
"Wah, tongkat itu hebat sekali! Um, aku seperti pernah melihatnya tapi aku lupa di mana?" ujar Liang Bo, ia berusaha untuk mengingat hal itu tapi ia tak menemukan di mana ia pernah melihatnya.
Liang Bo, masih saja memperhatikan tongkat tersebut berharap menemukan jawaban yang diinginkannya. Namun, semakin ia berharap menemukan jawabannya semakin pusing kepalanya.
"Ada apa denganku? Mengapa aku seperti melihat banyak orang yang mati dan darah?" batin Liang Bo, ia memegang kepalanya yang pusing.
"Tuan Liang! Tuan Liang! Ada apa denganmu?" tanya Luo Kang cemas, ia berlari secepatnya untuk menangkap tubuh liang Bo yang ambruk ke tanah.
Trang!
Luo Kang kandung mengangkat tongkat menangkis shuriken yang mulai berdatangan bak hujan ke arah mereka berdua.
"Tuan Luo, aku tidak tahu ada apa denganku … aku melihat tongkatmu dan aku merasa jika aku melihat banyak orang mati dan darah …," Lirih liang Bo.
"Tentu saja Anda pernah melihatnya Tuan Liang, jika Anda ingat itu adalah hal yang paling bagus sebenarnya," balas Luo Kang, "andaikan Tuan Liang tahu jika ia melihat di masa lalunya. Dan … tongkat ini sering dipakai dan digunakan oleh leluhurku Tabib Luo," batin Luo Kang.
Keduanya masih berusaha untuk menangkis serangan shuriken, yang berhamburan ke arah mereka seakan tak ada habisnya.
"Apa? Dari mana kamu bisa mengetahui hal itu Tuan Luo? Kamu selalu saja penuh kejutan!" cetus Liang Bo, ia merasa jika Luo Kang memiliki rahasia lain.
"Sudahlah tak perlu kita membahasnya, yang penting bagaimana caranya agar para ninja ini bisa kita hancurkan. Lihatlah, shuriken ini mengandung racun," tandas Luo Kang, ia melihat jika tongkatnya berasap akan tetapi tak mempengaruhi tongkat tersebut.
"Hati-hati, tongkatnya beracun!" teriak Luo Kang mengingatkan ketiga sahabatnya.
"Apa? Tongkat itu beracun?" balas Ahim Yilmaz, ia masih bingung harus bagaimana menghadapi musuh yang sudah mengepung dirinya.
Ahim masih bertarung dengan 5 ninja yang berusaha untuk memojokkannya dan mencuri peti kecil di punggung Ahim Yilmaz.
"Bajingan! Jadi, mereka menginginkan peti warisan ini? Apa sebenarnya fungsi semua ini?" batin Ahim Yilmaz tak mengerti.
Ahim melihat istrinya masih bertarung di kanannya, "Amei, memang sangat hebat! Aku selalu mencintainya, tapi … bagaimana jika kami tewas di sini?" batin Ahim Yilmaz sedikit ngeri membayangkan semua itu.
Liu Amei memutar boomerangnya untuk menangkis semua shuriken yang melayang ke arah mereka dan ia pun berkelit untuk menghindari shuriken yang lolos dari bumerang miliknya.
Ia menebaskan pedang, ia tak menyangka jika ia bisa melesat setinggi yang ia mau dan mengambang seakan ia bisa menguasai semua itu dengan kemudahan yang sangat luar biasa.
"Wah, sejak kapan aku bisa melakukan semua ini? Aku bagaikan sedang main film kolosal kungfu, saja!" batin Liu Amei bahagia.
Ia melihat jika kelebihan para ninja adalah mereka selalu menyerang secara bergerombol dan bersembunyi dari bayang-bayang yang sedang mereka lakukan bersama-sama.
"Jika aku berhasil memisahkan mereka agar tak bergerombol, aku rasa aku bisa menghancurkan mereka!" batin Liu Amei.
Ia langsung melesat dengan kekuatan baru yang dimilikinya melesat secepatnya untuk menghindari semua shuriken ia menggunakan boomerang di tangan kirinya langsung melesat ke sana kemari dan pedang yang terus berkelit menangkis shuriken yang lain.
Shuriken telah banyak berjatuhan di tanah dan berasap membuat aspal meleleh. Liu Amei berjengit melesat menghindari lelehan yang terus berasap ke mana pun lelehan itu mengalir.
"Matilah kau, Bajingan!" umpat Liu Amei, ia menebas lengan musuhnya yang ingin melempar shuriken lagi. Liu Amei langsung bergerak secepatnya untuk menghancurkan perisai musuh di depannya.
Menendang dan melontarkan bumerang untuk melukai musuh, perisai dan pelindung dari para ninja langsung buyar dan kekuatan mereka lumpuh, Liu Amei langsung menebaskan pedang ke para ninja yang tepat berada di depannya.
Kras! Bruk! Lengan Ahim berdarah terluka tertebas samurai. Ia merasakan jika tangannya langsung mati rasa dan ia ambruk ke tanah.
"Sayang!" teriak Liu Amei melemparkan bumerang ke arah ninja yang ingin memenggal kepala Ahim Yilmaz.
"Jangan mencoba-coba membunuh suamimu Sialan!" teriak Liu Amei melesat dengan menggunakan semua kekuatan ingin menyelamatkan suaminya, ia meraih busur dan memanah tubuh si ninja hingga kematian menjemput si ninja.
Namun, pedang samurai milik si ninja terlepas dan melayang ke arah paha Ahim. Trang! Pedang samurai langsung terlempar akibat lontaran pedang Liang Bo, ia langsung melesat secepatnya mengambil kembali pedang miliknya dan berlari membantu Liu Amei yang masih dikepung oleh ninja berpakaian hitam.
"Tuan Luo! Tolong Ko Ahim! Aku akan membantu Cie Amei!" teriak Liang Bo.
Luo Kang melesat secepatnya mendekati Ahim Yilmaz, Luo Kang langsung membubuhkan obat pada luka dan memberikannya kapsul ke mulut Ahim Yilmaz.
"Bertahanlah Tuan, sebentar lagi kita tiba di Jinping, bertahanlah! Jangan biarkan Nyonya Yilmaz sendirian," bisik Luo Kang, ia sedikit cemas.
"Aku tak pernah melihat racun yang begini mengerikan! Apa sebenarnya jenis racun ini? Apakah benar legenda sekte racun hitam itu?" batin Luo Kang.
"Bantu aku, Tuan Luo! Aku ingin mengobati diriku!" ujar Ahim Yilmaz, ia mengingat pesan ibunya sebelum kembali ke Tiongkok.
"Ahim, gunakan guci kecil itu jika kau terluka! Tapi, itu hanya bisa digunakan jika ia memiliki darah Gu. Jika mereka tidak memilikinya, itu tidak akan berfungsi," pesan ibunya.
Luo Kang langsung menarik tubuh Ahim ke dekat mobil dan Ahim langsung meminum suatu obat dari sebuah guci yang diambilnya dari gulungan peti berkain hitam di punggungnya. Meminumnya dan ia meraung kepanasan dan menjerit-jerit kesakitan.
"Tuan! Tuan Yilmaz!" teriak Luo Kang cemas, "apa yang terjadi? Bagaimana aku menolongmu?" ujar Luo Kang kebingungan.
Luo Kang tak pernah menemui penyakit demikian dan jenis racun itu, ia sama sekali tak pernah mendalami dengan sepenuh jiwa kitab warisan dari keluarganya. Ia menyangka jika semua itu adalah takhayul belaka.
Namun, beberapa menit tubuh Ahim langsung diam dan sedingin es. Luo Kang masih bingung harus bagaimana, hingga perlahan asal putih di tubuh Ahim ke luar dan ia membuka matanya.
"Tuan, bagaimana keadaanmu?" Luo Kang.
Luo Kang berusaha untuk mengangkat dan mendudukkan Ahim Yilmaz dengan menyelipkan tangannya di balik punggung Ahim berusaha untuk membuatnya bangun.
"Aku baik-baik saja! Hanya saja, rasanya … hanya Tuhan yang Tahu," balas Ahim, ia melihat lukanya sudah sembuh total.
"Obat jenis apa itu?" tanya Luo Kang penasaran.
"Aku tidak tahu, itu warisan dari keluarga Gu, secara genetik aku masih keturunan Gu dari pihak ibuku, walaupun tidak seakurat ayahku yang berdarah Turki." Ahim kembali memasukkan Gucci kecil tersebut ke dalam peti.
Keduanya masih melihat jika Liang Bo dan Liu Amei masih bertarung dengan gesit di depan mereka.
"Mari, kita bantu mereka! Aku, yakin racun ini dari sekte hitam Lu Dang!" ucap Luo Kang.
"Apa?! Jadi kisah itu benar adanya?" tanya Ahim tak mempercayainya, ia dibesarkan di Turki.
Sehingga Ahim Yilmaz tak begitu mengerti akan sejarah Tiongkok walaupun ibunya Gu Alin selalu saja bercerita mengenai legenda, banyak hal.