Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Penjara Cinta


"Apa? Memang apa salahnya jika aku seorang putra mahkota? Aku juga manusia biasa, aku juga punya rasa cinta dan kasih sayang yang sama dengan semua pria lain," balas Jang Min bingung.


"Aku tahu, hanya saja kalian lebih dipilih oleh Dewa daripada kami. Dan kalian akan selalu berlaku sesuai dengan keingin kalian termasuk menikah dengan banyak wanita.


"Tapi, apakah kalian tahu jika semua wanita yang kalian nikahi menginginkan dan memiliki rasa kesetaraan yang sama? Terkadang kalian tidak bisa berlaku adil karena apa? Jauh di lubuk hati kalian, hanya ada satu wanita yang paling kalian cintai hingga wanita lain begitu menderita akibat penantian cinta yang tak pernah mereka dapatkan.


"Sehingga dengan diam-diam mereka bersaing di istana harem yang kalian buat, saling menjatuhkan dan saling mengkhianati di antara sesama kaumnya, hanya untuk apa? Untuk sebuah pengakuan dan cinta semu.


"Aku hanya ingin menikahi pria biasa yang memiliki rasa cinta yang sangat luar biasa. Andaikan kamu hanya seorang jenderal mungkin, tak mengapa bagiku, tapi seorang putra mahkota dan calon kaisar itu sangat mengerikan untukku," ujar Dara. 


Li Phin di benak Dara yang sudah kembali hanya terdiam ia pun membenarkan apa yang dikatakan oleh Dara. 


"Phin'er, aku berjanji padamu aku akan selalu setia mencintai dan mengasihi hanya satu wanita yaitu dirimu! Dewa yang akan menjadi saksinya," ujar Jang Min dengan penuh kesungguhan.


"Entahlah, aku tidak begitu mempercayainya. Mungkin karena masa kecilku yang tak diberkahi akan cinta dari seorang ayah dan seorang ibu, sehingga aku menjadi wanita yang begitu keras kepala," balas Li Phin kali ini.


"Aku hanya tidak ingin kita mengalami nasib yang sama seperti Ibunda Selir Min dan selir yang lain. Pada dasarnya semua wanita baik dan sangat menyayangi semua orang di sekitarnya karena begitu hakikat yang diberikan Tuhan, hanya saja karena persaingan dan keadaanlah seseorang menjadi kejam, jahat, bahkan menjadi biadab.


"Aku tidak ingin kita 'kan seperti itu Li Phin, itu sangat mengerikan jika kita harus bersaing dengan kaum kita hanya demi sebuah cinta untuk mendapatkan cinta suami kita. Apalagi kita yang selalu saja dituntut untuk mengalah, karena kita akan menjadi permaisuri.


"Dengan alasan seorang ibu negara harus mengerti keingin semua rakyatnya dan menerima apa pun keputusan suami dan negara. Lalu bagaimana dengan hati kita? Aku tidak ingin terkungkung di sebuah penjara cinta yang gila!" umpat Dara.


"Aku tidak mengerti apa dan bagaimana jalan pikiranmu? Banyak wanita di luar yang mendambakan menjadi seorang permaisuri, tapi tidak dengan dirimu. Aku tidak mengerti," ucap Jang Min.


"Suamiku, bisakah aku jujur? Jika kamu ingin menggagalkan pernikahan kita tidak masalah bagiku! Terserah, orang-orang akan berkata apa, aku hanya ingin sebuah kebahagiaan di dalam kehidupanku kali ini," ujar Dara, "pada zaman ini mereka masih percaya reinkarnasi bukan? Aku tidak ingin terjebak di sini!" batin Dara.


"Ya, silakan tapi sampai kapan pun aku tidak akan membatalkan pernikahan kita! Kamu harus tahu itu Phin'er!" balas Jang Min.


Dara dan Li phin menghela napas, "Aku hanya tidak ingin dimadu! Aku rela merangkak di atas bara api dan pecahan kaca untuk menemanimu di dunia ini hingga aku mati di dalam mencintai dan menyayangimu, juga di dalam berumah tangga serta di kekaisaran.


"Tapi aku tidak ingin diduakan. Jika kamu ingin menikah lagi, aku berharap kamu melepaskanmu pergi dari sisimu selamanya. Jangan pernah kamu cari aku lagi, suamiku!" ujar Dara dengan tegas.


"Apa itu tidak berlebihan Dara?" tanya Li Phin ngeri membayangkan hal itu.


"Apakah kamu ingin dimadu?" tanya Dara, "Ayahanda bukan seorang raja saja memiliki 4 selir. Bagaimana lagi seorang Kaisar? Kamu mau mengantri pada tanggal, hari, bulan, bahkan tahun berapa giliran kamu disentuh Jang Min, Li Phin? Kamu akan menyia-nyiakan masa muda dan keindahan setangkai bunga.


"Bukan itu saja, sampai kapan kamu mampu menahan tangis dan bertahan di dalam persaingan? Apakah kamu rela jika Jang Min dengan wanita lain di kamar lain sementara kau pun kedinginan atau sakit? Jika kamu mau silakan ini tubuhmu bukan tubuhku.


Li Phin terdiam, "Itu di duniamu bukan di duniaku Dara. Di sini wanita terpasung," balas Li Phin.


"Makanya kita harus bersuara! Jika kita ingin mengatakan sesuatu jangan diam saja," ucap Dara.


"Kau gila! Kita tidak mungkin melawan seorang Kaisar?" balas Li Phin.


Jang Min masih memperhatikan Li Phin yang mengerutkan Keningnya dan menatap suling dengan diam bak patung yang indah di sana, "Kau begitu cantik, baik, lembut, bersahaja walaupun ketegasanmu mengerikan. Aku tak mengerti apa sebenarnya yang ingin kamu sampaikan? 


"Jika hanya karena sebuah poligami, terkadang itu hanya untuk sebuah keamanan negara saja. Sisanya tidak ada cinta, aku akui jika peraturan itu merugikan kaum wanita, tapi … aku pun tidak bisa mengatakan apa pun. 


"Phien'er percayalah walaupun kelak selirku banyak tapi hanya kamu yang aku cintai," ujar Jang Min, "namun, aku berharap aku tidak ingin memiliki selir seorang pun," lanjut Jang Min.


Jang Min dan Dara masih saja berdebat hingga keduanya melihat bayangan berlompatan di antara pohon bunga persik, "Siapakah itu?" tanya Jang Min.


"Entahlah! Suamiku sebaiknya kamu di sini saja! Panggillah pengawal atau jenderal. Jika terjadi suatu hal padamu maka itu akan sangat merugikan, Kekaisaran Donglang akan semakin menderita," balas Li Phin melesat meninggalkan Jang Min.


"Phien'er!" terjak Jang Min mengejar Li Phin. 


Keduanya mengejar seseorang yang memasuki istana kekaisaran ke kamar Ratu Li Hun, meniupkan sesuatu ke jendela kamar sang ratu.


"Berhenti! Siapa itu?" teriak Jang Min. 


Si penyusup langsung berusaha untuk kabur tetapi langsung dicegah oleh Dara, "Pengawal!" teriak Jang Min, memanggil pengawal. 


Kegaduhan terjadi, Ratu Li Hun dan semua orang terbangun dan keluar dari kamar masing-masing melihat di depan mereka Jang Min, Li Phin, dan seorang pria berkerudung dan memakai baju hitam berada di tengah halaman yang sangat luas di tengah taman.


"Berhenti dan menyerahlah! Siapa yang mengutusmu?" teriak Jang Min.


"Hahaha, tidak akan pernah!" ujar si penyusup langsung memasang kuda-kuda ingin membunuh Jang Min.


Namun, Dara langsung melesat dan berkelahi dengan si penyusup. Pertempuran begitu dahsyat dan sengit Dara tidak menyangka jika si penyusup memiliki ilmu beladiri yang sangat tinggi.


Ia menyerang Dara dengan racun, "Sialan! Kau menggunakan racun? Kau pikir racunmu akan mempan padaku?" teriak Li Phin marah, "hah! Hanya racun Anggrek Merah! Oh, berarti kau meracuni Ibunda Ratu dengan Anggrek Merah makanya dia terlihat pucat dan batuk darah, kau ingin membuat dia mati perlahan! Siapa kau?" teriak Li Phin, sambil menebaskan pedangnya.


"Hahaha, tebakanmu sangat tepat Nona! Aku kagumi kepintaranmu, tapi kau juga akan mati sekarang!" teriak si penyusup langsung menyerang Dara.