
Jang Min masih menatap ke arah permaisurinya yang menjauh dari kamar Pangeran Kedua Liang Si, sedangkan Liang Si masih berlutut dengan berlinang air mata penderitaan, dengan rambut terurai menutupi wajah menjerit dengan kesedihan.
"Apakah aku benar-benar memisahkan dua hati yang saling mencintai? Aku harus mencari tahu ada apa sebenarnya?" batin Jang Min, ia meninggalkan ruangan Liang Si mencoba untuk secepatnya kembali ke kamarnya dan Li Phin.
Jang Min duduk di sebuah kursi dengan membaca sebuah gulungan laporan Menteri pangan dan pendidikan.
Kriet!
"Yang Mulia? Suamiku sudah kembali!" sapa Dara sedikit kaget ia secepatnya menguasai diri dan menekuk sedikit lututnya.
"Mengapa kamu terlalu formal Istriku? Kamu dari mana?" selidik Jang Min tersenyum menatap istrinya.
"Aku dari memeriksa luka pangeran kedua Limen Utara," Dara menuangkan minuman ke cawan dan memberikannya kepada Jang Min juga membawa cemilan ringan yang sudah disediakan para dayang.
"Oh, aku terlalu sibuk! Aku belum melihatnya, bagaimana keadaannya, Istriku?" selidik Jang Min menatap ke arah Li Phin.
"Aku rasa mulai saat ini, Dayang Ling'er yang akan merawatnya. Hanya tinggal pemulihan saja," balas Dara.
"Oh, memang mengapa jika kamu yang merawatnya, permaisuriku?" cecar Jang Min menatap istrinya yang duduk di sebelah dengan diam dan sedikit marah.
"Aku tidak mau! Jangan paksa aku, aku mohon, Yang Mulia!" balas Dara sedikit formal.
"Apakah kamu masih mencintainya?" tanya Jang Min langsung pada intinya.
"Apa?! Tidak, aku … aku tidak ingin membuat keadaan semakin kacau. Maksudku, aku tidak ingin menjadi skandal atau gosip di lingkungan kekaisaran.
"Lagian, masa lalu kami pernah dekat. Aku tidak ingin orang atau musuh akan menggunakan Pangeran Kedua Liang Si dan kisah kami menjadi suatu boomerang untuk menjatuhkanmu, Yang Mulia!" balas Dara.
"Baiklah, jika kamu tidak ingin merawatnya. Aku sendiri yang akan memantaunya bersama Dayang Ling,'er. Yang penting kamu harus terus memberikan ramuannya," ujar Jang Min.
"Tabib Luo yang bisa mengobati racun di dalam tubuhnya, ia seperti mendapatkan racun yang sengaja dibuat oleh selir Qin untuk … maksudku racun yang dideritanya sangat langka dan rumit.
"Aku tidak bisa mengobatinya, setiap bulan purnama Pangeran Liang Si harus mendapatkan penawarnya, aku tidak bisa untuk mendeteksinya. Sebaiknya Tabib Luo yang memeriksanya secara langsung," alasan Dara sedikit takut dan bingung jika suaminya marah dan curiga padanya.
"Maksud kamu? Setiap bulan … Pangeran Liang Si harus mendapatkan penawarnya, bagaimana?" tanya Jang Min bergerak sedikit menggendong istrinya ke tempat tidur pembaringannya di sana.
"Yang Mulia, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Dara bingung, "hari masih terlalu siang," lanjutnya panik.
"Hahaha, pikiran kamu mau itu melulu!" jawab Jang Min tertawa lucu.
"Oh, maaf. Bukan begitu, biasanya kamu akan bersikap manis jika kamu menginginkan sesuatu," sungut Dara.
"Benarkah? Hm, sebaiknya aku akan mengubah hal itu. Aku hanya tidak ingin kamu terluka tegang begitu, lebih baik kita berbicara sambil berbaring.
"Punggungku juga sedikit lelah!" ujar Jang Min.
"Apakah kamu ingin aku pijat, Suamiku?" tawar Dara.
"Boleh juga!" balas Jang Min tersenyum, "bagaimana maksud dari setiap purnama, pangeran kedua harus mendapatkan penawarnya?" tanya Jang Min.
"Aduh, diceritakan masalah nggak ya?" batin Dara, "Li Phin …," lirih Dara mencari Li Phin yang telah kabur entah ke mana.
"Ada apa istriku?" tanya Jang Min menarik dengan lembut tubuh berisi istrinya dan membaringkan di bawah pelukannya.
"Suamiku, andaikan aku bicara jujur … apakah Yang Mulia akan marah?" tanya Dara sedikit takut.
"Kejujuran lebih baik walaupun sakit. Aku tidak akan menghukummu, jika itu hanyalah sebuah masa lalu selama engkau belum bersamaku.
"Kecuali kamu mengkhianati dan berselingkuh di belakangku!" ancam Jang Min dengan tatapan tajam membuat Dara membeku.
"Terus …."
"Aku dan Liang Si, saling menyukai. Dia tidak pernah mencampakkanku," ujar Dara berusaha untuk jujur dengan gambaran cinta Li Phin dan Liang Si. Ia pun tidak ingin menyakiti hati suaminya Jang Min.
Jang Min menyipitkan mata, "Lanjutkan …."
Dara menceritakan segala petaka Liang Si yang harus mencampakkannya dan Li Phin juga Liang Si sedikit lupa ingatan. Sehingga ia terus mengejar-ejar Liang Si dan di bawah ancaman Selir Qin keduanya harus terpisah, Liang Si harus setiap bulan menemui Selir Qin untuk mengambil penawar racunnya.
"Jadi, kisahnya begitu! Um," Jang Min menatap ke arah Dara, "apakah hingga detik ini, kamu masih mencintainya, Istriku?" tanya Jang Min.
"Tidak!" balas Dara cepat, "Li Phin yang masih," batinnya.
"Baiklah, Permaisuriku. Aku percaya padamu, tapi aku harap kamu tidak menghianati kepercayaanku," ucap Jang Min berusaha untuk menekan sedikit rasa cemburu dan ego.
"Iya, Suamiku. Aku tidak akan mengkhianatimu." Dara berjanji dengan penuh keyakinan Li Phin hanya diam saja.
"Baiklah, istirahatlah dulu. Aku ingin mengunjungi Pangeran kedua dan membawa Tabib Luo," balas Jang Min.
"Suamiku, aku mohon … jangan sakiti Liang Si!" Li Phin yang berbicara, jiwa Jang Min tersentak.
"Tentu saja, aku tidak akan menyakitinya!" balas Jang Min tersenyum, "apakah Istriku masih mencintainya? Apakah dia merasa terpaksa menikah denganku? Kilatan kesedihannya begitu dalam, berbeda dari sinar matanya yang tadi," batin Jang Min curiga.
Jang Min mengecup kening Li Phin dan meninggalkannya, "Terkadang, aku melihat dua kepribadian berbeda di tubuh istriku," batin Jang Min, "Kasim Tang Ta, panggil Tabib Luo! Aku ingin mengajaknya menjenguk Pangeran Limen Utara," perintah Jang Min.
"Baik Yang Mulia!" Kasim Tang undur diri.
***
"Bagaimana keadaan Pangeran Liang Si, Tabib?" tanya Jang Min melihat Liang Si hanya diam bagaikan mayat hidup.
"Seseorang telah meracuninya begitu dahsyat dan mengerikan, ia seakan lupa ingatan dan racun perontok sukma yang mungkin sekitar 6 bulan ini telah menggerogotinya.
'Syukurlah, setiap bulan dia mendapatkan penawarnya, tapi ia juga mendapatkan racun yang berbeda lagi.
"Sekaligus membuat jiwa dan ingatannya sedikit melemah, karena racun menggerogoti saraf daya ingat miliknya. Syukurlah, Permaisuri Li Phin benar-benar hebat di dalam mengobati luka racun," ujar Tabib Luo.
"Jadi benar, apa yang dikatakan oleh Phin'er. Jadi, cinta mereka itu sebenarnya memang bukan bualan! Ya, Dewa!" batin Jang Min, "lalu bagaimana memulihkannya Tabib?" tanya Jang Min.
"Um, seseorang yang membuatnya bersemangat hiduplah yang akan bisa melakukannya. Apakah Pangeran Limen Utara memiliki kekasih atau seseorang yang ia sayangi?" tanya Tabib Luo.
"Oh, saya tidak tahu, Tabib!" bohong Jang Min ia tidak ingin orang-orang akan menganggap rendah istrinya.
"Berilah, ramuan ini terus agar daya ingatnya kembali dan dia semangkin pulih, semuanya berpulang pada dirinya. Apakah ia ingin hidup atau tidak," balas Tabib Luo.
"Oh, um. Bagaimana racun perontok raganya, Tabib? Apakah telah musnah?" tanya Jang Min.
"Sudah bersih, hanya tinggal pemulihan saja, sehingga ia merasa semua bayangan dan kenangan masa lalunya kembali. Itu memang sangat menyakitkan," balas Tabib Luo.
"Terima kasih, Tabib," balas Jang Min mengantarkan tabib ke depan pintu kamar.
"Pangeran Limen Utara, aku tahu apa yang membuatmu begitu menderita tapi … aku pun tidak bisa mengatakan apa pun. Kita adalah dua orang yang mencintai seorang wanita hebat!
"Tapi aku tidak akan menyerahkan istriku kepadamu, karena bagaimanapun, Dewa-Lah yang sudah memilih Li Phin untuk-Ku, jika kamu ingin kembali ke Limen Utara.
"Aku akan mengantarkanmu pulang! Sebagai sesama lelaki aku ingin ... hormatilah pernikahanku dan kamu bisa mencari wanita lain," ucap Jang Min dengan tegas.
Jang Min ingin bergerak ke luar kamar, "Yang Mulia, Kaisar! Aku tidak ingin kembali ke Limen Utara, aku ingin berada di sini selamanya!" ucap Liang Si menatap Jang Min.