Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian cinta - Kasino


Keduanya kembali saling bercerita seakan mereka adalah pasangan yang sedang mabuk kepayang, Dara menyentuh leher Liu Min merapikan kerah kemejanya.


Mereka berbicara ringan mengenai adegan yang baru mereka lakukan dan saling menggoda, "Ah, Liu Min. Kamu nakal sekali," bisik Dara tanpa sadar kala Liu Min mencium bibirnya sekilas di sana.


Sementara tangan Liu Min melipat tisu  membuat origami seekor burung dan memberikannya pada Dara yang menerimanya penuh cinta dan langsung merangkulkan kedua tangan di leher Liu Min masih dengan memegang seekor burung kertas di tangan.


"Terima kasih, burung yang sangat indah sayang!" balas Dara.


"Mana bagusan dan lebih indah dari burung milikku?" tanya Liu Min.


Membuat Dara langsung mencubit perut Liu Min, "Aw, Sayang. Kamu nakal sekali!" ketus Liu Min tersenyum meraih pinggang Dara.


Keduanya kembali berpelukan dan saling berbisik, "Mari kita tinggalkan tempat ini," ajak Liu Min.


Ia melirik beberapa anak buah dari sindikat naga merah sedang berjalan hilir mudik mengawasi tempat dan sedang mengadakan transaksi narkoba, begitu jelas dan transparan seakan tak ada lagi badan hukum yang berwenang di sana.


"Hukum rimba sedang berlaku di sini. Baiklah aku pun akan melakukan hal yang sama, jika kita yang melakukannya malah membuat hukum itu sendiri yang menyentuh si penegak hukum, jika mereka malah kebal akan hukum," batin Liu Min kesal.


"Ya, mari kita pulang," balas Dara. 


Mereka tak ingin terlihat mencurigakan kelompok sindikat naga merah yang sedang berpesta di tengah ruangan. Liu Min merogoh saku mengeluarkan beberapa lembar Yuan dan meletakkannya di atas meja tanpa menyentuh kedua gelas minuman tersebut.


Keduanya saling berpelukan seakan ingin mencari tempat untuk memuaskan hasrat mereka berdua. Liu Min dan Dara kembali ke hotel dan membuka lipatan origami tisu dan meneranginya dengan cahaya biru, yang digunakan untuk mencetak dan memperlihatkan tulisan samar.


"Baik, kita sudah menemukan tempatnya, Jalan Lagong 53 loker 7. Kunci di bawah vas bunga di lobi hotel," Dara membaca tulisan. 


Liu Min mengambil dan mencelupkan tisu hingga basah dan hancur membuangnya ke keranjang sampah.


Keduanya kembali bergegas ke luar dari kamar dengan Liu Min berpura-pura bertanya di mana jalan Lagong dan Dara menyelinap di vas bunga persik mencari kunci yang terselip di sana.


Dara mendapatkannya dan menyelipkan di belahan dadanya seakan itu barang antik, Dara berjalan mendekati suaminya menyelipkan tangan di selipan lengan Liu Min dengan mesra.


"Laogong, apakah sudah tahu di mana Jalan Lagong?" tanya Dara.


"Sudah Sayang, ayo kita ke sana!" ajak Liu Min.


Keduanya berjalan ke luar hotel dan menyetop taksi. Berhenti di rumah makan yang bertepatan dengan kantor penyimpanan loker dokumen dan brankas nomor 53.


Keduanya memesan makanan dan pulang kembali ke hotel dengan bergandengan tangan, "Laogong, bagaimana jika kita berjalan kaki saja. Aku rasa kita bisa berputar-putar untuk sekalian menghapal jalan," usul Dara.


"Usulmu boleh juga, Laopo." Liu Min menggandeng Dara menelusuri jalan Lagong yang tenang, dan dipenuhi oleh pohon-pohon indah yang menggugurkan daunnya.


Dara mengulurkan tangan menyentuh helaian daun yang berjatuhan. Keduanya membelok ke sebuah jalan di sebelah kanan sebagai pusat Kota Shenzhen.


Kasino terlihat megah dan ramai dengan hiruk-pikuk orang juga kerlip lampu di sana. Dara dan Liu Min saling pandang dan keduanya mengangguk dan masuk ke dalam Kasino.


Keduanya melihat keramaian semakin terlihat dengan kelompok naga merah di sana. Wanita penjaja cinta dan berpakaian modis sedang menemani kekasih ataupun para suami bersetelan jas mahal sedang memasang taruhannya.


Sebagian orang menyelinap masuk ke sebuah pintu dimana Dara masuk, ia melihat beberapa orang sedang melakukan transaksi narkoba dan senjata.


"Jadi, mereka menggunakan tempat ini untuk melakukan transaksi narkoba dan senjata juga. Bagus," batin Dara bersembunyi di balik peti-peti kemas.


Dara membuka sedikit penutup peti dan mendapatkan beberapa pucuk senjata dan barang haram berbubuk putih yang sedang disiapkan untuk beredar.


Dara kembali menyelinap dan berada di samping Liu Min yang menang banyak, "Wah, kamu hebat sekali Laogong!" puji Dara senang.


Ia tak menyangka Liu Min begitu piawai di meja judi, Liu Min hanya tersenyum dan membawa kepingan yang akan diuangkan ke kasir. 


Namun, kala mereka ingin bergerak sepucuk pistol sudah berada di pinggang Liu Min.


"Hei! Ada apa ini? Kami hanya ingin menguangkan kepingan ini. Kami menang," ucap Liu Min.


Ia menatap beberapa orang bersetelan jas rapi berwarna hitam yang langsung merubunginya  dan Dara yang membawa sepelukan kepingan yang siap diuangkan.


"Kami bermain dan kami menang! Apa kalian tidak memiliki uang untuk menguangkan kepingan ini?" tanya Dara, "jika tidak ada, sebaiknya kalian jangan membuka Kasino!" tukas Dara kesal.


"Tidak ada yang boleh meninggalkan Kasino dengan uang lebih dari ¥ 100 ." Seorang pria kekar mengatakan hal itu dengan tampang mengerikan.


"Jadi maksud kamu … kami akan mengembalikannya begitu?" ucap Dara.


"Ya, ambil saja ¥100, ( ¥ \= Yuan) tidak lebih," ujar si pengawal.


Dara melihat jika orang-orang berhak mendapatkan lebih banyak dan pulang dengan tawa dan senyuman, "Sudahlah, Laopo tidak masalah!" ucap Liu Min tak ingin memancing keributan.


"Tidak bisa!" bantahnya, "aku akan bicara pada penyelia tempat ini!" lanjut Dara.


Klik!


Kokangan senjata mengarah padanya dan Liu Min, membuat semua orang berhamburan ke luar Kasino dan orang-orang dari naga merah mengelilingi keduanya dengan bersenjata lengkap. 


Dara dan Liu Min langsung saling pandang dan menganggukan kepala, saling mengerti dan memahami.


Liu Min melemparkan kepingan uang dari meja judi dan langsung memukul di pria begitu juga dengan Dara, perkelahian terjadi.


Dara dan Liu Min bergerak dengan secepat kilat, memukul dan menendang musuh dengan ilmu beladiri yang mereka miliki. Keduanya berusaha untuk melumpuhkan dan berebut senjata mereka pertarungan tak lagi bisa dielakkan hingga keduanya berhasil merebut senjata dan menembak pada semua pengawal.


Dara melesat bersembunyi di balik meja judi begitu juga dengan Liu Min, dor! Dor! Suara tembakan bergema dan suara jeritan mewarnai Kasino.


"Laogong, mereka mengadakan transaksi di balik pintu itu!" ujar Dara 


"Benarkah?! Ini sangat bagus kita akan membuat kejutan yang tidak menyenangkan untuk Guangzhou. Ayo, bersiaplah!" ucap Liu Min.


Dara dan Liu Min kembali bergulingan di lantai dan menembak musuh dengan dua senjata di tangan, serangan yang dilakukan Dara dan Liu Min membuat pintu terbuka orang-orang berhamburan ke luar dengan senjata dan menyerang Dara dan Liu Min.