Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta-Saling melindungi


Liu Min menantikan jika Dara akan terbangun dan bersiap-siap untuk menangkis setiap pukulan yang akan dilakukan oleh Dara.


Namun, Liu Min tidak mendapati keduanya. Hingga ia bernapas lega,


"Ya ampun! Gadis ini mengigau begitu?" batin Liu Min menepuk jidat.


Perlahan Liu Min menggoyang-goyangkan telapak tangan di wajah Dara, "Dara sudah tidur nyenyak!" batinnya langsung mengangkat tubuh Darah dan membaringkan ke tempat tidur. 


Liu Min menatap wajah Dara sesaat, "Mengapa aku selalu merasa ada sesuatu di antara kami berdua?" batin Liu Min menyentuh dada kirinya di mana degup jantungnya ingin meloncat ke luar.


Secepatnya ia melesat turun dari tempat tidur dan berdiri di balik tirai jendela menatap ke luar kamar, "Malam begitu indah dan sepi. Tapi, terkadang malam sesepi dan setenang ini bahaya selalu mengintai," batin Liu Min was-was.


Ia mendengar suara ribut di koridor ujung, "Suara apa itu?" batin Liu Min.


Ia bergerak selincah harimau membuka celah pintu dan mengintai, ia melihat beberapa orang di dalam pakaian biasa dengan senjata di balik jaket sedang menggedor tiap pintu kamar hotel di sepanjang koridor.


"Bajingan! Jangan-jangan mereka telah melacak kami!" umpat Liu Min segera bergerak menyiapkan senjata di balik kemeja dan membangunkan Dara.


"Ada apa, Suamiku? Aku masih lelah dan mengantuk," balas Dara menatap wajah Liu Min.


"Hah! Hahaha, kamu bermimpi jika kita sudah menikah? Jika begitu, lebih baik kita menikmati malam pertama," goda Liu Min terbahak.


"Kampret! Ngapain kamu?" teriak Dara menyadari kekeliruannya, ia ingin meninju wajah Liu Min yang hanya berjarak 10 centimeter dari wajahnya.


"Sssttt, jangan berteriak! Kita harus kabur, musuh sudah berada di koridor paling ujung. Ayo, bersiaplah!" ajak Liu Min memberikan pistol dan jaket Dara.


"Sial! Aku baru tidur sejenak pun, mereka sudah mengganggu? Awas, mereka! Jika ketemu, aku jadikan sate!" umpat Dara memakai jaket dan menyelipkan dua pistol dengan peredam di balik pinggang di selipan jeans dan memakai sepatu bot dengan cepat.


Liu Min mengambil tali dengan busur yang siap ditembakkan untuk melompat dari ketinggian, tanpa harus mengalami cedera.


Tok! Tok! Tok!


Gedoran beruntun sudah memenuhi pintu dengan kasar juga menuntut, "Buka pintu!" teriakan dari balik pintu,


Liu Min dan Dara saling pandang.


Dor! Dor!


Tembakan beruntun di lubang kunci membuat pegangan pintu hancur dan serpihan kayu berterbangan, Liu Min menarik tubuh Dara untuk menunduk di lantai. 


Liu Min merangkul tubuh Dara, berusaha untuk melindungi gadis di sebelahnya. Naluri kelelakiannya menuntun Liu Min untuk melakukan hal itu. Sebuah tangan terjulur masuk ingin membuka pintu.


Dor! 


Sebuah tembakan yang dilepaskan oleh Dara mendarat di tubuh di balik pintu tanpa suara, "Mereka berada di dalam!" teriak suara lain bergema di koridor hotel. 


Dor! Dor!


Tembakan beruntun di pintu membuat pintu langsung melesek hancur, brak! 


seseorang telah mendobrak pintu


Dor! Dor!


Dara menggunakan kedua pistol di tangan kanan-kiri dengan ketangkasan yang luar biasa.


"Padahal aku mengajaknya kabur, bukan mencari keributan!" batin Liu Min menggeleng-gelengkan kepala.


Liu Min menyambar tubuh Dara menembus kaca jendela hotel dan melesat terus turun dengan  menggunakan tali tambang yang bisa ditembakkan dengan busur.


Keduanya bergelantungan di tali yang terbuat dari kawat tebal 5 milimeter. 


Dara membalas tembakan dan membuat musuh jatuh dari lantai 10, "Wow, tembakan kamu jitu sekali!" puji Liu Min.


"Tidak percuma, aku pemenang lomba tembak!" balas Dara angkuh.


Keduanya mendarat di tanah, Liu Min menekan kenop busur tali hingga tali kembali menggulung di busur dengan cepat.


"Wow, kamu hebat sekali Tuan Liu. Kapan kamu membelinya?" tanya Dara bingung.


"Liu Min gitu, lho!" balas Liu Min angkuh membalas perlakuan Dara saat bergelantungan di tali busur.


"Cih!" cibir Dara. 


Keduanya menyelipkan peralatan ke dalam ransel Liu Min dan pistol di balik pinggang dan melesat mengendarai sepeda motor di parkiran.


Brum!


Keduanya kabur menggunakan sepeda motor meninggalkan hotel, di belakang mereka rombongan penjahat masih mengejar di jalan raya.


"Tembak mereka! Jangan biarkan mereka berhasil masuk ke markas AL di Belawan!" teriak seseorang.


Musuh mulai menembaki Dara dan Liu Min yang mengendarai sepeda motor dengan meliuk-liuk menyalip berbagai kendaraan di depan mereka membuat musuh sedikit kesulitan.


Sehingga beberapa kendaraan langsung saling tabrak dan untuk beberapa saat kekacauan di jalan raya semakin menjadi. Kendaraan yang saling tabrak menghalangi musuh mengejar Dara dan Liu Min yang semakin jauh meninggalkan mereka.


"Apakah kita harus ke pangkalan?" tanya Dara.


"Sebaiknya kita ke arah rumah kamu, aku ingin tahu bagaimana keadaan Ibu?" balas Liu Min.


Dara terenyuh dengan perhatian Liu Min kepada Ibunya, ia sendiri sejak siuman dari koma tidak terpikir untuk mendatangi ibunya.


Dara takut jika musuh menggunakan Ningrum sebagai kelemahannya, "Apakah kamu yakin jika musuh tidak berada di sana?" tanya Dara khawatir akan keselamatan ibunya.


"Aku tidak akan sebodoh itu datang dan mengucapkan salam juga menyapanya," balas Liu Min dingin.


Dara diam, ia memahami jika Liu Min sudah bersikap dingin dia memiliki rencana lain.


Keduanya hanya berhenti sekitar 10 meter dari depan rumah Dara yang terletak di sebuah perumahan dan hanya melihat dari atas sepeda motor, pepohonan kayu jelutung menghalangi keberadaan mereka.


Dara dan Liu Min melihat jika rumah Dara sedang dijaga oleh beberapa polisi, "Mama," lirih Dara melihat ibunya berdiri di balkon dengan menggunakan hijab dan memegang tasbih menatap langit.


"Ibu baik-baik, saja!" ujar Liu Min, ia mengendarai sepeda motor meninggalkan perumahan di Jalan Setia Budi tersebut, Dara masih melihat siluet tubuh Ningrum yang lenyap di balik pepohonan dan rumah.


Liu Min melihat mobil patroli polisi dan alat negara mulai memblokir jalan-jalan protokol, Liu Min memutar sepeda motor melesat mencari jalan sepi yang ditunjukan GPS di sepeda motor.


Ia berjalan ke arah Sunggal memasuki Ring Road dan mencari jalan sepi hingga mereka naik ke Berastagi.


"Kau gila! Ngapain kita kemari?" tanya Dara tak mengerti.


"Yang jelas bukan bulan madu!" ketus Liu Min sinis.


"Dasar kampret!" umpat Dara kesal, dia terdiam sejenak.


Bayangan wajah Ningrum membuat jiwa dan hatinya sesak, "Mama, apakah Mama percaya jika aku tidak bersalah?" batinnya galau, "aku benar-benar menjadi polwan yang baik, Ma.


"Hanya saja, aku berada di tempat dan waktu yang salah," lanjut batin Dara merasakan kesedihan.


Liu Min memutar sepeda motor memasuki sebuah villa mungil, "Tuan Liu kamu tahu tempat ini?" tanya Dara.


"Ibu, yang memberitahukan rumah keluargamu yang suku Karo ini padaku," balas Liu Min tenang.