
Jang Min meninggalkan kamarnya dan Li Phin menuju ke aula dengan wajah yang penuh keceriaan, semua petinggi Kekaisaran melihatnya dan tersenyum. Hanya segelintir orang yang tidak menyukai hal itu, termasuk Perdana Menteri Qin Chai Xi.
"Salam Yang Mulia Kaisar Liu Min, semoga Panjang Umur dan selalu dilindungi oleh Dewa!" semua orang memberi penghormatan.
"Silakan!" balas Jang Min duduk di singgasananya, semua orang kembali duduk di bangkunya masing-masing, "Kasim Tang Ta! Beritahu agendaku pagi ini," perintah Jang Min.
"Baik Yang mulia!" balas Kasim Tang Ta dengan gemulainya, "hari ini Yang Mulia akan menginterogasi semua penjahat dan membenahi perekonomian, pertanian, dan pertahanan keamanan dari Kekaisaran Donglang," ujar Kasim Tang Ta.
"Baiklah, terima kasih, Kasim Tang Ta!" ujar Jang Min membuat Kasim Tang Ta begitu bahagia. Untuk pertama kalinya seorang kaisar mengucapkan terima kasih kepada hamba sahayanya.
"Perdana Menteri Qin, bukankah Ayahanda telah menyuruhmu untuk menginterogasi semua penjahat tersebut? Apa yang kamu dapatkan?" tanya Jang Min, "aku tidak yakin kamu akan jujur, sebaiknya aku meminta Jenderal Tan Ji dan kakak Jia Li untuk menyelidikinya," batin Jang Min.
"Hamba Yang Mulia, saya sudah menginterogasi semuanya! Tetapi sebelum mereka mengatakan sesuatu, mereka telah meminum sejenis racun yang mematikan, saya tidak bisa mengidentifikasi jenis racun tersebut Yang Mulia!" ujar Perdana Menteri Qin.
"Um, baiklah. Saya akan meminta Tabib Luo yang akan memeriksanya atau asistennya Wong Fei," ujar Jang Min.
"Maaf, Yang Mulia! Saya sudah mengkremasinya," ujar Perdana Mentri Qin. (zaman dulu masih banyak dikubur belum dikremasi selain yang memiliki penyakit berbahaya karena masih luasnya tanah)
"Apa?! Siapa yang menyuruh kalian melakukan hal itu?" tanya Jang Min.
"Saya merasa jika racun itu sangat berbahaya sehingga sayalah yang menyuruhnya," ujar Perdana Menteri Qin.
"Baiklah, Perdana Menteri Qin. Aku rasa Perdana Menteri Qin sudah terlalu tua di dalam menjabat sebagai perdana menteri.
"Perdana menteri Qin, saya rasa Anda telah lama menjabat sebagai Perdana Menteri bersama dengan Ayahanda. Sekarang Ayahanda sudah pensiun, saya berharap Perdana Qin pun akan menghabiskan waktu di gunung Lun," ujar Jang Min secara tidak langsung memberhentikan Perdana Menteri Qin Chai Xi.
"Ampun, Yang Mulia! Saya masih sanggup dan masih kuat untuk melakukan semua pekerjaan saya," balas Perdana Menteri Qin, ia enggan untuk dilengserkan dari jabatannya sebagai perdana menteri.
"Maaf Paman Qin, saya rasa Paman sudah cukup lelah dan sudah lama menjabat sebagai seorang Perdana Menteri Kekaisaran Donglang, lagian Paman Qin juga sudah sering sakit-sakitan, bukan?" balas Jang Min.
"Tapi, Yang Mulia!" sanggah Perdana Menteri Qin.
"Saya harap Anda mematuhi saya, sebagai Kaisar yang baru. Saya umumkan kepada semua jajaran petinggi kekaisaran yang sudah lanjut usia akan dipensiunkan dan diganti dengan yang muda. Bertujuan untuk mereka lebih dekat dengan anak istri juga kepada Dewa.
"Akan diadakan ujian dan penyeleksian tidak lagi secara turun temurun, karena hal inilah yang akan terjadinya sering penyimpangan dan penggelapan dana, juga konspirasi yang akan terjadi!" Jang Min memberikan titah.
"Apakah termasuk 4 Jendral Tua yang sudah lama berjuang di Kekaisaran akan dilengserkan juga?" tanya Salah satu petinggi negara di bidang pangan.
"Ya, termasuk mertuaku! Mereka akan menjadi penasihat di kekaisaran di bagian Keamanan, pelatihan Militer, Kepolisian, dan membimbing prajurit muda dari seluruh lapisan, bukan hanya kelas menengah ke atas tapi dari golongan rakyat jelata pun boleh menjadi prajurit dan mendapatkan pendidikan sekolah, tidak membedakan pria dan wanita," ujar Jang Min.
Semua orang mulai berkasak-kusuk,
"Lalu bagaimana dengan perbatasan? Siapa yang akan menjaganya," tanya Jenderal Tan Yuan ji.
***
Sementara Dara masih terlelap tidur, sedangkan jiwa Li Phin yang bisa pulang pergi ke tubuhnya sendiri bisa berjalan ke mana pun, "Dara bangunlah! Hari sudah siang, mau sampai kapan kamu tidur!" bisik Li Phin.
"Hm, um, lelah sekali! Kamu tahu rasanya semua tulangku remuk!" rintih Dara.
"Yang Mulia Permaisuri, saya telah menyiapkan air panas untuk mandi dan sarapan," ujar Dayang Ling'er.
"Oh, baiklah! Um, apakah kalian melihat suamiku?" tanya Dara.
"Yang Mulia Kaisar berpesan, 'Dia sedang mengadakan rapat,' untuk menjalankan pekerjaannya untuk pertama kalinya sebagai kaisar," ujar Dayang Ling'er.
"Oh, baiklah kalau begitu, Dayang! Aku rasa aku akan mandi dulu," ucap Dara.
Saat ia mau turun ia merasa seluruh tubuhnya sakit dan pegal semua, "Saya sudah menyiapkan obat untuk Yang Mulia Permaisuri," ujar Ling'er.
"Baiklah!" ujar Dara.
Ia mandi dan sarapan dengan cepat ia tidak tahu harus melakukan apa tetapi ia tidak mau membuang waktu dengan duduk manis seperti pajangan saja.
"Um, apakah boleh saya berkunjung ke perpustakaan kekaisaran?" tanya Dara pada Dayang Ling'er.
"Saya rasa boleh, nanti hamba akan bertanya kepada Ratu Li Hun," ujar Dayang Ling'er.
"Lapor Yang Mulia Ibunda Selir Pertama Chien Cia datang berkunjung!" ujar Prajurit pengawal.
"Oh, baiklah, persilahkan masuk! Dayang, siapkan yang dibutuhkan sebagai jamuan! Aku tidak ingin ada kesalahan," ucap Dara tegas
Ia menyudahi makannya dan langsung merapikan gaun yang cukup kontroversial jika di zaman modern dengan warna kuning mengembang di bagian bawahnya dan ketat di bagian pinggang hingga sesak napas belum lagi baju lapisan sutra yang berlapis-lapis dan sanggul tinggi yang dipakai di kepala Li Phin membuat Dara mau pingsan.
Ia harus memakai sepatu sejenis kain yang lembut seperti sepatu bot kulitnya berganti dengan sepatu kain dengan tambahan kapas yang sangat lembut di tapaknya.
"Baju Zirahku, aku rindu!" ujar Dara memandang baju zirah miliknya tergantung di sudut ruangan kamar berdekatan dengan baju zirah milik suaminya, begitu juga dengan pedangnya. Ia merasa enggan untuk meninggalkan pedang tetapi peraturan kekaisaran seorang permaisuri, ratu, dan selir tidak boleh membawa senjata di lingkungan Istana Dalam.
"Salam Yang Mulia Ibunda Selir Chien Cia," ujar Dara.
"Salam Yang Mulia Permaisuri Li Phin," balas Chien Cia(Lu Cia) dengan senyuman misterius, "sialan ini, begitu sehat, sementara dia sudah membalikkan jurus racun teratai kematian milikku," batin Lu Cia kesal.
"Silakan duduk Ibunda Selir Chien," ujar Li Phin yang menguasai tubuhnya, Dara malas berbasa-basi yang tak penting.
"Um, saya hanya ingin menjenguk dan mengatakan jika permaisuri harus mengurus istana Harem." Selir Chien menatap ke arah Li Phin, ia berusaha untuk memancing kemarahan Li Phin mengenai para selir dan harem.