Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Pengorbanan seorang kekasih yang tak dianggap


Liang Si turun dari kuda dan membopong Li Phin yang pingsan di dekapan Liang Si, "Phin'er … bertahanlah, aku mohon …." Liang Si terus bergumam berjalan menaiki anak tangga sebanyak 1000 buah anak tangga.


Langkahnya yang goyah akibat luka di  di mana anak panah menancap di sana dan terus mengeluarkan darah.


Liang Si terus berbicara dengan Li Phin, "Bertahanlah Permaisuri, bertahanlah demi Jang Min, demi anakmu, dan demi aku …," ujarnya berulang-ulang membawa Li Phin di dalam dekapannya tertatih menaiki satu per satu anak tangga.


Dengan darah yang terus merembes dari luka Liang Si tak ingin menyerah ia terus mengajak Li Phin berbicara, "Liang Si," lirih Li Phin. 


Ia tak mampu untuk berbicara karena ia hanyalah sebagai jiwa yang terlantar dan terluka, "Li Phin, maafkan aku. Aku tahu aku telah banyak menyakitimu, aku mencintaimu sepenuh jiwaku.


"Tapi melihatmu bahagia bersama Kaisar Liu Min aku sangat bahagia. Tak ada yang bisa membuatmu bahagia selain Kaisar Liu.


"Phin'er bertahanlah demi kami yang mencintaimu," ujar Liang Si terus tertatih menaiki tangga.


"Apakah kamu masih ingat? Kala kita sering berlarian di tangga ini, sejak kita berumur 15 tahun? Kau selalu memetik tumbuh di sana dan juga jamur ling zhi? 


"Lihatlah, tumbuhan obat itu begitu subur!" ujar Liang Si melihat ke sisi kanan bukit di sebelah anak tangga dipenuhi oleh tumbuhan merambat sejenis obat untuk antibiotik.


Bruk!


Ia terjatuh di anak tangga ke-50 namun ia berusaha untuk kembali bangkit berusaha untuk melindungi tubuh dan anak dari wanita yang dicintainya dengan penuh kasih sayang.


"Kamu tahu, aku kira kita akan bahagia di pinggir Kota Limen Utara di sekitar hutan bambu, membuat rumah kecil dengan bertani. Dengan anak-anak yang banyak lucu dan gemuk  menghabiskan waktu kita hingga kematian datang.


"Siapa sangka jika semua impian kita hanyalah tinggal sebuah mimpi. Maafkan, aku Phin'er. Aku tak lagi bisa mewujudkan cinta kita," ujar Liang Si terus berusaha menyampaikan semua rasa yang terpendam selama ini.


Liang Si terus berusaha untuk bicara karena ia tak ingin dia jatuh pingsan hingga akhirnya  ia tak lagi mampu menyelamatkan wanita yang dipujanya dengan sikap dinginnya. 


Bayangan Jang Min berada di pelupuk mata, "Maafkan aku, Kaisar! Aku tidak bisa menjaga wanita yang kita cintai. Maafkan aku, yang tidak bisa memupus rasa cintaku kepada Phin'er," ucap Liang Si.


Liang Si terus berjalan dengan mantra cintanya yang tak akan pernah sampai sebuah cinta abadi nan tulus walaupun berakhir dengan penuh luka. Li Phin hanya mampu menangis di dalam benak Dara.


"Liang Si, maafkan aku! Tapi, aku tidak bisa lagi untuk bersamamu, aku tahu  di dalam tubuhku ini bukanlah aku, tapi Dara yang benar-benar jatuh cinta kepada Jang Min.


"Andaikan bisa waktu diputar … aku akan selalu mencintaimu dan memilihmu, membiarkan diriku menjadi seorang jenderal dan menantikan cintamu.


"Tapi, semua telah berubah, maafkanlah, aku Liang Si-ku," ujar Li Phin dengan derai air mata.


Tepat di tangga ke-999 Liang Si terjatuh dengan berlutut pingsan tak lagi mampu berjalan karena darah telah merembes di sekujur tubuhnya.


"Pangeran kedua Limen Utara? Siapa yang dibawanya?" teriak biksu Vihara Gunung Sun berlari menyongsong tubuh Liang Si.


"Permaisuri Li Phin! Tolong, Permaisuri dan Pangeran Liang Si terluka!" teriak seorang Biksu membuat semua biksu yang sedang bekerja langsung berhamburan menolong keduanya membawa ke dalam Vihara.


"Maaf, Yang Mulia Kaisar, Pangeran kedua Limen Utara dan Permaisuri Li Phin terluka," ucap sang biksu muda tersebut.


"Ya, Dewa! Ayo, bawa masuk panggil Tabib dan Biksu Song!" teriak Kaisar Liu Fei melihat menantu dan putra sahabatnya terluka di dalam gendongan para biksu yang membaringkannya di sebuah bale di dalam rumah perawatan.


Biksu Song dan Tabib Ryu langsung memberikan pertolongan kepada Liang Si dan Li Phin.


"Coba telusuri kaki gunung Sun, aku rasa banyak prajurit yang terluka! Tolonglah, mereka!" perintah Biksu Song yang sangat tua dan arib juga bijaksana.


Murid dari Biksu Song langsung melesat ke kaki Gunung Sun menyusuri jalanan yang dilalui oleh Liang Si dan permaisuri berbekalkan darah yang terus merembes memberi tanda.


Mereka menemukan banyak prajurit yang meninggal dan terluka termasuk Kasim Tang Ta, "Kasim, apakah kau bisa aku gendong?" tanya seorang biksu muda.


"Bi-bisa … apakah Permaisuri dan Jenderal Limen Utara telah tiba di Vihara Sun?" tanya Kasim.


"Sudah Kasim. Ayolah," ujar si biksu langsung menggendong tubuh Kasim Tang Ta dan yang lain melesat secepatnya ke Vihara membawa semua orang yang terluka dan meninggal.


Kaisar terdahulu Liu Fei langsung melakukan doa dan penguburan kepada prajurit yang meninggal.


Ratu Li Hun merawat menantunya yang terluka, "Permaisuri Li Phin, bangunlah … terima kasih, sudah menjaga pewaris Donglang dan cucuku. Kamu adalah wanita hebat bukan wanita biasa, aku bangga padamu, Nak!" bisik Ratu Li Hun.


***


Sementara Jang Min menyamar bersama Jenderal Tan Ji dan pasukannya menjadi rakyat jelata menyusup ke Xuchang, malam hari dari  Kekaisaran Dongkang. Perdana Menteri Zhu Chang memberikan rumor jika Kaisar Liu Min sedang sakit.


"Jenderal Tan Ji kita harus secepatnya sampai di sana, untuk menemui Jenderal Chen Li dan Chin. Aku ingin membuat perbatasan lebih banyak pasukan kuat selain di kekaisaran," ujar Jang Min.


"Baik, Yang Mulia!" balas Tan Ji.


Tengah hari mereka telah sampai di perbatasan Xuchang. Benteng Xuchang telah dibangun kembali dan lebih kuat. Pasokan makanan dan obat-obatan telah diturunkan di sana. Sore hari mereka kembali melanjutkan perjalanan ke Gunung Sun bertemu dengan kedua orang tua juga permaisurinya Li Phin.


Mereka hanya singgah sebentar di desa terdekat untuk memberikan obat-obatan, "Kaisar Liu Min! Aku mendengar rumor jika di kaki gunung Sun telah terjadi perampokan yang mengerikan terhadap permaisuri Li Phin dan pasukan pengawal," ujar kepala Desa Lui.


"Apa! Apakah kalian tahu bagaimana keadaan Permaisuriku?" tanya Jang Min khawatir.


"Kami tidak tahu, kami hanya mendengar selentingan rumor dan tidak berani ke sana," balas si kepala desa.


"Jenderal Tan Ji, mari kita pergi ke Vihara Song secepatnya!" perintah Jang Min melesat menggunakan kuda Li Phin si Hitam yang langsung meringkik.


Mereka melanjutkan perjalanan ke Gunung Sun. Akan tetapi, seseorang yang berada di Desa Lui sebagai mata-mata Qin Chai Xi langsung memberikan pesan lewat burung merpati.


Pasukan Mongol langsung menerima pesan tersebut dan bergerak ingin menghadang Kaisar Liu Min dan pasukannya yang sedang menuju ke Vihara Song di lereng Gunung Sun.