Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Pengorbanan seorang pria sejati


Jang Min melihat sisa pertempuran yang mengerikan dengan banyaknya bercak darah di sana. Ia hanya menghela napas panjang dan menunggang si Hitam dengan cepat menuju Vihara Song.


Ia berlari menaiki 1000 anak tangga menuju Vihara, "Pocia! Terima kasih, bagaimana dengan istri dan anakku?" ujar Jang Min membelai surai  yang meringkik.


"Baiklah aku akan naik," ujar Jang Min melesat secepatnya ke Vihara Song.


"Ayahanda, bagaimana dengan keadaan istri dan anakku? Apa yang telah terjadi?" tanya Jang Min kepada Kaisar Liu Fei.


"Sabarlah, Nak! Keduanya selamat Permaisuri Li Phin hanya kelelahan, dia terlalu banyak mengeluarkan tenaga dalamnya. Untunglah, Pangeran Limen Utara membawanya tepat waktu.


"Jika tidak, kita tidak tahu apa yang terjadi dengan Permaisuri Li Phin dan penerus Donglang," ucap Kaisar Liu Fei.


"Bagaimana keadaan Pangeran Limen Utara?" tanya Jang Min sedikit lega mendengar jika anak istrinya selamat.


"Pangeran Limen Utara terluka parah, ia hampir kehilangan nyawa dan kehabisan darah. Ia menggendong Permaisuri Li Phin menaiki tangga dengan tubuh terluka hingga ia pingsan.


"Sampai detik ini dia belum siuman, kita harus berdoa untuk keselamatannya. Aku sudah mengabari Raja Liang Bao," balas Liu Fei.


"Ya, Dewa!" lirih Jang Min, "Terima kasih telah menyelamatkan istriku, aku minta selamatkanlah Pangeran Liang Si dan semua prajuritku yang terluka," batin Jang Min berdoa.


"Ayahanda aku ingin melihat mereka setelah melakukan sembahyang," ujarnya berjalan secepatnya ke arah pemujaan dan langsung menemui istri dan Liang Si.


"Baiklah, putraku!" balas Kaisar Liu fei.


Jang Min langsung berjalan menuju altar sembahyang kemudian melihat istrinya yang bercekerama bersama Ratu Li Hun.


"Salam Ibunda Ratu," Jang Min membungkukkan tubuh langsung memeluk ibunya.


"Syukurlah, Yang Mulia Kaisar sudah sampai, berbicaralah dulu dengan Permaisurimu. Dia sangat lemah," pesan Li Hun.


"Baik Ibunda Ratu!" balas Jang Min.


"Yang Mulia," Li Phin ingin melakukan penghormatan kepada Jang Min tetapi Jang Min menahan tubuhnya. 


"Sudahlah tidak usah terlalu formal, Istriku. Maaf, aku tidak tahu bagaimana keadaanmu." Li Phin berbicara sedangkan Dara masih tertidur di dalam benak.


"Sayang, bagian manakah yang terlalu sakit?" tanya Jang Min menyentuh tubuh istrinya. 


Li Phin sedikit berjengit, "Aduh, Dara bangunlah! Bagaimana ini aku tidak bisa," keluh Li Phin cemas.


"Ada apa?" tanya Jang Min.


"Aku hanya sedikit lelah, aku tidak menyangka jika mereka berani menghadang dan menyerang kami," ujar Li Phin.


"Ya, aku pun saat menuju kemari mereka menyerang. Syukurlah Jenderal Tan Ji benar-benar luar biasa, begitu juga dengan Pangeran Limen Utara. Aku akan menemuinya setelah melihatmu istriku," ujar Jang Min mengecup kening istrinya dan membelai lembut perut Li Phin.


"Dara  …." Li Phin berdoa agar Dara segera bangun, "aku bisa gila ini!" batin Li Phin ia merasa sangat risih kala tangan Jang Min menariknya di dalam dekapan.


"Sayang, maafkan aku! Andaikan aku tahu begini lebih baik aku yang pergi denganmu, seperti usul Pangeran Liang Si," ucap Jang Min.


"Sudahlah Yang Mulia, kami masih selamat berkat dari doamu dan berkat Dewa. Akan tetapi, aku tidak tahu mengapa aku tiba di sini. Para Biksu dan Ibunda Ratu mengatakan, 'Jika Pangeran Liang Si-lah yang menolongku,' kita harus berterima kasih kepadanya," balas Li Phin.


"Suamiku …." lirih Dara terbangun.


"Syukurlah, kamu bagun, jangan bertanya aneh-aneh, Jang Min sudah menceritakan banyak hal padaku," balas Li Phin langsung menceritakan dengan cepat pembicaraannya bersama Jang Min.


"Oh, baiklah! Terima kasih Li Phin," ujar Dara tersenyum, Li Phin membalas senyuman Dara dan lenyap.


"Sayang, aku kita aku dan anak kita tidak bisa bertemu denganmu lagi," keluh Dara penuh kasih sayang dan cinta. Ia merasa sejak hamil ia selalu ingin berdekatan dengan  Jang Min.


"Aku juga, tapi syukurlah kita semua selamat. Aku tidak menyangka jika Shan Pu'er adik daei Raja Mongol benar-benar menghadang kami. Aku bersyukur kami bisa membunuh dan menggagalkan rencana mereka.


"Aku akan menyelidiki siapa yang telah berani menghadang kalian? Aku akan menghukumnya sebesar-besarnya," tegas Jang Min.


"Sayang, aku rindu!" rengek Dara masuk ke dalam dekapan Jang Min, ia begitu damai di dalam dekapan dan aroma tubuh suaminya.


"Aku juga Sayang. Mulai sekarang aku sendiri yang akan mengawal ke mana pun kamu pergi. Jika aku pergi pun aku berharap kami ikut," ujar Jang Min.


"Iya, Suamiku!" balas Dara.


"Ayo, makanlah dulu dan minum ramuanmu agar kamu cepat sehat begitu juga dengan anak kita," balas Jang Min menyiapkan makanan.


"Sayang, Pangeran Liang Si benar-benar menolongku," lirih Dara.


"Iya, Sayang. Aku akan menemuinya setelah ini, sekarang istirahatlah!" ujar Jang Min mengecup kening Dara dan menyelimutinya. Jang Min melirik pedang naga hijau milik istrinya berada di sisi tubuh Li Phin.


"Kamu masih terlalu lemah Sayang. Jangan terlalu menggunakan pedang dan tenaga dalammu. Aku tidak ingin terjadi seperti ini lagi padamu dan anak kita," balas Jang Min.


"Iya Suamiku," balasnya tersenyum, "cepatlah kembali!" pesan Dara dengan manja.


"Iya, aku berjanji!" ujar Dara.


Jang Min meninggalkan Dara dan menjenguk Liang Si yang masih terbaring lemah, " Bagaimana Keadaan pangeran Limen Utara Tabib?" tanya Jang Min mendekat dan duduk di sisi Liang Si.


"Ia hampir kehabisan darah, tapi sudah mulai sembuh," ujar Tabib Ryu.


"Terima kasih Tabib," balas Jang Min. 


Tabib Ryu meninggalkan Jang Min dan Liang Si.


"Terima kasih  Pangeran Liang Si. Anda benar-benar, memperlihatkan kemuliaan Anda sebagai seorang pria, pangeran, teman, dan seorang mantan kekasih. Aku bangga kepadamu, Pangeran Liang Si," lirih Jang Min duduk di sisi tempat tidur Liang Si.


"Phin'er … Yang Mulia?! Maaf, saya telah lancang menyebut permaisuri dengan nama kecilnya," ujar Liang Si menatap Jang Min.


"Sudahlah, tidak masalah! Sebagai teman aku tahu hatimu sangat mulia dan aku juga mempercayai istriku. Terima kasih telah menolong Permaisuri dan penerus Donglang Pangeran," balas Jang Min menyuapkan ramuan ke mulut Pangeran Liang Si.


"Yang Mulia, sepertinya penyerang memiliki mata-mata di kekaisaran, mengapa mereka bisa tahu kapan kita bergerak? Padahal, semuanya sudah direncanakan. Bagaimana dengan Kasim Tang Ta dan yang lain?" tanya Liang Si.


"Mereka pun masih dirawat dan yang meninggal sudah dimakamkan. Ya, kamu benar, aku pun di serang di jalan saat menuju kemari di Desa Lui dan perbatasan hutan Gunung Sun. 


"Pangeran kedua Mongol, Shan Pu'er menyerang kami. Aku tidak tahu, siapa yang telah berani melakukan hal ini. Kakak Jia'er dan Jenderal Gu Shanzheng belum kembali dari Mongol," ujar Jang Min menatap Lang Si.