Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Masing-masing ingin berkorban demi cinta


"Jika mereka ingin berperang, aku siap untuk itu! Ini juga peringatan kepada Qin Chai Xi, untuk menyerahkan diri jika tidak perang akan dimulai. Dan putrinya adalah contoh pertama yang akan digantung esok hari di alun-alun Kekaisaran di Chang An," ucap Jang Min.


Dua pengawal langsung menangkap Qin Jiajia menyeretnya, "Lepaskan! Lepaskan aku!" teriak Qin Jiajia ingin membunuh prajurit dan dirinya.


Akan tetapi, Tabib Luo langsung menotok aliran darah Qin Jiajia untuk tidak lagi bisa menggunakan racun dan ilmu beladiri membuat Qin Jiajia langsung jatuh tak berdaya.


Gulungan rambutnya telah terlepas dan pakaian indahnya telah bernoda darah dari tangannya sehitam arang. Namun, tatapan Qin Jiajia masih saja menyiratkan kebencian dan dendam.


"Qin Jiajia … jika kau masih saja tidak bertobat kau akan dihukum gantung esok hari atas semua kejahatanmu! Agar sebagai contoh untuk keluargamu dan semua orang yang berniat jahat kepada Kekaisaran Donglang," ketus Jang Min.


"Hahaha, aku tidak peduli jika aku harus mati! Tapi ingatlah, keluargaku dan suamiku Shan Shi'er tidak akan pernah tinggal diam!" balas Qin jiajia.


Ia diseret oleh prajurit meninggalkan aula kekaisaran, "Permaisuri Zedong bagaimana keadaan Anda?" tanya Dara bersimpuh menggenggam tangan Permaisuri Zedong yang masih di dalam perawatan Tabib Luo. 


"Terima kasih, Yang Mulia Permaisuri! Semua ini adalah berkat Anda, hingga Saya selamat," balas Permaisuri Zeding tersenyum.


"Anda hebat sekali Permaisuri Zedong, sangat luar biasa. Paman Luo, bagaimana dengan kehamilan Permaisuri Zedong?" tanya Dara khawatir.


"Tidak perlu khawatir, kehamilannya sangat baik-baik, saja. Ia hanya butuh istirahat dan makan makanan yang bergizi cukup banyak untuk pemulihannya," balas Tabib Luo tersenyum.


"Syukurlah, jika begitu! Lalu bagaimana dengan racun di lehernya, Paman?" tanya Dara menyentuh leher Permaisuri Zedong.


"Itu juga tidak masalah, aku sudah memberikan penawarnya," balas Tabib Luo.


Dara tersenyum lega, ia berlari ke arah putranya menggendong putranya dengan pedang di punggung, ia merasakan kebahagiaan yang tiada tara kala Liu Sin Ming tersenyum dan menggenggam jari telunjuknya.


"Putraku yang luar biasa hebat!" ucap Dara tersenyum. 


"Apakah Anda baik-baik saja Permaisuri?" tanya Liang Si tidak jauh dari sisi Dara.


"Aku baik-baik saja, Pangeran Liang," balas Dara tersenyum menatap Liang Si, akan tetapi ia segera menundukkan pandangannya ia tidak ingin ada kesedihan di hati dan kekosongan di jiwa Li Phin dan Liang Si.


"Syukurlah, Yang Mulia! Kaisar memerintahkan agar Permaisuri kembali ke istana dalam," ucap Liang Si.


"Baiklah!" balas Dara berjalan terlebih dahulu diikuti para dayang dan Liang Si juga beberapa pengawal. 


"Apakah Putra Mahkota baik-baik, saja?" tanya Liang Si, jauh di relung hatinya ia sangat ingin menggendong sebagian jiwa Li Phin di sana. Namun, ia sedikit malu untuk meminta hal itu, ia merasa ia tidak pantas untuk mendapatkan hak istimewa tersebut.


"Apakah itu boleh?" tanya Liang Si menatap ke arah Dara.


"Tentu, saja! Anda adalah Paman sekaligus sudah berulang kali melindunginya. Ling'er … tolong letakkan Putra Mahkota di gendongan Pangeran Liang," ucap Dara 


Ia sedikit enggan berdekatan apalagi bersentuhan dengan Liang Si karena ia selalu saja memiliki getaran di hati karena jiwa Li Phin yang masih mencintainya dengan segenap rasa miliknya sehingga tubuh mereka sebagai inang meresponnya dengan berlebihan.


Dara tidak ingin menimbulkan skandal kepada dirinya dan Liang Si yang sudah banyak berkorban pada dirinya dan Jang Min. Ia tahu, jika ia dan Jang Mjn telah memisahkan cinta diantara Li Phin dan Liang Si.


Dayang Ling'er mengambil Liu Sun Ming dari dekapan Dara dan menyerahkannya kepada Liang Si yang langsung mendekapnya bagaikan sebuah harta karun yang paling berharga di muka bumi.


"Putra Mahkota sangat tampan, wajahnya perpaduan antara Kaisar dan Permaisuri …," lirihnya memuji dengan  ikhlas, "apakah jika aku yang menikah dengan Phin'er anak kami juga akan mirip denganku dan dirinya?" batin Liang Si. 


Namun, ia berusaha untuk menipis keinginan dan kerinduan akan hal itu, berulang kali ia menekankan pada hati dan raganya, "Li Phin bukanlah milikku lagi, tak akan pernah menjadi milikku!" hatinya sedih.


"Mari kita lanjutkan perjalanan ke istana dalam. Aku tidak ingin semua orang berpikiran yang tidak-tidak!" ajak Dara.


"Baik, Yang Mulia!" balas Liang Si dan semua orang. Liu Sun Ming masih berada di dalam dekapan Liang Si dengan ocehannya yang sulit dimengerti.


Namun, Liang Si begitu bahagia mendapatkan kesempatan untuk menggendong Liu Sun Ming. Dara melirik dengan ekor mata melihat apa yang sedang dilakukan oleh Liang Si yang berusaha untuk menjawab dan berkata banyak hal kepada Liu Sun Ming.


"Aku rasa Liang Si benar-benar tulus menyayangi dan mencintai Li Phin. Jika perang benar-benar terjadi, aku ingin Liang Si merawat Liu Sun Ming. Aku tidak tahu apakah kami akan menang dan selamat? Paling tidak, aku bisa mati dengan tenang dan kembali ke duniaku dengan putraku berada di tangan orang yang tepat," batin Dara mengingat dan merencanakan banyak hal.


Dara masih saja mengamati Liang Si setibanya di istana dalam, ia masih melihat Liang Si berbicara dengan Liu Sun Ming dengan penuh kasih sayang. Dara dan para dayang juga pengawal duduk di paviliun melihat Liang Si yang masih berdiri dengan gagahnya dengan sebelah tangan menggendong Liu Sun Ming di dekapan tangan kirinya.


"Aku tak pernah membayangkan jika Liang Si memiliki cinta yang sangat luar biasa," ucap Li Phin tiba-tiba muncul.


"Ya, kamu benar. Jika perang terjadi aku ingin Liang Si-lah yang mengurus dan merawat Liu Sun Ming. Bagaimana Menurutmu?" tanya Dara kepada Li Phin.


"Aku rasa itu tidak masalah, tapi aku berharap aku dan dia bersatu di dunia lain, kamu tahu jika peperangan terjadi dan kita meninggal, begitu juga dengan  Jang Min apakah kamu merasa jika Liang Si tidak akan semakin merana?" tanya Li Phin.


"Kamu harus hidup Li Phin untuk anak kita dan Liang Si. Siapa tahu dengan kematianku kamu dan Liang Si bersatu?" ujar Dara menatap teratai dan burung parkit yang berterbangan ke sana kemari.


"Apakah kamu yakin jika kamu dan raga ini mati maka aku bisa menempati tubuh ini lagi? Lalu bagaimana dengan jang Min? Apakah kamu tega meninggalkannya, begitu?" tanya Li Phin.


Ucapan Li Phin membuat Dara semakin bingung, "Aku tidak tahu!" balas Dara jujur ia hanya merasa bersalah harus memisahkan dua hati yang saling mencintai begitu tulus dan rela berkorban demi orang lain.