
Titititttt ... tiiiiitiiiiiiitttttt
Jam weker berbunyi sangat nyaring, sehingga membangunkan sang pemimpi dari tidurnya.
"Hoaaamh!" Mulutnya terbuka lebar tanpa di tutupi telapak tangan_mirip seperti buaya yang sedang mangap.
Masih dengan mata terpejam, dia menggaruk kepala dan juga pipi serta tengkuknya yang terasa gatal. Mulutnya berdecak seperti sedang memakan permen.
"Jam berapa ini, ya?" gumamnya seraya meraih jam weker di atas nakas, samping tempat tidurnya. Matanya belum terbuka sempurna saat mencoba untuk melihat jarum jam. "Oh, sudah jam enam." desisnya kembali menaruh jam weker tersebut ke tempatnya. Tubuhnya kembali direbahkan di ranjang dengan mata terpejam, bersiap untuk memasuki alam mimpi lagi.
Namun, sedetik kemudian ia refleks membuka mata setelah menyadari sesuatu. "Eh, apa? Jam enam? Ya Tuhan, aku terlambat bangun lagi," Ia langsung melompat dari ranjang king size miliknya, setelah kembali melihat jarum jam yang menunjukan pukul enam pas.
Edwin bergegas masuk kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, ia langsung memilih pakaian kerjanya dan buru-buru turun dari kamar menuju lantai satu rumahnya.
Namun saat melewati dapur, indra pendengarannya menangkap suara gaduh seperti alat dapur yang sedang beradu.
Kosreng ... kosreng.
Sutil yang beradu dengan wajan sangat nyaring suaranya, mengundang rasa penasaran Edwin.
Akhirnya, ia pun melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah dapur rumahnya.
"Siapa di dapur? Apa pak Ujang sedang masak?" gumamnya penasaran. "Tapi, ah gak mungkin! Dia kan gak bisa masak. Masak air aja suka gosong pancinya," cibir Edwin terkekeh sembari terus melangkah.
Sesampainya di dapur, mata Edwin membelalak sempurna kala menangkap sosok di hadapannya.
"Pagi, Mas!" sapa Kamila dengan tersenyum manis.
Edwin tampak mematung, menatap wajah cantik yang tengah berdiri di hadapannya dengan alat tempur yang biasa digunakan untuk memasak.
"Pagi juga! Sedang apa kamu di sini?" pertanyaan bodoh yang keluar dari mulut Edwin, seketika mengundang kekehan Kamila.
Kamila menggelengkan kepala sembari tertawa kecil menanggapi pertanyaan Edwin yang menurutnya aneh. Kamila tahu jika Edwin pasti belum terbiasa dengan kehadirannya di rumah itu.
Tanpa menghiraukan Edwin, Kamila menata meja makan dengan berbagai hidangan yang dimasaknya barusan. Masih lengkap memakai apron-nya, ia tenyum sangat manis mengalahkan gulali yang dijual bang Parmin.
"Sarapan sudah siap," kata Kamila menunjuk hidangan di meja makan.
Sejenak Edwin terdiam. Ia lupa jika hari ini Kamila berada di rumahnya, dan itu atas permintaan darinya. Dia sempat curiga kalau Pak Ujang sang supirnya yang sedang memasak.
Melihat Edwin yang terdiam sembari menatapnya dalam, membuat ia tak nyaman. Segera Kamila menarik kursi untuk diduduki Edwin sambil berkata. "Aku belajar masak, Mas. Mas Edwin mau enggak, nyoba masakan aku?" pertanyaan yang sangat di nantikan Edwin sedari tadi.
Hanya dengan mencium baunya saja, membuat cacing di perut Edwin mengadakan konser dadakan. Apalagi kalau merasakan makanan itu di mulut? Beeuuh ... bikin lidah bergoyang kali!
Senyum Edwin mengembang. Ia segera duduk di kursi yang tadi Kamila tarik untuk dirinya. "Boleh, kalau kamu izinkan!" ucapnya malu-malu.
Kamila terkekeh melihat tingkah Edwin yang malu-malu seperti itu. Dia memang belum mengenal Edwin lebih dalam, tapi dia yakin jika Edwin sosok pria yang ramah dan lucu.
Kamila mengatupkan kedua bibir melipat kedalam, karena menahan tawanya. Ia menggelengkan kepala sambil menggerakkan tangan mempersilahkan Edwin untuk makan.
Edwin langsung menyantap hidangan yang sudah disiapkan di piring untuknya. Ketika satu suapan masuk ke dalam mulut, ia berhenti mengunyah sambil menatap Kamila dengan mata berbinar. "Waah, enak sekali masakan kamu!" pujinya.
"Syukurlah kalau Mas Edwin suka," sahut Kamila.
Edwin kembali menyantap makanan dengan hati girang. Ia sangat senang karena baru kali ini menyantap makanan yang dimasak di rumahnya. Di sela-sela makan, Edwin pun bertanya. "Si kecil mana?"
Kamila menoleh. "Sedang tidur." sahutnya singkat. Melihat Edwin makan dengan lahap, Kamila kembali berucap. "Maaf ya, Mas! Aku hanya bisa masak nasi goreng dan telor ceplok. Soalnya di kulkas sepertinya tak ada bahan makanan untuk aku masak," tutur Kamila tak enak hati.
Edwin teringat akan satu hal. Dia memang tak pernah berbelanja menyetok bahan makanan di kulkasnya. Dia sering makan di luar karena tak punya pembantu.
Bukan dia tak mampu untuk membayar seorang asisten rumah tangga, tapi dia sangat takut karena kejadian yang dialaminya waktu kecil.
Asisten rumah tangganya dulu mencintai ayahnya. Pelayan tersebut terus menggoda ayahnya, namun sang ayah tak pernah tergoda oleh rayuannya.
Karena kesal, asisten rumah tangganya itu menaruh racun mematikan kedalam masakan yang dihidangkannya. Untung, ibunya Edwin melihat dan langsung membuangnya. Sehingga, kejadian naas itu tak sempat dialami mereka, dan Edwin pun takut kejadian tersebut dialaminya. Maka dari itu, ia memilih hidup sendiri tanpa ditemani asisten rumah tangga.
Melihat Edwin terdiam, Kamila pun menegurnya. "Mas, kok melamun?" Edwin tersentak akan pertanyaan Kamila.
"Ah, mmm ... tidak! Maaf ya, karena aku belum sempat belanja." ucapnya berbohong. Ia pun segera membuka dompet dan memberikan sejumlah uang kepada Kamila. "Oh iya, ini buat belanja keperluan rumah. Kamu beli saja apa yang kamu inginkan, termasuk susu dan popok si kecil."
Kamila hanya menatap lembaran uang merah di tangan Edwin tanpa berniat mengambilnya.
Edwin menautkan kedua alisnya tatkala melihat Kamila yang diam saja_tak menerima uang yang diberikannya. "Kenapa? Kurang ya? O, baiklah! Ambil uang dari kartu kredit ini. Nomor pin nya adalah ...!" belum sempat ia berucap, Kamila segera menyela.
"Bukan itu, Mas!" potong Kamila saat Edwin akan membuka kembali dompetnya. "Aku malu karena kamu terlalu baik sama aku dan bayiku," ucapnya dengan wajah menunduk sedih.
Edwin menghela nafas sekejap, lalu menyentuh tangan Kamila. "Mila. Aku sudah bersyukur banget kamu mau tinggal bersamaku, dan memasak makanan untukku, serta menemani hari-hariku. Jadi tolong, jangan pernah sungkan kepadaku atas perlakuanku kepadamu! Aku ikhlas membantumu dan juga si kecil. Anggaplah ini sebagai timbal balik antara hubungan kita," tutur Edwin lembut.
Sekilas Kamila menatap penuh selidik kedalam mata Edwin, kemudian ia mengangguk sambil tersenyum. "Terima kasih, Mas!"
"Ambilah uang ini untuk belanja, dan simpanlah salah satu kartu kredit ku juga sebagai jaga-jaga. Jika kamu kekurangan uang untuk belanja, kamu tinggal menggeseknya sendiri." ujar Edwin seraya menyerahkan kartu ATM miliknya.
Kamila mengambil uang dan kartu kredit milik Edwin. Ia merasa senang karena Edwin percaya kepada dirinya. "Mas mau di masakin apa nanti? Aku akan belanja sesuai yang Mas inginkan," kata Kamila kemudian.
"Aku tak pilih-pilih makanan. Kamu masak saja makanan yang biasa kamu masak, aku bakalan suka kok!" sahut Edwin.
"Baiklah kalau gitu. Silahkan dimakan nasi gorengnya, Mas! Keburu dingin tuh," cetus Kamila menunjuk dengan dagunya.
"Kamu sih ngajak ngomong mulu. Aku kan jadi lupa kalau di hadapanku ada nasi goreng yang enak. Pantes suara cacingnya makin kenceng, ternyata nasi gorengnya belum aku makan toh!" Ia terkekeh sendiri.
Kamila ikut tertawa melihat tingkah Edwin yang menurutnya lucu.
...Bersambung ......