
Namun, ia berusaha untuk meredam emosinya. Musyawarah mereka berakhir dengan cepat, Tan Jia Li dan Gu Shanzheng melesat secepat kilat tanpa meninggalkan jejak meninggalkan Gunung Kunlun dan kembali ke kuda mereka.
Tan Jia Li masih merasa kesal dan marah kepada Qin Chai Jian yang ingin mempermalukannya, "Bajingan itu, benar-benar membuatku kesal!" umpat Tan Jia Li, meremas dahan ranting menjadikannya pelampiasan kemarahan.
Serpihan dahan berhamburan jatuh luruh ke tanah, "Betapa malangnya dahan yang tak berdosa itu, Jia'er," balas Gu Shanzheng.
"Aku benar-benar marah, Gu Shanzheng! Andaikan kamu di posisiku apa yang akan kamu lakukan?" hardik Tan Jia Li melompat ke atas kudanya.
"Sudahlah, sekarang kita tahu apa dan bagaimana keinginan mereka, kita akan berusaha untuk menghancurkan mereka. Kita sudah tahu keinginan dan tujuan mereka," balas Gu Shanzheng.
Jauh di relung hatinya ia juga marah atas apa yang diinginkan oleh Qin Chai Jian yang sangat kurang ajar sekali, "Qin Chai Jian, aku tidak akan pernah membiarkanmu berani berbuat kurang ajar kepada kekasih hatiku! Kau akan menuainya nanti," batin Gu Shanzheng kesal.
Ia benar-benar ingin mematahkan batang leher Qin Chai Jian. Namun, Gu Shanzheng tidak ingin memperlihatkan kemarahannya kepada Tan Jia Li. Ia tidak ingin jika Tan Jia Li merasa dirinya begitu mencintai dan merasa cemburu kepada Qin Chai Jian.
"Setahuku, Qin Jian memang sangat memujamu, Jia'er. Aku pernah mendengar selentingan jika dia begitu menginginkanmu!" ujar Gu Shanzheng.
"Masa bodoh! Ayo, kita pergi!" ajak Tan Jia Li.
"Ayo!" balas Gu Shanzheng.
Walaupun Gu Shanzheng marah, ia lebih mementingkan semua informasi untuk diberikan kepada Jang Min dan Li Phin. Keduanya memacu kuda menuju ke Xihe, "Nenek Mo Yu'er benar! Akhirnya kami menemukan persembunyian mereka di Kuil Gunung Kunlun," batin Gu Shanzheng, mengenang kekasih hati kakeknya.
Gu Shanzheng melirik ke arah Tan Jia Li yang masih cemberut menahan amarahnya karena ia merasa Qin Chai Jian benar-benar ingin berbuat kurang ajar dan memandang rendah dirinya.
"Jia'er, aku tahu apa yang kamu rasakan. Jangan terlalu terkecoh atas semua yang dilakukan oleh Qin Chai Jian. Ia tak akan bisa menyentuhmu!" ucap Gu Shanzheng menghibur Tan Jia Li.
Semua orang tahu jika Tan Jia Li lebih unggul dibandingkan Qin Chai Jian, diantara seangkatannya antara Qin Chai Jian, Liang Si, Tan Ji, dan jenderal yang lain lebih tangguh Tan Jia Li walaupun ia seorang wanita.
Kekuatan yang sebanding dengan Tan Jia Li hanyalah Jang Min yang tak lain adalah adik angkatnya yang menjadi kaisar karena memiliki tenaga dalam yang sangat luar biasa hebat dan berbakat dengan sangat alami.
"Aku benar-benar marah! Jika itu bukan sarang musuh dan kita tidak mendapatkan informasi seakurat itu. Aku pasti tidak akan peduli jika aku harus mati," balas Tan Jia Li marah.
"Sabarlah, aku yakin … mereka tidak akan berhasil dengan semua keinginan mereka yang terlalu picik tersebut. Percayalah kepadaku!" ucap Gu Shanzheng, "selain itu, aku pun tidak akan membiarkan sesuatu yang akan menimpa dirimu!" lanjut Gu Shanzheng.
Tan Jia Li hanya melihat ke arah Gu Shanzheng sekilas dan terdiam ia merasa sedikit terhibur, "Qin Jian benar-benar dendam kepadaku karena aku sudah berulang kali menolak cintanya.
"Aku rasa wajar jika aku menolaknya karena ia sama sekali bukan pria idaman dan tipeku," balas Tan Jia Li.
"Ya, aku hanya menginginkan pria yang bertanggung jawab dan menghargai wanita. Memiliki rasa kasih dan sayang yang tulus bukan hanya memanfaatkan kepintaran dan kekuatan wanita semata," balas Tan Jia Li.
"Wow, itu aku banget!" balas Gu Shanzheng dengan percaya dirinya.
"Aku tidak berpikir, kamu akan memiliki itu! Bukankah kamu sering mengunjungi rumah wanita penjaja cinta di sudut Kota Chang An dan Luoyang?" cibir Tan Jia Li kesal.
"Hahaha, apakah kamu selalu memantau jejakmu?" tanya Gu Shanzheng penasaran.
"Bukankah kamu sering menemui Nona Yu Sia si pemilik Rumah Bunga Mekar di Chang An. Kamu sering masuk ke kamarnya begitu?" tuduh Tan Jia Li tanpa alasan.
Ia seringkali berdandan sebagai pria untuk menemui mata-matanya di sana dan sering menemukan Gu Shanzheng diam-diam menyelinap masuk ke kamar Nona Yu Sia.
"Aku bukan memata-matai dirimu, aku hanya sering melihatmu berkeliaran di sana dan masuk ke dalam kamarnya. Seorang pria dan wanita masuk ke dalam kamar apa yang akan dilakukan jika bukan yang berbuat vulgar?" umpat Tan Jia Li.
"Hahaha, kamu hanya melihat sekilas tanpa tahu apa yang terjadi di dalamnya, Nona Cantik! Aku tidak tahu jika aku pernah bertemu denganmu di sana," balas Gu Shanzheng berusaha untuk mengingat setiap pengunjung dari rumah penjaja cinta Bunga Makar.
"Bagaimana kamu bisa tahu jika kamu sibuk berduaan dengan Nona Yu Sia yang cantik dan semok!" balas Tan Jia Li.
"Percayalah Jia'er antara aku dan Nona Yu Sia tidak pernah terjadi apa pun. Suatu saat nanti kamu akan mengetahui kebenaran di dalam semua itu," balas Gu Shanzheng.
"Cuih! Jika penjahat akan mengakui setiap kejahatan yang mereka lakukan, aku sangat yakin jika penjara tidak akan pernah penuh!" balas Tan Jia Li sengit.
"Ya, semua itu berpulang kepadamu. Apa yang akan kamu lakukan dan kamu percayai. Aku tidak memintamu untuk percaya kepadaku seratus % tapi itu semua adalah fakta Nona Tan," balas Gu Shanzheng.
"Apa iya? Apakah aku harus mengatakan, 'Oh, Tuan Gu aku percaya kepadamu?' begitu?" balas Tan Jia Li marah dan mengejek.
"Kamu bisa bertanya kepada Jenderal Tan Yuan Ji. Bahkan jenderal Tan sendiri tahu apa yang aku lakukan di kamar Nona Yu Sia." Gu Shanzheng tersenyum, "jika kamu tahu yang sebenarnya, jika Nona Yu Sia adalah mata-mata dari Ratu Li Hun, apakah kamu masih mempercayaiku?" batin Gu Shanzheng.
"Halah, pria sepertimu hanyalah pemain wanita bahkan penjahat selangakangann," ketus Tan Jia Li tak sedikit pun ia bisa mempercayai Gu Shanzheng.
"Terserah padamu, Cantik! Tapi, jika suatu saat kebenaran akan muncul, kamu harus mengabulkan apa pun keinginanku!" tantang Gu Shanzheng.
"Hah! Kau pikir aku wanita bodoh? Yang akan jungkir balik mempertaruhkan harga diriku demi omong kosong? Tak 'kan pernah Tuan Gu terhormat!" balas Tan Jia Li tak kalah sengit.
"Terserah padamu! Lihatlah, karena kita berdebat akhirnya kita telah sampai di perbatasan Xihe. Aku harap Asisten Wong Fei telah berhasil menyembuhkan semua warga Xihe dan membebaskan Kepala Desa dan semua orang," ucap Gu Shanzheng berusaha untuk menghindari perdebatan.