Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Bab 28~Pernikahan


Seminggu setelah acara lamaran dilaksanakan, Kamila resmi pulang kembali ke rumah orang tuanya di kediaman Ferdinan.


Orang tua Kamila ingin putri dan cucu mereka tinggal bersama lagi. Mereka sudah melupakan masa lalu, perihal pernikahannya dengan Riki yang membuahkan penyesalan besar dalam hidup Kamila.


Namun ia tetap bersyukur, atas kehadiran Rayyanza dalam kehidupannya. Walaupun anak itu tidak dicintai ayah kandungnya, tapi Ray mendapatkan kasih sayang dan cinta tulus dari calon ayah sambungnya, Edwin Bagaskara.


Pria mapan dan juga penyayang. Dia sosok suami sekaligus ayah yang baik bagi Kamila dan Ray untuk ke depannya. Memiliki sesuatu yang lebih jika dibandingkan Riki maupun pria lain, menurut Kamila.


Edwin juga adalah sosok pria penyayang, pengertian, dan juga perhatian. Pria idaman para wanita di luar sana, dan Kamila beruntung mendapatkan kasih sayang dan cinta dari pria mapan tersebut.


Harta kekayaan yang melimpah karena dia adalah anak tunggal keluarga Bagaskara. Generasi penerus bisnis Bagaskara yang memiliki cabang di berbagai Negara yang ada di wilayah Eropa.


Perusahaan yang bergerak di bidang Perindustrian itu sudah berjalan lebih dari limapuluh tahun. Warisan turun-temurun dari sang kakek buyut dan kini diwariskan kepadanya, dan pastinya besok akan diwariskan kembali kepada putra atau putrinya kelak.


Edwin berharap bisa membina rumah tangga yang tentram dan memiliki banyak anak, hingga kelak anaknya tak kerepotan sepertinya yang harus mengurus beberapa perusahaan di beda negara.


Sepekan berlalu. Edwin dan keluarga tak bisa menunggu lebih lama lagi untuk melangsungkan acara pernikahan. Ditambah lagi Kamila yang berada jauh dengannya, membuat dirinya rindu akan kehadiran serta perhatian yang selalu wanita itu berikan.


Jika pagi hari, Edwin selalu melihat Kamila sedang memasak di dapur, atau sekedar menyapu halaman rumah.


Tapi selama seminggu ini, Edwin merasakan kehilangan yang sangat luar biasa ketika Kamila berada di rumah orang tuanya.


Edwin merindukannya_sangat rindu. Ia pun meminta ayah dan ibunya untuk mempercepat hari pernikahannya dengan Kamila.


Tuan dan Nyonya Bagaskara tentu saja tertawa melihat tingkah tak sabar putranya itu. Mereka berpendapat bahwa Edwin budak cintanya Kamila.


Buktinya, Edwin terlihat uring-uringan ketika Kamila tak ada di rumahnya.


Karena merasa khawatir akan putranya, kedua orang tua Edwin pun pindah sementara ke rumah putranya ini. Mereka memutuskan untuk menjaga sang anak agar tidak terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Keduanya takut Edwin akan nekat melakukan sesuatu yang membahayakan nyawanya.


Itu terlalu berlebihan, batin Edwin.


"Mami, tidak perlu seperti ini! Aku malu, Mi." Edwin merengek layaknya anak kecil ketika ibunya menyuruh tampil di hadapan teman-teman sosialitanya.


"Sudah, kamu nurut saja!" bisik ibunya. Herni pun tersenyum sembari mengapit tangan kekar putranya untuk diperkenalkan kepada teman-temannya. "Ini lho Jeng, putra saya yang akan menikah minggu depan itu." ucapnya memperkenalkan Edwin. "Dia adalah putra satu-satunya keluarga Bagaskara,"


"Waaah, putramu ini sangat tampan, Jeng. Beruntung wanita yang menjadi calon istrinya," cetus salah satu wanita sosialita itu.


"Benar, Jeng. Sudah tampan, kaya, dan juga pewaris tunggal. Pasti calon istrinya sangat senang mendapatkan suami seperti putra Jeng Herni ini," timpal yang lain.


Salah satu wanita paruh baya di sana mencibir dengan mulut lemesnya. "Alah, percuma punya wajah ganteng dan juga kaya. Ternyata yang jadi calon istrinya sudah bolong, alias janda muda!"


Semua pasang mata menatap ke arah wanita paruh baya tersebut, yang ternyata ibu dari gadis yang pernah ditolak cintanya oleh Edwin. Mereka berbisik satu sama lain karena pernyataan wanita tersebut.


Edwin menatap tajam wanita tersebut. Rasanya tangan Edwin gatal ingin menampar mulut lemes wanita paruh baya itu. "Memangnya kenapa kalau dia janda? Aku tak mempermasalahkan statusnya! Yang terpenting bagiku, dia menyayangi dan menghormati diriku. Sayang kepada ayah dan ibuku, dan juga ... dia tak mencintaiku karena harta!"


Pernyataan Edwin seketika membuat wanita itu bungkam. Wanita paruh baya tersebut menatap dengan tatapan jengkel ke arahnya, tapi Edwin hanya bersikap biasa saja tanpa perduli ia akan tersinggung.


Wanita itu beranjak dari duduknya, kemudian berlalu begitu saja. Mungkin ia malu, pikir semua orang.


Selepas kepergian wanita paruh baya tersebut, suasana kembali ramai karena memperbincangkan calon istri Edwin yang cantik dan juga baik hati, serta berasal dari kalangan yang sama.




Halaman rumah yang luas di kediaman Ferdinan itu sudah dihias seindah mungkin dengan nuansa warna putih berpadu kuning keemasan. Dekorasi cantik layaknya taman bunga di negri dongeng, dengan lampu taman dan hiasan-hiasan lainnya tertata rapih di sana.


Ini adalah pernikahan termegah putra dan putri konglomerat negara ini, yang akan saling mengikat rasa, mengikat, asa, jiwa dan raga. Edwin dan Kamila, pasangan sempurna.


Tamu-tamu undangan yang hadir pun sudah memenuhi halaman luas tersebut, dengan berbagai hidangan prasmanan yang berjejer rapih di pinggir taman, serta cake pengantin yang sangat besar dengan tinggi dua meter berada di tengah.


Ijab qobul dilaksanakan di atas panggung, disaksikan oleh keluarga kedua belah pihak, serta seluruh tamu undangan yang hadir.


Dengan lantang Edwin mengucapkan ikrar suci pernikahan tersebut. "Saya terima nikah dan kawinnya Kamila Putri Ferdinan, binti Bapak Fino Ferdinan, dengan mas kawin satu set perhiasan seberat tujuh puluh tujuh gram berlian dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."


"Bagaimana para saksi? Sah?" Pak penghulu bertanya.


Sontak semua menjawab serempak. "Saaaaaaahhhh!"


"Alhamdulillah hirobbil a'lamin,"




Acara berlanjut sampai malam hari, dengan diisi pengajian. Banyak tetangga yang ikut pengajian tersebut dan mereka berbondong-bondong datang sebab yang punya hajat membagikan banyak makanan serta sembako setelah pulang pengajian.


Bukan hanya tetangga saja, para pengemis dan fakir miskin yang ada disekitaran diundang untuk mendapat bagian agar kehidupan mereka terbantu sedikit dengan rezeki yang dibagikan tersebut.


Baik keluarga Ferdinan maupun keluarga Bagaskara, keduanya setuju untuk membagikan sebagian harta yang dimiliki sebagai bentuk syukuran atas pernikahan Kamila dan Edwin.


Acara meriah tersebut banyak mendapatkan doa terbaik dari semua yang hadir. Dengan antusias mereka menghadiri acara pengajian sekaligus amal yang diadakan dua keluarga kaya itu.


Di antara para tamu yang hadir, ternyata ada sosok yang mengenali betul Kamila. Dia adalah mantan keluarganya, Riki dan kedua orang tuanya.


Penampilannya yang kumal seperti gelandangan, membuat mereka tak dikenali oleh orang lain termasuk Kamila. Mungkin juga Kamila tak melihat mereka saking banyaknya orang yang mengikuti acara tersebut.


Kedua orang tua Kamila tak pernah bertemu dengan mereka, sebab pernikahan Kamila dulu tidak dihadiri oleh keduanya. Maka dari itu, kedua orang tuanya Kamila tak mengenal mantan menantu dan besannya itu.


Riki dan kedua orang tuanya pun tak tahu jika rumah megah itu adalah rumah kediaman Ferdinan_lebih tepatnya rumah Kamila. Mereka juga belum pernah menginjakkan kaki di tempat itu dan hanya tahu jika ayah Kamila adalah pebisnis sukses yang memiliki harta kekayaan yang melimpah ruah.


Setelah selesai, mereka membagikan makanan berupa nasi kotak dan juga sembako kepada fakir miskin yang diundangnya.


Riki dan kedua orang tuanya tersenyum mendapat makanan enak dan kebutuhan untuk besok. Setidaknya mereka bisa masak tanpa harus membeli.


"Ah, lumayan ini." kata ketiganya kegirangan.


...Bersambung ......