Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Kisah sebatas angan


Dara dan Li Phin benar-benar mengobati Liang Si tanpa memandang, jika dulu Liang Si pernah menghancurkan sekeping hati Li Phin dan membuatnya malu.


"Phin'er …." lirih Liang Si di dalam igauannya. 


Igauan Liang Si membuat sebagian hati Li Phin bergetar, ia ingin berlari menjauh dari benaknya. Dara berusaha untuk bertahan dengan segenap rasa Li Phin yang menggebu dan terbakar amarah dan kerinduan.


"Li Phin, sadarlah! Kamu mau jika Jang Min akan cemburu dan memenggal kepala kita?" teriak Dara.


"Hiks, hiks, aku mengira jika cintaku kepada Liang Si telah pupus! Nyatanya sama besar dengan perasaanmu kepada Jang Min. Maafkan aku," ujar Li Phin, air mata mulai tergenang di pelupuk mata Dara.


Ia berusaha untuk membendung agar tak jatuh, "Sayang! Aku tahu apa yang kamu rasakan, itu semua masa lalu! Jangan biarkan aku cemburu! Tolonglah, dia karena kebaikannya kepada kekaisaran dan memandang Raja Liang Bao yang bijaksana," ucap Jang Min menyentuh bahu istrinya.


"Maafkan aku, Suamiku! Aku tidak bermaksud, jika aku masih menyukainya … aku hanya …, " Dara tidak tahu harus berkata apa. 


Bayangan masa kecil, remaja, dan ketika keduanya berada di sebuah air terjun mulai terkuak, "Bayangan apa ini?" batin Dara, "Li Phin?" ucap Dara mencari Li Phin tapi Li Phin sudah kabur entah ke mana bersembunyi di sumur lukanya.


***


Di dalam kenangan Li Phin di air terjun ….


"Phin'er! Aku mencintaimu!" teriak Liang Si terjun bebas dari atas air terjun menukik ke bawah ke air sungai yang beraliran deras.


"Liang Si!" teriak Li Phin berlari dengan keranjang ramuan di tangannya yang penuh dengan tanaman obat, ia berlari mengejar suara Liang Si langsung terjun bebas ke dalam sungai berusaha untuk menyelamatkan Liang Si.


"Hahaha, kau tertipu!" ujar Liang Si tertawa girang dan memeluk tubuh Li Phin.


"Kamu jahat, sekali, Si'er!" teriak Li Phin sedikit merajuk keduanya bermain air dan berenang saling berkejaran, menangkap ikan dan menyalakan api unggun untuk mengeringkan tubuh mereka dan membakar ikan.


"Ayo, makan!" ajak Liang Xi menyuap ke arah Li Phin yang masih meracik tanaman obat yang Dara tidak mengetahuinya namanya. Dara bagaikan orang asing yang sedang mengintip apa yang dilakukan dua sejoli tersebut.


"Aw!" kamu menggigit tanganku, Li Phin!" teriak Liang Si menggelitik tubuh Li Phin hingga Liang Si mengecup bibir ranum milik Li Phin.


"Ma-maafkan aku, Phin'er! Maukah kamu menikah denganku?" tanya Liang Si menatap ke arah Li Phin.


"Tentu saja, aku mau, Bodoh!" balas Li Phin tersenyum.


"Apakah kamu masih belajar pengobatan? Apakah Kamu ingin menjadi seorang Tabib?" tanya Liang Si menyulang kembali ikan bakar kepada Li Phin.


"Tentu, saja! Kamu tahu, sudah berulang kali aku terkena racun dan aku tidak tahu mengapa aku bisa mengatasinya sendiri? Seperti ada bisikan yang menuntunku untuk mengobati semua luka akibat racun tersebut," ujar Li Phin.


"Apakah kamu tahu siapa yang meracunimu?" tanya Liang Si penasaran.


"Aku … aku tidak tahu, tapi aku mencurigai seseorang. Aku tidak bisa ke Istana Dingin lagi, menemui Ibunda Seliir Min Hwa, Selir Qin melarangnya," ujar Li Phin bersedih.


"Baiklah, nanti malam aku akan menemanimu bertemu dengan Ibunda Selir Min Hwa dengan diam-diam," janji Liang S mengaitkan jari kelingkingnya.


"Tapi … bagaimana jika Selir Qin tahu  Si'er?" tanya Li Phing khawatir.


"Tenang saja! Aku sudah belajar beladiri yang lumayan tangguh aku pasti bisa menyelamatkanmu dari orang jahat Phin'er," balas Liang Si tersenyum dengan wajah tampannya.


Bayangan berputar kala malam, di mana Li Phin dan Liang Si berusaha memasuki istana dingin.


Buk! Buk! Bruk!


Liang Xi dan Li Phin tertangkap, "Kalian berani menyusup ke dalam sini! Dasar, bajingan! Aku akan menghukum kalian!" teriak Selir Qin.


"Jika kau ingin menghukum, hukumlah aku!" teriak Liang Si, "jangan pukul Phin'er aku mencintainya!" teriak Liang Si.


Namun, pengawal Selir Qin terus memukul Li Phin, "Pukul dia, sampai mati!" teriak Selir Qin.


"Kita katakan, jika dua manusia ini sedang berbuat asusila! Sebarkan rumor tersebut!" ujar Selir Qin.


"Jangan, aku mohon! Jangan hancurkan reputasi Li Phin. Aku rela melakukan apa saja!" teriak Liang Si memohon kepada Selir Qin.


"Hahaha, aku muak dengan cinta bodoh! Kau terlalu tolol hanya karena cinta! Um, tapi baiklah. Kau akan melakukan apa saja bukan?" tanya Selir Qin.


Ia berjongkok menatap Liang Si yang sudah tak berdaya di bawah tekanan  5 orang pengawal yang menangkapnya, kaki dan tangannya sudah dirantai dan berdarah.


Selir Qin juga sudah meracuni Liang Si dan Li Phin, "Minumlah ini!" ujar Selir Qin memberikan sebab kapsul kepada Liang Si.


"Aku akan meminumnya tapi aku mohon bebaskan Phin'er-ku, aku mohon!" ujar Liang Si.


"Akh, rencanamu sungguh berhasil Bibi. Akhirnya aku bisa menikah dengan Pangeran kedua Limen Utara, " ujar Qin Jiajia tersenyum menatap Li Phin.


Plak!


Qin Jiajia menampar wajah Li Phin, 


"Pastinya!" balas Selir Qin. 


Selir Qin memberikan dua butir kapsul ke mulut Liang Si membuat Liang Si menggelepar-gelepar kesakitan,


"Aaa! Sakit sekali! Bunuh saja aku Selir Qin!" teriak Liang Si.


"Hahaba, tidak semudah itu! Kau akan menjadi budakku. Kau akan melakukan apa pun yang aku perintahkan, selain itu, setiap purnama kau harus mengambil penawar racun dan menemuiku jika kau ingin hidup dan kekasihmu ini hidup!" teriak Selir Qin.


"Ibunda Selir Qin, aku mohon bebaskan Liang Si. Aku akan menuruti semua maumu!" ujar Li Phin.


Plak! Plak!


Tamparan dari tangan Selir Qin mendarat di wajah Li Phin, "Pukul dia dan bawa dia ke Limen Utara masukkan ke penjara bawah tanah, karena berhasil mengganggu keutuhan pertunangan antara Putri Qin Chai Jiajia dan Pangeran kedua Limen Utara!" teriak Selir Qin.


"Aku harus meminumkan kapsul ini, Bibi. Aku ingin dia lupa mengapa dia dan Liang Si tertangkap dan siapa yang menangkapnya?" ujar Jiajia.


"Apa maksudmu?" teriak Liang Si.


"Mulai detik ini, kakakku Perdana Menteri Qin Chai Xi telah memilihmu menjadi menantunya dan telah mengusulkan perjodohan pada Raja Liang Bao ayahmu! Jika kau melawan aku akan membunuh Li Phin dan kau juga akan mati!" ujar Selir Qin.


Qin Jiajia memaksa Li Phin dan Liang Si meminum kapsul lain, Li Phin langsung pingsan memasukkan Jiajia ke dalam  karung dan membawanya dengan pedati barang dan memasukkan Li Phin ke penjara bawah tanah di mana Dara tersadar.


"Apakah Nona Li Phin akan sadar?" tanya pengawal tersebut.


"Tidak akan! Dia akan koma selamanya kecuali ada mukjizat Dewa! Hahaha," tawa bergema di ruangan gua di Istana Dingin. Selir Qin dan Qin Jiajia meninggalkan Li Phin dan Liang Si bersama dengan para pengawal.


"Oh, jadi ini awal mula Li Phin berada di Limen Utara?" batin Dara. Ia ingin memberitahukan kepada Li Phin tapi Li Phin sudah tidak ada.


***


Bayangan berputar kala Liang Si berada di kamarnya di sebuah ruangan mewah dengan Qin Jiajia membuka seluruh pakaian Liang Si dan dirinya memeluk tubuh Liang Si seakan mereka berbuat asusila.


***


Masa kini ….


"Permaisuriku Phin'er!" ujar Jang Min membangunkan Dara yang pingsan.