
Jang Min tersenyum kepada Dara di dalam bentuk tubuh Li Phin, "Selamat malam, Sayang. Aku mencintaimu!" bisik Jang Min memeluk pinggang Dara
"Aku mencintaimu, Sayang!" balas Dara kembali menggenggam tangan Jang Min. Keduanya tertidur saling berpelukan dengan penuh cinta dan kasih sayang.
"Aku berharap semua ini bukan hanya di dalam mimpi dan anganku semata, aku ingin kebahagiaan yang hakiki," batin Dara.
Ia membuka matanya merasakan deru napas Jang Min yang teratur membelai tengkuknya, "Aku berharap kebahagiaan ini bukan hanya aku yang merasakannya tapi Li Phin juga," batin Dara, "Phin'er kamu di mana?" lirih Dara merindukan Li Phin.
Dara benar-benar merindukan Li Phin, tetapi Li Phin tak jua muncul di dalam benaknya, "Apakah Phin'er marah padaku? Aku yang hanya mementingkan cintaku kepada Jang Min dan putraku?" batin Dara bingung.
Akan tetapi, Li Phin tak jua muncul, "Aku rasa ia benar-benar mengikuti Liang Si," lirih Dara mencoba untuk tidur.
***
Li Phin di dalam jiwa bayangan masih mengikuti Liang Si kembali ke Limen Utara.
"Maafkan aku Dara, aku tahu kamu memanggilku pulang. Tapi, aku tak bisa melihatmu berbahagia dan bercumbu mesra dengan Jang Min.
"Sebagian hatiku menolaknya, aku tidak ingin semua itu akan menjadi bumerang untukmu dan untukku, aku tidak ingin Jang Min akan curiga kepada kita. Jika aku bersikap dingin semua itu akan berpengaruh juga kepada tubuhku," batin Li Phin. Ia melayang di sisi Liang Si yang memacu kudanya secepatnya ke Limen Utara.
"Yang Mulia Jenderal, sepertinya kita sudah memasuki Kota Limen Utara. Apakah kita akan beristirahat sejenak?" tanya asistennya.
"Aku rasa tidak usah! Sebaiknya kita secepatnya ke kota, aku ingin bertemu dengan Ayahanda dan Ibunda," balas Liang Si.
Liang Si sangat merindukan kedua orang tuanya semenjak kecil ia telah hidup di Chang An di kekaisaran Donglang. Ia merasakan jika Li Phin selalu saja bersamanya, ia tidak ingin singgah di penginapan mana pun apalagi ke rumah penjaja cinta.
***
Sementara Tan Jia Li dan Gu Shanzheng masih menunggangi kuda ke arah barat kembali ke Gunung Kunlun untuk kembali ke perbatasan Xihe.
"Tuan Gu, apakah sebaiknya kita istirahat sejenak?" tanya Tan jia Li di tengah hutan berbukit ke arah Gunung Kunlun.
"Aku rasa kita istirahat dulu, aku juga merasa lelah," balas Gu Shanzheng.
Keduanya turun dari kuda, Tan Jia Li membuat api unggun dan Gu Shanxheng memburu beberapa ekor burung dan membersihkan sekalian memanggangnya.
"Jia'er, bagaimana lukamu?" tanya Gu Shanzheng.
"Aku rasa sudah membaik, ramuan dari Nenek Mo Yu'er benar-benar luar biasa bagus. Bagaimana dengan lukamu?" tanya Tan Jia Li.
"Aku rasa sudah sembuh juga," balas Gu Shanzheng, "aku rasa esok kita sudah sampai di perbatasan Xihe. Aku sudah ingin kembali ke Donglang," ujar Gu Shanzheng.
"Aku sudah menerima pesan dari Permaisuri Li Phin jika Qin Jiajia telah tewas," ujar Tan Jia Li. Ia menceritakan semua apa yang didengarnya, "aku tidak menyangka jika Qin Jiajia benar-benar menikahi Raja Shan Shi'er," ujar Tan Jia Li.
"Ya, aku juga tidak menyangka jika Qin Jiajia sampai memiliki pikiran sesempit itu," balas Gu Shanzheng.
"Sabarlah, Sayang!" balas Gu Shanzheng.
"Sayang! Sayang! Lama-lama melayang-layang, capek deh!" balas Tan jia Li.
"Hahaha, sayang ya, beneran sayanglah. Aku serius ingin menikah denganmu!" kata Gu Shanzheng dengan penuh pengharapan.
"Apakah kamu tidak takut jika semua piring akan berterbangan?" balas Tan Jia Li.
"Tidak! Aku malah sangat bahagia jika aku menikah denganmu, aku sangat yakin kamu memiliki cinta dan kelembutan yang tak pernah kamu perlihatkan kepada siapa pun.
"Seorang wanita setangguh apa pun, dia pasti memiliki sisi kelembutan yang dimilikinya. Wanita hanya memperlihatkan kasih sayangnya hanya kepada orang yang disayangi seperti anak dan suaminya," balas Gu Shanzheng dengan penuh keyakinan.
Gu Shanzheng memberikan seekor burung yang sudah matang kepada Tan Jia Li yang menerima dan langsung memakannya dengan lahap dan diam.
"Tuan Gu, apakah kamu yakin jika Qin Chai Xi akan melakukan kudeta?" tanya Tan Jia Li, ia masih merasa belum yakin jika pada akhirnya musuh yang begitu mengerikan dan dalang segalanya adalah mantan perdana menteri mereka sendiri.
"Tentu, saja! Aku kira jika Qin Chai Xi, dibantu oleh kerajaan Mongol, Changsha, dan Qin. Akan melakukan hal itu, apalagi aku rasa kekaisaran telah mengetahui sepak terjang mereka.
"Sehingga ketiga kerajaan itu akan dikucilkan oleh semua negara tetangga apalagi kerajaan di bawah kedaulatan Kekaisaran Donglang," balas Gu Shanzheng.
"Um, jika begitu. Aku rasa kita akan menghadapi perang yang mengerikan," ucap Tan Jia Li, "apalagi sejak kematian Jenderal Ming Fu. Aku rasa Jang Min akan semakin mengerikan, ia begitu dekat dengan Jenderal Ming Fu," lanjut Tan Jia Li.
"Dari semua jenderal sepuh! Hanya Ming Fu yang memiliki rasa toleran akan hukum. Dia juga terlalu memiliki selera humor yang tinggi pada semua prajurit muda.
"Berbeda dengan Jendral Li Sun, apalagi jenderal …." Gu Shanzheng sedikit enggan ingin mengatakan Jenderal Tan Yuan Ji yang tak lain adalah ayah dari Tan Jia Li.
"Tan Yuan Ji, kamu ingin mengatakan ayahku bukan? Mengapa kamu enggan Tuan Gu? Aku menyadari, jika Ayahku terlalu mengerikan.
"Bahkan, Jang Min sudah berpuluh-puluh kali menderita, beruntungnya dia langsung ditransfer ke Jenderal Li Sun di perbatasan.
"Jika tidak, aku tidak tahu mengapa ayah begitu mengerikan memberi latihan kepadanya? Sekarang aku memahaminya, jika dia adalah calon kaisar selanjutnya.
"Jang Min lebih banyak menderita dari kami semua. Namun, jika diingat lagi … Hanya Jang Min yang mendapatkan pelajaran tentang tata hukum dan peraturan kekaisaran juga kesejahteraan rakyat.
"Kini, aku tahu alasan dari semua itu. Beruntungnya Jenderal Li Sun menyayanginya dan mengangkatnya menjadi Jenderal muda di kesatuan paman Li Sun," balas Tan Jia Li.
"Ya, siapa yang menyangka jika pria dingin itu adalah seorang putra mahkota? Kemungkinan kita akan menghadapi perang. Aku harap kekaisaran telah mengantisipasi segala hal untuk menghadapi perang kali ini," ujar Gu Shanzheng.
Keduanya terdiam, dari kejauhan mereka mendengar derap kuda yang mulai mendekat, " Bersiaplah, aku akan mematikan api, agar tidak mengundang kecurigaan pihak lawan!" ujar Gu Shanzheng langsung menimbun api dengan tanah.
Keduanya melesat dan bersembunyi ke salah satu dahan pohon yang rindang, mereka melihat pasukan berkuda berbaju hitam dan bercadar mengendarai kuda dan membawa pedati menaiki lereng menuju Gunung Kunlun.