Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2 Keabadian Cinta - Serpihan perak dan helaian persik


"Aku bukan Nyonya Qin!" teriak Quino kesal, ia merasa jika ia bukanlah nyonya Qin dan ia pun tak tahu mengenai kisah semua itu. Quino lahir dan besar di Jepang, sehingga ia tak memahami apa makna dari panggilan tersebut.


Namun, terlalu banyak yang mengatakan jika dirinya adalah seorang nyonya Qin. Quino melesat secepatnya ingin membunuh wanita cantik di depannya dengan pakaian seorang kaisar wanita yang bernama Li Phin memakai baju berwarna merah.


Li Phin melesat secepatnya untuk menangkis semua pedang samurai yang ditebas oleh Quino. Li Phin harus berulang kali berkelit agar si pemilik tubuh tak tewas.


"Jika aku lengah bisa-bisa si pemilik tubuh ini akan tewas. Kasihan, anak kembarnya," batin Li Phin, "andaikan Dara tidak terlalu sibuk untuk menjinakkan pedang iblisnya! Ini lebih seru kalau Dara yang melawan," batin Li Phin.


Kras!


Sabetan pedang Quino kembali menyobek gaun Li Phin dengan pedang samurai. Sementara Li Phin hanya menggunakan tangan kosong membuatnya semakin sulit untuk bergerak.


"Ching'er!" teriak Liang Bo, membuat Li Phin menoleh secara refleks melihat ke arah suara yang teramat familiar di telinganya.


"Liang Si?!" pekik Li Phin terkejut, ia tak menyangka akan menemui suami dan pujaan hatinya di dunia Dara.


"Apakah ini mimpi? Sejak kapan Liang Si berada di sini?" batin Li Phin bingung.


Namun, ia pun tak memahami dengan apa yang terjadi, ia masih terpaku di tempatnya berdiri memandang ke arah Liang Bo.


Trang!


"Sialan, Kau! Jangan berani membunuh istriku selama aku masih hidup!" teriak Liang Bo, ia langsung menangkis pedang Quino, membuat Quino sedikit terhuyung ke belakang tubuhnya.


Sabetan pedang Quino hampir saja menebas kepala Li Phin jika Liang Bo tidak menangkis samurai milik Quino.


"Liang Si …," lirih Li Phin kala tubuhnya berayun di dalam dekapan suaminya berputar untuk menyelamatkannya dari tebasan samurai.


Bayangan akan kenangan indah kala mereka bersama di Donglang kembali terbayang bercampur dengan bayangan Liang Bo dengan Liu Aching di kehidupan modern.


"Sayang, apakah kamu tidak apa-apa? Ini pedangmu!" ujar Liang Bo mendarat dengan kedua kaki di bumi dengan sebelah tangan memeluk pinggang Liu Aching.


Sementara Li Phin masih terdiam dengan gerai rambutnya yang sudah lepas dari sanggul dan tiaranya entah jatuh ke mana. Li Phin masih terperanjat dengan ketampanan suaminya Liang Si di dunia Li Phin.


"Liang Si … kaukah itu?" bisik Li Phin, ia ingin memastikan jika itu adalah suaminya.


"Aching … ini aku Liang Bo!" balas Liang Bo, "Ya, Tuhan! Jangan-jangan ini adalah reinkarnasi dari Permaisuri Li Phin?" batin Liang Bo, ia masih melihat istrinya dan sebelah tangan masih memegang pedang.


"Li Phin …," lirih Liang Si, ia menatap wajah istri yang dirindukan di masa mereka masih bersama. 


Trang!


Tebasan pedang Quino hampir saja memenggal kepala mereka akan tetapi Liang Si telah kembali ke bagian jiwanya di masa depan, sehingga ia tak terlalu sulit untuk menangkis pedang Quino.


"Bajingan! Mengapa pria ini menjadi lebih kuat?" batin Quino tak habis mengerti, ia pernah bertarung dengan Liang Bo dan ia juga yang telah menangkap dan menyiksanya.


Namun, kini Quino merasa jika pria di depannya menjadi berpuluh kali lipat lebih kuat. Quino sedikit kewalahan apalagi Li Phin dan Liang Si sudah bersatu menyerang Quino.


Liu Aching dan Liang Bo semakin bergerak cepat menyerang Quino, membuatnya harus mundur ke belakang. Quino mulai terdesak, tetapi raja iblis neraka tidak membiarkan hal itu terjadi.


Raja iblis neraka langsung memerintahkan sekutunya untuk menyerang Liu Aching dan Liang Bo, membuat keduanya terkepung.


"Bajingan, jika raja iblis neraka tidak dikalahkan aku rasa perang ini akan begini terus!" ujar Liang Bo.


"Ya, tapi … bukankah jika fajar para iblis akan kembali ke asal mereka?" tanya Li Phin di dalam tubuh Liu Aching.


"Aku membaca berita jika esok hari akan ada gerhana matahari bayangkan saja! Para iblis masih terus ada, hingga kita yang tewas atau mereka," bakas Liang Bo.


Li Phin terdiam ia melihat Dara masih berjumpalitan melawan pedangnya sendiri, "Apa yang harus aku lakukan?" batin Li Phin bingung.


***


Sementara Liu Min menebas semua pasukan prajurit hantu, suatu keajaiban setiap tebasan pedangnya membuat prajurit hantu langsung lenyap seketika.


"Oh, pedang ini hebat juga! Aku akan berterima kasih kepada Tuan Qinglong dan Nenek Long Mei," ujar Liu Min, ia terus menyabetkan pedangnya.


Luo Kang berusaha untuk menghalau para ninja dengan tongkatnya, ia sedikit kewalahan untung saja Ahim Yilmaz segera turun dari punggung kuda Zhouzhou membantu Luo Kang.


"Terima kasih Tuan Yilmaz," ucap Luo Kang bersyukur.


Trang! Tring!


Suara pedang terus bergemuruh. Di angkasa Qinglong dan Long Mei bertempur dengan naga saling cakar, bakar, dan mengibaskan ekor mereka yang berduri.


"Hahaha, akhirnya kita bertemu lagi Qinglong!" suara berat dari naga Tianlong.


"Tianlong apakah kamu tidak lelah jika harus bertempur terus menerus? Bukankah semua ini karena ulahmu yang bersekutu dengan Raja Iblis Neraka sehingga klan naga tidak ada lagi di bumi ini?" tanya Qinglong, ia mengibaskan ekornya untuk memukul tubuh Fucalong naga yang ingin mengeroyoknya.


Sementara Tianlong masih berusaha untuk menyemburkan api kepada Qinglong. Sebuah jaring emas yang diberikan oleh raja Iblis Neraka berusaha untuk dilemparkan kepada Qinglong. 


Namun, Qinglong bukanlah naga yang dungu, ia sudah mengerti semua trik yang akan dilakukan oleh mereka sehingga ia dengan mudah berkelit, hingga jaring emas langsung lolos dari tubuhnya dan menjaring naga Fucalong di belakang tubuhnya membuat Fucalong langsung kebingungan dan bergerak ke sana kemari di angkasa dengan nguikannya yang menyayat.


Dengan sendirinya tetesan emas langsung meleleh memenuhi tubuh si naga, "Aaa!" jerit kesakitan naga Fucalong membelah angkasa. Fucalong terus bergerak, tetapi semakin ia bergerak semakin jaring dan tetesan emas menghujam tubuhnya membuat sisiknya terkelupas.


Gedebam!


Tubuh naga Fucalong langsung jatuh ke bumi dengan tubuh dipenuhi lelehan emas, ia sekarat. Namun, Tianlong dan naga yang lain tak peduli dengan keadaan Fucalong yang mengenaskan.


"Dasar bedebah! Mereka lebih mementingkan diri sendiri daripada pertemanan!" ujar Long Mei, ia melesat turun dan memberikan obat kepada Fucalong yang sekarat.


"Long Mei, maafkan aku … semua ini karena bujuk rayu Tianlong dan raja iblis neraka. Aku tidak bisa melawan …," lirih Fucalong dengan derai air mata.


"Pasukan pemanah! Tebarkan jaring kepada Naga merah!" teriak Lu Dang di bawah patung iblis neraka.


Semua pasukan sekutu Lu Dang seakan bergerak ingin menyerang Long Mei yang berusaha untuk membuka jaring Fucalong dan mengobatinya.


"Minggirlah Long Mei! Terbanglah ke atas! Selamatkan dirimu!" teriak Fucalong.


"Aku tidak bisa! Aku tidak akan meninggalkanmu, Fucalong …," ucap Long Mei, ia masih berusaha untuk mengobati Fucalong.


"Lindungi Naga Merah!" teriak Liu Min bergerak dengan cepat melesat dengan Pochia membelah lautan prajurit hantu.


Liu min dan pochia bergerak tepat di depan punggung Long Mei yang masih mengobati luka Fucalong. Hingga ringkikan pochia bergema dengan kedua kaki ke angkasa jika ia sudah mulai marah ia langsung melesat mengikuti nalurinya untuk melindungi kaisar tercintanya.


Trang! Trang!


Pedang Liu Min menangkis, jaring yang yang dilontarkan oleh para prajurit hantu sekutu musuh. Sementara prajurit hantu Donglang pun bersemangat untuk membantu Liu Min untuk melindungi Long Mei.


"Kaisar menjauhlah!" teriak Long Mei, ia melihat pasukan sekutu Donglang yang mencoba melindungi Long Mei hangus terbakar menjadi serpihan perak dan persik melayang ke udara.


"Bedebah! Kalian telah membunuh arwah mereka!" teriak Liu Min murka, "mereka tidak akan bisa bereinkarnasi lagi," lirih Liu Min, ia semakin marah dan geram.


"Pochia selamatkan dirimu jangan sampai terkena jaring iblis itu!" perintah Liu Min, ia melesat ke angkasa dan menebaskan pedangnya hingga cahaya biru memenuhi arena pertempuran membantai musuh, sehingga jaring emas pun terberai.


Pochia melesat menjauh dan mengikuti Liu Min ke mana ia berlari dan bergerak di udara dengan kekuatan yang luar biasa. Liu Min tak lagi menyadari semua kekuatannya ia hanya ingin menolong semua prajurit sekutu Donglang.


Serpihan perak dan persik dari sekutu Donglang dan abu hitam dari sekutu Lu Dang telah memenuhi angkasa. Serpihan perak dan helaian bunga persik seakan menembus tubuh Liu Min memberinya sebuah kekuatan terakhir dari orang-orang yang mencintainya dengan segenap jiwa dan pengorbanan hingga tetes darah terakhir 


"Bunuh Kaisar Liu Min!" teriak TianLong dari angkasa.


Perintah Tianlong membuat beberapa naga langsung melesat menyerang Liu Min dengan semburan api.


"Jangan coba-coba membunuhnya!" teriak Long Mei menyemburkan air kristal dari moncongnya menghalangi api yang ingin membakar tubuh Liu Min dan  Long Mei melesat mencengkram tubuh Liu Min dengan cakar membuang Liu Min ke balik punggungnya.


"Nenek Zhang Mei!" lirih Liu Min, ia tak menyangka jika Long Mei tak memperdulikan jaring akan memerangkapnya lagi.


"Bertahanlah! Aku tidak tahu bagaimana Dara begitu sulit menaklukkan pedang itu! Aku harap Qinglong menyadarinya, ia harus bersekutu kembali dengan Dara, jika musuh sudah mati maka ia bisa memutuskan perjanjian itu," ujar Long Mei.


Long Mei melesat menghindari jaring emas lain lagi, Qinglong murka ia langsung melesat mencari Dara yang masih berjumpalitan dan terkadang ia menaiki pedangnya untuk menghalau kekuatan kepulan asap iblis yang berwarna hitam yang terus-menerus menguasai pedang seakan meminta darahnya.


"Dara …!" bisik Qinglong di angkasa.


"Ya, Tuan Qinglong! Ada apa? Aku sedikit kesulitan ini," ujar Dara, ia masih berjumpalitan memegang gagang pedang yang membawanya terbang berputar di angkasa.


"Hadeh! Kamu bodoh sekali! Berikan darahmu pada pedang itu dan ucapkan janji ini bersamaku!" teriak Qinglong.


"Apa? Tidak! Aku tidak mau mengikat dirimu lagi, Tuan. Engkau berhak berbahagia! Percayalah aku pasti bisa menaklukan pedang ini. Aku sangat yakin Tuhan lebih menang dari iblis!" ketus Dara.