
"Sayang, aku rasa nanti malam kita menyusup ke dalam gedung. Bagaimana menurut kamu?" tanya Liu Min.
"Aku rasa bagus juga Laogong, aku juga ingin mengetahui siapa dalang dari semua ini dan apa hubungan antara Wanchai dan Guangzhou?" ucap Dara.
"Ya, kamu benar! Aku juga penasaran, jika kita tidak memulai … aku rasa mereka pun tidak akan bergerak," balas Liu Min tersenyum.
Keduanya saling diam menatap ke arah gedung pencakar langit yang megah di depan mereka. Keduanya saling bergandengan tangan makan permen kapas.
"Laopo, bagaimana jika kita sedikit mendekat ke arah gedung," ujar Dara, "siapa tahu kita memiliki ide dan jalan untuk masuk?" ide Dara.
"Boleh juga. Ayo!" ajak Liu Min menggandeng istrinya.
Dara dan Liu Min mendekat ke arah gedung seakan berjalan-jalan ke arah gedung perusahaan Wanchai bak pasangan turis. Keduanya melihat sebuah pintu masuk antara gedung Wanchai dan gedung kosong di sebelahnya.
Dara dan Liu Min saling pandang dan langsung masuk ke dalam gedung dan mengawasi dengan cepat dengan menggunakan teropong.
"Kita akan masuk nanti malam melalui celah itu, kita menyeberang menggunakan tali busur. Aku sudah menyiapkan segalanya di sini," ujar Liu Min memukul ransel di punggungnya.
Malam telah merayap diiringi bulan sabit dengan serpihan salju.
Keduanya sudah bersiap-siap di atas atap, Liu Min menembakkan busur tali otomatis hingga tepat di salah satu tembok di seberang.
Wow, keren sekali Laogong!" puji Dara.
"Suami siapa dulu?"
"Dara Sasmita gitu lho!" balas Dara tersenyum manis.
Malam telah tiba, Dara dan Liu Min telah bersiap-siap dengan pakaian hitam dan bersenjata lengkap berusaha untuk menjalankan rencana mereka berdua untuk menyusup.
Liu Min menembakkan busur tali ke gedung di seberang, tali yang terbuat dari gulungan kawat baja yang ringan telah dimodifikasi telah terentang dengan kokoh.
"Ayo, Sayang! Berhati-hatilah!" ucap Liu Min mencium bibir istrinya sekilas.
Ia sudah meluncur ke sebarang, "Liu Min memang keren!" batin Dara tersenyum puas.
Dara merasa bangga memiliki suami seperti Liu Min yang sangat luar biasa, "Hidup selalu memberikan kebahagiaan, di antara kesedihan dan penderitaan. itu benar adanya," desis Dara, sebelum mengaitkan tali baja lentur dari pinggang ke tali busur.
Ia pun segera meluncur secepatnya mengikuti apa yang dilakukan oleh suaminya dan berusaha tetap tenang agar para pengawal dan sekuriti keamanan Perusahaan Wanchai tidak menyadari hal itu.
Dara langsung mendarat dengan sigap di lantai atap langsung mengikuti suaminya yang masuk ke dalam ruangan gelap berusaha untuk mencari komputer dan mengkopi semua informasi.
"Hei! Siapa itu?" teriak seorang pengawal di perusahaan langsung menembak.
Dor!
Ia langsung menembak ke arah Dara dan Liu Min yang masih mengkopi informasi di komputer.
"Merunduk!" teriak Liu Min.
Dor! Dor!
Tet! Teet!
Alarm bergema membuat kehebohan semakin kacau. Derap langkah kaki dari tangga dan lift terdengar, para pengawal dan sekuriti langsung menyerbu ke ruangan di mana Dara dan Liu Min berada.
Mereka menggunakan senjata lengkap dan infra red, baku tembak.
Dara melihat kopian di komputer sudah selesai hingga ia mencabut USB dan mengantonginya.
Akan tetapi, mereka sudah mulai terkepung. Dara dan Liu Min saling pandang, "Tembak!" teriak Liu Min.
Dara dan Liu Min langsung berdiri dan bergerak dari persembunyian menembak dengan kecepatan yang luar biasa, pasangan suami-istri saling bantu menghancurkan musuh mereka. Keduanya saling memunggungi dengan senjata berada di kedua belah tangan.
"Terima kasih Sayang. Aku mencintaimu!" balas Dara tersenyum, "mari, kita hancurkan mereka!" teriak Dara.
"Namun, jika aku meninggal aku harap kamu berbahagialah. Di mana pun kamu berada Sayang! Aku hanya minta jangan pernah lupakan aku," ucap Liu Min tulus.
"Begitu juga denganku!" balas Dara, "tapi aku yakin kita akan selalu selamat karena kebenaran selalu menang melawan kejahatan," balas Dara dengan suatu keyakinan.
Keduanya semakin bergerak dengan cepat dan melesat bersembunyi di balik kursi dan meja kerja hingga, membalas semua tembakan yang mengarah kepada mereka, semua kertas berserakan, akibat desingan peluru.
"Menyerahkan kalian! Tuan Wanchai sangat menginginkan kalian berdua," ujar salah seorang pengawal Wanchai.
"Persetan dengan Wanchai!" teriak Liu Min.
Ia dan Dara semakin gencar menembak dari persembunyian mereka. Musuh telah banyak berjatuhan, akan tetapi dua peluru bius menancap di bahu dan paha Dara juga Liu Min. Sebelum mereka berhasil kabur, keduanya sudah jatuh terkulai tak berdaya.
Bruk!
"Laopo …!" lirih Dara sebelum ambruk ke lantai
"Laogong …," sambut Liu Min berusaha untuk meraih tubuh istrinya.
Namun keduanya jatuh tersungkur saling bertatapan dan menyentuh tangan pasangan masing-masing, sebelum memejamkan mata karena pingsan.
Dara dan Liu Min tidak menyadari jika seorang sniper telah menembak mereka
dari lantai gedung lain di seberang perusahan Wanchai.
Seorang pria yang menggunakan masker langsung mengangkat tangan dengan mengacungkan jempolnya ke arah gedung di seberang.
"Kerja bagus, Qin! Bawa mereka ke Hunan! Tuan Wanchai menginginkannya," perintah seseorang.
Beberapa orang langsung membawa Dara dan Liu Min, memasukkan keduanya ke dalam mobil menuju ke Hunan.
Dua jam perjalanan menuju Hunan, Dara dan Liu Min tak sadarkan diri. Mereka masih saja diikat oleh anak buah Wanchai.
Hingga mereka membawa keduanya ke perusahan Wanchai, mendudukkan mereka di sebuah kursi dan mengikat seperti kala Dara disekap untuk pertama kalinya disandera.
Byur!
Seember air sengaja disiramkan ke tubuh keduanya.
"Uhuk! Uhuk!" Dara dan Liu Min terbatuk.
Keduanya saling pandang dan terdiam, berusaha untuk tidak saling menahan diri agar musuh tidak mengetahui jika mereka adalah suami-istri.
"Selamat datang Nona Dara Sasmita dan Tuan Liu Min terhormat!" sapa Wanchai tersenyum duduk di kursi dengan santainya.
Plok! Plok!
"Selamat datang di kerajaanku! Aku tidak menyangka jika kalian masih bisa hidup!" ujar Wanchai bertepuk tangan.
Dara melihat seorang pria berumur 50 tahun lebih dengan tampang berkharisma dan selalu terlihat baik di mata dunia kini telah menyanderanya dan Liu Min.
Dara melihat di sisi Wanchai seorang pria berkebangsaan Jepang dengan yukata. Ia merasa melihat pria itu, Dara berusaha untuk mengingat secepat mungkin.
"Sial! Apa hubungan mafia ini dengan Yakuza Mitzuki? Jangan- jangan?" batin Dara bingung.
Ia melihat wanita disebelah Mitsuki berdiri dengan yukata dengan corak bunga persik mirip dengan Chien Ti'er.
"Cuih, Hehehe, akhirnya kalian keluar juga! Ternyata dalang semua ini adalah Konglomerat Wanchai, Yakuza Mitsuki, dan putrinya Quino, tinggal Guangzhou dan Pablo yang belum hadir si sini, bukan?" ujar Liu Min meludah di lantai.