
Waktu sudah menunjukan pukul lima sore. Ini waktunya warung tutup dan mereka bergegas membereskan semuanya.
Ada yang merapikan bangku dan meja tempat makan, ada yang menyapu dan mengepel, mencuci piring dan perabotan masak, ada yang membersihkan dapur. Semua mereka kerjakan tanpa mengeluh dan bergantian setiap hari.
Bu Siti sendiri membungkus nasi dan sayur untuk mereka bawa pulang.
"Ayo semua, kita pulang!" ajak bu Siti kepada ke-empatnya.
Mereka pulang bersama setelah bu Siti mengunci pintu warung dan kelimanya berpisah di perempatan.
Bu Siti memang tak tinggal di sana karena di warung itu hanya ada dua ruangan, yaitu untuk berjualan di bagian depan dan dapur di belakang.
Bu Siti tinggal di rumah sederhana yang letaknya tepat di samping mesjid. Rumah yang hanya di huni oleh tiga orang saja, yaitu bu Siti dan kedua anaknya yang sudah bujang.
Keduanya sudah bekerja dan salah satunya bekerja di perusahaan milik pamannya atau adik bungsu bu Siti.
Ismi, Dini, dan Leni pulang satu arah karena kontrakan mereka dekat rumah Ismi. Sebenarnya, rumah bu Siti tak jauh dari perempatan tadi. Cukup belok kiri dan masuk gang sudah sampai. Tapi, dia tampak mengikuti Kamila.
"Ibu mau kemana?" Tanya Kamila heran.
"Kan mau nemenin kamu periksa!" jawab ibu santai.
Deg
Kamila tersentak dengan jawaban bu Siti. Dia lupa kalau tadi siang Bu Siti mengatakan bahwa dia akan mengantarkannya ke klinik.
"Ta-tapi Bu, ini kan udah mau maghrib. Sebaiknya ibu pulang saja! Gak usah repot-repot ngurusin aku, Bu! Mila jadi gak enak kalau ibu terus memperhatikanku. Takut yang lain iri, Bu!" Kamila beralasan.
Bu Siti menggelengkan kepala. "Tidak! Mereka tak akan cemburu. Ibu udah hapal betul sifat ketiga pegawai, hanya kamu yang belum ibu pahami!" pernyataan Ibu membuat Kamila semakin tak enak hati.
Banyak sekali masalah yang ditutupinya dari Bu Siti, terkait kehidupannya yang semakin hari semakin tersiksa.
Kamila tampak mengusap air mata yang turun dari ujung maniknya.
"Kenapa kamu nangis, Mil?" tanya Bu Siti.
Kamila menggeleng dengan senyum dipaksakan. "Ah tidak, Bu! ini hanya kemasukan debu." lekas ia berpaling.
Bu Siti menghela nafas pendek. "Syukurlah, hari ini kliniknya buka!" Tunjuk Bu Siti ke klinik yang tak jauh lagi jaraknya. "Yuk Mil, keburu malam!" ajaknya sambil menarik pelan tangan Kamila.
Dengan berat hati, Kamila terus mengikuti langkah Bu Siti sampai ke klinik.
Kamila tak bisa beralasan apapun lagi, karena ibu memaksa untuk masuk dan menemui dokter kandungan.
"Bagaimana Dok? Bayinya sehat, kan?!" Bu Siti terlihat antusias ingin tahu.
Dokter terdiam sejenak dan memperhatikan Kamila dan bu Siti secara bergantian. Raut wajah yang sulit di jelaskan tergambar di sana. "Apa anaknya susah untuk makan atau masih sering muntah, Bu?" tanya dokter kepada bu Siti.
"Enggak, Dok! Biasa saja. Iya kan, Mil?!" Bu Siti menjawab seiring wajahnya yang menghadap Kamila, kemudian kembali menatap dokter. "Memangnya kenapa, Dok?" lanjutnya bertanya.
Bu Siti menatap Kamila untuk mencari tahu kebenaran lewat raut wajahnya. Tergambar jelas banyak rahasia dan kegelisahan yang tampak di sana.
"Kalau tidak masuk makanan, Mbak nya bisa minum susu ibu hamil dan banyak mengkonsumsi buah dan sayur. Selain untuk kesehatan, Mbak juga bisa menahan lapar sebagai pengganti nasi!" jelas Dokter.
Alina hanya terdiam mendengarkan perkataan dokter. Jangankan untuk membeli susu atau buah dan sayur, makan nasi saja itu paling di warung bu Siti saat istirahat. Jika di rumah, dia tak di berikan jatah makan oleh mertuanya.
Jika Riki menanyakan kenapa makanannya habis, ibunya suka bilang kalau Kamila menghabiskannya. Padahal, semua itu bohong.
"Biasanya suka periksa di mana?" pertanyaan Dokter membuyarkan lamunannya.
Kamila tersentak. "Umm, a-anu, itu ... a-aku suka periksa di Bi-Bidan dekat rumah, Dok!" Kamila terlihat gugup saat menjawab pertanyaan tersebut.
"Bidan siapa? Nanti saya hubungi dia supaya memberikan obat yang sesuai. Soalnya, pertumbuhan bayinya kurang dan bobot ibu hamil harus naik setiap bulan!" kata Dokter.
Melihat kegugupan dari Kamila, Bu Siti pun angkat bicara. "Tidak perlu, Dok! Biar kedepannya kami periksa kesini saja. Tolong berikan vitamin dan susu ibu hamil yang bagus menurut Dokter. Ini kehamilan pertamanya, jadi kami tak paham. Lagipula, zaman saya dulu tidak minum susu saja sudah sehat. Iya kan, Dok!" Bu Siti terkekeh menghilangkan kecanggungan Kamila.
Dokter tersenyum sambil mengangguk. "Baiklah, Bu! Saya akan memberikan resep yang sesuai untuk putri Ibu. Tapi, harganya lumayan mahal, Bu!" kata Dokter.
Kamila semakin tak enak hati. Bagaimana tidak? Dia bingung harus bayar pake apa? Jangankan untuk menebus obat dan susu, untuk membayar pemeriksaan saja dia tak punya.
Kamila segera melambaikan tangan sebagai penolakan. "Tidak us ..." namun, belum sempat berucap, bu Siti segera menyela.
"Tidak apa-apa, Dok! Saya akan membayar berapapun harganya. Asalkan kandungan putri saya itu sehat!" potong bu Siti.
"Baiklah, Bu! Silahkan ditebus di ruang farmasi!" Dokter memberikan lembar berisikan resep.
Setelah bersalaman, mereka keluar dan menebus obat-obatan serta susu ibu hamil sesuai resep dokter.
Bu Siti membayarnya tanpa kecuali. Dia tak bertanya atau meminta uang kepada Kamila untuk biaya pemeriksaan ataupun obat-obatan.
"Ayo, kita pulang!" ajak bu Siti tersenyum ramah dan mengajaknya keluar.
Kamila menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap bu Siti. "Bu, aku ..."
"Seharusnya kamu tak menutupi apapun kepada ibu, Kamila. Ibu ingin membuat semua pegawai nyaman dan betah bekerja sama ibu, bukan berarti ibu hanya butuh tenaga kalian saja!" Bu Siti memotong perkataan Kamila lagi karena dia tahu kalau Kamila pasti merasa tak enak hati.
"Kita semua sudah menganggap kamu bagian dari keluarga. Maka dari itu, ceritakan semua tentang hidupmu sama kami. Bagilah semua keluh-kesah mu, supaya kami bisa membantu!" tutur bu Siti lembut.
Tanpa berkata, Kamila langsung memeluk bu Siti. Runtuh sudah pertahanan yang selama ini ia kokoh kan karena kebaikan hati bu Siti. Dia menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan bu Siti.
Tangan bu Siti terus mengelus pundak Kamila dengan lembut untuk memberikan semangat dan dukungan. "Menangis lah, Mil. Ibu tahu jika kamu menanggung beban yang cukup berat."
Kamila semakin mengeratkan pelukannya kepada bu Siti. Orang yang baru ia kenal malah membuatnya nyaman dan sudi menerima dirinya apa adanya.
"Hiks ... hiks ... Aku malu, Bu!
...Bersambung ......