
"Aku tidak tahu Tuan Ahim, tapi menurut sejarah itu memang terjadi pada tahun Saka 221 sebelum Masehi. Um, aku rasa segalanya menjadi nyata jika kita semua merasakan hal itu!" jawab Luo Kang.
Luo Kang sendiri tidak tahu jika semua itu menjadi kenyataan, ia yakin sejak menemukan Dara Sasmita dan Liu Min, jika tidak pun ia tak akan pernah mempercayai semua itu.
"Sial! Jika benar itu yang terjadi, lalu bagaimana kita bisa membunuh Lu Dang? Dan siapa dia? Di mana kita bisa menemukannya?" ucap Ahim Yilmaz semakin stres memikirkan hidupnya terseret di dalam sebuah legenda.
Ia sendiri tak mengerti apa yang harus dilakukannya, ia memandang Luo Kang di sisinya yang masih memeriksanya.
"Tuan Luo, apakah tongkatmu itu berasal dari masa silam?" tanyanya penasaran
Ahim Yilmaz melihat jika tongkat rapuh dimakan rayap tersebut bisa menangkis tajamnya pedang samurai yang sangat luar biasa tanpa lecet sedikit pun.
"Ya, ini warisan dari leluhur yang berwarna Luo!" balas Luo Kang, ia sendiri tak yakin selama ini ia hanya menggunakan tongkat itu untuk mengganjal jendela atau mengambil apel dan buah persik. Siapa yang tahu jika itu adalah tongkat yang luar biasa.
"Lu Dang …," lirih Ahim Yilmaz masih bingung.
"Aku tidak tahu di mana Lu Dang mungkin Liu Min dan Nona Dara yang tahu, makanya mereka meminta Tuan untuk membawa warisan itu," ujar Luo Kang.
Luo Kang hanya mengambil kesimpulan berdasarkan fakta dan sejarah yang pernah dibaca dan didengar yang diceritakan secara turun-temurun.
"Jika Tuan bertanya padaku, aku sama saja seperti Tuan. Aku pun tak tahu jawabannya," balas Luo Kang lugas.
"Kamu benar! Ayo, kita hajar mereka, agar kita mengetahui rahasia di balik semua ini. Aku sudah lelah jika harus menjadi bulan-bulanan mereka terus, aku lelah!" balas Ahim Yilmaz, ia berusaha untuk berdiri dan menggerakkan tubuh.
"Ayo, Tuan!" balas Luo Kang.
Keduanya melesat secepatnya ikut ambil bagian di dalam pertarungan, para ninja sudah banyak berkurang. Sehingga membuat mereka begitu mudah untuk menghancurkan musuh.
Pedang mereka beradu dengan samurai dan tendangan juga tangkisan saling tusuk juga berusaha untuk menghancurkan musuh. Hingga semua ninja tewas dikalahkan oleh mereka berempat.
Keempatnya berdiri di antara tumpukan mayat ninja dan genangan darah memenuhi jalanan. Keempatnya masih menatap mayat-mayat yang berserakan dan saling pandang dengan napas yang masih tersengal sementara darah musuh telah membasahi tubuh mereka.
"Akhirnya, mereka tewas juga! Tapi, rasanya … sangat melelahkan!" ujar Liu Amei, ia merasa segalanya begitu berat ia menatap ujung pedangnya yang masih meneteskan darah musuh dan bumerangnya.
Ia mengingat bayangan samar di benaknya seakan ia pun pernah menggunakan kedua benda itu di dalam suatu pertempuran.
"Tuan Luo, apakah yang kamu katakan dulu, saat di rumah Liang Bo benar adanya?" tanya Liu Amei ia mengingat ucapan Luo Kang.
"Ya, bahwa Nyonya adalah Tan Jia Li dan Ahim Yilmaz adalah Gu Shanzheng, Nyonya Liang adalah Li Phin, Tuan Liang adalah Liang Si, dan Liu Amin adalah Kaisar Liu Min serta Permaisuri Dara Sasmita.
"Aku rasa, jika menilik hal itu semua ini menjadi nyata. Namun, saya hanya tahu itu Tuan dan Nyonya. Selebihnya saya tidak tahu, masalahnya saya dulu tidak mempercayai hal ini. Sejak menemukan Liu Min dan Dara, saya mulai mempercayainya," balas Luo Kang.
"Baiklah, jika begitu! Apakah kita terus berdiri di atas darah dan mayat ini? Bagaimana jika polisi menemukan kita? Aku rasa sebaiknya kita ke Kota Jinping dengan cepat.
"Iya, Ako (Abang) benar, mari kita pergi!" ajak Liang Bo.
Mereka langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan semua kekacauan yang mereka lakukan tanpa sengaja hanya untuk membela diri. Hari sudah mulai malam tetapi mereka tak peduli, yang mereka inginkan agar segera tiba di Kota Jinjing.
"Setelah kita di Kota Jinjing, kemanakah kita akan mencari Amin dan Dara? Apalagi, Aching dan si kembar masih berada di tangan mereka," ujar Ahim Yilmaz, ia masih bingung harus mencari ke mana.
"Ini benar-benar seperti mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Hm, membutuhkan banyak pengorbanan yang sangat luar biasa?" ucap Liang Bo.
"Kita akan menelepon Amin, aku harap jika ponselnya tidak hilang. Apakah dia baik-baik saja? Aku berharap dia dan Dara akan baik-baik saja! Jika tidak itu akan semakin kacau.
"Ke mana kita akan mencarinya? Sedangkan kita sama sekali tak memahami semua ini," ujar Liu Amei bingung.
"Nyonya, aku rasa jika kita tiba di Jinjing, aku mengingat kala kami menaiki KA melewati gurun Jinjing, Liu Min dan Dara langsung pingsan dan ada pendar cahaya hijau di tubuh Dara. Liu Min pun pingsan di sana.
"Jadi aku rasa jika kita tidak bisa menelepon keduanya aku rasa kita ke gurun Jinjing saja. Masalahnya di sanalah akhir pertempuran yang masih menyisakan arwah penasaran dari semua orang," balas Luo Kang.
"Usul kamu boleh juga, kita akan segera ke sana. Aku harap kita tidak terlalu terlambat untuk tiba," balas Liu Amei.
Luo Kang mengambil sebuah gulungan kertas dari balik tas Selempang. Ia membaca gulungan itu sekilas dan mengerutka dahinya.
"Ada apa, Tuan Luo?" tanya Liang Bo, ia merasa Luo Kang sedikit menemui kesulitan.
"Di sini tertulis jika perang itu adalah pada tahun naga yaitu 221 Saka dan esok adalah tahun itu di kalender Saka. Apakah ini suatu kebetulan belaka? Aku pun tidak tahu," kata Luo Kang, ia masih berusaha untuk mencari kebersamaannya.
"Benarkah? Apakah semua ini sudah direncanakan oleh Lu Dang? Tapi, siapa dia? Bukankah kita mencari penjahat bernama Wanchai atau Guangzhou …," jawab Liu Amei, "lalu hubungannya dengan Lu Dang apa?" tanya Liu Amei tak mengerti.
Keheningan terjadi, "Apakah mungkin …?" ujar Ahim Yilmaz, "Guangzhou adalah-"
"Lu Dang!" jawab ketiganya serempak.
"Ya, itu dipastikan! Jika tidak kepolisian dan pemerintah tidak bisa menemukan mereka karena mereka lebih licik dari seekor rubah!
"Sekarang kita telah tahu, apa yang sebenarnya, terjadi. Sekarang, adalah bagaimana kita bisa mengalahkan Guangzhou atau Lu Dang tersebut!" ucap Liu Amei.
"Nyonya Yilmaz aku rasa masa lalumu adalah Tan Jia Li, rumah yang kita datangi tadi adalah istana putih milik kediaman keluargamu yaitu Tan Yuan Ji. Mungkin karena itulah engkau menemukan pusakamu itu!" papar Luo Kang.
"Benarkah? Lalu, bagaimana denganku? Apakah pedang ini juga milikku?" tanya Ahim Yilmaz, ia memperhatikan pedangnya.
"Aku rasa iya, tapi Tuan Liang Bo aku tidak tahu!" ujar Luo Kang.