Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Benci, benar-benar cinta


Tan Jia Li melihat ke arah Gu Shanzheng, "Baiklah, kalau begitu . Ayo, secepatnya kita tinggalkan tempat ini," balas Tan Jia Li, menarik tangan Gu Shanzheng melesat untuk ke luar gua dan melupakan rasa nyeri di punggungnya.


Keduanya berjalan dengan cepat menuju ke Goa paling dalam. Duar! Duar! Di permukaan goa, suara ledakan beruntun bergema menghancurkan goa membuat serpihan tanah mulai berhamburan berjatuhan mulai menutup Goa.


"Ayo, Jia'er cepatlah! Kita tinggalkan tempat ini, karena sebentar lagi, goa ini akan runtuh. Aku tidak ingin segalanya menjadi kacau," ajak Gu Shanzheng menarik tangan Tan Jia Li, berusaha untuk menghindari dan menghancurkan bebatuan yang ingin menimpa mereka.


"Ayo!" Tan Jia Li langsung menyambut tangan Gu Shanzheng berlari menghindari reruntuhan yang mulai menutup goa. 


Duar! Duar!


"Tuan Gu!" teriak Tan Jia Li melihat Gu Shanzheng terpeleset masuk ke dalam jurang yang menganga.


Tan jia Li melesat secepatnya menarik tangan Gu Shanzheng ia tidak ingin orang yang telah beberapa hari bersamanya dan hampir sepanjang hidup telah menghina dan membuatnya tersenyum dengan riang dan juga menangis di waktu bersamaan.


Tan Jia Li menyadari jika Gu Shanzheng memiliki rasa kepedulian dan kasih sayang yang luar biasa kepada semua orang yang disayanginya. Ia rela hancur dan menderita demi seseorang atau segelintir kaum miliknya, untuk terus tersenyum dan bahagia di balik wajah dingin dan angkuh milik Gu Shanzheng 


"Tuan Gu! Bertahanlah aku tidak ingin engkau terluka!" pekik Tan Jia Li menarik tangan Gu Shanzheng.


"Jia'er! A-aku sudah tak sanggup lagi," ujar Gu Shanzheng, dengan kedua kaki menggantung ke dalam jurang dan tangan kanan di di dalam genggaman tangan Tan Jia Li.


"Bertahanlah! aku mohon," balas Tan Jia Li ingin menangis.


"Jia'er pulanglah ke Donglang! Menikah dan berbahagialah, carilah pria yang benar-benar mencintai dan menyayangimu," ucap Gu Shanzheng.


"Tuan Gu, aku mohon, bertahanlah!" ujar Tan Jia Li, berusaha untuk meraih dan terus memegang tangan Gu Shanzheng yang ingin lepas dari genggamannya.


"Jia'er, aku hanya ingin mengatakan, jika aku mencintaimu  Jia'er!" ucap Gu Shanzheng, "aku sangat mencintai dan menyukaimu. Kau tahu, aku sangat mengagumi bahkan begitu merindukan dirimu," lirih Gu Shanzheng.


Di ambang kematiannya ia ingin Tan Jia Li mengetahui tentang semua perasaan dan rasa cintanya yang dalam yang tak akan lagi ingin disembunyikan maupun diingkarinya.


"Bagiku, kamu adalah satu-satunya wanita yang kuinginkan, untuk menemaniku di sepanjang sisa hidupku!" lanjut Gu Shanzheng.


Ucapan Gu Shanzheng membuat jiwa dan hati Tan Jia Li bergetar, ia tak menyangka, jika semua amarah dan emosi juga kebencian miliknya adalah sebuah ungkapan dari kata benar-benar cinta, benci yang berubah menjadi sebuah kerinduan.


"Gu Shanzheng, aku juga pun mencintaimu, aku mohon bertahanlah," balas Tan Jia Li mengulurkan kedua belah tangan untuk terus menggenggam tangan Gu shanzheng.


Tan Jia Li tidak ingin kehilangan Gu Shanzheng, baginya dia adalah satu-satunya pria yang selalu mengejek dan memotivasi dirinya hingga ia menjadi seorang jenderal wanita pertama di Kekaisaran Donglang pada masa itu.


Semua perjuangan yang dilakukan oleh seorang Tan Jia Li hanyalah untuk membuktikan, jika wanita pun bisa lebih hebat dan mampu melebihi seorang pria mana pun. Namun, kini ia menyadari jika seberkas cahaya dan pegangan hidupnya ingin meninggalkan diri dan cinta miliknya untuk selamanya. Tan Jia Li merasa hidup ini begitu hampa.


"Benarkah, kamu mencintaiku?" tanya Gu Shanzheng ingin meyakinkan pendengarannya menatap ke arah Tan Jia Li, kebahagiaan mulai merayap di jiwa Gu Shanzheng.


"Iya, aku mencintaimu Gu Shanzheng aku mohon, bertahanlah," ucap Tan Jia Li dengan linangan air mata sementara reruntuhan tanah dan batu padas mulai bergema di seluruh goa.


"Aku tidak yakin, kamu mencintaiku Jia'er, katakan jika kau mencintaiku sekali lagi. Agar aku tenang meninggalkan dunia ini," balas Gu Shanzheng.


"Ya, aku mencintaimu! Aku mencintaimu  Gu Shanzheng!" teriak Tan Jia Li bergema di gua.


Syut!


Gu Shanzheng melesat secepatnya memeluk Tan Jia Li, "Terima kasih, Sayangku! Aku pun sangat mencintaimu!" ucap Tan Jia Li.


"A-apa! Kau! Kau begitu mudahnya melesat naik kemari? Kau menipuku, Shanzheng? Dasar bajingan! Kurang ajar!" teriak Tan Jia Li memukul dada Gu Shanzheng dengan lembut dan kesal.


"Maafkan aku, Sayang! Aku hanya ingin tahu perasaanmu, aku tidak bisa menebaknya. Aku sudah lelah harus menebak semua itu, aku tidak ingin berputar tak tentu arah hanya ingin menemukan dan mencintaimu lagi.


"Apakah kamu sayang dan cinta padaku, Jia'er? Apakah semua ini hanya aku saja yang merasakan cinta ini?" ujar Gu Shanzheng memeluk Tan Jia Li yang masih marah dan malu juga kesal bercampur aduk.


Tan Jia Li merasa begitu mudah tertipu oleh pesona Gu Shanzheng, hingga ia mudah terperosok oleh tipu daya Gu Shanzheng.


"Bisa-bisanya aku tertipu denganmu, Sialan!" pekik Tan Jia Li terdiam kala Gu Shanzheng mendaratkan kecupan ke bibir Tan Jia Li di antara runtuhan batu dan tanah.


"Shanzheng, jika kamu masih ingin terus hidup. Ayo, keluar!" ajak Tang Jia Li.


"Ayo, Cinta. Aku juga masih ingin terus mengecup bibirmu yang indah dan penuh itu," balas Gu Shanzheng mengedipkan sebelah mata dan langsung meraih kedua kaki dan punggung Tan Jia Li melesat dengan ilmu peringan tubuhnya melompati bebatuan dan tanah yang mulai runtuh.


Gu Shanzheng begitu merasa segala kepahitan dan beratnya perjuangan hidupnya begitu tak berarti dengan cinta yang diberikan oleh Tan Jia Li di dalam hidupnya. Ia tak henti-hentinya tersenyum dan mendaratkan kecupan manis di kening Tan Jia Li.


Gu Shanzheng merasa ia adalah pemenang dari banyaknya pertempuran di medan perang kala menaklukkan musuh, akan tetapi musuh yang paling mengerikan adalah menaklukkan rasa ego dan cinta seorang Tan Jia Li.


Ia harus jatuh bangun dan berada di ambang kematian terlebih dahulu baru mendapatkan sebentuk cinta dari wanita yang telah lama diinginkan dan diimpikannya siang-malam, semenjak ia memasuki pelatihan militer bertahun-tahun silam.


Gu Shanzheng tidak menyangka jika seorang bidadari luar biasa yang penuh dengan keuletan, ketabahan, dan jiwa yang luar biasa indah kini berada di dalam dekapannya.


"Shanzheng! Jika kau terus menerus melakukan hal itu, aku akan menarik kembali kata-kataku, jika aku mencintaimu!" ancam Tan Jia Li.


"Hahaha, kata-kata yang sudah terucap tak akan pernah bisa ditarik kembali! Itu sudah ditandatangani dengan kontrak darah, hingga kematianlah yang memisahkan kita, Jia'er!" balas Gu Shanzheng tidak peduli akan semua perkataan Tan Jia Li.