
"Tapi, Yang Mulia! Yang Mulialah yang berhak untuk melindungi Permaisuri," ujar Liang Sk.
"Aku mencintainya tapi aku juga tidak tega meninggalkan rakyatku. Aku mohon selamatkanlah dia!" teriak Jang Min.
Ia terus memutar pedang untuk menangkis lawan yang sedang mengeroyok mereka berdua. Jang Min melihat Li Phin berusaha untuk menarik pedang naga hijau di belakang punggung Kasim Tang Ta.
Jang Min melesat membunuh musuh yang berusaha untuk membunuh Li Phin, "Cepatlah pergi Istriku! Jaga dirimu dan anak kita! Pangeran Liang Si, titip anak dan istriku!" teriak Jang Min.
"Tidak! Aku tidak akan pergi meninggalkanmu Suamiku!" teriak Dara.
"Aku mohon, pergilah!" ucap Jang Min.
"Ta-tapi …." Dara masih enggan untuk pergi.
"Aku mohon!" ujar Jang Min menebaskan pedang di tubuh musuhnya.
"Pangeran Liang Si, aku dengan Kasim Tang Ta. Aku mohon lindungi suamiku!" teriak Dara melesat naik ke punggung kuda nya berusaha untuk mengendarai sendiri si Hitam, "Kasim Tang Ta ambil kudamu!" perintahnya.
Kasin Tang ta mengambil kuda musuh di tengah pertempuran, "Ayo, Permaisuri!" ajak Kasim Tang Ta.
"Baiklah, mari kita keksisaran! Aku akan menghancurkan mereka! Aku tidak peduli lagi," ujar Dara.
"Pangeran Liang Si, aku mohon lindungi istriku!" ujar Jang Min masih bertempur.
"Baiklah, Yang Mulia!" balas Liang Si. Ia langsung melesat menaiki kudanya berusaha untuk memberi jalan kepada Li Phin dan Kasim Tang Ta, "Suamiku! Bertahanlah," batin Dara melihat ke belakang di mana Jang Min masih melawan musuh.
Derap langkah kuda semakin menjauh, tapi Dara merasa ia semakin kecil, "Aku tidak bisa meninggalkan Jang Min. Aku tidak bisa tidak bersamanya, jika aku mati … aku ingin mati bersamanya.
"Li Phin, terima kasih telah memberikan tubuhmu untukku hingga aku mengandung dan mengenal cinta di negeri indah ini. Tapi, maaf aku tidak bisa meninggalkan suamiku!" ucap Dara.
"Terserahlah, Dara. Tubuh ini milikmu, aku tak bisa berbuat apa pun," balas Li Phin ia merasa tersisih jika kobaran emosi Dara mulai menguasai tubuh mereka berdua.
Dara melihat ke kanan dan kirinya di mana Kasim Tang Ta berulang kali menyeka air mata dengan punggung tangan dan Liang Si dengan wajah dingin dan mengeras dengan pedang di tangan kanan berusaha untuk menembus malam melindungi dan anak yang dikandungnya.
"Keduanya adalah orang yang baik, Liang Si adalah orang yang baik, dan Kasim Tang Ta adalah orang yang lembut. Tapi, aku tidak akan bisa membesarkan putraku seorang diri, aku tidak bisa meninggalkan suami dan kaisar yang dicintai penduduknya," batin Dara.
Derap kuda sedikit lambat ia membelai surai si Hitam dan berbisa, "Bawa aku kembali kepada suamiku! Kita harus menolong Pocia dan Jang Min, berbaliklah!"
Ringkikan Pocia bergema dan secepatnya melesat memutar arah ke belakang dengan secepatnya.
"Permaisuri!" terika Liang Si dan Kasim Tang Ta tidak menyangka hal itu akan terjadi. Keduanya kembali memutar kekang kuda dan mengikuti Dara secepatnya. Dara sudah menarik busur dari pelana kuda menyelipkannya di pinggang meraih busur dan melesat bersiaga tanpa harus memegang kekang kuda.
"Ayo, Hitam! Hancurkan mereka! Lebih baik mati sekarang daripada terhina!" teriaknya bersemangat.
"Phin'er bantu aku. Aku bahagia bersamamu di satu tubuh cantik ini. Tapi, maaf aku tidak bisa meninggalkan suamiku!" teriak Dara melesat secepatnya menembus malam dengan busur dan anak panah di tangan siap meluncur.
Hitam langsung berlari secepatnya dengan kekuatan miliknya menyelamatkan kekasih hatinya Pocia, ringkikannya bergema seakan ia pun telah siap untuk mati.
Para penduduk berusaha menyelamatkan kaisar yang mereka cintai. Mereka telah banyak terluka bahkan meninggal bertumpuk di sana.
Tangisan anak-anak bergema berlarian dengan para ibu mereka, membuat Dara semangkin marah. Ia langsung melesatkan menembakkan anak panah sekaligus terus menerus membunuh bayangan hitam tersebut langsung terkapar mati.
"Jangan coba-coba mengganggu kehidupanku, dan rakyatku!" teriak Dara langsung melesat dengan pendar warna hijau dari, pedangnya menghujam tepat ke para prajurit musuh membuat semua orang terperangah.
Ia berdiri di angkasa dengan kekuatan menangkis dan memenggal musuh. Liang Si dan Kasim Tang Ta menebas musuh di belakangnya. Jang Min terperangah dan hanya mampu menggelengkan kepala.
"Istri dan Permaisuriku yang luar biasa tangguh! Aku mencintaimu, hingga beberapa reinkarnasi," batinnya tersenyum walau tubuhnya penuh dengan luka dan darah.
Dara melebar mendekat ke arah suaminya saling memunggungi dengan perut bundar kehamilannya sudah mulai memasuki bulan ketujuh.
"Istriku kamu nakal sekali! Aku sudah bilang, kembalilah kekaisaran, kamu harus dihukum, karena tidak mematuhi perintah suami dan kaisarmu!" tukas Jang Min gemas.
"Suamiku, nanti sajalah engkau menghukumku. Sebaiknya hukumlah aku dengan hukuman yang paling indah. Aku tidak mau dicambuk atau dikurung, apalagi dipenggal," balas Dara tegas.
"Hahaha, aku tidak akan pernah melakukan hal itu kepadamu, Istriku," balas Jang Min tersenyum.
"Pangeran Liang Si dan Kasim Tang Ta! Mengapa kalian kembali?" teriak Jang Min marah.
"Yang Mulia, jangan marah kepada mereka! Akulah yang ingin kembali! Aku tidak bisa hidup tanpamu!" teriak Dara kesal.
"Tapi, bagaimana dengan anak kita? Jika kita tewas di sini?" tanya Jang Min.
"Dewa yang memiliki takdir, jika kita harus mati pun aku sangat bahagia mati bersamamu sebagai janji suami-istri kita. Aku rasa anak kita adalah anak yang kuat," balas Dara.
Trang! Dara menangkis pedang yang ingin membunuh suaminya, "Jika Yang Mulia hanya ingin mengomel, tolong lihat juga pedang musuhmu!" teriak Dara kesal.
"Baiklah!" jawab Jang Min menghunuskan pedang ke perut musuh yang menyerang istrinya.
"Aku tidak suka, kau selalu saja sesuka hatimu Permaisuriku!" ujar Jang Min meliuk-liuk menangkis dan mengelak dari pedang juga tombak dan berhasil memenggal kepala musuh.
"Sayangnya, kamu memiliki istri yang berpikiran modern. Awas, bagian kiri, Suamiku!" teriak Dara kembali menghunuskan pedang hijaunya.
Pertempuran semakin sengit, "Sial, mengapa permaisuri ini kembali! Apakah para prajurit Changsha dan Qin berhasil menembus pertahanan Donglang?" batinnya berusaha untuk mengulur waktu.
***
Sementara kerusuhan terjadi di kekaisaran Donglang di mana Jenderal Changsha Chien Ji dan Jenderak Qin Chai Jian telah berkhianat mulai memasuki kekaisaran membuat kerusakan.
Semua pasukan berbaju hitam telah masuk ke istana dalam dengan bantuan perdana mentri Zhu Chang yang berkhianat. Namun, "Kalian tidak bisa mengambil alih kekaisaran!" teriak Li Sun, Jenderal Ming, dan Jenderal Chin Li sudah mengepung mereka.
"Sial! Kalian menyerahlah! Aku akan mengangkat kalian menjadi salah satu abdi negara yang setia!" teriak Perdana menteri Zhu Chang.
"Jadi jaulah si pengkhianat itu, Zhu Chang?" teriak Li Sun murka.