan." Luo Kang tersenyum ia masih melihat Dara yang masih tertidur di pangkuan Liu Min.
Pendar kehijauan yang melingkupi tubuh Dara sudah mulai menghilang, keduanya melihat Dara tertidur pulas.
"Apakah Tuan mencintai Nona Dara?" tanya Luo Kang penasaran.
"Ya,"
"Aku rasa, sebaiknya kalian menikah saja," balas Luo Kang, "aku sangat yakin jika mereka menikah sesuatu akan terjadi lagi, aku rasa mereka akan mengingat kisah mereka sendiri.
"Semua ini sangat mustahil walaupun semuanya menjadi benar," batin Luo Kang masih menatap luasnya gurun.
Kereta api telah membawa mereka melewati Gurun Jinjing (Perbatasan benteng Xihe) masuk menuju ke kota-kota kecil kemudian memasuki Kota Jinjing.
Sebaiknya kita turun di sini terlebih dahulu sebelum ke Hunan, bukankah Nona Dara ingin kemari?" tanya Luo Kang.
"Ya, aku juga ingin melihat kota Jinjing yang fenomenal," balas Liu Min semakin penasaran.
"Dara … Sayang bangunlah, kita sudah tiba di Kota Jinjing," ujar Liu Min membelai lembut pipi Dara.
"Suamiku, apakah kita sudah tiba di Zuhe?" tanya Dara bangun.
Deg!
Luo Kang terdiam, mereka mengetahui jika sesudah gurun Jinjing ada desa Zuhe yang masih menggunakan nama tersebut.
"Zuhe sudah terlewatkan di belakang tadi, Nona Dara. Desa itu kebanyakan petani tetapi sekarang berubah menjadi kota yang besar dan penghasil padi dan palawija terbesar di Tiongkok," ujar Luo Kang.
"Oh, begitu. Lalu kita sudah di mana?" tanya Dara memperhatikan orang sudah turun dari KA berjalan di peron.
"Kita di Kota Jinjing. Mari," ujar Luo Kang turun.
Luo Kang dengan memakai baju koko dan celana panjang mirip ciri khas pada zaman era kolonial belanda. Dara dan Liu Min memakai baju modern, hanya saja Dara menggunakan topi dan kacamata mirip anak kuliahan, sedangkan Liu Min membiarkan brewoknya memenuhi wajah dan memakai kaus juga jeans.
Ketiganya turun di peron 3 Luo Kang membawa tas jinjing untuk pengobatan ketiganya menuruni lorong bawah tanah dan muncul di permukaan peron 1 dan ke luar dari stasiun.
Angin lembut menyapa tubuh Dara kembali bayangan masa lalu kembali muncul, "Sudahlah, aku sudah kembali," ujar Dara di dalam gumaman yang terdengar oleh Luo Kang.
Akan tetapi, Luo Kang pura-pura tidak mendengarnya. Kota sudah banyak berubah, "Sebaiknya kita mampir dulu ke rumah kakakku, Liu A Ching dia seorang dokter," ujar Luo Kang.
"Oh, benarkah?" tanya Liu Min seakan dia tak mempercayai takdir begitu saja melemparkan mereka kembali ke tengah keluarganya.
"Selain itu, berarti kakak pertamamu adakah Liu A Mei? Seorang jendral di Hunan? Dulu dia bertugas di Shenzhen bulan?" tanya Luo Kang.
"Iya," ujar Liu Min, "tetapi aku dan dia selalu saja tidak cocok, ia terlalu taat hukum sedangkan aku lebih condong ke tentara," ucap Liu Min membayangkan wajah cantik kakaknya yang keras.
Dara hanya menyimak saja dan masih mengamati sekelilingnya ia masih tidak bisa menemukan dan menyatukan serpihan hilang masa lalunya. Namun, satu hal yang disadarinya, jika nalurinya selalu saja merasakan terpaan angin yang terus memanggilnya untuk berjalan terus.
"Apakah setelah ini adalah Kota Hunan atau masih melewati Kota Shandong dan Luoyang?" tanya Dara.
Ia menatap gunung di kejauhan ia meyakini jika itu adalah Gunung Sun yang tak berubah walaupun terkikis oleh tangan-tangan yang mengambil kayu maupun batu cadasnya.
"Ya, itu di zaman dulu. Jika sekarang namanya sudah berubah, Kota Luoyang berubah menjadi Pyongyang dan Shandong berubah menjadi Shenzhen." Luo Kang menjelaskan dengan teliti dan sabar.
"Oh, begitu!" balas Dara mulai memahaminya.
Ketiganya menaiki taksi dan turun di depan sebuah rumah yang diyakini Dara adalah rumah dari kerajaan Limen Utara. Bayangan ia disekap di sana pertama kali muncul terlintas di benaknya.
"Kerajaan ini sudah banyak berubah tidak ada lagi kerajaan di sini, ini adalah Limen Utara," batin Dara.
Liu Min memencet bel di pagar yang tinggi mirip zaman dulu, dua anak kembar perempuan berlari membuka pintu pagar, "Paman! Mama! Paman A Min datang!" teriak gadis kecil berumur 5 tahun.
Keduanya melompat ke dalam gendongan Liu Min, "Apakah Papa dan Mama kalian Ada, A Hwa dan A Yin?" tanya Liu Min pada dua keponakannya.
"Ada! Paman, istrimu cantik sekali!" ujar A Yin melihat Dara yang tersenyum, "halo, Tante! Halo Paman Luo!" sapa kedua anak berumur 5 tahun.
"Yin Er! Hua Er! Ya, Allah! A Min! Kaukah itu?" teriak seorang wanita berlari menyongsong Liu Min memeluk dan mencium kedua belah pipi Liu Min dan menangis.
Deg!
"Li Phin!" lirih Dara tanpa sadar, "wanita yang memeluk Liu Min adalah Li Phin?" batin Dara, "apakah dia keturunanku dari Liu Sun Ming ataukah dia keturunan Liang Si dan Li Phin?" batin Dara bingung.
Liu A Ching menatap ke arah Dara, ia terdiam dan keduanya berjalan dengan tersenyum, seakan sesuatu menggerakkan keduanya untuk berjalan saling merentangkan kedua belah tangan mereka dan berpelukan.
"Selamat datang, Nona! Anda cantik sekali. Apakah kamu adalah calon istri A Min?" tania Liu A Ching.
"Oh, um-"
"Iya, dia adalah calon istriku, namanya adalah Dara Sasmita," sela Liu Min. Kala melihat kilatan kegembiraan, bingung, dan keterkejutan di wajah Dara.
Liu Min menyadari jika kedua kakaknya adalah keturunan Liu Min dan Dara di masa lampau di dunia dan waktu berbeda.
"Wah, aku tidak menyangka kau dikabarkan tewas dan Ya, Tuhan! Kalian benar-benar! Liang Bo! Liang Bo!" teriak Liu A Ching memanggil suaminya.
"Ada apa Ching Er?" sahut Liang Bo (blasteran Tiongkok dan Malaysia).
Deg!
"Liang Si?!" batin Dara.