
"Ya, lembah Mo Yu'er!" balas Luo Kang masih menelisik wajah Dara.
"Nama lembah diambil dari seorang wanita kekasih dari Liu Bei? Seorang putri Mongol yang mengasingkan diri di lembah," ujar Dara berusaha mengingat seorang nenek cantik di dalam lukisan di kekaisaran.
"Anda banyak mengetahui semua itu?" tanya Luo Kang penasaran.
"Hanya sejarah! Maksudku aku selalu menyukai sejarah dan aku membacanya," balas Dara singkat, "aduh, aku tidak boleh terlalu menonjol mengatakan semuanya. Aku takut jika Luo Kang curiga padaku," batin Dara.
Ia sedikit khawatir jika Luo Kang curiga jika dirinya adalah bukti masa lalu dari segalanya akan terlihat, "Dan itu begitu mengerikan." Dara termenung mengingat banyak hal, bayangan masa lalu kembali mengusiknya.
"Um, apakah Anda mengetahui tentang Permaisuri Dara Sasmita dan Kaisar Liu Min?" tanya Luo Kang menatap Dara.
"Apa?" tanya Dara sedikit merasa dejavu ia sangat takut jika Luo Kang begitu curiga kepadanya hingga ia tak ingin segalanya menjadi kacau lagi.
Dara melihat Luo Kang yang masih melihat ke arahnya dengan tatapan rasa curiga dan penasaran, "Apakah Luo Kang mengetahui sesuatu?" batinnya.
Luo Kang masih menatap Dara dan menantikan jawaban dari pertanyaan yang susah dilontarkannya "Um, aku tidak tahu." Dara membalas dengan singkat dan mencoba untuk berbaring kembali.
"Aku mendengar selentingan jika Guangzhou sedang mencari pedang naga hijau. Itu adalah peninggalan dari sejarah Dinasti Donglang yang terkenal." Luo Kang memancing Dara dengan pedang naga hijau yang terkenal.
"Pedang Naga Hijau?! Maksud kamu pedang yang digunakan Li Phin? Pedang milik keluarga Li? Apakah pedang itu benar adanya?" tanya Dara bingung.
Dara mengira jika cerita di novel hanyalah imajinasi si pengarang bukan kisah nyata. Namun, kini ia merasa segalanya semakin nyata segalanya semakin mendekati kenyataan jika semua itu terlihat bagaikan kisah nyata
"Ada, sekarang pedang itu di museum di Hunan," balas Luo Kang. Ia masih memperhatikan wajah Dara dengan segenap rasa penasaran.
"Oh," hanya itu yang mampu Dara ucapkan, "Ya, Tuhanku! Aku berharap agar Guangzhou tidak mendapatkan pedang tersebut, karena bagaimanapun pedang itu sangat mengerikan," batin Dara termenung.
Luo Kang meninggalkan mereka bertiga berselang beberapa lama ia kembali dengan sebuah gulungan kertas. Dara mengetahui jika itu adalah kertas dari zaman dinasti Donglang.
"Apakah Anda mengenali lukisan ini?" tanya Luo Kang memperlihatkan lukisan di mana Dara dan Liu Min sedang memakai baju zirah seorang jenderal dengan pedang naga hijau berada di tangan Dara.
Dara mengingat dengan jelas pedang tersebut, karena ia sudah berulang kali menggunakan pedang tersebut untuk membunuh musuh. Bayangan pertempuran yang sudah berulang kali dimenangkan Dara mulai terbayang.
"Wah, wajahnya sangat mirip denganmu Dara!" kerus Liu Min memperhatikan lukisan tersebut.
Liu Min begitu takjub dengan lukisan itu, ia berulang kali memperhatikan wajah Dara di dalam lukisan dan yang asli. Dara sedikit jengah dengan apa yang dilakukan oleh Liu Min.
Dara hanya diam menatap lukisan dan tak berbicara apa pun ia terlihat begitu cantik bersama Liu Mjn yang gagah dan tampan. Kerinduannya kembali datang mengusiknya ia benar-benar sangat merindukan semua itu.
"Wah, mengapa jenderal ini mirip sekali denganku, ya?" tanya Liu Min menatap wajahnya sendiri di dalam lukisan, dia begitu takjub.
"Dasar, bodoh! Itu adalah dirimu," batin Dara.
"Dara, lihatlah aku begitu tampan! Um, aku rasa aku lebih tampan," ulang Liu Min berulang kali memperhatikan lukisan dan dirinya.
Namun, Dara tak mengatakan apa pun, ia hanya diam saja. Luo Kang masih melihat rasa diam di wajah Dara membuat dia ingin menguak tabir di sana, "Apakah benar jika Permaisuri Dara berasal dari masa depan?" batin Luo Kang.
"Apa?" teriak Dara dan Luo Kang sementara Xiao Ling hanya diam memandang ketiganya tanpa ia tahu harus berkomentar apa.
"Mengapa kalian berdua terkejut? Aku sudah memiliki itu dari kecil yang diwariskan turun temurun dari leluhurku!" balas Liu Min cuek.
Liu min masih menatap Luo Kang dan Dara, "Apakah itu penting? Aku mendapatkan itu karena kebanyakan beberapa generasi kami hanya memiliki satu anak pria. Kebanyakan wanita," ucap Liu Min.
"Apakah Anda pernah menelusuri siapa leluhur Anda?" tanya Luo Kang.
"Apa itu perlu? Aku rasa kita cukup sembahyang membakar hio saja, sudah!" balas Liu Min santai.
"Oh," balas semua orang memandang Liu Min yang terlalu santai dan tidak peduli.
"Um, apakah aku boleh memiliki lukisan itu? Aku sangat menginginkan wajahku dan Dara ada di situ! Sayangnya, Dara tak akan pernah mau jika aku dan dia mengambil potret seperti itu," balas Liu Min.
"Dasar, bodoh!" umpat Dara kesal.
"Baiklah, aku rasa sudah terlalu malam. Sebaiknya kalian berdua tidurlah, aku berharap seminggu saja kalian beristirahat, kalian akan pulih.
"Mungkin aku bisa membawa kalian ke Hunan saat aku berbelanja obat-obatan nantinya," ujar Luo Kang menjanjikan sesuatu.
"Tuan Luo, apakah Anda bisa mencairkan uangku?" tanya Liu Min.
"Um, baiklah! Aku akan mengusahakannya nanti," balas Luo Kang tersenyum.
Luo Kang dan Xiao Ling meninggalkan bangsal klinik seadanya di rumah Luo Kang.
Dara melihat Liu Min masih memandang lukisan mereka berdua di sana, "Dara, ini sangat mirip sekali denganmu dan diriku. Apakah ini tidak terlihat aneh?" tanya Liu Min.
Liu min merasakan sesuatu yang intens dan berkaitan satu dengan yang lainnya. Namun, Liu Min sendiri tidak terlalu yakin dengan apa yang sedang dirasakannya.
"Aneh dari mana?" tanya Dara berusaha untuk tidak keceplosan bicara.
"Entahlah! Aku merasa kita seperti pasangan dulunya," balas Liu Min, "um, aku ingin tahu bagaimana rasanya memiliki istri sepertimu," balas Liu Min.
Dara hanya diam ia malas bicara apa pun, "Um, Dara apakah kamu ingat sebelum kita terdampar kala masih di dalam lautan? Saat, aku mengatakan kepadamu jika aku mencintaimu?" tanya Liu Min.
Dara mengingat apa yang diucapkan oleh Liu Min dan ia pun membalas rasa cinta yang diucapkan oleh Liu Min. Dara menatap Liu Min dengan sejuta rasa, "Ya, aku mengingatnya. Kenapa?" Dara balik bertanya.
Liu Min memandang Dara, "Um, apakah benar jika kamu mencintaiku, Dara? Maksudku … apakah kamu serius membalas cintaku?" tanya Liu Min.
"Tau'ah lupa!" balas Dara ingin mengerjai Liu Min.
Dara ingin melihat keseriusan Liu Min mengejar cintanya, "Kok, jawabnya begitu sih? Aku serius tahu?" umpat Liu Min seperti rengekan yang sedang merajuk.
Dara berbaring dengan membelakangi tubuh Liu Min, "Dara!" panggil Liu Mn kesal.