Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Berjanji untuk saling menemukan


Dara membelai lembut rambut Jang Min di ceruk lehernya, jiwanya dan batin juga air mata tak lagi bisa terbendung terus menetes menganak sungai.


Berulang kali ia mengecup kening suaminya, berharap waktu terhenti dan ia selalu bisa bersama Jang Min selamanya. 


Namun, takdir dan rasa tanggung jawab sebagai seorang anak dan seorang komandan kepolisian ia harus kembali, tapi sebagai seorang ibu, istri, dan permaisuri pun mengharapkannya untuk terus tetap tinggal.


"Sayang, aku berasal dari Indonesia, maksudku aku pernah berkata kepadamu tentang kerajaan Majapahit, Sriwijaya. Kelak, banyak kerajaan di sana nantinya bersatu menjadi sebuah negara yang bernama Indonesia. 


"Indonesia adalah negara merdeka dengan berbagai ras, suku, dan agama. Negara itu makmur dan orangnya begitu ramah dan bersahaja. Begitu juga dengan negara ini kelak akan menjadi sebuah negara yang bernama Cina.


"Memiliki banyak penduduk, saat di duniaku perang seperti ini tak ada lagi, masing-masing negara hanya memerangi kemiskinan, narkoba, dan keamanan integritas negaranya sendiri.


"Kemajuan teknologi, orang sudah pintar. Banyak sekolah, rumah sakit, dan mobil juga ponsel. Selain itu Cina adalah negara pembuat ponsel yang lumayan besar. 


"Di duniaku banyak pria dan wanita cantik juga tampan. Tapi, sayangnya … aku tidak pernah jatuh cinta pada salah satu dari mereka. Buktinya aku jatuh cinta kepadamu suamiku.


"Umurku sudah sangat tua di sana apalagi di sini, aku terlambat menikah karena sibuk meniti karir selain itu, semua anggota di pasukanku mengatakan, 'Jika aku adalah wanita yang dingin, keras kepala, dan ingin segalanya sempurna,'.


"Aku tidak tahu mengapa aku tidak jatuh cinta pada salah satu pria di duniaku? Malah aku jatuh cinta padamu, Suamiku. Sejak pertama kali aku bertemu denganmu. Kamu tidak kalah tampan dengan mereka. Bahkan, kamu sangat hebat, pintar, dan hatimu sangat baik. Aku mencintaimu, mungkin aku pun tidak bisa hidup tanpamu," ujar Dara.


Ia tidak ingin berbohong lagi, ia ingin mengatakan apa adanya jika cintanya benar-benar telah tertinggal di dunia ini bersama dengan Jang Min seorang kaisar yang sangat luar biasa baik.


Keduanya saling berkecupan dengan penuh gairah membara, Jang Min maupun Dara begitu rakus ingin saling memberi cinta yang masih tersisa dari waktu yang ingin mereka lewati.


Jang Min menarik kepalanya dan menatap Dara, "Maukah kamu berjalan-jalan denganku?" tanya Jang Min.


"Tentu saja suamiku!" balas Dara. 


Jang Min dan Dara saling bergandengan tangan menyusuri gua semakin ke dalam, sehingga mereka tiba taman indah di ujung gua, "Aku baru tahu ada taman bunga di sini?" tanya Dara.


"Apalagi aku! Nona Zhang Mei selalu memiliki kejutan! Ayo, naiklah ke punggungku!" ujar Jang Min.


Dara langsung naik ke punggung Jang Min yang melesat dengan ilmu peringan tubuhnya mengitari bongkahan batu di bawahnya terdapat taman bunga dan mata air yang sangat indah.


"Suamiku, lihatlah itu indah sekali! Padahal  ini masih malam bukan?" tanya Dara pada Jang Min. 


"Oh, Dara aku harap kamu akan bertanggung jawab dengan semua ini," balas Jang Min tersenyum bahagia. Ia pun melesat masuk ke dalam air mengganggu dan menggoda Dara  keduanya saling berangkulan dan saling bercumbu di sana.


Jang Min dan Dara benar-benar memberikan cinta dan kasih sayang dengan tulus, "Suamiku, aku …," kata Dara bingung ia langsung menyentuhkan tangannya ke tubuh Jang Min membelai dada Jang Min.


"Ada apa Sayang?" ujar Jang Min menatap wajah Dara, "apakah kita masih boleh melakukannya?" tanya Jang Min menatap wajah Dara, ia sudah melupakan wajah Li Phin.


"Aku rasa bolehlah, Suamiku!" balas Dara. Ia mengecup bibir Jang Min, dibalas dengan pelukan kasih sayang dan cinta yang sangat luar biasa dari Jang Min. Belaian tangan Jang Min membelai lembut bukit kembar Dara dan meremasnya dengan lembut  perlahan tapi pasti hasrat yang mendera menguak tabir cinta mereka berdua.


Lenguhan suara Dara menambah hasrat gairah Jang Min membakar sebuah keinginan yang sangat mendamba menghentak-hentak di jiwa. Setiap jengkal tubuh dan hisapan yang dilakukan oleh Jang Min membuat Dara menggeliat ingin menuntaskan keinginan dan kerinduan mereka berdua 


Dengan rasa pasrah Dara membiarkan semua rasa yang ingin diberikan oleh Jang Min. Mereka berdua ingin memberikan kenangan terindah dari semua rasa. Jang Min menatap wajah Dara dengan penuh kasih sayang. Apalagi untuk pertama kalinya antara Dara dan Jang Min bercinta menggunakan wajah Dara.


Berulang kali Jang Min memandang wajah Dara, ia ingin melukis wajah Dara di seluruh benaknya, "Dara, kelak bila aku bereinkarnasi lagi, aku ingin mencarimu dengan mengenali wajahmu," ujar Jang Min berjanji akan mencari Dara di kehidupan yang akan datang.


"Maukah engkau mencariku, walaupun entah berapa kali kelahiran kita?" tanya Dara menatap wajah Jang Min, "Dara, aku mencintaimu, Sayang! Hingga waktu tak lagi berputar, aku pasti akan mencarimu walau ntah berapa kali kelahiranku," ucap Jang Min menatap wajah Dara yang masih menatapnya dengan tatapan sayu.


"Suamiku, aku ingin melakukannya mencarimu dan hidup juga mati bersamamu, aku begitu rindu padamu!" balas Dara. Air mata berderai membasahi wajah Dara, ia tak ingin waktu berakhir disaat keindahan dan cinta semakin membara di jiwa mereka.


"Sayang, aku pun mencintaimu dengan segenap rasaku, Istriku. Jangan pernah lupakan aku! Semua cerita tentang kita," balas Jang Min.


"Tak akan pernah! Aku tak akan pernah melupakan semua kenangan indah tentang kita, selamanya! Sentuhlah aku, bawalah aku merasakan segala keindahan dan kenikmatan dunia.


"Berilah kenangan untukku selamanya, agar aku bisa mengenangmu di duniaku untuk selamanya dan tak akan pernah tergantikan oleh kenangan apa pun selain dirimu, Cintaku!" balas Dara 


Sentuhan tangan Jang Min telah membuka satu per satu lembar pakaian yang menutup tubuh  Dara, membelai lembah yang berada di dalam air kolam membuat desah rasa nikmat berhamburan dari bibir Dara.


Jang Min benar-benar menyentuh Dara dengan kelembutan yang tak pernah diberikannya kepada siapa pun, ia tak ingin melukai pujaan hatinya. Derai air mata masih saja mewarnai penyatuan tubuh mereka. Hingga berulang kali lenguhan dan hasrat keduanya terlampiaskan.


Keduanya masih berpelukan di pinggir kolam tanpa mengenakan busana, tangan Jang Min masih membelai lembut punggung Dara di dalam tubuh Li Phin, hanya wajahnya sajalah yang masih terlihat sebagai Dara.


"Apakah kita akan benar-benar berperang dengan sekutu Qin Chai Xi?" tanya Dara ingin mengetahui kebenarannya.