Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Keangkuhan Qin Chai Jian


Jang Min memandang semua orang dengan tajam, "Aku berterima kasih kepada semua raja yang telah berpartisipasi dan memberikan kepercayaan kepada Kekaisaran Donglang untuk terus memimpin dan memajukan kesejahteraan semua rakyat.


"Aku berharap, kita akan terus maju demi keutuhan kedaulatan, Kekaisaran Donglang dan atas nama kesejahteraan dan keamanan semua orang. Maka kita harus menghentikan, segala bentuk kehancuran yang dilakukan oleh Changsha, Mongol, Qin yang dipimpin oleh Qin Chai Xi," tegas Jang Min.


"Hidup Yang Mulia, Kaisar Liu Min! Hidup Yang Mulia, Kaisar Liu Min!" teriak semua orang dengan rasa kebanggaan dan kepercayaan yang luar biasa.


"Yang Mulia, kami telah berdiskusi tentang pembagian tugas. Jika pasukan pemanah akan dilakukan oleh pasukan pemanah dari semua kerajaan di bawah komando Jenderal Sepuh Chin Fuk dan Calon Raja Zedong Chen Luo (Kakak dari Jenderal Chen Li)


"Sedangkan bagian Utara benteng Xihe langsung dipimpin oleh Jenderal Sepuh Li Sun dan Calon Raja Luoyang Tan Zian (Kakak tertua dari Jenderal Tan Ji)


"Bagian benteng Barat dipimpin oleh Jenderal Sepuh Tan Yuan Ji dan Calon Raja Wuling Gu Shanfeng (Kakak tertua Gu Shanzheng). 


"Sedangkan bagian Timur dipimpin oleh Jenderal Sepuh Chin Lei dan Calon Raja Limen Utara yaitu Liang Zhai (Kakak tertua Liang Si).


"Sedangkan bagian tengah Saya sendiri, Jenderal Tan Jia Li, Gu Shanzheng, Tan Ji, Chai Sian, Chen Li.


"Sedangkan kerajaan lain yang masih berada di bawah kedaulatan Donglang berjaga di seluruh perbatasan Xuchang untuk berjaga-jaga dari segala kemungkinannya. 


"Sebagai bala bantuan yang paling tercepat, jika terjadi suatu hal yang tidak diinginkan," ujar Liang Si memberikan hasil diskusi para jenderal muda dan para calon raja selanjutnya beserta para panglima jenderal sepuh Donglang.


"Saya dan Permaisuri akan bergerak di bagian paling depan!" ujar Jang Min. Membuat semua orang terkesima dan mulai ribut.


"Yang Mulia, tidak boleh seperti itu! Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri tidak boleh terlibat langsung dalam perang!" ujar Jenderal Tan Yuan Ji dan para jendral juga para calon raja.


"Maaf, para jenderal sepuh, jenderal muda, dan para calon raja dari semua kerajaan. Kalian jangan lupa, aku dan Permaisuri Li Phin adalah seorang jenderal juga. Jadi kalian tidak perlu khawatir," ujar Jang Min.


"Tapi, Yang Mulia-" ujar Liang Si.


"Tidak Jenderal Liang, ini adalah kewajibanku. Soal gugur atau tidaknya kami, aku mohon … serahkan saja kepada Dewa si pemilik segala-Nya. 


"Aku tidak ingin jika ada yang membantah keputusan kami berdua!" sela Jang Min menatap Dara yang tersenyum di sisinya.


Semua orang yang hadir ribut, Jang Min mengangkat sebelah tangan kanannya keheningan terjadi seketika, "Aku ingin kalian tidak perlu ribut. Sebaiknya kirimkan maklumat kepada pasukan musuh. Apakah mereka telah siap atau ingin berdamai sebelum perang terjadi?" perintah Jang Min.


Ia ingin memberikan kesempatan kepada pihak lawan untuk bernegosiasi, sebagaimana biasanya yang dilakukan para kaisar yang memiliki banyak kekuatan dari pihak lawan.


Zhang Fuk dan Lin Tao juga beberapa prajurit utusan orang mencapai perbatasan antara Xihe dan Mongol. Mereka melesat langsung menuju ke tenda dan pasukan musuh. Di depan mereka para prajurit musuh sudah menghadang dengan menembakkan anak panah pembuat Zhang Fuk dan Lin Tao langsung menarik kekang kuda. 


Hujan anak panah telah berbaris di tanah tepat di kaki kuda mereka, "Berhenti!" teriak Lin Tao. Ia mengibarkan bendera putih sebagai tanda perdamaian dari utusan perang.


"Jenderal Qin Chai Jian! Apakah kamu tidak mengetahui lagi arti dari bendera putih ini?" teriak Zhang Fuk marah.


Ringkikan kuda bergema, "Ada apa kalian ingin kemari?" teriak Jenderal Qin Chai Jian putra dari Qin Chai Xi yang sudah geram karena ia telah kehilangan adik dan ibunya Qin Jiajia dan Chien Ti'er.


"Kami membawa gulungan pesan dari Kaisar Liu Min!" teriak Lin Tao.


"Apakah dia ingin menyerah kepada kami? Jika dia ingin menyerah, maka serahkan istana dan kekaisaran Donglang kepada kami. Jang Min dan Li Phin pun harus mati! Jika tidak jangan harap kami akan menarik pasukan kami!" teriak Qin Chai Zian dengan angkuh, "jika tidak! Pergilah sebelum kami membunuh kalian! Katakan kepada kaisar busuk kalian, 'Kami tidak akan berdamai!' jadi pulanglah!" teriak Qin Jian marah ia memerintahkan pasukannya untuk memanah para utusan perang. 


Qin Jian menyalahi aturan yang telah ditetapkan jika para pasukan yang lebih besar dan memiliki kekuatan, boleh mengadakan utusan untuk berdamai jika memungkinkan untuk tidak terjadinya perang atau pihak yang lemah ingin membatalkan perang.


Namun, Qin Chai Jian langsung memanah pasukan utusan yang dikirimkan oleh Jang Min, "Qin Jian, apa yang kau lakukan? Jika kau ingin melanjutkan pertempuran bukan begini caramu, Sialan!" teriak Lin Tao marah.


"Aku tidak peduli! Ini baru pemanasan, aku berharap kalian akan segera enyah dari muka bumi ini," teriak Qin Jian marah.


Pertempuran terjadi 5 orang prajurit langsung tewas di tempat bukan itu saja para prajurit sekutu Qin Chai Jian menyerang dengan menebas kepala prajurit utusan, hanya Zhang Fuk dan Lin Tao yang berhasil kabur dengan luka anak panah di punggung mereka tiba di perbatasan Xihe.


Semua prajurit Donglang langsung menolong dan menyelamatkan keduanya, "Tabib Wong!" teriak mereka yang lebih dekat dengan Tabib Wong Fei yang segera menolong kedua asisten jenderal hebat mereka. 


"Segera laporkan kepada Yang Mulia Kaisar jika mereka menyalahi aturan dan tidak ingin berdamai!" lirih Zhang Fuk.


Zhao Wei langsung menghadap kepada Kaisar Liu Min dan semua orang yang masih berada di aula untuk berdiskusi dan merencanakan pertahanan juga penyerangan.


"Lapor Yang Mulia, prajurit utusan sudah kembali. Namun, hanya Zhang Fuk dan Lin Tao yang kembali! Sisanya dibunuh oleh prajurit musuh atas perintah Qin Chai Jian!" lapir Zhao Wei membuat Jang Min dan semua orang marah 


"Bedebah! Aku melakukan hal ini karena menghormati Qin Chai Xi yang sudah lama mengabdi pada Kekaisaran Donglang dan persahabatannya dengan Kaisar terdahulu yaitu Ayahanda Liu Fei. Bukan karena takut, dia sudah kehilangan putri dan istrinya.


"Jika tahu demikian aku tidak akan mengutus prajurit untuk membawa perdamaian. Apa gunanya bendera putih itu!" teriak Jang Min, "Besok fajar kita akan menyerang mereka!" ujar Jang Min marah ia langsung bangkit dari kursinya bergegas ke luar aula ingin menemui dua prajuritnya yang terluka.