Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian cinta -mimpi basahh


"Jadi maksud Tuan Luo? Jika Dara dan Amin adalah reinkarnasi dari pasangan melegenda Kekaisaran Donglang begitu? Ini sungguh tidak masuk akal!" ujar Liu Amei, ia masih bingung memikirkan banyak hal.


"Andaikan benar pun, apa hubungan reinkarnasi mereka?" timpal Liu Aching penasaran, "maksudku, apakah ada hubungan dengan masa sekarang begitu?" tanya Liu Aching.


Liu Aching menatap satu per satu orang yang berada di ruangan tengah rumahnya dengan rasa penasaran.


"Aku tidak tahu, sama seperti kalian, kita sama-sama mencari tahu, ada apa sebenarnya?" balas Luo Kang lugas.


Keheningan terjadi, "Baiklah, begini saja. Jika benar yang dikatakan oleh Tuan Luo, bagaimana jika Cece memasukkan keduanya ke divisi yang ingin Cece lakukan itu, untuk mereka.


"Jika benar, maka kita akan mudah untuk mengetahui semua yang akan terjadi. Jika tidak bagaimana kita bisa tahu mengenai kebenaran itu?" ucap Liang Bo.


"Hm, baiklah. Begitu juga lebih baik, tapi sebelum itu aku ingin mereka menikah, aku 'kan bertanya, apakah mereka menikah dengan dua keyakinan atau siapa yang berkorban?" ujar Liu Amei tegas.


"Aku rasa Liu Min yg akan berkorban. Apakah kamu tidak melihat kata-katanya saat melamar Dara tadi? Jika ia menginginkan Dara sebagai makmum-nya?" ucap Ahim Yilmaz.


"Ya, benar juga. Baiklah apa pun keputusan mereka kita akan mengikutinya saja. Terpenting bagi kita kita akan mengadakan pernikahan tertutup dulu, aku tidak ingin jika musuh akan mencium jika pasangan itu masih hidup," ucap ucap Liu Amei.


Akhirnya mereka sepakat untuk membiarkan waktu yang akan membongkar kebenaran dari tujuan reinkarnasi yang diberikan Tuhan kepada pasangan tersebut dan kepada mereka.


***


Sementara Dara masih tertidur di sisi Liu Min yang masih sama-sama pingsan, "Suamiku, ayo, kejar aku!" teriak Dara dengan berkuda bersama Kaisar Liu Min di sebuah Padang hijau indah di sebuah dataran di daerah Mongol (Lembah Orkhon masa sekarang).


"Istriku! Jika aku berhasil mengejarnya apa yang akan kamu berikan kepadaku?" tantang Liu Min.


"Aku akan memberikan apa yang kamu mau!" teriak Dara melesat menunggang si Hitam membelah lembah di antara bunga-bunga dandelion dan semak gladiol indah.


Derap Pocia langsung melesat secepatnya mengejar si Hitam hingga Liu Min melesat melompat langsung bertengger di belakang tubuh Dara menarik kekang kuda si Hitam.


"Berhenti Hitam!" teriak Liu Min.


Namun, Dara tidak mau menghentikannya membuat Liu Min semakin gemas, ia langsung menyusupkan kedua belah tangannya ke dalam sutra lila milik Dara membelai dan meremas sesuatu di sana membuat Dara semakin tak karuan.


"Suamiku, apa yang kamu lakukan? Geli tahu!" teriak Dara, membuat Dara menarik tali kekang si Hitam agar berhenti.


Ringkikan si Hitam membelah pagi berkabut yang indah di antara embun pagi, Dara dan Liu Min bergulingan di antara semak bunga.


Keduanya tak ada yang mau mengalah hingga satu demi satu pakaian merek sudah berhamburan di lembah tersebut.


"Sayang … aku merindukanmu …," lirih Liu Min.


Kala ia berhasil menyudutkan istrinya di gerombolan bunga dandelion dan gladiol membuat Dara tak lagi bisa bergerak.


Semak bunga menutupi keduanya dari pandangan siapa pun. Tidak jauh dari mereka Pocia dan si Hitam merumput membiarkan kedua tuannya sedang berpelukan mesra saling berebut melepaskan pakaian pasangannya.


Liu Min langsung mendaratkan sebuah kecupan di bibir Dara membuat Dara langsung merangkulkan kedua belah tangannya ke leher suaminya.


"Aku pun merindukanmu Sayang …," balas Dara membuka mulutnya untuk menerima hujaman cinta yang diberikan oleh Liu Min melalui lidah dan kecupan indah Liu Min.


Serpihan bunga dandelion yang bergerak menebarkan benihnya dari kelopak bunga akibat sentuhan dan gerakan kedua tubuh manusia yang berlainan jenis di sana.


"Sayang, apakah tidak terlihat aneh jika ada orang melihat jika kaisar dan permaisurinya melakukan hal gila di lembah terbuka begini?" tanya Dara melihat semua pakaiannya sudah mulai bertebaran di antaranya.


"Um, nanti kita pikirkan Sayang. Sebaiknya kita memikirkan hal ini dulu," ucap Liu Min semakin erat meraih tubuh istrinya agar berada di atas perutnya.


Dara pun tak menyia-nyiakan waktu untuk melakukan hal itu, jika selama ini ia berusaha untuk meredam suaranya kini ia benar-benar  mengeluarkannya. Lenguhan dan ******* yang diberikan oleh Dara membuat Liu Min semakin bersemangat untuk terus bergerak di bawah tubuh Dara mengimbangi semua kelincahan sang istri di atasnya.


Gairah telah membakar seluruh nadi dan sendi dari pasangan tersebut hingga keduanya benar-benar ingin menuntaskan semua hasrat mereka yang membara.


Hingga keduanya terkulai di dalam pelukan kasih sayang yang indah dan berbaring di sana, "Sayang, pakailah pakaian kita. Aku tidak ingin jika prajurit akan menemukan kita di dalam keadaan seperti ini," ucap Liu Min memberikan semua sutra indah milik permaisurinya.


Keduanya kembali berpelukan berbaring menikmati udara pagi di antara kicauan burung dan helaian kelopak dandelion dan tetesan embun dari kelopak bunga gladiol.


"Tempat ini indah sekali! Aku berharap kelak kita akan kemari lagi," pinta Dara.


"Aku akan membawamu kemari lagi istriku," ujar Liu Min berjanji dengan memeluk erat tubuh Dara dan mengecup kembali kening istrinya.


Dara merasakan kebahagiaan yang tak terkira hingga sayup-sayup, ia merasakan sebuah kehangatan menjalar di tubuhnya, ia merasakan ******* napas berada tepat di dadanya.


"Liu Min? Apa yang kau lakukan? Ya, Tuhan ini bukan mimpi?" teriak Dara.


Bruk! 


Dara menendang tubuh Liu Min hingga jatuh ke lantai.


"Apaan sih?" tanya Liu Min membuka matanya.


Deg! 


Jantungnya hampir berhenti ia melihat jika tubuhnya hampir tidak mengenakan pakaian hanya yang tertinggal sehelai segitiga hitam yang masih membungkus barang pusakanya.


Sementara Dara sama sekali tak lagi menggunakan apa pun, "Dasar Bajingan kau! Tidak bisakah kau menunggu hingga malam pertama kita!" Semprot Dara marah.


Dara berusaha untuk mengecilkan volume suaranya, ia langsung memakai semua pakaian miliknya. Liu Min masih terbengong menatap semuanya


Bruk!


Dara melemparkan pakaian Liu Min ke pangkuannya, "Pakai itu!" perintah Dara, "aku tidak ingin jika Cece dan Ako (Abang) mengetahui hal gila ini. Sebaiknya kita segera menikah. 


"Aku semakin takut dekat denganmu! Kau bagaikan buaya yang langsung menerkam mangsa," umpat Dara kesal.


"Apakah kita sudah melakukannya?" tanya Liu Min bingung. 


Di dalam mimpinya ia benar-benar melakukannya di sebuah taman di sebuah lembah. Liu Min masih merasakan sensasi dari kenikmatan yang luar biasa itu. 


"Aku rasa belum, untung saja aku terbangun jika tidak entahlah," ketus Dara.