
Di rumah Edwin.
Saat ini Edwin sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Dia menuruni anak tangga, lalu melangkahkan kaki menuju meja makan.
Semenjak Kamila ada di sini, ia selalu sarapan pagi bersama di rumah. Setelah pulang kerja pun mereka selalu makan malam bersama.
Masakan Kamila sungguh menggugah selera makan Edwin untuk menyantap lagi dan lagi, bikin nagih. Juga bisa memikat hati Edwin agar tak membeli makanan di luar sana.
Edwin sangat senang atas kehadiran Kamila di hidupnya, sebab wanita itu mampu mengubah kebiasaan buruknya yang gila kerja, kini selalu menghabiskan waktu di rumah.
Bermain bersama si kecil, putra Kamila yang bernama Rayyanza Bramasta. Walaupun bayi tersebut baru berusia sembilan bulan, tapi tingkah lucu dan menggemaskannya membuat Edwin selalu merindukannya.
Sebelum berangkat atau sepulang kerja, Edwin selalu menghabiskan waktu bersama si kecil. Pria itu bersikap layaknya seorang ayah yang memperlakukan putranya dengan baik.
Bab Ray pun sangat lengket sekali kepada Edwin. Jika pria itu pergi, Ray pasti menangis ingin ikut, sampai Kamila sendiri bingung membujuknya.
Seperti pagi ini, Ray sedang sangat rewel. Entah mengapa bocah itu tak mau ditinggal pergi oleh Edwin, hingga pria tersebut harus mengalah untuk tak berangkat ke kantor.
"Papapap!" Ray berceloteh ketika Edwin akan berangkat kerja. Ia menangis jika Edwin lupa berpamitan atau menciumnya.
Kamila berusaha membujuk. "Sayang. Om Edwin akan terlambat jika kamu terus minta digendongnya. Tunggu Om pulang kerja ya,"
Namun, Ray menangis histeris saat Edwin akan pergi. "Papapapapap,"
Edwin yang sudah naik ke dalam mobil, turun kembali ketika mendengar tangis si bayi tampan. Digendongnya tubuh Ray lalu mencium gemas pipi gembilnya. "Owh, sayang. Kenapa jagoan ku nangis, hemh?!"
"Papapap!" Ray terus memeluk erat leher Edwin tanpa berniat melepasnya.
"Ray. Om Edwin mau berangkat kerja. Jangan kayak gini dong, Nak!" Kamila meraih tubuh si kecil, namun tangan Ray tak mau lepas dari leher Edwin. Ray malah menangis semakin kencang.
Edwin menahan tangan Kamila, lalu menggeleng pelan. "Biarkan saja dulu dia begini. Dia sedang ingin dimanja," cetus pengertian.
"Tapi, Mas. Kalau kayak gini terus, kamu bisa kesiangan ke kantor." kata Kamila tak enak hati.
"Kenapa? Biarin aja aku terlambat beberapa menit atau beberapa jam, asalkan Ray tidak menangis! Kalau Ray menangis, justru aku tak tenang dan tak fokus kerja karena inget terus sama dia. Jadi, biarkan dia seperti ini dulu!" pungkas Edwin.
"Nanti baju kamu kusut, kalau Ray terus menariknya seperti itu!" alasan Kamila mencoba mengambil alih putranya.
"Kusut ya biarin ah, asal dia diem gak nangis lagi!" sahut Edwin.
"Nanti dia ngompol tau,"
"Diompolin ya tinggal ganti,"
"Tambah telat dong nantinya," Kamila makin tak enak hati.
Edwin mendengus kesal. "Ih, kamu bawel. Lihat, Dek! Mama kamu cerewet ya," berbicara kepada Ray dengan suara dibuat-buat.
Ray tertawa mendengar Edwin berbicara. Bocah kecil itu merasa jika pria dewasa yang menggendongnya itu tengah mengajaknya bermain. Edwin terus menggoda Ray, hingga bayi itu tertawa cekikikan.
Tak terasa waktu menunjukan pukul delapan lewat tiga puluh menit. Namun Edwin saat ini masih berada di rumahnya, sedang mengasuh si bocah menggemaskan Ray.
Edwin tersenyum melihat wajah tampan nan teduh itu. Hidupnya terasa lengkap karena kehadiran Kamila dan Rayyanza. Walaupun Edwin sadar jika keduanya bukan miliknya, namun ia tetap berdoa kepada Tuhan agar suatu saat nanti keduanya bisa dimiliki Edwin seutuhnya.
Kamila melangkah memasuki kamar, untuk menemui Edwin. "Mas, sudah siang! Karena Ray sudah tidur, jadi kamu bisa berangkat dengan tenang, bukan!" ucapnya membuyarkan lamunan Edwin.
"Ah, iya. Aku akan berangkat," Edwin melangkahkan kaki keluar kamar, setelah mengecup kening Ray dengan sayang.
"Umm, Mas!" langkah Edwin terhenti ketika suara Kamila menginterupsi. "Begini. Aku mau minta izin sama kamu untuk menemui seseorang. Aku sudah lama ingin bertemu dan sangat merindukannya," cetusnya dengan antusias.
Edwin menatap wajah bahagia Kamila. Ia berpikir jika Kamila akan pergi untuk menemui suami beserta kedua mertuanya. Pria itu takut jika Kamila dan Ray tak kembali lagi dan meninggalkan dirinya sendirian.
Ia melarang Kamila pergi dengan alasan takut tersakiti lagi oleh suami dan kedua mertuanya.
Kamila bisa menebak apa yang dipikirkan Edwin kali ini. Lekas ia pun menepis pikiran buruk Edwin dengan mengatakan jika dirinya akan menemui Bu Siti dan teman-temannya di warung nasi milik Bu Siti.
"Sudah lama sekali aku pergi. Aku belum sempat berpamitan kepada Bu Siti dan teman-teman. Mungkin mereka kebingungan mencari keberadaan ku yang hilang tiba-tiba,"
Setelah mendengar penjelasan Kamila, Edwin pun mengangguk mengizinkan wanita itu pergi. "Baiklah! Hati-hati di jalan, dan tunggu aku menjemputmu! Sore nanti aku akan pulang lebih awal," kata Edwin.
Kamila mengangguk sembari tersenyum. Ia segera meraih tangan Edwin untuk diciumnya, layaknya seorang suami.
Kamila menganggap Edwin sebagai seorang kakak baginya. Ia tak pernah berpikir jika Edwin menaruh hati padanya, dan ia pun tak mengharapkan itu sebab Kamila tahu diri jika dirinya tak pantas mendapatkan Edwin si pria sempurna. Baik hati, selalu menghargai, menghormati, dan penuh perhatian padanya serta Rayyanza.
•
•
Kamila tersenyum bahagia karena bisa bertemu kembali bersama Bu Siti dan para karyawannya, Leni, Dini, dan Ismi.
Tingkah menggemaskan Baby Ray membuat keempat wanita di sana tertawa terbahak saking lucunya. Bocah itu menularkan kebahagiaan bagi siapapun yang ditemuinya. Bu Siti sampai tak henti-hentinya mencium serta memeluk tubuh si gembul.
Saat ini, Ray tertidur karena kelelahan. Bu Siti menghampiri Kamila yang duduk termenung di dapur warung setelah menidurkan putranya. Ada sesuatu yang tengah ia pikirkan saat ini, hingga menarik perhatian Bu Siti.
"Mila. Ke mana saja kamu selama ini? Ibu dan yang lainnya mencari kamu hingga mendatangi rumah mertuamu," Bu Siti bertanya setelah menepuk pelan bahu Kamila.
Kamila menoleh menatap serius Bu Siti. Dia menceritakan semua kejadian sebelum dirinya pergi karena diusir suaminya di malam hari, lalu bertemu Edwin sang penolong.
Kamila juga menceritakan semua kebaikan Edwin padanya dari malam itu hingga kini. Tak ada yang disembunyikan dari Bu Siti. Kamila menceritakan semua secara detail hingga ucapan-ucapan tetangga yang mengira jika dirinya adalah istri Edwin.
Ray yang selalu lengket kepada Edwin, dan sikap Edwin yang perhatian kepada dirinya dan juga Ray sampai Kamil sendiri tak enak hati.
"Menurut Ibu, Mas Edwin itu menaruh hati padamu, Mila. Ibu yakin, jika pria itu adalah jodoh terbaik yang dikirim Tuhan untukmu!" kata Bu Siti.
"Hush, ngawur! Dari mana Ibu tahu kalau Mas Edwin menyukai Mila? Mila merasa tak pantas jika harus bersanding dengan pria sebaik dia," sahut Kamila dengan menunduk.
"Hemh, kamu tidak tahu atau tidak mau tahu?!" ujar Bu siti lagi. Ia pun mengatakan jika seorang pria bersikap baik kepadamu, itu tandanya dia menaruh hati padamu.
Kamila termenung mendengarkan penjelasan Bu Siti. Ia pun mengingat semua perlakuan baik Edwin kepadanya dan juga Rayyanza. "Apa benar Mas Edwin menyukaiku?" batin Kamila.
...Bersambung ......