Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta - Hal mustahil yang menjadi nyata


"Sudahlah, yang terpenting kita bisa ke sana!" balas Liang Bo, "aku hanya ingin menyelamatkan istri dan anakku! Itu sudah cukup!" balasnya.


Bayangan istri dan anaknya kembali terbayang di pelupuk mata, Liang Bo, tak lagi bisa menunggu terlalu lama, ia sangat khawatir dengan keselamatan mereka.


Apalagi, mereka tak tahu keberadaan Dara dan Liu Min, semua itu membuat Liang Bo semakin kacau. Ia gelisah di balik diamnya, hanya karena ia mampu menyembunyikan kegelisahan di ruang bedah, membuatnya terlihat santai.


"Nyonya Liang dan Tuan Liang pada masanya adalah kaisar dan permaisuri kekaisaran Donglang, saat Kaisar Liu Min dan Permaisuri Dara Sasmita wafat membesarkan putra kaisar Liu Min yang bernama Liu Sun Ming. 


"Jadi, aku sangat yakin, pasti akan ada rahasia di balik semua itu kelak! Hanya saja, kita masih menunggu! Tak ada yang tahu akhir cerita ini," ujar Luo Kang, ia masih membaca gulungan kertasnya.


"Tentu kita akan menyelamatkan semua orang! Jangan khawatir Liang," balas Ahim Yilmaz, ia memahami kegelisahan ambayannya.


"Ya, itu harus. Aku sudah lelah!" ujar Liang Bo, ia langsung menyandarkan punggung ke sandaran kursi penumpang.


Liang Bo mencoba untuk tidur dan istirahat, ia tahu jika beberapa saat lagi mereka akan kembali bertempur. Ia hanya mampu berdoa kepada Tuhan agar diberikan kemudahan dan keselamatan untuknya dan semua keluarga yang terlibat.


Mobil melaju dengan cepat walaupun asap telah memenuhi kap mobil belakang mereka, tapi mereka tak peduli mereka ingin segera tiba di Jinjing.


"Sebaiknya kita mengganti mobil di depan dan mencari makanan. Aku harus banyak makan, jika kita akan bertempur lagi. Paling tidak, perut kita tidak kosong! Agar kita bisa berpikir dan menghadapi mereka.


"Sangat tidak lucu jika kita mati karena kelaparan! Itu tidak ada di dalam kamusku," usul Liu Amei.


"Ya, Nyonya Yilmaz benar! Sebaiknya kita mengisi perut dan mencari amunisi, aku tidak tahu, apa mungkin mereka hanya menggunakan pedang. Ini adalah zaman modern, mereka pasti menggunakan senjata api dan pedang.


"Selain itu, aku ingin mencari obat-obatan kuno di toko obat Tiongkok. Aku rasa itu akan berguna," balas Luo Kang.


"Baiklah!" ujar Ahim Yilmaz setuju.


***


Sementara Liu Min masih tak sadarkan diri, hari sudah mulai menjelang pagi. Nyanyian burung malam mengalun sendu bersama dengan binatang malam.


Liu Min masih terus bermimpi dan bermimpi membuat asap putih dan hitam semakin tebal menyelimuti tubuhnya.


"Apakah kamu masih ingin terus tidur Kaisar? Apakah Anda tidak ingin menyelamatkan Permaisuri Dara?" bisik Zhang Mei, ia masih memeriksa luka dan menyentuh kening Liu Min.


Zhang Mei secara berkala menyalurkan tenaga dalamnya, ia ingin Liu Min segera sadar dan memulihkan tenaga.


Zhang Mei berburu makanan dengan membeli beberapa bakpao dan mie yang sudah siap saji.


"Hidup pada zaman ini begitu enak, segalanya serba praktis! Um, sayang sekali! Aku tidak mengerti dengan itu (ponsel)," batin Zhang Mei mengamati orang-orang berbicara melalui sebuah alat yang diletakkan di telinga mereka.


"Jika dulu hanya menggunakan telepati berbeda dengan sekarang," batinnya.


Ia masih berjalan cepat layaknya seorang nenek tua, ia bisa saja melesat secepat kilat. Namun, ia menyadari jika zaman sekarang itu adalah hal yang sulit dicerna dengan akal dan logika.


Sehingga Zhang Mei berusaha mengikuti perkembangan zaman dengan tidak menggunakan kekuatannya. 


Sesampainya di rumah tak berpenghuni di mana Liu Min terbaring, Zhang Mei memakan bakpao dan menyisakan untuk Liu Min.


"Akh, kepala dan tubuhku sakit sekali!" lirih Liu Min, ia memegang kepalanya ingin duduk.


"Istirahatlah dulu, pulihkan kekuatan tubuh Anda yang Mulia, dengan menggunakan tenaga dalam Anda, Kaisar!" perintah Zhang Mei.


"Nenek! Kaukah itu? Um, terima kasih telah menyelamatkanku," Liu Min memperhatikan Zhang Mei, "Nona Zhang Mei?! Anda Nona Zhang Mei?" lirihnya 


Liu Min tak mempercayai kenyataan tetapi semua itu adalah benar adanya, hal yang tak mustahil sudah berulang kali terjadi di depan matanya tanpa disadarinya.


"Aku kira kamu tidak mengenaliku lagi, Kaisar! Hehehe," balas Zhang Mei tersenyum.


"Awalnya tidak tapi, lama-lama aku menyadarinya … terima kasih Nona Zhang," balas Liu Min, ia bersyukur bertemu dengan Mona Zhang Mei.


"Hahaha, aku sudah nenek-nenek tidak nona-nona lagi, Kaisar." Zhang Mei memperhatikan Liu Min yang masih memulihkan dirinya.


"Apakah sekarang sudah lebih baik?" tanya Zhang Mei, ia melihat tak lagi sepucat mayat lagi.


"Terima kasih, Nona Zhang. Sudah sangat baik sekali! Um, tapi aku jadi lapar. Sebaiknya aku mencari makanan dulu," ujar Liu Min.


Sebagai seorang pria dan kaisar ia tak ingin menyusahkan seorang wanita renta yang sudah menolongnya dari kematian.


"Makanlah itu, di sebelah Anda!" ujar Nona Zhang, ia menunjuk ke arah kotak styrofoam.


"Kapan Nona keluar? Wah, hebat sekali! Nona bisa sepanjang ini, maksudku umur Nona," ucap Liu Min merona malu, ia langsung meralat kalimatnya.


"Hehehe, keadaan yang memaksaku untuk terus berada di dunia fana ini, jika semua ini selesai maka aku bisa mati dengan tenang Kaisar," balas Nona Zhang Mei.


"Nona, aku bukanlah kaisar tapi Liu Min. Mungkin masa laluku yang kaisar di kehidupan lain, tapi pada zaman ini … aku adalah seorang tentara." Liu Min menjelaskan dengan detail.


"Mungkin sebagian orang menyangka demikian tapi, bagi kami yang pernah hidup di masa lalu. Anda adalah Yang Mulia Kaisar Liu Min, itu tidak bisa dipungkiri," balas Zhang Mei.


Liu Min hanya menggaruk kepalanya ia masih merasa malu jika ada yang memanggilnya kaisar karena ia merasa tak cocok untuk predikat itu.


"Nona, menurutmu bagaimana kita mengetahui di mana kubu Guangzhou?" ujar Liu Min, ia tak membawa alat yang canggih yang biasa digunakan oleh tentara dan pemerintah.


"Gunakan nalurimu Kaisar! Aku sangat yakin Anda memiliki semua itu, hanya saja Anda tidak menggunakannya dengan baik, itu saja!" ujar Zhang Mei.


"Um, bagaimana caranya? Maukah Nona Zhang mengajariku?" tanya Liu Min jujur apa adanya, ia merasa ia sangat buta, sehingga ia tak perlu menutupi segalanya. 


"Hehehe, jangan khawatir! Setelah Anda makan saya akan mengajari Yang Mulia Paduka," balas Zhang Mei, ia tersenyum.


"Terima kasih, Nyonya! Saya senang sekali, tapi apa mungkin? Waktunya begitu singkat?" ujar Liu Min, ia masih bingung dengan kemampuannya.


Liu Min merasa jika dia tak memiliki kelebihan apa pun, semuanya serba kebetulan dan keberuntungan saja yang selalu menyelamatkan hidupnya.


Namun, bayangan Dara, Aching, si kembar, Ningrum, dan jutaan umat manusia yang bergantung pada mereka untuk menghancurkan Guangzhou membuat Liu Min bersemangat untuk belajar.