
"Jia'er berhati-hatilah, jangan sampai terkena anak panah beracun itu?!" teriak Gu Shanzheng.
"Suamiku, ayo, kita kembali ke dalam kobaran api dan melesat melalui belakang!" balas Tan Jia Li.
"Baiklah!" balas Gu Shanzheng langsung menggunakan tenaga dalamnya untuk melancarkan serangan dengan menebaskan sisa api yang berkobar kepada para prajurit Mongol.
Kebakaran semakin heboh dan terjadi di mana-mana, Gu Shanzheng langsung melesat menarik tangan Tan Jia Li masuk kembali ke dalam kobaran api dan melesat menembus ke belakang bangunan yang mulai runtuh.
Segalanya menjadi lautan api yang mengerikan. Keduanya melesat terus menembus pekatnya malam, di antara hujanan anak panah, "Aaa!" teriak Tan Jia Li kala punggungnya terkena anak panah dan darah mulai merembes.
"Jia'er!" teriak Gu Shanzheng langsung membopong Tan Jia Li melesat sejauh mungkin memasuki hutan kecil, Gu Shanzheng melihat sebuah rumah rumah di tengah hutan yang ditinggalkan.
Gu Shanzheng melesat masuk ke dalam rumah tanpa berpikir panjang, ia mendudukkan Tan Jia Li dan menyalakan lampu yang tergantung di tengah ruangan memberinya kapsul obat yang dititipkan oleh Permaisuri Li Phin dan Tabib Luo.
"Bertahanlah, Tan Jia Li. Aku akan mengeluarkan anak panah ini," ucap Gu Shanzheng menyalakan api di tengah ruangan membakar pisau kecil menjadi bara.
Gu Shanzheng mengulurkan tangan ingin membuka baju di punggung Tan Jia Li, "Apa yang akan kamu lakukan Tuan Gu?" tanya Tan Jia Li di antara sadar dan tidak mencengkram tangan Gu Shanzheng.
"Aku ingin mengeluarkan anak panah ink. Aku tidak akan berbuat kurang ajar, Nona Tan!" balas Gu Shanzheng sedikit fomal. Ia takut jika ia semakin kacau nantinya.
"Baiklah!" ucap Tan Jia Li melepaskan cengkraman tangannya.
"Gigitlah ini," ujar Gu Shanzheng memberikan sebuah kayu ke mulut Tan Ja Li yang langsung menggigitnya.
Gu Shanzheng mematahkan anak panah menjadi sedikit pendek dan membubuhkan bubuk obat kemudian mengiris sedikit daging Tan Jia Li untuk mengeluarkan luka.
"Aaa!" teriak tertahan Tan Jia Li kala Gu shanzheng mencabut anak panah, darah langsung mengalir deras Gu Shanzheng membersihkan dengan menyiramnya dengan arak dan menaburkan serbuk putih sebagai obat pereda sakit dan menempelkan bara pisau yang dibakar ke luka, membuat teriakan Tan Jia Li bergema hingga pingsan.
Gu Shanzheng kembali menaburkan serbuk obat dan menempelkan ramuan lain lagi yang sedikit berbau menyengat dan mengoyak lengan bajumu untuk membungkus luka Tan Jia Li. Ia sedikit berjengit kala harus membebat kain ke daerah dada Tan Jia Li.
Deg! Deg! Deg!
Jantung Gub Shanzheng hampir copot melihat baju dalam dan belahan gundukan daging kenyal yang kulit putih mulus juga bekas bercak luka putih di berbagai tubuh Tan Jia Li.
Akibat pelatihan dan perang yang dialami Tan Jia Li yang begitu mengerikan di bawah pimpinan ayahnya Tan Yuan Ji.
"Tuan Yuan Ji, benar-benar mengerikan di dalam mendidik prajurit, semua prajuritnya pasti mengalami luka yang mengerikan termasuk putrinya dan Kaisar Liu Min," batin Gu Shanzheng ia beruntung karena pelatihan dari Jenderal Li Sun dan Jenderal Ming Fuk yang sedikit ringan.
"Aku lebih beruntung mendapatkan pelatihan dari Jenderal Li Sun, para pangeran dari negara tetangga sedikit mendapatkan hak istimewa dengan mendapatkan pelatihan dari Jenderal Li Sun termasuk Pangeran kedua Limen Utara.
"Tetapi para anak jenderal dan aparat kekaisaran mendapatkan pelatihan dari jenderal Yuan Ji dan Chin yang lumayan berat.
"Akan tetapi, semua prajurit di bawah pelatihan Jenderal Yuan Ji sangat hebat mampu bertahan di mana pun termasuk Tan Jia Li, Jang Min, dan Qin Chai Jian putra mantan Perdana menteri Qin Chai Xi.
Gu Shanzheng membaringkan tubuh Tan Jia Li dan mengompresnya dengan air dingin di kening, merebus ramuan, dan memanggang seekor bebek di keremangan malam. Ia masih memeluk pedangnya berharap jika prajurit Mongol tidak menyerang mereka.
"Qin Chai Jian!" lirih Gu Shanzheng, "aku harus mengirimkan pesan kepada Kaisar Liu Min, jika putra mantan perdana Menteri Qin Chai Xi terlibat di dalam pemalsuan perintah," batin Gu Shanzheng.
Ia mendengar Tan Jia Li sedikit merintih, "Jie'er … aku di sini. Bertahanlah!" bisik Gu Shanzheng.
Gu Shanzheng mendengar derap langkah kuda di kejauhan, "Sial! Mereka berhasil menemukan kami!" umpatnya.
Ia langsung menyelipkan pedang di punggung begitu juga dengan milik Tan Jia Li. Gu Shanzheng langsung menggendong Tan Jia Li dan melesat menjauh dengan ilmu peringan tubuhnya memasuki hutan lebih dalam lagi.
"Periksa rumah itu!" teriak jendral Mongol, prajuritnya langsung memeriksa isi rumah dan membawa bekas anak panah dan bekas sobekan baju juga darah.
"Yang Mulia, sepertinya salah satu dari mereka telah terluka!" ucap prajurit.
"Sial! Mereka telah membunuh Pangeran Shan Tek Xie dan prajurit! Jika hanya terluka, itu tidak sebanding dengan kehilangan yang telah kita alami," balas Jenderal Mongol marah.
Semua prajurit terdiam, "Kejar, mereka! Jangan sampai lolos! Jika kalian tidak menemukannya, aku akan membunuh kalian!" teriakan jenderal Mongol memberi perintah.
Gu Shanzheng terus melesat sejauh mungkin, menghindari semua prajurit Mongol hingga ia terperosok ke dalam jurang dalam yang menghempaskannya bergulingan. Ia juga harus melindungi tubuh Tan Jia Li di gendongannya agar tidak semakin terluka.
Gu Shanzheng harus memberikan tubuh bagian belakang untuk menuruni tebing yang lumayan terjal, "Aaa!" lenguh Gu Shanzeng kala tubuhnya terhempas ke sana kemari namun ia tak juga melepaskan pelukannya di tubuh Tan Jia Li.
Bruk!
Tubuh Gu Shanzeng mendarat di lembah yang penuh dengan rumput dan tetesan air yang nyaring. Ia berusaha untuk bangkit tetapi ia langsung pingsan.
Seorang wanita tua menyeret tubuh keduanya semudah ia membawa keranjang yang ada di punggungnya. Ilmu bela dirinya sangat tangguh.
"Siapakah mereka? Aku merasa mereka bukan orang Mongol! Hah! Seharusnya aku membiarkan mereka mati saja! Tapi, pemuda ini benar-benar melindungi wanita ini.
Apakah wanita ini istrinya?" batin nenek tersebut.
Ia membawa Gu Shanzheng dan Tan Jia Li ke gua tersembunyi mengobati luka Gu Shanzheng, "Seruling ini … apakah dia putra Zhu Sia?" batin si nenek mengoyak baju Gu Shanzheng dan membubuhkan ramuan dengan asal dengan mengunyah dan menyembuhkannya.
Wajahnya yang masih menyisakan kecantikan di waktu muda tertutup dengan cemberutan. Kala ia membalikkan tubuh Gu Shanzheng, "Liu Bei!" lirihnya terperanjat mengenang wajah mantan kekasih yang telah mengkhianatinya.
"Aku tidak yakin jika putra Zhu Sia mirip Liu Bei, aku yakin ini adalah putra dari Putri Liu Bei dari selir Zedong," umpat Mo Yu kesal. Ia ingin berjalan meninggalkan gua, akan tetapi di mulut gua ia melihat ke arah Gu Shanzheng dan Tan Jia Li juga melihat seruling tersebut.
"Akhirnya, cucumulah yang mengembalikan serulingku ini, bukan dirimu, Liu Bei keparat!" umpatnya kesal.